Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Sakit yang Tepat Waktu
Alina sakit setiap kali situasi tidak memihak padanya.
Itu kesimpulan pertama Ayla saat masuk rumah Prameswari malam itu.
Ruang tengah terang benderang. Ratna duduk di sofa sambil memegang tisu. Marwan berdiri dekat jendela, menelepon seseorang dengan suara rendah. Reno duduk di kursi tunggal, wajahnya kusut seperti orang yang mulai lelah dengan cerita yang sama.
Alina berbaring di sofa panjang.
Selimut menutupi tubuhnya sampai dada. Wajahnya pucat, bibirnya kering, mata setengah tertutup. Di meja ada gelas air, obat penenang ringan, dan termometer.
Penataan panggung sempurna.
Ayla masuk bersama Arga.
Semua mata langsung tertuju pada mereka.
Ratna berdiri. “Kenapa dia ikut?”
Arga menjawab sopan, “Selamat malam, Bu Ratna.”
Ratna tampak kaget karena Arga mengenalnya. Tentu saja dia mengenalnya. Keluarga Wiratama bukan orang asing di kalangan atas Jakarta.
Marwan memutus telepon. “Pak Arga?”
Arga mengangguk. “Pak Marwan.”
Ayla melepas sepatu di dekat pintu. “Kalian saling kenal. Bagus. Aku tidak perlu memperkenalkan.”
Ratna menatap Ayla tajam. “Ayla, adikmu sakit karena kejadian hari ini.”
“Dia bukan adikku.”
Alina bergerak lemah. “Ma, sudah. Jangan marahi Kak Ayla.”
Ayla menatapnya. “Kamu bahkan sakit masih sempat mengatur dialog.”
Ratna hampir menangis karena marah. “Apa kamu tidak punya empati?”
“Punya. Terbatas untuk orang yang tidak menyewa preman kampus.”
“Vira yang melakukan itu!”
“Dan Vira melakukan itu karena siapa?”
Ratna terdiam.
Alina membuka mata. Air mata langsung menggenang. “Kak, aku benar-benar tidak tahu Vira akan sejauh itu. Aku memang cerita padanya karena aku sedih. Salahku karena terlalu percaya teman.”
Reno mengusap wajah.
Kalimat itu terdengar masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Ayla berjalan ke meja dan mengambil termometer. “Suhu berapa?”
Ratna cepat merebutnya. “Jangan ganggu dia.”
“Kalau sakit, cek. Kalau drama, lanjutkan.”
Arga berdiri di samping tanpa bicara. Kehadirannya membuat Marwan tidak bisa meledak seperti biasa.
Marwan akhirnya berkata, “Ayla, kita bicarakan ini besok. Malam ini Alina perlu istirahat.”
“Justru malam ini bagus. Orang sakit biasanya lebih jujur.”
Alina terisak. “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi supaya Kak Ayla percaya.”
“Kamu bisa mulai dari Raka Mahendra.”
Suasana langsung berubah.
Ratna membeku.
Marwan menatap Ayla.
Reno mengangkat wajah.
Alina tetap berbaring, tetapi jari-jarinya mencengkeram selimut.
Ayla melihat semua reaksi itu.
Bagus.
Nama itu memang pintu.
Ratna bertanya pelan, “Kenapa kamu menyebut Pak Raka?”
Ayla duduk di kursi seberang Alina. “Karena yayasan kalian mengirim uang lewat perusahaan cangkang yang terhubung dengannya. Karena empat orang mati setelah memakai obat eksperimen palsu. Karena akun Alina dipakai untuk persetujuan transaksi.”
Reno berdiri. “Apa?”
Marwan menatap Arga. “Pak Arga, ini benar?”
Arga tidak memberi detail, tetapi jawabannya cukup. “Ada penyelidikan berjalan.”
Ratna memegang dada. “Tidak mungkin. Yayasan kami membantu anak-anak.”
Ayla menatap ibunya. “Membantu anak hilang sambil kehilangan jejak uang?”
