Cinta Caca mengajarkan Alex arti kehidupan, kebahagiaan dan kehilangan.
Namun siapa sangka, Caca meninggalkan Alex dan membawa cinta mereka ke surga.
Begitu banyak kenangan dan kebaikan yang ditinggalkan Caca.
Dia mendonorkankan matanya untuk Meli. Bahkan dia juga menitipkan cintanya pada Meli.
Akankah Meli menggantikan posisi Caca di hati Alex?
Ikuti terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Genik Amarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbaik Untukku, Untukmu Dan Yang Lainnya
"Mentari senja meredupkan sinarnya"
"Bias-bias cahyanya menghangatkan dunia"
"Perlahan menghilang"
"Meninggalkan seberkas cahaya"
Semua mata tertuju kepada Caca. Tatapan yang penuh harap terpancar jelas dimata mereka. Setitik harapan untuk kehidupan Caca.
"Sayang pulanglah dulu dan beristirahatlah, mamah dan yang lain pasti sangat khawatir." ucap Caca lembut.
"Aku disini aja merawatmu," jawab Alex menggenggam tangan Caca.
"Heyy sejak kapan kamu belajar menjadi suster?" Ucap Caca tertawa.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Caca.
"Pulanglah nak lagipula ada kami disini menemani Caca," ucap ibu Caca lembut.
"Dan ada suster dan dokter Jhony yang merawatku," imbuh Caca tersenyum.
"Yaudah aku pulang dulu ya,besok pagi aku balik lagi," ucap Alex mencium kening Caca.
"Ayah, ibu kalau butuh sesuatu telfon Alex aja ya," ucap Alex.
"Iya,,," jawab orang tua Caca.
Alex segera kembali ke rumahnya. Ternyata Mars dan Venus masih menunggu. Mereka duduk di ruang tv. Mamah Alex tak sabar mendengar kabar Caca.
"Caca gimana?" tanya mamah Alex khawatir.
"Dia nggak papa kan Lex?" tanya Yogi penasaran.
"Iya kan Lex? Caca cuma kecapekan kan?" Desak Mhocan.
Alex masih terdiam. Dia mengumpulkan nyali untuk mengabarkan berita buruknya.
Sedangkan yang lain mulai gusar karna pertanyaan mereka tak segera mendapatkan jawaban.
Alex menghela nafas panjang.
"Mah, guys... Caca selama ini menderita penyakit berbahaya. Bahkan belum ditemukan obat yang efektif untuk penyakit ini. Hanya dengan operasi dan obat-obatan itulah yang bisa dilakukan. Caca pernah menjalani satu kali operasi. Dokter bilang operasi hanya bisa mengulur waktu. Operasi itu nggak bisa menghentikan kerusakan sel-selnya. Dan beberapa bulan yang lalu hasil pemeriksaan memprediksi waktu Caca didunia ini tak lebih dari setaun." Ucap Alex bergetar.
Seketika mereka lemas mendengar kabar itu. Tangis mereka pun pecah menggema di ruangan itu. Alex memeluk mamahnya yang tengah menangisi Caca. Isak tangis Venus pun tak terbendung lagi. Mars mencoba menenangkan mereka.
"Hal sebesar itu kenapa kita nggak tau Lex, sahabat macam apa kita?" Tanya Yogi menahan air matanya.
"Caca memang merencanakan merahasiakan itu dari orang lain, hanya orang tuanya dan Jhony yang tau tentang itu," jawab Alex.
"Jhony,,,siapa dia?" tanya Cika terisak.
"Dia sahabat Caca sejak SMA sekaligus dokter yang menanganinya," jawab Alex.
"Guys kami sudah sepakat untuk tetap terlihat tersenyum di hadapan Caca. Setidaknya itu akan membuatnya bahagia. Dan kami berharap dengan begitu kondisi Caca akan membaik dan mukjizat Tuhan terjadi. Jadi tetaplah tersenyum saat menemuinya." Pinta Alex.
Lalu mereka pulang ke rumah masing- masing. Mereka berencana untuk menjenguk Caca besok pagi. Mamah Alex masih terisak di kamarnya. Begitupun dengan Alex, hatinya sangat hancur. Air mata yang sudah ia tahan sedari tadi kini tak terbendungkan lagi. Dia teridur dalam tangisnya dengan memeluk fotonya bersama Caca.
Pagi pun tiba, Mars dan Venus sudah berkumpul di rumah Alex. Mereka hanya terdiam dengan mata sembabnya. Setelah sarapan mereka akan segera ke rumah sakit. Mamah Alex sudah menyiapkan makanan kesukaan Caca. Makanan untuk orang tua Caca juga sudah disiapkan.
Sesampainya di rumah sakit mereka masuk secara bergantian. Orang tua Caca menyambut mereka di depan ruangan. Mamah Alex menyapa ramah mereka lalu memeluk ibu Caca.
