NovelToon NovelToon
Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Antagonis / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Menjenguk Margot

Sinar matahari pukul sepuluh pagi menembus kaca jendela besar di koridor lantai lima Rumah Sakit Pusat Kota. Cahaya itu menerangi lantai keramik putih yang bersih dan memberikan kesan kaku pada lorong menuju kamar perawatan VIP. Eleanor berjalan menyusuri lorong yang sepi tersebut. Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua dengan nomor kamar 505. Di sisi pintu, terdapat sebuah jendela kaca kecil berbentuk persegi yang memungkinkan orang di luar melihat kondisi di dalam kamar.

Eleanor mendekatkan wajahnya ke kaca tersebut. Di dalam ruangan yang berukuran luas itu, ia melihat Margot, nenek dari Liam, sedang berbaring di atas ranjang dengan bantal yang ditumpuk tinggi di belakang punggungnya. Di sisi ranjang sebelah kanan, Liam duduk di kursi tanpa sandaran tangan. Tangannya bergerak teratur mengupas kulit sebuah jeruk, lalu memisahkan serat-serat putihnya sebelum menyuapi neneknya satu per satu.

Namun, pemandangan itu terganggu oleh kehadiran Audrey yang duduk di samping Liam. Audrey terus berbicara tanpa henti. Suaranya yang melengking dan cempreng tetap bisa didengar oleh Eleanor meskipun terhalang oleh pintu yang tertutup rapat.

Eleanor berdiri mematung sambil terus mengamati dari balik kaca. "Ckck! Nenek Margot dan Liam benar-benar memiliki kesabaran yang luar biasa karena tidak menampar perempuan itu atau menyumbat mulutnya dengan kain. Padahal aku yang berada di luar pintu saja merasa gendang telingaku seperti mau pecah mendengar suaranya yang cempreng itu," batin Eleanor dengan dahi berkerut.

Di dalam kamar, Liam yang sedang memegang potongan jeruk tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia merasa seolah-olah mendengar suara Eleanor yang mengeluh tentang kebisingan di dalam ruangan. Liam menolehkan kepalanya sedikit ke arah pintu, namun ia tidak melihat siapa pun karena posisi Eleanor yang sedikit bergeser. "Apakah Eleanor benar-benar ada di sini?" pikir Liam.

Liam merasa setuju dengan suara hati Eleanor yang barusan ia dengar. Audrey memang sangat berisik sepanjang pagi ini. Liam memutuskan untuk segera menyuruh Audrey pergi agar neneknya bisa beristirahat tanpa gangguan suara. Tanpa disadari, ada sedikit rasa antusias yang muncul dalam diri Liam untuk memastikan apakah tunangannya itu benar-benar berdiri di balik pintu.

Eleanor tidak mengetuk pintu. Ia langsung menekan gagang pintu besi itu dan mendorongnya hingga terbuka lebar, menciptakan bunyi dentuman pelan saat pintu membentur pembatas di lantai. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Audrey tersentak kaget.

Eleanor berjalan lurus ke arah Audrey dan menunjuknya dengan jari telunjuk. "Kau! Apa yang kau lakukan di sini? Sejak kapan? Bukankah aku sudah memperingatkanmu jangan-jangan dekat-dekat Liam. Apa kau sengaja supaya aku salah paham?" tanya Eleanor dengan suara lantang. Ia memang datang bukan untuk menjenguk tapi untuk membuat kesal keluarga Parker dan berharap mereka segera membatalkan pertunangan.

Audrey berdiri dari kursinya, merapikan rok pendeknya, dan memasang ekspresi wajah yang tampak sedih. "Aku? Aku hanya datang untuk menjenguk nenek Margot. Apa itu salah? Eleanor, apakah kau merasa cemburu hanya karena aku dekat dengan keluarga Parker? Aku benar-benar bukan selingkuhan Liam," Audrey menarik napas panjang.

"Aku dan ibuku sudah tinggal di kediaman Parker selama lebih dari sepuluh tahun. Aku dan Liam tumbuh bersama di bawah satu atap yang sama seperti anggota keluarga. Aku berterima kasih karena Liam selalu melindungiku selama bertahun-tahun ini. Meskipun hubungan kami sangat dekat, kau jangan khawatir, Eleanor. Kami hanya berteman dan kami tahu batasan kami masing-masing."

Penjelasan Audrey yang panjang lebar itu justru memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman di antara mereka. Eleanor menyadari taktik itu. Ia kemudian memasang wajah sedih dan mulai memaksakan air mata keluar dari sudut matanya.

"Apa aku tidak boleh merasa cemburu? Aku adalah tunangan sah Liam, dan tentu saja aku cemburu karena aku mencintainya," kata Eleanor sambil sesekali menyeka matanya yang tidak benar-benar basah. "Lagipula, jika orang asing sepertimu diperbolehkan tinggal di kediaman Parker dalam waktu yang lama, maka aku sebagai tunangannya juga ingin tinggal di sana."

Audrey membelalakkan matanya. Kalau Eleanor juga tinggal di kediaman Parker maka akan ketahuan kalau Audrey dan ibunya tidak tinggal di rumah utama tapi di bangunan lain yang memang biasanya digunakan untuk tamu. Mereka hanya diperlakukan seperti tamu di sana, tapi Audrey selalu melebih-lebihkan cerita ke teman-temannya kalau ia sangat dekat seperti keluarga dengan keluarga Parker. Ibunya sangat mendukung Audrey dekat dengan Liam, kalau bisa sampai menikah. Baik Audrey dan ibunya sama-sama punya ambisi menjadi orang kalangan atas.

Audrey mulai membalas ucapan Eleanor dengan nada yang lebih tinggi lagi. Keduanya mulai berdebat di tengah ruangan, saling melemparkan argumen yang membuat suasana kamar menjadi sangat bising.

Liam yang duduk di tengah-tengah perdebatan itu merasa kepalanya berdenyut. Ia meletakkan jeruk ke piring yang ada di atas meja nakas. "Keluarlah," ucap Liam dengan nada dingin.

Audrey menoleh ke arah Eleanor dengan senyum kemenangan. "Dengar itu? Liam menyuruhmu keluar!"

Namun, Margot yang sejak tadi diam kemudian bersuara dengan nada lemah namun tegas. "Audrey, kamu pulang sekarang. Lagipula ruangan ini kecil, banyak orang terasa sumpek."

"Nenek..." Audrey mencoba memprotes dengan suara yang merajuk.

Margot tidak menghiraukannya. Ia menggerakkan tangannya ke arah Eleanor. "Kemarilah, Eleanor. Kemari duduk di dekat nenek. Sudah cukup lama aku tidak melihatmu."

Eleanor segera melangkah mendekat dan duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Audrey. Ia meraih tangan Margot yang terasa dingin dan keriput. "Maafkan aku, Nek. Aku jarang datang mengunjungimu belakangan ini."

Margot tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Kau pasti sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir sekolahmu. Kami tampak semakin kurus."

"Aku tidak kurus kok, setahuku... Aku tambah cantik dan imut!"

"Haha. Tidak salah juga! Bagaimanapun cucu menantu yang aku pilih sendiri sudah pasti cantik! Ngomong-ngomong, kau berencana untuk melanjutkan kuliah di mana?"

"Rencananya aku akan mengambil kuliah di universitas yang ada di kota ini saja."

"Bagus! Itu sangat bagus," sahut Margot sambil menepuk pelan tangan Eleanor. "Jangan kuliah di tempat yang jauh, karena itu akan membuatku merasa khawatir. Sekarang, makanlah jeruk ini. Rasanya sangat manis." Margot mengambil satu potongan jeruk dari piring dan menyodorkannya.

Eleanor menggeleng pelan. Ia melirik ke arah Liam yang masih duduk mematung di sisi lain ranjang. "Aku mau Liam yang menyuapiku, Nek."

Margot memberikan kode melalui tatapan matanya kepada cucunya tersebut. Liam menghela napas panjang, lalu mengambil satu potongan jeruk yang sudah bersih dari kulit. Ia menyodorkannya ke arah bibir Eleanor. Saat potongan jeruk itu hampir masuk ke mulutnya, Eleanor dengan sengaja menutup mulutnya lebih cepat sehingga giginya menggigit ujung jari telunjuk Liam.

Liam merasakan sensasi seperti sengatan listrik yang menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuh. Ia segera menarik tangannya kembali dengan gerakan cepat. Ia menatap Eleanor dengan mata yang melebar karena terkejut. Eleanor melihat telinga Liam perlahan-lahan berubah warna menjadi kemerahan. Eleanor hanya membalas tatapan itu dengan tawa kecil.

Margot yang melihat interaksi itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sementara itu, Audrey yang masih berdiri di dekat pintu menyaksikan semua kejadian itu dengan tangan yang mengepal kuat. Ia merasa sangat kesal dan cemburu karena Liam tidak pernah menunjukkan reaksi seperti itu padanya. Ia juga menyadari bahwa Margot sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya.

Sejak awal Audrey dan ibunya masuk ke rumah keluarga Parker, Margot memang tidak pernah menyukai mereka. Margot menganggap mereka selalu bersikap seperti pemilik rumah padahal mereka hanyalah tamu yang ditampung karena jasa mendiang ayah Audrey yang pernah menolong Liam di masa lalu.

Karena merasa benar-benar diabaikan dan tidak dianggap, Audrey menghentakkan kakinya ke lantai, berbalik badan, dan berjalan keluar dari kamar rawat dengan langkah yang cepat dan kasar. Suara pintu yang tertutup di belakangnya menandakan berakhirnya kebisingan di dalam ruangan tersebut.

1
Yuyun Suprapti
kapan up nya lg thor
est
lanjut thor suka 👍
Yuyun Suprapti
crazy up kk💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!