Ratna pucat.
Alina menangis. “Aku tidak tahu. Sungguh. Pak Raka yang banyak mengurus teknis. Aku hanya diminta tanda tangan digital untuk beberapa dokumen donasi. Aku tidak mengerti.”
“Tanda tangan digital tidak bisa muncul karena diminta lewat doa.”
“Kak...”
Marwan menatap Alina. “Kamu memberikan akses akunmu pada Raka?”
Alina menggeleng cepat. “Tidak, Pa. Mungkin dia tahu password dari staf.”
“Password akun yayasanmu bisa diketahui staf?” tanya Reno.
Alina tersedak tangis. “Aku tidak paham sistem seperti itu. Aku cuma membantu Mama.”
Ratna langsung memeluknya. “Alina memang tidak mengerti urusan teknis. Dia hanya wajah yayasan.”
Ayla tersenyum. “Nyaman sekali. Saat dipuji, wajah yayasan. Saat bermasalah, tidak mengerti teknis.”
Ratna menatapnya dengan mata merah. “Jangan kejam.”
“Jangan bodoh.”
“Ayla!”
Arga akhirnya bicara. “Bu Ratna, Pak Marwan, kami perlu kerja sama keluarga. Untuk sementara, jangan hubungi Raka Mahendra.”
Marwan berkata, “Saya akan minta legal perusahaan—”
“Jangan,” potong Arga. “Semakin banyak orang tahu, semakin besar kemungkinan target menghilang.”
Alina menunduk terlalu cepat.
Ayla melihat itu.
Ponsel Alina ada di bawah bantal.
Tangan gadis itu pelan-pelan bergerak ke arah sana.
Ayla tiba-tiba berdiri.
Alina membeku.
Ayla berjalan mendekat, mengambil ponsel dari bawah bantal sebelum siapa pun sempat bereaksi.
“Kak, itu ponselku!”
Suaranya tidak selemah tadi.
Ratna berdiri. “Ayla, kembalikan!”
Ayla melihat layar.
Terkunci.
Dia mengangkat ponsel ke depan wajah Alina. Face ID terbuka.
Alina panik. “Jangan!”
Terlambat.
Di layar, aplikasi pesan masih terbuka. Draft belum terkirim:
Pak Raka, Arga datang ke rumah. Ayla tahu transaksi yayasan.
Reno membaca dari belakang Ayla.
Wajahnya mengeras.
Ratna menutup mulut.
Marwan tidak bergerak.
Alina terisak. “Aku cuma takut. Aku mau tanya Pak Raka, bukan memperingatkan.”
Ayla menatapnya. “Kamu selalu punya penjelasan. Sayang sekali penjelasanmu makin murah.”
Reno berkata pelan, “Alina.”
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak membela.
Alina menatap Reno dengan panik. “Kak Reno, aku takut. Aku tidak tahu harus percaya siapa.”
Reno menggeleng, matanya kecewa. “Jadi kamu pilih memperingatkan orang yang sedang diselidiki?”
“Aku tidak memperingatkan!”
Ayla melempar ponsel ke Arga. Arga menangkapnya.
“Bukti upaya komunikasi,” kata Ayla.
Arga menyimpan ponsel dalam kantong bukti kecil yang dia keluarkan dari saku jas. Tampaknya pria itu memang selalu siap membuat malam keluarga orang menjadi lebih buruk.
Ratna akhirnya duduk lemas.
“Tidak mungkin,” gumamnya. “Alina tidak mungkin...”
Ayla menatap ibunya.
“Bu, orang bisa lembut dan tetap berbohong.”
Ratna tidak menjawab.
Marwan menarik napas panjang. “Pak Arga, apa keluarga kami menjadi tersangka?”
Arga berkata, “Saat ini kami menelusuri jalur uang dan akses dokumen. Kerja sama Anda akan menentukan seberapa cepat kami memisahkan korban, saksi, dan pelaku.”
Bahasa halus.
