“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SINGA BETINA YANG TERLUKA
Suara mesin mobil cadangan yang dipacu Alesha menderu membelah keheningan jalanan menuju Villa Al-Ricci.
Pikirannya kalut, namun hatinya sedingin es. Setelah panggilan ancaman dari Kiara di Villa d’Este, Alesha memutuskan untuk kembali ke rumah utama terlebih dahulu guna mengambil beberapa "peralatan" penting sebelum menuju dermaga Ostia.
Namun, pemandangan yang menyambutnya di gerbang utama membuat darahnya mendidih.
Pintu jati besar itu terbuka lebar. Lampu-lampu kristal di aula utama menyala terang, namun suasananya tidak hangat.
Suasana itu riuh dengan suara tawa yang sangat ia kenal, tawa yang selama ini menghantuinya di gang-gang Gang-gang sempit tempat tinggalnya dulu.
Alesha melangkah masuk dengan kaki yang masih kotor oleh debu Tivoli. Gaun indah-nya yang kini sudah robek sebatas paha membuatnya tampak seperti pejuang yang baru saja keluar dari medan perang.
Di tengah aula, tumpukan koper bermerek mahal berserakan.
Ayah dan ibu Alesha sedang berdiri di depan lemari pajangan perak, sementara Kiara yang entah bagaimana sudah berganti pakaian menjadi gaun tidur sutra milik Alesha, duduk di sofa sambil menyesap wine mahal milik Matteo.
"Oh, lihat siapa yang pulang," Kiara menyeringai, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Pemeran pengganti kita sudah kembali. Bagaimana pestanya, Alesha? Kudengar kursinya kosong?"
Ibu Alesha berbalik, memasang wajah sedih yang dibuat-buat, namun tangannya masih menggenggam sebuah vas bunga antik.
"Alesha! Kasihan sekali suamimu... Kami baru saja sampai untuk menghiburmu. Ayahmu sedang mencari dokumen penting, siapa tahu Matteo punya instruksi darurat jika sesuatu terjadi padanya."
"Instruksi darurat atau surat wasiat?" desis Alesha.
Suaranya rendah, namun menggetarkan ruangan itu.
Ayahnya, yang sedang membongkar laci meja kerja Matteo di sudut ruangan, mendengus.
"Jangan tidak sopan, Alesha. Kami ini keluargamu. Jika Matteo mati, sebagai istrinya kau tidak akan bisa mengelola aset sebesar ini sendirian. Kami hanya ingin membantu mengamankan hakmu."
"Hak siapa?" Alesha melangkah maju.
"Matteo belum mati. Dan rumah ini masih miliknya. Keluar."
Kiara berdiri, berjalan mendekati Alesha dengan keanggunan yang ia curi.
"Matteo sudah selesai, Alesha. Pamannya tidak akan membiarkannya kembali. Dan secara teknis, aku adalah orang yang seharusnya berada di sini sejak awal. Kau hanya penambal lubang. Sekarang lubangnya sudah tertutup, dan aku di sini untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Kiara melambaikan tangannya ke arah tangga.
"Aku sudah memindahkan semua baju murahmu ke gudang. Lemari itu sekarang diisi oleh koleksi desainer yang sebenarnya."
Alesha menatap kakaknya. Rasa sakit karena dikhianati kini telah berubah menjadi amarah murni yang meledak-ledak.
Ia tidak menangis. Air mata adalah kemewahan yang tidak bisa ia berikan pada burung-burung bangkai ini.
Alesha berbalik perlahan, berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di sayap kiri aula.
Ia kembali beberapa detik kemudian dengan sesuatu di tangannya.
Bukan senjata api, bukan pula pisau dapur.
Ia memegang gunting kain raksasa miliknya.
Baja tahan karatnya berkilat di bawah lampu kristal, ukurannya hampir sepanjang lengan bawahnya.
"Alesha, apa yang kau—"
Alesha tidak menjawab.
Ia berlari menaiki tangga menuju kamar utama dengan kecepatan yang tak terduga.
Kiara dan orang tua mereka bergegas mengikuti di belakang, berteriak-teriak penuh kepanikan.
SREKKK! SREKKK!
Suara kain yang robek secara brutal terdengar dari dalam kamar.
Alesha telah membuka lemari besar dan menarik keluar satu per satu gaun-gaun mahal yang baru saja digantung Kiara di sana.
Dengan gerakan yang liar namun presisi, Alesha menghujamkan guntingnya, merobek sutra, brokat, dan beludru itu hingga menjadi pita-pita tak berbentuk.
