Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investigasi sang Mata Mata
Malam semakin larut di Kerajaan Central. Selepas menyegarkan diri di pemandian kerajaan, Alexa dan Kirana kini telah mengenakan piyama mereka. Kedua gadis itu mulai melangkah keluar dari kamar untuk menjelajahi area dalam istana.
"Hmm, aku bingung ruangan mana yang ingin kutunjukkan ke kamu dulu ya?!" ujar Kirana sambil mengetuk dagunya, menatap koridor yang panjang.
Alexa tersenyum manis, mencoba mengarahkan tujuan. "Aku boleh usul tidak? Sebenarnya aku ingin sekali ke perpustakaan kerajaan, Kirana. Soalnya mungkin ada beberapa ilmu pengetahuan tinggi yang tidak kupelajari di sekolah."
Kirana tertawa kecil mendengarnya. "Kau ini, ya... Tidak di sekolah, tidak di kerajaan, minat terhadap ilmu selalu saja tinggi. Yah, yaudah ayo kita ke perpustakaan kerajaan!"
"Let's go!" sahut Alexa bersemangat.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju perpustakaan. Begitu pintu kayu besar disorong terbuka, aroma khas kertas tua tercium. Di salah satu sudut meja besar yang diterangi lilin, tampak Menteri Ethan sedang fokus memeriksa tumpukan dokumen aduan dari rakyat Central.
"Wah, ternyata ada Menteri Ethan. Pak Ethan sedang ngapain?" tanya Kirana santai, melongok ke arah berkas-berkas tersebut.
Menteri Ethan tersentak kecil, lalu mendongak. "Eh, Tuan Putri Kirana. Ini, saya sedang mengurusi dokumen-dokumen pengaduan rakyat. Beberapa yang sekiranya bisa saya bantu, akan langsung saya selesaikan. Tapi ada beberapa yang memang harus diperlihatkan langsung ke Raja, makanya saya pilah dulu dokumen-dokumen ini. Oh ya, saya dengar Tuan Putri mengajak teman sekolahnya untuk menginap di sini, ya?"
Kirana langsung menarik lengan Alexa agar maju. "Ini, Pak Ethan, teman sekolah saya. Namanya Alexa, dia sangat pintar di sekolah.
Dia yang mengajak kami ke sini," Kirana kemudian menoleh ke arah Alexa. "Alexa, ini Perdana Menteri kerajaan kami, Perdana Menteri Ethan. Dia adalah shohib Ayahku waktu kecil, dan dia juga salah satu orang terpintar di kerajaan."
"Salam kenal, Tuan Ethan," ucap Alexa membungkuk hormat, memasang senyum terbaiknya.
"Oh ya, salam kenal juga, Alexa," sahut Ethan ramah. Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dahi sang menteri membatin dengan prasangka buruk. (Kenapa aku tiba-tiba seperti mempunyai firasat buruk ya? Padahal sebelumnya aku sudah pernah melihat dia bermain dengan Tuan Putri dan tidak timbul firasat buruk apa pun...)
Kirana tidak menyadari perubahan ekspresi Ethan dan langsung bertanya, "Oh ya, Pak Ethan tahu gak Ayah pergi ke mana? Aku hanya diberi tahu lewat surat kalau beliau pergi selama tiga hari."
Ethan mendengus pelan sebelum menjawab,
"Sang Raja sedang pergi ke arah timur karena mempunyai urusan yang sangat penting. Ada hal yang harus dibincangkan di sana."
Pandangan Ethan sempat melirik tajam ke arah Alexa yang kini beralih memandangi deretan buku di rak raksasa.
"Ini, Alexa ingin membaca buku di perpustakaan kerajaan. Kalau di sekolah, dia memang kutu buku orangnya," sela Kirana riang.
"Bagus dong, banyak ilmu yang ada di sini. Silahkan, silahkan dinikmati. Kalau begitu, saya harus pergi ke ruangan kerja saya dulu ya untuk menyelesaikan ini. Sampai jumpa," pamit Menteri Ethan sembari merapikan berkasnya dan melangkah pergi keluar dari perpustakaan.