Tetapi semua orang mengerti.
Alina tidak lagi hanya anak sakit di sofa.
Dia pintu kasus.
Ayla mengambil tasnya. “Aku tidur.”
Ratna menatapnya seperti tidak percaya. “Setelah semua ini?”
“Iya. Besok aku ospek.”
Reno hampir tertawa, tetapi wajahnya terlalu tegang.
Arga menatap Ayla. “Saya perlu bicara sebentar.”
“Di luar.”
Mereka keluar ke taman samping. Udara malam lebih lembap. Lampu taman membuat bayangan pohon jatuh ke jalan batu.
Arga berkata, “Kamu sengaja menyebut Raka di depan semua orang.”
“Ya.”
“Itu bisa membuatnya kabur.”
“Tidak kalau dia pikir Alina belum sempat mengirim pesan.”
Arga menatapnya.
Ayla tersenyum. “Ponselnya sudah di tanganmu. Raka belum tahu kita tahu seberapa banyak. Dia akan mencari cara menghubungi Alina melalui jalur lain. Kita tinggal menunggu.”
“Kamu memakai keluargamu sebagai umpan.”
“Keluarga yang mana?”
Arga diam.
Ayla menatap rumah besar itu. Dari jendela, dia melihat Ratna memeluk Alina lagi, tetapi kali ini pelukannya tidak seteguh sebelumnya. Reno berdiri menjauh. Marwan menelepon seseorang, wajahnya gelap.
“Mereka memilih panggung ini,” kata Ayla. “Aku hanya menyalakan lampu.”
Arga berkata pelan, “Kamu terlihat sangat terbiasa melakukan itu.”
“Apa?”
“Memutuskan siapa yang layak dilindungi dan siapa yang layak dijadikan umpan.”
Ayla menoleh.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya hilang.
“Pak Arga, di tempatku tumbuh, orang yang tidak bisa memilih akan dipilihkan oleh orang lain. Biasanya hasilnya buruk.”
Arga menatapnya, lalu mengangguk kecil. Tidak setuju sepenuhnya. Tidak membantah juga.
“Besok tim saya akan memantau rumah.”
“Jangan terlalu jelas.”
“Saya tahu pekerjaan saya.”
“Bagus. Aku juga.”
Arga hendak pergi, tetapi berhenti. “Ayla.”
“Hm?”
“Di kampus, jangan cari masalah.”
Ayla tersenyum lagi.
“Aku tidak pernah mencari. Masalah biasanya antre sendiri.”
Arga tampak ingin mengatakan sesuatu, lalu memilih pergi.
Ayla melihat mobilnya keluar dari gerbang.
Di lantai atas, tirai kamar Alina bergerak sedikit.
Ayla mengangkat tangan dan melambai.
Tirai langsung tertutup.
Malam itu, Alina tidak tidur.
Dan Ayla tidur sangat nyenyak.
Pagi harinya, Ayla menemukan tiga pesan panjang dari Ratna. Isinya campuran antara kekecewaan, permintaan agar dia lebih memahami Alina, dan kalimat lama tentang nama baik keluarga.
Ayla membaca sampai baris ketiga, lalu berhenti.
Nama baik.
Di rumah ini, kata itu lebih sering muncul daripada kata jujur.
Dia membalas singkat:
Kalau nama baik begitu penting, berhenti membuat hal buruk.
Setelah itu dia mematikan notifikasi keluarga.
Di luar kamar, rumah masih sunyi. Tetapi Ayla tahu ketenangan itu palsu. Setelah malam sebelumnya, setiap orang di rumah Prameswari sedang menghitung ulang posisi masing-masing.
Ratna masih ingin melindungi Alina.
Marwan mulai takut yayasan merusak perusahaan.
Reno mulai ragu.
Dan Alina, jika cukup pintar, akan menyadari bahwa menangis tidak lagi sekuat dulu.
Ayla tersenyum kecil.
Hari kedua di kampus sepertinya akan lebih menyenangkan.