Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Bertemu Bunda
Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan jalanan yang lebih sempit. Aspal yang halus berubah menjadi jalan yang sedikit berlubang dan tak rapih. Pemandangan kota mewah perlahan tergantikan oleh lingkungan yang lebih sederhana.
Lyko menatap keluar jendela. Area pertanian jagung mulai terlihat, rusun-rusun tua yang berdiri di kejauhan juga mulai terlihat.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak. ‘Inilah dunia asalku,’ batinnya sambil melihat pemandangan dari kaca mobil.
Ia memejamkan mata perlahan. Seolah berusaha siap untuk memasuki tempat itu tanpa gugup dan ketakutan.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti perlahan di depan sebuah gapura tua yang berdiri miring, seolah hampir menyerah dimakan usia.
Catnya sudah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan lapisan semen kusam di bawahnya. Lumut hijau tumbuh liar di bagian atas, menjalar seperti bekas luka yang tak pernah dirawat.
Lyko terdiam di dalam mobil beberapa detik. Matanya perlahan menatap gapura itu dengan lekat. Tempat yang begitu berbeda dari hotel mewah yang baru saja ia tinggalkan.
“Kita sudah sampai tujuan, Nona,” ucap sopir dengan nada ramah dan senyuman.
Lyko tersentak pelan. “Ah, iya... Terima kasih,” Lyko membalas senyuman supir sebelum turun.
Ia membuka pintu, lalu turun perlahan dari mobil. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ada perasaan aneh yang langsung menyergap dadanya. Rasanya seperti tempat itu asing baginya, padahal baru satu hari ia tinggalkan.
Taksi itu pergi meninggalkannya, dan kini hanya sisa Lyko yang sedang berdiri sendirian di depan gapura.
Angin siang berhembus pelan, membawa aroma yang sangat ia kenal. Bau selokan, debu, dan sisa masakan dari rumah-rumah padat di dalam sana. Aroma yang dulu begitu biasa… namun kini terasa berbeda setelah ia mencoba hidup di dunia lain.
Lyko menarik napas dalam, lalu perlahan kakinya bergerak maju. Ia melewati gapura dan masuk ke dalam kawasan rusun yang sempit dan padat.
Beberapa langkah kemudian, suara-suara mulai terdengar. Obrolan ibu-ibu, suara anak-anak bermain dan berlarian kesana kemari.
Saat Lyko berjalan lebih jauh, ia melewati sekumpulan ibu-ibu yang duduk di bangku panjang pinggir jalan. Lyko jelas mengenalnya, mereka adalah ibu-ibu tukang gosip yang selalu ikut campur masalah orang lain. Pakaian mereka lusuh, wajah mereka tampak sedikit berantakan, namun mata mereka tajam memperhatikan Lyko yang lewat.
Langkah Lyko sedikit melambat namun masih normal tanpa ketakutan yang dapat terlihat.
Bisikan mulai terdengar.
“Hei lihat, siapa gadis itu?”
“Sepertinya pengunjung.”
“Lihat bajunya, tampaknya mahal semua ya.”
“Dia cantik sekali, gayanya juga sangat mewah ya.”
Mereka saling berbisik, menatap Lyko dari ujung kepala sampai kaki. Namun tak ada yang mengenalinya. Lyko menunduk sedikit, tapi langkahnya tidak berhenti di depan mereka. Ia terus berjalan melewati mereka tanpa berkata apa-apa.
Lyko mengepalkan tangannya pelan, lalu mempercepat langkahnya menuju bangunan rusun tempat bundanya tinggal.
Bangunan itu berdiri tua dan kusam. Cat dindingnya memudar, beberapa bagian terlihat retak dan bahkan mengelupas. Balkon-balkon kecil dipenuhi jemuran pakaian yang bergoyang tertiup angin dari balkon gedung.