Kini, ruangan luas itu hanya menyisakan mereka berdua. Alexa bergerak cepat, jemarinya membuka tiap buku demi buku yang berjejer di rak. Namun, raut wajahnya perlahan berubah masam. Isi buku-buku itu hanya memuat sejarah biasa, silsilah kerajaan, dan pengetahuan standar yang sudah diajarkan di sekolah.
(Tidak mungkin tidak ada misteri tentang planet ini?!) batin sang Pengintai dengan geram. (Kenapa tidak ada satu pun petunjuk ataupun sejarah kuno yang tertulis di sini? Isinya hanya sejarah makhluk biasa dan ilmu pengetahuan yang sangat standar!)
"Halo! Alexa... Alexa! Lah, malah bengong. Oi, Alexa!" Kirana melambaikan tangan di depan wajah temannya.
Alexa tersentak, buru-buru menyembunyikan kekesalannya. "Maaf, Kirana. Aku mencoba membaca beberapa buku di sini, ternyata isinya sama saja dengan buku-buku yang ada di sekolah."
"Ya karena memang perpustakaan ini hanya mengambil salinan dari perpustakaan sekolah," sanggah Kirana. "Paling cuma ada beberapa penambahan sejarah lama sama ilmu pengetahuan yang baru saja."
Alexa menoleh matanya sedikit, memancing informasi. "Selain ini, apakah tidak ada buku yang lebih menarik? Seperti... buku yang berbeda dengan buku lainnya?"
"Gak ada sih... Eh, ada deh! Paling cuma satu buku dongeng yang menarik. Ayah selalu membacakanku dongeng ini jika aku tidak bisa tidur waktu kecil. Ceritanya selalu diulang-ulang oleh Ayahku, tetapi dongeng itu selalu berhasil membuatku tertidur."
"Dongeng? Dongeng apa?!" tanya Alexa.
"Bukunya sih kayaknya disimpan rapat oleh Ayah di ruangannya. Tapi aku masih ingat dan bisa menceritakan dongeng itu. Kau mau kudengar?"
"Boleh, Kirana. Aku ingin mendengarnya," sahut Alexa minat.
Kirana pun mulai menceritakan dongeng kuno tersebut, sebuah kisah yang sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Kinanti kepada Devan di kaki Gunung Eclipse mengenai sosok pengembara, kuil di bawah reruntuhan sungai utara, dan entitas kosmic.
Begitu Kirana menyelesaikan ceritanya dengan kalimat, "Begitulah ceritanya...", otak Alexa langsung bekerja dengan sangat cepat. Sebagai seorang pengintai dari luar angkasa, ia tidak menganggap cerita itu sebagai bualan pengantar tidur semata. Ia menaruh kecurigaan yang amat besar.
(Ini dia! Ini dia yang menjadi penghalang terbesar kami untuk menyerap kekuatan Planet Nova selama ini! Si Guardian Nova yang bernama Orbiter Ars!) Alexa bersorak di dalam hatinya dengan binar mata yang mengerikan. (Kekuatan sebesar yang diceritakan itu berarti hampir setara dengan kekuatan Yang Mulia Lord! Ini adalah salah satu informasi yang sangat penting. Aku harus segera memberitahukan temuan ini kepada Tuan!)
"Yah, dia termenung lagi. Hei, Alexa!" Kirana menepuk pundak Alexa dengan gemas karena merasa diabaikan lagi.
Alexa tersentak kaget akibat tepukan tersebut, lalu buru-buru memasang wajah bersalah. "Maaf, Kirana... Aku terlalu terhanyut dengan cerita dongengmu tadi. Maaf ya."
Kirana langsung tersenyum bangga. "Kau suka dongengku ya?! Aku gak ada cerita dongeng lagi sih. Oh ya! Ayo aku ajak kamu jalan-jalan ke tempat lain saja!"
"Boleh, Kirana. Lagipula buku-buku di sini kurasa sudah pernah habis kubaca di perpustakaan sekolah," jawab Alexa menyetujui.
