NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Hutan kabut

"Larii! Ada monster!"

​Teriakan itu memecah kesunyian Hutan Kabut seperti petir di siang bolong. Seketika, ketenangan berubah menjadi kekacauan murni.

Kabut yang tebal membuat jarak pandang hanya tersisa beberapa meter, mengubah hutan menjadi labirin maut. Murid-murid luar yang belum memiliki pengalaman tempur berlarian tanpa arah, saling bertabrakan, dan berteriak ketakutan.

​Xiao Chen menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia bisa merasakan adrenalin memompa jantungnya dengan liar. Di tengah hiruk-pikuk itu, ia mencengkeram tangan Bao Hu dengan kuat.

​"Tarik tangan Qian'er, Bao! Kita tidak boleh berpencar!" perintah Xiao Chen dengan suara rendah namun tegas.

​Dari atas pepohonan yang menjulang, terdengar suara cakar yang menggaruk kulit kayu, disusul suara patahan ranting besar.

Xiao Chen bisa merasakan embusan napas berat yang berbau busuk merayap di tengkuknya. Hutan ini bukan lagi tempat mencari rumput, tapi sebuah arena perburuan.

​Saat mereka berusaha mencari jalan keluar, sebuah kerumunan murid terhenti di depan. Mereka saling dorong, wajah-wajah mereka pucat pasi.

​"Di atas! Awas!" bisik Roh Pedang dengan nada mendesak.

​SRETT!

​Sebuah kilatan hitam melesat dari dahan pohon tinggi. Makhluk itu mendarat dengan dentuman berat tepat di tengah jalan, menghadang jalur pelarian mereka.

​"Aaaarrg! Jangan makan aku!" Seorang murid di paling depan jatuh terduduk, tubuhnya gemetaran hebat hingga ia mengompol, air mata mengalir deras di wajahnya yang kotor.

​Makhluk itu melangkah keluar dari bayang-bayang kabut, menunjukkan wujud aslinya yang mengerikan. Tubuhnya sebesar harimau dewasa, namun ditutupi sisik hitam yang berkilat tajam.

Matanya merah menyala seperti bara api, mulutnya dipenuhi taring panjang yang meneteskan air liur asam, dan ekornya berbentuk seperti cambuk berduri yang menyapu tanah dengan suara mendesis.

​"I-itu... Serigala Kabut Bermata Darah!" suara Bao Hu bergetar. Sebagai anak yang banyak mendengar cerita pengembara, ia tahu makhluk itu adalah predator tingkat rendah yang seharusnya menghuni bagian dalam hutan, bukan di pinggiran tempat murid baru berlatih.

​Qian'er merosot di belakang Bao Hu, wajahnya sepucat kertas. "K-kita... kita semua akan mati..."

​"Jangan bicara seperti itu!" gertak Xiao Chen, meski tangannya sendiri tidak berhenti gemetar.

​Tanpa peringatan, serigala itu menggeram rendah dan melompat. Targetnya adalah murid yang jatuh tadi. Dalam satu gerakan cepat, taringnya menancap di bahu murid itu.

​"AAAARRG! TOLOOONG!"

​Teriakan itu terputus seketika saat monster itu menyeret tubuh malang tersebut masuk ke dalam kegelapan kabut. Hanya suara kunyahan dan tulang patah yang terdengar beberapa detik kemudian, membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

​Para murid kembali terpukul mundur. Di saat yang lain hanya mementingkan diri sendiri, Xiao Chen menyadari sebuah pola. Makhluk ini tidak langsung membunuh semua orang, ia memburu mereka yang berpencar atau yang paling lemah.

​"Tetap bersama! Jangan lari sembarangan!" teriak Xiao Chen. Namun, kepanikan telah membutakan logika mereka. Kebanyakan murid tidak peduli dan terus berlari ke arah yang salah.

​"Makhluk ini tampaknya sedang mempermainkan kalian. Ia menikmati ketakutan mangsanya," suara Roh Pedang bergema dingin di kepala Xiao Chen.

​Tiba-tiba, monster itu kembali muncul dari arah samping, mengincar Qian'er yang mematung. Tanpa pikir panjang, Xiao Chen melompat dan mendorong gadis itu.

​"Awas, Qian'er! Pergi!"

​SRAK!

​Cakar monster itu menyambar punggung Xiao Chen. Ia terlempar, merasakan sensasi panas yang membakar saat pakaian dan kulitnya robek. Xiao Chen meringis, napasnya memburu. Intimidasi dari makhluk ini begitu kuat hingga ia merasa paru-parunya mengecil.

​Xiao Chen melirik ke arah sebuah pohon besar yang tumbang. Di sana, ia melihat sesuatu yang memantulkan cahaya suram. Ia harus memancing monster itu agar teman-temannya bisa lari.

​"Kejar aku, monster rakus! Di sini daging yang lebih segar!" teriak Xiao Chen sambil berlari ke arah yang berlawanan.

​Serigala itu menggeram, terprovokasi. Ia mengubah targetnya dan mengejar Xiao Chen dengan kecepatan luar biasa. Xiao Chen berlari mati-matian, melompati akar pohon. Saat monster itu melompat untuk menerkamnya, Xiao Chen berguling di tanah.