Lyko menatap rusun itu dari bawah lalu perlahan masuk kedalam. Begitu ia masuk suasana langsung berubah menjadi lebih pengap. Lorong sempit, pencahayaan lampu yang redup, serta bau lembab yang khas langsung menyambutnya.
Langkahnya berhenti di depan sebuah lift tua. Lift itu terlihat sangat tradisional dengan bagian pintu besi yang sudah berkarat, besi itu terbentuk kotak namun tak rapat sehingga seseorang yang dari luar dapat melihat siapa yang ada didalam lift.
Lyko langsung masuk, tangannya perlahan menekan tombol angka 8.
Mesin lift bergetar kasar, lalu mulai bergerak naik dengan suara berderit yang terdengar jelas. Lyko bersandar pelan di pagar besi lift. Matanya menatap pintu besi di depannya. Semakin tinggi lift itu naik semakin jelas ia melihat setiap lantai rusun yang dulu menjadi tempat bermainnya.
DING!
Lift akhirnya berhenti, pintu besi itu terbuka dan menimbulkan suara yang berdecit serta bergema di lorong. Lyko langsung berjalan keluar lift.
Lorong lantai itu sedikit gelap, dindingnya dipenuhi bercak-bercak lembab serta jamur yang merambat di sudut-sudutnya. Di sisi kanan, tembok pendek berfungsi sebagai balkon untuk melihat ke pantai bawah.
Begitu Lyko berjalan menuju kamarnya yang ada di ujung lorong, suara kehidupan terdengar dari pintu-pintu yang ia lewati. Televisi yang berbunyi keras, anak bayi yang menangis, dan suara anak-anak yang tertawa dari dalam kamar.
Lyko berjalan perlahan menyusuri lorong itu, ia sedikit familiar dengan semua yang terdengar. Karena itulah kehidupan rumah tangga.
Akhirnya, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu tua yang catnya sudah memudar. Beberapa bagian kayu itu mulai berlubang karena rayap.
Itulah rumahnya. Tangan Lyko terangkat perlahan, namun sempat berhenti di udara karena ragu. Tapi...
TOK! TOK! TOK!
Ketukan itu terdengar pelan, seketika sunyi beberapa detik. Lalu perlahan terdengar suara seseorang dari dalam. “Sebentar!” itulah suara khas Bunda Lyko.
Pintu perlahan terbuka, dari balik pintu terlihat Bunda Lyko yang berdiri dengan tegap. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana yang sudah ditambal di beberapa bagian.
Rambut pink lembutnya digerai sebahu, sedikit kusut, namun tetap terlihat indah dengan caranya sendiri. Wajahnya mulai dipenuhi garis usia, namun mata emerald itu masih cerah dan indah.
Saat matanya menatap Lyko dalam, tersorot sebuah kasih sayang yang hangat.
“Bu-Bunda...” ucap Lyko dengan suara lembut.
Bundanya tersenyum. “Lyko, kamu sudah pulang, Nak?” ucap Bundanya dengan nada lembut dan kecil yang sama sepertinya.
Lyko langsung memeluk bundanya erat. “Maaf Bunda, Lyko sudah membuat Bunda khawatir. Lyko tidak bermaksud begitu...” Ucap Lyko.
Bundanya membalas pelukan Lyko dengan hangat. “Tidak apa-apa sayang... Bunda paham kok,” perlahan bundanya melepas pelukan. “Ayo masuk, kamu pasti lelah.”
Lyko mengangguk pelan, ia masuk ke dalam rumah kecil itu.
Ruangan nya cukup sempit dengan perabot sederhana. Sofa lama yang sedikit usang, meja kecil, dan dapur kecil di sudut ruangan. Namun inilah satu-satunya tempat pulang yang selalu aman baginya.
Mereka duduk di sofa.
“Sebentar ya, Bunda ambilkan sesuatu untukmu,” bundanya berdiri dan pergi ke dapur.
Lyko hanya mengangguk sambil melihat sekeliling rumah yang masih terlihat membuatnya nyaman.