Venus mengambil giliran pertama untuk menemui Caca. Sebelum mereka masuk ke ruangan, Alex kembali mengingatkan mereka untuk tersenyum di hadapan Caca. Mereka membuka pintu dan menyiapkan hatinya untuk tidak menangis nantinya.
"Hai guys mau sampe kapan kalian berdiri di depan pintu?" Ucap Caca tertawa.
Mereka mendekati Caca dan memeluknya dengan erat.
"Caca kamu udah mendingan kan?" Tanya Mhocan berusaha tersenyum.
"Tenang aja aku nggak papa kok," Jawab Caca tersenyum.
"Emang kalian nggak kerja?" tanya Caca.
"Iya kerja bentar lagi, mana bisa kita kerja sebelum mastiin kamu baik-baik aja," jawab Cika mencubit lembut hidung Caca.
Mereka berbincang sejenak dan bercanda. Caca tersenyum ceria seolah tidak terjadi apapun pada dirinya. Venus yang sedari tadi berusaha tersenyum mulai tak bisa menahan kesedihannya. Mereka memutuskan untuk segera keluar dari ruangan.
"Ca kita kerja dulu ya, nanti malem kita kesini lagi," pamit Pia.
"Iya nih lagian si Yogi udah chat mulu buat gantian masuk," sahut Mhocan.
"Iya deh kalian kerja dulu, semangat ya semua," ucap Caca tersenyum ceria.
Lalu mereka memeluk erat Caca dan segera keluar ruangan. Air mata mereka tak terbendungkan lagi. Tangis mereka pecah namun mereka berusaha agar tidak terdengar Caca. Mars memeluk mereka untuk menenangkan.
Kini giliran Mars yang akan menemui Caca.
Venus menunggu di luar karna mereka akan pulang bareng Mars.
"Hei anak bandel," ucap Yogi menghampiri Caca dan mengusap kepalanya.
"Hei anak jail," ucap Caca membalas sambil tersenyum.
Mereka ngobrol panjang lebar. Viko membuat Caca tertawa terbahak-bahak dengan candaannya.
Dalam hati Mars, mereka merasa senang melihat Caca yang tertawa lepas tapi mereka juga sedih mengingat kebenaran tentang keadaan Caca.
"Ca kita kerja dulu ya," ucap Dicky.
" Iya kalian kerja dulu aja," jawab Caca tersenyum.
Mars melangkah keluar meninggalkan ruangan Caca. Lalu Mars dan Venus berpamitan kepada yang lain untuk pergi bekerja. Alex mengambil cuti untuk menemani Caca.
Orang tua Caca, Alex dan mamah Alex masuk ke dalam ruangan. Alex dan mamahnya menghampiri Caca. Alex mencium kening Caca lalu mengusap lembut kepalanya. Mamah Alex bergantian memeluk Caca dan mecium keningnya.
"Sayang gimana keadaanmu, udah enakan?" tanya mamah Alex berusaha tersenyum.
"Udah mah, jangan khawatir Caca nggak papa kok," jawab Caca tersenyum.
"Mah kayaknya Caca nyium bau masakan mamah deh," ucap Caca sambil mengendus aromanya.
Mereka tertawa melihat tingkah Caca.
"Wah tajem juga ya hidungmu, nih mamah udah masakin makanan kesukaanmu." Ucap Alex sambil menyiapkan makanan untuk Caca.
"Yeay... " ucap Caca girang.
"Oh iya mamah juga udah nyiapin makanan buat ayah sama ibu," ucap Alex sambil menyiapkannya untuk mereka.
"Wah trimakasih lho bu, malah jadi ngrepotin," ucap ibu Caca tersenyum.
"Iya bu sama-sama, silahkan dinikmati semoga cocok dengan rasanya," jawab mamah Alex tersenyum.
"Caca saja lahap gitu makannya, gimana kami bisa ragu dengan rasanya?" sahut ayah Caca tersenyum.
Hahahhahaha mereka tertawa mendengar ucapan ayah Caca. Setelah selesai makan mereka istirahat sejenak. Lalu dokter Jhony datang untuk pemeriksaan.
"Wah kayaknya kamu semangat banget hari ini Ca," ucap Jhony sambil memeriksa.
"Tentu dong," jawab Caca ceria.
"Kamu nggak ada cita-cita nemenin aku juga nih?" Seloroh Caca.
"Iya nanti lepas dinas aku kesini juga," jawab Jhony mengusap kepala Caca.
Setelah pemeriksaan selesai Jhony pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Ayah, ibu pulang dulu aja, istirahat dulu. Alex sama mamah yang gantian jagain Caca." ucap Alex.
"Yaudah kami pulang bentar ya, kalau butuh sesuatu langsung telfon ibu ya," jawab ibu Caca.
" Iya bu," jawab Alex.