​Ia sampai di area yang tampak seperti "dapur" monster itu. Tulang-tulang manusia yang sudah menguning berserakan di sana, dengan bekas cakaran yang dalam di pohon-pohon sekitarnya.

​"Ini bukan monster biasa yang tersesat," gumam Roh Pedang.

​Xiao Chen terpaku. Ia menyadari kenyataan pahit: Sekte Pedang Langit kemungkinan besar sengaja membiarkan monster ini berada di sini. Hutan Kabut bukan tempat mencari rumput, tapi tempat seleksi brutal untuk menyingkirkan mereka yang lemah. Tidak ada instruktur yang datang. Tidak ada senior yang menolong. Mereka dibiarkan mati sebagai pupuk hutan.

​Di antara tumpukan tulang, Xiao Chen melihat sebuah pedang besi yang sudah berkarat dan patah setengahnya. Ia menyambarnya dengan tangan kiri yang gemetar.

​"Serigala jelek! Mangsamu di sini!"

​PLAK!

​Sebuah batu menghantam kepala serigala itu. Xiao Chen menoleh dan tertegun. Bao Hu dan Qian'er berdiri di sana, tangan mereka penuh dengan batu. Wajah mereka ketakutan setengah mati, tapi mereka tidak lari.

​"Apa yang kalian lakukan, bodoh?! Kalian ingin kita semua mati?!" teriak murid lain dari kejauhan, tapi Bao Hu tidak peduli.

​"Aku tidak akan membiarkan temanku mati sendirian!" teriak Bao Hu.

​Xiao Chen merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Kepercayaan teman-temannya memberinya kekuatan.

Ia berdiri tegak, memejamkan mata sesaat, memfokuskan seluruh indranya pada pedang berkarat di tangannya. Ia mengingat pelajaran dari kekalahannya melawan Zhao Kun.

​Pedang adalah perpanjangan hati...

​"TEKNIK PEDANG TANPA BENTUK: TAHAP PERTAMA!"

​Xiao Chen mengayunkan pedang patah itu dengan gerakan yang sangat murni. Meski tanpa Qi yang meledak-ledak, aliran udaranya menjadi tajam.

​SLASH!

​Pedang berkarat itu berhasil menyayat kulit keras serigala kabut, meninggalkan luka yang cukup dalam hingga darah hitam merembes keluar. Monster itu melolong kesakitan, terkejut karena seekor semut berhasil melukainya.

​Di atas dahan pohon tinggi yang tersembunyi kabut, Han Gu berdiri diam. Matanya menyipit saat melihat gerakan Xiao Chen. "Menarik. Walaupun dikuasai ketakutan, mereka masih bisa bekerja sama. Terutama bocah itu... cara di memaksakan diri untuk tetap tenang dan berpikir logis tidak masuk akal untuk seseorang yang belum mencapai Ranah Pemula. Dan teknik pedang itu... seolah-olah ia membelah udara sebelum senjatanya sampai."

​Belum sempat mereka bernapas lega, sebuah auman yang jauh lebih besar dan menggetarkan jiwa mengguncang seluruh hutan. Burung-burung terbang menjauh, dan kabut seolah tersibak oleh gelombang suara tersebut.

​Keringat dingin membasahi punggung setiap murid. Dari kedalaman hutan yang paling gelap, sebuah sosok raksasa muncul perlahan.

​Raja Serigala Kabut Bermata Darah.

​Ukurannya sebesar kereta kuda bangsawan. Bulu hitamnya tampak seperti baja, dan dari mulutnya keluar uap merah yang beracun.

Tekanan spiritualnya begitu kuat hingga beberapa murid langsung jatuh berlutut, bahkan ada yang pingsan karena jantungnya tidak kuat menahan intimidasi tersebut.

Serigala tadi langsung merunduk takut seperti anjing yang bertemu tuannya.

​"Xiao... apa kita akan mati di sini?" bisik Bao Hu, kakinya lemas.

​Semua murid terjebak. Jalan keluar seolah tertutup oleh tembok tak kasat mata dari aura sang raja. Beberapa murid mulai berteriak histeris, menyalahkan Xiao Chen karena menyuruh mereka berkumpul sehingga mereka menjadi sasaran empuk sang raja.

​Raja Serigala itu membuka mulutnya yang lebar. Energi merah yang pekat mulai berkumpul di tenggorokannya, membentuk bola cahaya yang siap meledakkan apa pun di depannya.

​"Nak... dengarkan aku," suara Roh Pedang menjadi sangat serius. "Jika kau memakai pedang itu sekarang, kau bisa melawan makhluk ini. Tapi ingat... auranya akan melesat hingga ke puncak sekte. Kau akan hidup sekarang, tapi kau akan diburu selamanya."

​Xiao Chen menatap teman-temannya. Ia menatap Qian'er yang menangis dan Bao Hu yang gemetar namun tetap berdiri di sampingnya.

​"Jika aku tidak menggunakannya sekarang... kami semua akan mati di sini sebagai sampah," gumam Xiao Chen.

​Ia perlahan mengangkat tangan kanannya yang masih terbalut perban. Di balik kain itu, simbol pedang hitam mulai berdenyut dengan cahaya merah yang redup namun mematikan. Kabut di sekitar Xiao Chen mulai berputar searah jarum jam, seolah-olah ditarik oleh gravitasi yang luar biasa.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!