Tak lama kemudian, bundanya kembali dengan sebuah gelas ditangannya. Itu adalah minuman coklat panas dengan marshmellow.
“Ini… minuman favoritmu, sekarang lagi banyak yang panen kakao jadi harganya sangat murah, Bunda sudah siapkan satu karung biji kakao untuk Lyko sarapan setiap hari,” ucapnya sambil tersenyum sambil menyerahkan minumannya.
Lyko menerimanya dengan kedua tangan. “Oh benarkah? Terima kasih, Bunda…” ia tersenyum saat melihat minuman yang ada dihadapannya.
Ia meniup pelan, lalu meminumnya sedikit. Ia merasakan manis dan hangatnya minuman sampai tubuhnya. Namun perlahan ia kembali teringat maksud kedatangannya kemari.
Lyko menunduk perlahan. “Bunda...” panggilnya pelan.
Bundanya menoleh. “Iya, sayang?”
Saat melihat mata Bundanya yang penuh dengan kehangatan Lyko tak berani langsung mengatakan hal itu. Ia langsung mengalihkannya ke topik lain.
“Apa… mereka datang lagi?” tanya Lyko kemudian kembali menaruh minumannya di meja depannya.
Bundanya menggeleng pelan. “Belum, tapi sepertinya mereka pasti akan datang besok,” ucap bundanya sambil menatap lurus kedepan.
Lyko mengepalkan tangannya pelan.
“Oh iya, Bunda juga sudah coba kumpulkan uang dari hasil merajut baju...” lanjut bundanya. “Namun... mungkin memang belum bisa terbayar semuanya, tapi Lyko tenang saja Bunda akan berusaha agar kamu tetap aman,” bundanya tersenyum lembut.
“Memangnya... baru terkumpul berapa Bun?” tanya Lyko pada Bundanya.
“Entahlah, Bunda belum sempat menghitungnya, tunggu sebentar,” bundanya langsung mengambil kaleng yang ia simpan di bawah sofa kemudian membukanya.
Uang itu kebanyakan koin dan uang kertas yang lusuh dan banyak sisinya yang sobek. Lyko menatap itu dengan lirih. Bundanya menghitung dengan perlahan dan senyuman yang tak kunjung lepas.
Setelah beberapa menit menghitung bundanya menaruh uang itu disamping Lyko. “Totalnya 1 juta 500 ribu, mungkin 1 jutanya akan Bunda bayarkan, dan 500 ribunya Bunda pakai untuk kita makan,” bundanya tersenyum.
Lyko membalas senyuman itu. 1 juta? Hati Lyko terasa sesak, nominal itu sungguh sangat kurang.
Tatapan bundanya turun perlahan memperhatikan pakaian Lyko dari atas sampai bawah. Jumpsuit yang dikenakannya bersih dan mahal, sepatu putih itu juga bersih, namun semua itu tidak pernah ia belikan untuk Lyko.
“Lyko…” bundanya membuka suara pelan. “Kamu mendapatkan pakaian seperti ini dari mana, Nak?”
Lyko tersentak kecil, tangannya sedikit menegang, ia terdiam dan membeku. Ia tak tahu harus mulai darimana. Perlahan Lyko tersenyum lembut, tapi jelas senyum itu dipaksa. Tangannya perlahan meraih tangan bundanya.
Lyko mengelus tangan bundanya perlahan. “Bu-Bunda...” suaranya kembali bergetar. “Lyko… Lyko ingin mengatakan sesuatu.”
Bundanya menatapnya serius. “Mengatakan apa, nak?” tanya bundanya lembut.
Lyko menelan ludah, tangannya dingin karena gugup, jantungnya berdebar kencang. “Ly-Lyko…” ia menarik napas dalam. “Lyko ingin menikah dengan seseorang Bun.”
Suasana menjadi hening. Seketika wajah bundanya langsung berubah menjadi sangat terkejut. “Menikah?!”