"Hehe, makanya aku jarang baca buku di sini," kekeh Kirana sembari berjalan memimpin jalan keluar. "Oh ya, maaf ya Alexa. Tadinya aku ingin mengajakmu ke taman belakang istana. Tapi karena sekarang sudah malam, kurasa lebih baik nanti pagi saja kita ke sananya. Soalnya ada beberapa peraturan ketat untuk wanita di istana yang dilarang keluar gedung istana saat malam hari, kecuali ada perintah langsung dari Raja. Bagaimana kalau kita pergi ke Aula Kerajaan saja?"
"Oke, Kirana."
Alexa dan Kirana kemudian melangkah menuju Aula Kerajaan. Sesampainya di sana, Alexa berpura-pura tertegun luar biasa demi menjaga penyamarannya. Ia memandangi luasnya aula yang sangat megah itu. Di ujung ruangan, terdapat singgasana sang raja yang terbuat dari besi kokoh yang dibalut emas murni dan jajaran batu Zamrud yang berkilauan. Kursi-kursi tamu serta tempat duduk para petinggi kerajaan tersusun rapi di sisi kanan dan kiri. Di dinding aula, terpajang lukisan-lukisan besar wajah para pendahulu Kerajaan Central, berdampingan dengan jendela-jendela kaca yang besar serta aneka macam perhiasan mewah.
"Wah, bagus banget! Dan luas sekali... Jadi begini aula tempat berkumpulnya para petinggi kerajaan. Keren..." puji Alexa dengan nada kagum yang dibuat-baik.
Kirana mengibaskan tangannya acuh. "Biasa saja sih. Menurutku, aku pernah berkunjung ke Kerajaan Elvectra di wilayah Barat, dan di sana aulanya jauh lebih wah lagi. Tapi tenang saja, nanti kalau aku sudah besar dan memegang kendali, aku akan mengangkatmu menjadi menteriku! Nanti aku ajak kamu berkunjung ke kerajaan-kerajaan lainnya."
Alexa membungkuk dalam, menyembunyikan seringai liciknya. "Sebuah kehormatan besar untukku, Tuan Putri. Sebelum saat itu tiba, aku akan terus belajar menjadi menteri yang baik untuk bisa mendampingimu di sisimu."
"Aku tunggu saat itu, Alexa! Gimana, kita mau ke mana lagi? Tapi... hoammm, aku sudah mulai mengantuk sih," ucap Kirana sambil mengucek matanya yang mulai berair.
"Sebaiknya kita tidur saja, Kirana. Aku lihat matamu memang tampaknya sudah ngantuk berat," usul Alexa perhatian.
"Yaudah deh, besok pagi saja kita ke tamannya."
Mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke kamar tidur milik Kirana. Sambil berjalan di belakang sang putri, pikiran Alexa terus berputar dengan liar.
(Aku yakin dongeng tentang Orbiter Ars itu nyata. Tetapi... kenapa tadi Menteri Ethan bilang kalau Raja pergi ke arah timur? Apa karena ada urusan lain, atau dongengnya yang sengaja diganti lokasinya untuk mengelabui orang? Apa si menteri itu sengaja menjaga rahasia ini? Tunggu... apa dia sebenarnya mulai mencurigaiku?)
Alexa menggelengkan kepalanya pelan di dalam kegelapan koridor. (Aku harus lebih berhati-hati. Atau... apa aku yang terlalu berlebihan untuk tetap waspada? Baiklah, kesampingkan dulu perasaan ini. Mungkin nanti akan kuberikan semua informasi berharga ini setelah aku pulang dari kerajaan dan melaporkannya langsung kepada Tuan.)
Sesampainya di kamar, Kirana langsung merebahkan tubuhnya dan dalam hitungan menit sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Alexa ikut memosisikan dirinya di atas kasur, memejamkan mata untuk mengisi tenaga. Ia harus siap untuk menjelajahi taman istana esok pagi, sebuah tempat yang tanpa disadari oleh siapa pun di kerajaan ini, akan menuntun mereka berdua untuk melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana.