NovelToon NovelToon
Dunia Akan Lebih Baik Jika Kita Bersama

Dunia Akan Lebih Baik Jika Kita Bersama

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:108.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liu woile

Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 11 Telpon tak terduga

Denisa menatap punggung Bu Ratni yang berjalan ke arah dalam.

" Bu Ratni masak buat makan siang kita ?" tanya Denisa. Catra hanya mengangguk.

" Aku bantu ya "

" Jangan, kamu tamu disini. Lagi pula ini spesial jamuan makan siang buat mu "

" Maaf jadi repot "

" Tidak apa " Catra melanjutkan kegiatan nya memberi makan ikan. Denisa masih terduduk di sampingnya.

" Rumah kamu besar dan asri. Adem sekali banyak pohon " ujar Denisa

" Iya, ini rumah warisan. Papa ku suka suasana rindang pohon "

" Sekarang orang tua mu ? "

" Papa menetap di kota Bandung, beliau suka hawa sejuk jadi menetap di kota Bandung " Denisa mengangguk angguk.

" Kalau kamu, tinggal dengan siapa?"

" Aku sendirian, anak kost "

" Orang tua ?"

" Hanya tinggal ibuku saja, sekarang tinggal dikampung "

" Semarang ? "

" Bukan, di kota Tasikmalaya "

" Oh.. Sudah lama di kota ini ? "

" Sudah hampir 10 tahun. Dari lulus SMA, aku sudah merantau, kerja , kuliah sambil kerja , lalu sekarang kerja saja ". ujar Denisa

Catra tersenyum "Pantas aura kamu itu aura wanita mandiri"

" Iya kah ? " sahut Denisa tak percaya, Catra mengangguk sambil tersenyum.

" Oh ya , Barang barang kita yang di kereta apakah akan dikembalikan?" tanya Denisa mengganti topik pembicaraan.

" Jangan berharap ya, Ikhlas kan saja"

" Iya sih " Mereka asik berbincang sampai Bu Ratni kembali ke teras mengatakan kalau makanan siap. Catra mempersilahkan Denisa masuk ke ruang makan. Mereka berjalan masuk beriringan.

" Maaf ya Bu Ratni , Denisa merepotkan ibu" Ujar Denisa sambil tersenyum manis.

Bu Ratni tertawa pelan sambil menggandeng lengan Denisa " Sudah tugas ibu disini "

Catra menarik kursi makan untuk Denisa dan Denisa mengucapkan terima kasih.

" Dinikmati ya makan nya. Ini maaf kalau rasa nya kurang berkenan " bu Ratni mempersilahkan mereka memulai makan.

" Aroma nya enak ini, pasti rasa nya enak "

" Ya sudah selamat makan ya ' ujar Bu Ratni

" Lho , ibu mau kemana? makan bareng sini " ujar Catra ketika melihat Bu Ratni yang sepertinya mau beranjak keluar.

" Kalian makan berdua ya. Ibu masih kenyang. Tau sendiri kalau orang memasak pasti merasa tidak tertarik sama apa yang dimasak, begitu juga ibu. Tunggu mood baiknya datang dulu baru berselera makan nya" Catra tertawa mendengar penjelasan Bu Ratni .

" Baiklah Bu " ujarnya

" Ibu makasih masakan nya " Denisa kembali berterima kasih. Bu Ratni tersenyum dan melangkah keluar dari ruang makan.

" Waah sepertinya enak " Denisa menatap makanan dimeja dengan antusias.

" Bu Ratni bikin spesial buat kamu . Mari makan" Catra mempersilahkan Denisa.

Sementara Bu Ratni yang berada di dapur mencuri dengar semua percakapan itu. Setelah hidup bersama mendampingi Catra 25 tahun akhirnya dia menyaksikan pemandangan luar biasa. Seorang Catra yang selama ini takut dengan wanita kini berani mengundang wanita buat makan siang dirumahnya. Rasa nya Bu Ratni ingin segera memberi tahukan papa nya Catra tentang semua ini. Selesai makan Catra mengajak Denisa kembali ke teras samping rumah.

" Kamu ada kegiatan apa setelah dari sini?" Tanya Catra sambil duduk di kursi malas.

" Apa ya? , paling aku kepengen ke mall aja sih. Cuci mata "

" Ke mall mana? aku temenin ya " Denisa menatap Catra dengan pandangan heran.

" Aku nemenin aja, tidak boleh? " Catra jadi merasa tak enak pada Denisa.

" Aku boleh kan jadi temanmu. Setelah semua ini boleh kan kita berteman " Catra kembali berbicara melihat Denisa diam saja.

"Iya " hanya itu yang keluar dari mulut Denisa.

" Aku ganti baju dulu ya " sekarang Catra yang antusias. Dia melangkah masuk ke ruangan meninggalkan Denisa seorang diri. Denisa menggeleng sambil tersenyum lalu kembali mengambil pakan ikan dan melempar ke kolam. Beberapa saat Denisa asik sendiri dengan kegiatan nya sampai kemudian ponsel Denisa berbunyi, nomer tantenya di kampung.

" Assalamualaikum Bi tati " sapa Denisa

" Wa Alaikum salam ini ibu nak " ternyata ibunda Denisa diujung telpon sana"

" Iya Bu, gimana kabarnya Bu ?"

" Ibu baik nak, kamu baik ?"

" Denisa baik Bu "

" Ya syukur kalau kamu baik, ibu khawatir soalnya Minggu lalu kamu keluar kota tidak ada kabar lagi "

" Maaf Bu, Denisa agak sibuk " ujar Denisa tanpa bercerita keadaan yang terjadi sebenarnya Minggu lalu.