Orang tua Caca mnghampiri putrinya dan mencium keningnya. Lalu mereka berpamitan. Mamah Alex meminta Caca untuk beristirahat.
Saat malam hari tiba-tiba kondisi Caca tidak stabil. Dia kehilangan kesadarannya. Suster segera memasang alat bantu pernafasan. Jhony melakukan pemeriksaan keseluruhan.
Alex dan mamahnya sangat khawatir. Mamah Alex menangis memandangi Caca yang tak sadarkan diri. Alex segera memberikan kabar kepada orang tua Caca dan teman-temannya.
Di tempat lain, orang tua Caca segera bersiap ke rumah sakit. Ibu Caca sangat khawatir, air matanya beruraian. Mars dan Venus segera berkumpul dan bergegas ke rumah sakit. Perasaan mereka berkecamuk. Tak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan. Alex terus menggenggam tangan Caca. Air matanya menetes membasahi pipi.
Beberapa saat kemudian orang tua Caca tiba. Lalu disusul Mars dan Venus. Mereka sangat sedih melihat kondisi Caca. Semua terdiam dan hanya ada suara isak tangis yang terdengar. Alex yang menggenggam tangan Caca merasakan ada pergerakan pada tangan Caca. Dia segera memanggil dokter. Dokter Jhony dengan sigap segera memeriksa Caca.
Perlahan mata Caca terbuka. Dia mengisyaratkan kepada Jhony agar membuka alat bantu nafasnya. Semuanya segera menghapus air mata dan berusaha tersenyum menghadapi Caca.
Alex mengambil air minum di meja dan menyuapkannya ke mulut Caca.
Caca terlihat sangat lemah.
"Kalian jangan khawatir, i am ok!" ucap Caca lemah.
Mereka semua berusaha tersenyum mendengar ucapan Caca.
"Jhony, thanks ya udah sabar merawatku, udah nurutin kemauanku," ucap Caca tersenyum.
"Sama-sama Ca itu udah kewajibanku dan udah jadi nasibku untuk menurutimu yang keras kepala itu!" jawab Jhony mengelus kepala Caca.
"Hahaha sory Jhon," sahut Caca.
"Ayah, ibu, mamah trimakasih atas kasih sayangnya. Maaf Caca belum bisa membalas itu semua." ucap Caca tersenyum.
Orang tua Caca dan mamah Alex memeluk Caca bergantian. Air mata mereka berlinang, mereka tak sanggup berkata- kata.
Segera mereka menjauh dari bed dan memalingkan muka untuk menyeka air mata.
"Guys teruslah berkarya, semangat latihannya," ucap Caca mengembangkan senyum.
Mars dan Venus mendekati Caca. Venus segera memeluk Caca.
Lalu Caca memandangi kekasihnya yang sedang menahan air mata.
"Bisakah tinggalkan aku dan Alex sebentar?" ucap Caca memandang yang lain.
Mereka semua dengan berat meninggalkan ruangan itu. Alex duduk di sisi Caca dan mencium tangannya.
"Sayang tolong jangan menangis," ucap Caca sambil menghapus air mata Alex yang mulai tumpah.
"Oke," jawab Alex lirih lalu mencium kening Caca.
"Bolehkah aku meminta tolong?" tanya Caca.
"Ya tentu, apa yang kamu inginkan?" jawab Alex tersenyum.
"Kalau sedang tidak sibuk tolong ambilkan sesuatu di kamar kosku," ucap Caca.
"Barang apa itu sayang?" tanya Alex.
"Di meja kamarku ada sebuah kotak kardus. Tolong ambilin itu ya, kunci ada di dalam tasku." ucap Caca.
"Oke besok aku ambilin buat kamu," jawab Alex tersenyum.
Caca terus memandangi kekasihnya dan memegang wajahnya.
"Sayang dengan keadaanku ini apa kamu masih mencintaiku?" tanya Caca.
"Tentu, aku mencintaimu apapun keadaanmu." Jawab Alex tersenyum.
"Aku mencintaimu Lex," ucap Caca tersenyum.
Alex tersenyum dan mencium kening Caca. Tiba-tiba tangan Caca yang tadinya menyentuh wajah Alex mulai terlepas. Mata Caca terpejam.
"Cacaaaaa...." teriak Alex sambil menangis.
Mereka yang menunggu di luar terkejut mendengar teriakan Alex. Jhony segera bergegas masuk dan memeriksa Caca. Tangisan pecah di ruangan itu. Mereka berharap Caca tak meninggalkan mereka secepat ini.
Suster berlari untuk mengambil beberapa peralatan dan Jhony meminta mereka semua keluar dari ruangan untuk pemeriksaan. Mereka menanti di luar ruangan dengan gelisah. Bahkan tak satu pun dari mereka yang mampu berkata-kata.
tulisan rapi. ditambah menjabarkan adegan bagus banget