Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Flashback
"Pasien perlu tindakan operasi secepatnya, jika terlambat maka ibu dan anak tidak akan selamat," ucap seorang dokter yang keluar dari ruang bersalin setelah hampir dua jam menangani kelahiran Rania.
Hadrian yang tengah menunggu dengan tidak tenang bersama Shakira, berdiri tegak dengan perasaan tak tentu.
"Ikut saya!" Dokter tersebut menatap Hadrian seraya berjalan cepat memasuki ruangan bersalin.
Hadrian mengikuti dengan langkah lebar dan cepat, ingin melihat keadaan istrinya. Langkahnya semakin cepat saat melihat Rania yang sudah tidak berdaya di atas ranjang persalinan.
"Sayang! Bagaimana keadaanmu?" tanyanya seraya menarik tangan Rania dan menggenggamnya dengan lembut.
Wajah tampannya terlihat pucat karena mengkhawatirkan keadaan sang istri.
"Sakit sekali. Kau harus menyelamatkan anak kita. Kau harus berjanji akan merawat anak kita dengan baik. Jika tidak, maka aku akan kembali untuk menuntutmu," ucap Rania di ambang putus asa.
Tubuhnya semakin terasa lemah, ia hanya ingin keselamatan untuk anaknya. Tak peduli pada diri sendiri. Yang terpenting anaknya bisa lahir dengan sehat.
"Sayang. Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Kau pasti selamat, aku yakin." Hadrian menciumi tangan sang istri, hatinya kalut.
Ketakutan semakin meraja, ia tak ingin kehilangan cinta sejatinya.
"Kumohon, bertahanlah! Bagaimana aku akan hidup jika kau pergi meninggalkan aku?" Ia menjatuhkan dahi di atas tangan sang istri.
Napas Rania yang tersengal, membuatnya tak mampu berpikir jernih. Ia bangkit, mengecup dahi Rania yang berkeringat.
"Kau tunggu di sini! Aku akan meminta dokter untuk segera mengambil tindakan," katanya diangguki Rania dengan lemah.
Hadrian pergi menemui dokter, memenuhi semua prosedur dengan cepat. Pada akhirnya, Rania dilarikan ke ruang operasi. Hadrian menemani di sana atas permintaan mereka berdua.
Suara tangisan bayi menggelegar di ruang operasi. Hadrian menangis tergugu, menciumi wajah sang istri dan memeluk kepalanya. Rasa nyaman dan aman dirasakan Rania karena kehadiran suaminya. Ia jauh lebih tenang menghadapi segala macam peralatan medis di ruang operasi itu.
"Terima kasih, sayang. Kau sudah berjuang. Aku mencintaimu," bisiknya dengan mesra tepat di telinga sang istri.
Rania tersenyum, memejamkan mata merasakan kehangatan cinta dari suaminya. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena mendapatkan sosok laki-laki yang lembut dan mencintainya tanpa batas.
"Tuan, bisa ikut saya sebentar," ucap dokter yang menghampiri Hadrian di ruang operasi.
"Aku pergi dulu. Hanya sebentar, aku akan kembali lagi," katanya pamit kepada sang istri.
Sekali lagi Rania mengangguk, mengizinkan suaminya pergi. Semua proses telah selesai, hanya menunggu tim medis untuk memindahkannya ke ruang rawat. Ia sudah merasa bahagia telah melahirkan seorang anak laki-laki untuk suaminya. Apalagi setelah melihat wajahnya meski hanya sebentar saja.
Beberapa saat berlalu, pintu ruangan terbuka. Seseorang suster berpakaian medis masuk dengan mengenakan masker.
"Suster!" Rania memanggil lirih.
Suster tersebut hanya diam, menatap lurus pada kedua manik Rania. Tatapannya tajam serupa binatang buas yang mengintai mangsanya. Suasana kamar yang sunyi terasa mencekam seiring langkah suster tersebut yang kian mendekat. Rania menegang, ingin bergerak, tapi kondisi tubuhnya terlalu lemah.
Matanya melilau ke segala arah, berharap Hadrian atau yang lainnya datang ke ruangan tersebut.
"Suster!" Sekali lagi ia memanggil berharap yang di hadapannya hanyalah halusinasi.
Namun, sosok itu terlihat menyeringai dari kedua sudut matanya yang menyipit. Rania tahu, saat ini situasinya sedang dalam bahaya.
"Suster, di mana suami saya?" tanya Rania karena dirasa kepergian sang suami telah cukup lama, dan ia harus berada dengan suster aneh itu hanya berdua di ruangan tersebut.
Sayang, di mana kau?
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