" Ya sudah kalau kamu baik baik saja, Oh ya nak, bibi mu mau bicara " dan telepon berpindah tangan. Denisa menghela nafas panjang. Karena kalau bi Tati yang bicara akan ada ceramah panjang lebar yang akan Denisa dengar kan. Bahkan kadang sampai Denisa jenuh mendengar kan nya. Dan benar saja seperti biasa suara bi tati langsung memenuhi gendang telinga Denisa .

" Denisa, kamu ini gimana sih. Punya orang tua serasa tak punya. Masa telpon tiap Minggu saja tidak bisa. Kamu tahu ibu mu itu bagaimana. Ibumu sangat berisik di sini bolak balik menanyakan kamu. Membatin sendiri ngerasain kamu. Kamu tau diri jadi anak. Ibumu bukan cuma butuh uangmu disini, tapi juga butuh perhatian dari anaknya. Anak perempuan cuma satu kok ya kaya begitu banget. Bagaimana bisa diandalkan. Pantas lah kamu belum punya jodoh sampai umur segitu. Apa kamu tidak malu. Perbaiki dulu diri kamu ..." Denisa sudah tidak sanggup mendengar kan setiap kata pedas yang keluar dari mulut tantenya.

Denisa merasa hati nya sangat sedih apalagi mengingat kisahnya dengan Rayend. Berharap tahun ini Denisa bisa memperkenalkan Rayend pada keluarganya dan meredakan setiap kata bernada tak enak dari Tante nya.

Denisa meletakkan ponsel yang masih menyambung panggilan. Tak terasa air mata nya menetes, Denisa menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya ditangan yang bertumpu pada kakinya. Hatinya begitu sedih mendengar kata kata tantenya. Walau terbiasa dengan Omelan kasar tantenya tapi saat ini Denisa merasa tak sanggup mendengarnya.

Catra yang baru keluar pintu sedikit kaget melihat pemandangan ini. Dari belakang dia melihat Denisa diam dengan posisi memegang ponsel ditelinga. Entah telpon atau menerima telpon dan tiba tiba meletakkan ponselnya dan menangis. Catra berpikir cepat merasa kalau itu telpon dari laki laki di Semarang tempo hari.

Dengan lancang Catra mengambil ponsel itu dan mendengarkan suaranya. Dan ternyata suara wanita yang sedang mengomel panjang lebar dan tak terkendali. Telinga Catra saja langsung terasa panas mendengarnya. Pantas saja Denisa menangis mendengarnya. Sungguh wanita yang ditelpon ini adalah wanita yang sungguh cerewet dan punya lidah setajam silet.

Catra terus mendengar kan wanita itu bicara sambil menahan kesal. Sampai akhirnya suara disana berganti dengan suara yang agak lembut dan memanggil nama Denisa. Catra menekan tombol loud speaker dan mendekatkan ke telinga Denisa. Dengan gugup Denisa mengambil ponselnya. Posisi Denisa memang membelakangi catra. Tampaknya Denisa belum sepenuhnya sadar dia ada dimana.

" Iya Bu " jawab Denisa

" Jangan didengarkan kata kata bibi mu. Dia memang begitu, mulutnya sadis, tapi sebenarnya dia sayang sama kamu, sama ibu juga, jangan terlalu dipikirkan ya nak" ujar suara diseberang sana ,Catra ikut menyimak.

" Iya Bu, tidak apa apa. Aku tutup telpon nya ya Bu. Wasalamualaikum " ujar Denisa lalu menutup telpon. Dia masih terpengaruh kata kata tantenya dan masih melamun dengan wajah nelangsa.

Catra yang ada dibelakang nya merasa sangat kasihan dan dia pun mengusap kepala Denisa dari belakang. Sesaat Denisa belum menyadari siapa yang mengusap kepalanya. tapi karena kesedihan nya dia pun menikmati usapan nyaman itu dan kembali terisak tapi itu hanya berlangsung sepuluh detik karena selanjutnya Denisa tersadar dan menengok kebelakang .

1
Elly Supriaty
Bravo Author dari pertama baca sampe akhir aku sangat suka novel mu thor ,....
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
Trimakasih atas karyanya author......semakin maju n sukses dlm berkarya, saya tunggu karya selanjutnya.
Wina Faujji
dari awal sampe akhir cerita nya saya suka, saya tunggu karya mu yg baru...
Yuli Yuliah
sukses buat author,happy ending
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
saya suka....saya suka ceritanya Thor. Sukses sll ya thor. gbu
Yuli Yuliah
Thor kemana dirimu
Isri Nurhidayah
hamil kali Denisa nya
Wina Faujji
ngak ada visual nya ya thor
Yossi Yosvizar
Haadeh delisa kenapa dibikit ribet sendiri pikiran jelek hrs segera di konfirmasi jd ngga salah paham .rumah tangga hrs salibg terbuka dgn apa yg mengganjal dihati dan pikiran 😔😔😔
Yossi Yosvizar
thor catra jgn dibikin jd orang yg ribet kasian denisa hrs sabar dan kuat.😔😔
Isri Nurhidayah
semoga bukan masalah baru
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
ceritanya bagus....semangat thor .
Yossi Yosvizar
Denisa tipe perempuan hebat tp ngga sadar kalau dia hebat walau penuh kekurangan
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
aku suka thooor
Yuli Yuliah
kok blm up Thor,aku dah bolak balik intip nih
Tera Dwi Retina
selaluuuu menungguuu
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
ikut seneng baca nya thor.....
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
banjiiiiirrrr......tapi seneng
Tera Dwi Retina
akhirnya aaaaaa
Wina Faujji
akhirnyaaa ..... semangat terus ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!