"TIDAK! ITU GAUN VALENTINO TERBARUKU!" jerit Kiara, mencoba menerjang Alesha.
Alesha berbalik dengan gunting yang terbuka lebar, mengarah tepat ke wajah Kiara.
Mata Alesha membelalak, tampak seperti singa betina yang baru saja terluka dan siap mencabik siapa pun yang menghalangi langkahnya.
"Langkah satu inci lagi, Kiara, dan aku akan menggunting mulutmu seperti kain-kain ini!" bentak Alesha.
Suaranya begitu menggelegar hingga Kiara terhenti seketika, wajahnya pucat pasi.
Alesha menjatuhkan tumpukan baju yang sudah hancur itu ke lantai dan menginjaknya.
"Kalian pikir kalian bisa datang ke sini dan menjarah rumah pria yang sedang berjuang nyawa? Kalian pikir aku masih gadis lemah yang bisa kalian jual berkali-kali?"
Ia menunjuk ke arah pintu kamar dengan ujung guntingnya yang tajam.
"Keluarga? Kalian bukan keluarga. Kalian adalah parasit. Keluar dari rumah ini sekarang juga, atau aku akan memastikan polisi menemukan kalian dengan luka-luka yang tidak bisa dijahit kembali oleh dokter mana pun!"
"Alesha, kau gila! Kami orang tuamu!" teriak ayahnya dari ambang pintu.
"Orang tua yang menjual anaknya?" Alesha tertawa getir.
"Mulai detik ini, aku tidak punya orang tua. Aku adalah istri Matteo Al-Ricci. Dan di rumah ini, kata-kataku adalah hukum!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong.
Vincenzo muncul dengan lengan yang diperban dan wajah yang dipenuhi luka memar.
Ia memegang senjata api di tangannya, napasnya memburu.
"Nyonya..." Vincenzo melirik ke arah keluarga Alesha dengan tatapan mematikan.
"Apakah mereka mengganggumu?"
Alesha menatap Vincenzo, lalu kembali menatap keluarganya.
"Vincenzo, tolong bantu 'tamu-tamu' kita ini membawa koper mereka keluar. Dan jika mereka menolak..."
Alesha melirik gunting di tangannya.
"Biar aku yang mengurus sisanya."
Vincenzo mengokang senjatanya.
Suara logam yang beradu itu sudah cukup untuk membuat ayah dan ibu Alesha gemetar.
Tanpa kata lagi, mereka mulai menarik koper-koper mereka dengan terburu-buru.
Kiara menatap Alesha dengan kebencian yang mendalam, namun ketakutan di matanya jauh lebih besar.
"Kau akan menyesal, Alesha," bisik Kiara sebelum ia ditarik paksa oleh Vincenzo menuruni tangga.
Alesha berdiri di balkon aula, memperhatikan saat orang tua dan kakaknya diusir keluar dari dalam rumahnya.
Ia masih menggenggam gunting kainnya dengan erat hingga jemarinya memutih.
Setelah suasana sunyi kembali menyelimuti villa, Vincenzo kembali ke atas.
"Mereka sudah pergi, Nyonya. Mobil sudah siap untuk ke Ostia. Tapi... apakah Anda yakin? Marcello masih tidak sadarkan diri, dan saya hanya sendiri."
Alesha menatap perban di bahu Vincenzo, lalu menatap bayangannya di cermin, wanita dengan gaun merah robek dan gunting di tangan.
"Aku tidak butuh pasukan, Vincenzo," ucap Alesha.
"Aku hanya butuh mereka tahu bahwa mereka telah membangunkan amarah orang yang salah."
Ia meletakkan gunting kain itu di atas meja rias, mengambil sebuah pisau lipat kecil milik Matteo yang tertinggal di laci, dan menyembunyikannya di balik ikat pinggang gaunnya.
"Ayo pergi. Suamiku punya hutang penjelasan padaku, dan dia tidak boleh mati sebelum membayarnya."
Alesha melangkah keluar dari villa dengan kepala tegak.
Di belakangnya, kain-kain mahal milik Kiara berserakan di lantai seperti bangkai, sebuah monumen kecil untuk kemarahan seorang wanita yang baru saja memutus ikatan darahnya demi melindungi apa yang ia cintai.
Malam itu, Alesha bukan lagi sekadar desainer atau istri kontrak. Ia adalah penguasa Al-Ricci yang sesungguhnya.