Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah sesi tanya jawab yang penuh kehebohan itu berakhir, acara sosialisasi dari Polres pun resmi ditutup dengan foto bersama di tengah lapangan. Langkah selanjutnya, sesuai dengan tradisi ramah tamah di SMP Karya Bakti, pihak sekolah telah menyiapkan hidangan makan siang sederhana di dalam ruang guru sebagai bentuk silaturahmi.
Suasana ruang guru yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat ramai dan hangat. Aroma gulai ikan patin dan sambal lado tanak khas daerah setempat langsung menyeruak, menggugah selera siapa saja yang menghirupnya. Beberapa meja panjang disatukan, dikelilingi oleh kursi-kursi yang kini dipenuhi oleh para majelis guru dan para tamu undangan dari kepolisian yang duduk berbaur menjadi satu.
Di salah satu sudut meja besar itu, Ardhana tampak duduk bersama beberapa perwira senior lainnya. Namun, ketampanan dan pembawaannya yang ramah sejak di lapangan tadi rupanya menarik perhatian salah satu guru muda di sekolah tersebut. Namanya Lastri, seorang guru honorer geografi yang baru saja menyelesaikan kuliahnya tahun lalu. Dengan gerakan yang terlihat sedikit salah tingkah namun berani, Lastri berjalan mendekati kursi Ardhana sembari membawa nampan berisi gelas-gelas teh es manis.
“Silakan diminum dulu teh esnya, Pak Ardhana. Pasti haus banget ya tadi setelah memberikan materi panjang lebar di lapangan bawah terik matahari,” ucap Lastri dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin, lengkap dengan senyuman manis yang merekah di wajahnya.
Ardhana mendongak, lalu menerima gelas tersebut dengan sopan. “Ah, iya, Bu. Terima kasih banyak ya, repot-repot sekali sampai diantarkan begini.”
“Sama-sama, Pak. Oh iya, kalau boleh tahu, Pak Ardhana nanti setelah acara ini langsung kembali ke polres atau ada agenda patroli lagi?” tanya Lastri, mencoba membuka obrolan lebih jauh sembari mengambil posisi duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah kanan Ardhana.
Pemandangan di sudut meja itu tentu saja tidak luput dari pengamatan mata-mata jeli yang ada di dalam ruangan. Tini, yang duduk melingkar bersama kelompok guru wali kelas di sudut ruangan lain, langsung menyenggol lengan Sarah dengan cukup kuat menggunakan sikunya. Ia menunjuk ke arah Ardhana dan Lastri menggunakan isyarat dagunya.
“Sar, Sar… lihat deh sebelah sana. Tuh, lihat pak polisi kamu lagi digodain sekaligus dipepet terus sama si Lastri. Wah, gencar banget itu si anak baru, langsung ambil posisi duduk di sebelahnya lagi,” bisik Tini dengan nada menggoda, matanya berkedip-kedip jahil menatap sang sahabat.
Sarah yang sedang berpura-pura sibuk menyendok nasi ke atas piringnya hanya melirik sekilas ke arah kerumunan itu sebelum kembali mengalihkan pandangannya. Ia memasang ekspresi sedatar mungkin, mencoba menampilkan sikap cuek yang paling maksimal seolah-olah apa yang terjadi di seberang ruangan sama sekali tidak mempengaruhi suasana hatinya.
“Ya terus kenapa kalau digodain Lastri, Tin? Nggak ada urusannya juga sama aku. Bagus dong, Lastri kan masih muda, cantik lagi. Cocoklah sama dia,” jawab Sarah dengan nada suara yang dibuat secuek mungkin, walau sebenarnya sendok di tangannya sempat berdenting agak keras saat menyentuh tepi piring kaca.
Tini mendengus geli, sama sekali tidak percaya dengan kepura-puraan Sarah yang terlihat sangat dipaksakan itu. Ia mendekatkan kursinya lebih rapat ke arah Sarah, menurunkan volume suaranya menjadi bisikan yang sangat serius namun penuh selidik.
“Halah, nggak usah belaga cuek deh, Sar. Aku ini bukan orang asing yang baru kenal kamu kemarin sore. Sebenarnya kalian berdua itu ada hubungan apa sih di masa lalu? Kemarin pas di tenda razia dia nanya-nanya status kamu, terus tadi di lapangan jelas-jelas Pak Ardhana ngerlingin matanya ke arah kamu, kan? Aku lihat sendiri dengan mata kepalaku ya, jangan coba-coba mengelak!” desak Tini bertubi-tubi.
Sarah menghentikan gerakan makannya sejenak. Jantungnya berdegup kencang mendengar rentetan pertanyaan Tini yang sangat tepat sasaran. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Tini dengan pandangan defensif, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
“Kalian ini mantan pacar dulunya ya pas masih sama-sama di Pekanbaru?” tebak Tini lagi dengan senyuman penuh kemenangan, yakin bahwa dugaannya kali ini tidak akan melesat.
Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis tuduhan sahabatnya itu dengan sisa-sisa ketegasan yang ia miliki.
“Tin, jangan ngarang cerita yang aneh-aneh deh. Kami nggak pernah punya hubungan yang seperti itu dulunya. Sama sekali nggak pernah pacaran.”
“Masa sih? Terus kenapa tatapan matanya kayak orang yang punya hutang rasa begitu ke kamu?” cecar Tini yang masih belum puas dengan jawaban Sarah.
Sarah menghela napas panjang, merapikan letak jilbabnya sekilas sebelum berbisik pelan ke telinga Tini agar pembicaraan mereka tidak bocor ke guru-guru lain yang sedang asyik mengobrol di sekitar mereka.
“Dulu di Pekanbaru, kami itu cuma sebatas senior dan junior saja di lingkungan organisasi, Tin. Kebetulan organisasi kami itu sering ngumpul tiap Minggu pagi, jadi sering ketemu. Udah, cuma sebatas itu aja, nggak lebih. Jadi tolong banget, jangan dibahas lagi ya, aku mau makan dengan tenang.”
Tini mengerutkan dahi, menatap Sarah dengan pandangan skeptis. “Hanya sebatas senior dan junior? Tapi kok rasanya ada cerita yang sengaja kamu sembunyiin dari aku ya, Sar? Respons kamu berlebihan banget soalnya dari kemarin.”
Sarah tidak membalas lagi ucapan Tini. Ia memilih untuk kembali menyibukkan diri dengan makanan di piringnya, mengunyah perlahan sembari membuang pandangan ke arah jendela luar. Namun, meski matanya menatap ke luar ruangan, indra pendengarannya tetap terpasang tajam ke arah sudut meja tempat Ardhana berada.
Dari kejauhan, ia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa Ardhana yang sedang menanggapi cerita dari Lastri. Dada Sarah mendadak terasa sedikit sesak, perasaan tidak nyaman yang sangat familiar dari masa lalu kembali mengetuk pintu hatinya. Ia tahu ia telah berbohong kepada Tini.
Hubungan mereka di masa lalu memang bukan sebatas senior dan junior biasa, melainkan ada sebuah kisah yang terputus di tengah jalan bahkan sebelum mereka memulainya. Kisah itu juga yang menyisakan trauma mendalam bagi Sarah hingga ia memilih melarikan diri ke sekolah terpencil ini. Dan kini, melihat pria itu tertawa bersama wanita lain di depannya, Sarah sadar bahwa melupakan masa lalu ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor