NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:961
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasus seorang ART

Kemenangan di ruang sidang hanyalah babak pertama. Begitu palu hakim diketuk, BlackTech Security mulai melakukan pembersihan. Mereka menghapus data server, membakar dokumen, dan memerintahkan para eksekutor lapangan untuk segera meninggalkan Jakarta.

Aris tahu ia tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia mengaktifkan kembali "mata" timnya.

"Hana, kunci koordinat mereka," perintah Aris.

Hana, yang kini mengendalikan jaringan satelit Ghost Eye dengan tingkat akses penuh, tersenyum sinis. "Mereka mencoba keluar melalui jalur udara pribadi di bandara privat timur. Tapi mereka lupa, setiap pesawat *BlackTech* dilengkapi dengan sistem navigasi yang kubangun sendiri tahun lalu."

Sementara Aris, dan Panji sudah menunggu di pinggiran landasan pacu yang gelap.

Panji dan orang-orangnya, yang menyamar sebagai tim pemeliharaan landasan, masuk ke dalam pesawat melalui pintu darurat belakang. Mereka tidak menggunakan senjata, melainkan sebuah alat pemancar pulsa elektromagnetik (EMP) kecil—teknologi yang persis sama dengan yang digunakan *BlackTech* untuk membunuh kakak Maya.

Panji menempelkan alat itu ke panel kendali utama pesawat. Zapp!

Seluruh sistem elektronik pesawat mati total. Lampu padam, komunikasi terputus, dan para eksekutor yang berada di dalam pesawat itu terjebak dalam kegelapan total tanpa bisa menghubungi siapa pun. Mereka tidak bisa lagi meretas apa pun.

*"*

Polisi menangkap mereka dalam keadaan tak berdaya. Di dalam tas salah satu eksekutor, ditemukan bukti berupa perangkat pemicu jarak jauh yang identik dengan yang digunakan untuk membunuh kakak Maya.

Malam itu, Maya akhirnya mendapatkan keadilan. Para pembunuh kakaknya ditangkap saat mencoba melarikan diri, dan perusahaan mereka, *BlackTech*, kini harus menghadapi penyelidikan kriminal skala besar atas tuduhan pembunuhan berencana dan kepemilikan senjata ilegal.

***

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang mencekam oleh intrik dan bayang-bayang masa depan, ada sebuah sudut rahasia yang menjadi pelarian Aris—sebuah taman gantung di puncak gedung tua yang hampir terlupakan. Di sana, di antara sisa-sisa arsitektur klasik yang mulai ditumbuhi lumut, keindahan justru bersemi dalam diam. Ketika senja tiba, langit tidak lagi tampak kelabu, melainkan membiaskan gradasi warna ungu lembayung dan emas tembaga yang memantul indah pada genangan air hujan di atas lantai marmer. Bunga-bunga melati malam mulai mekar, menebar aroma harum yang lembut, menembus dinginnya udara kota yang tercemar.

Di momen itu, dunia seolah berhenti berputar; suara bising kendaraan di bawah sana memudar menjadi dengungan samar yang menenangkan, dan untuk sesaat, Aris bisa merasakan kedamaian yang murni—sebuah kontras yang memilukan dengan kekacauan yang terus ia hadapi, seolah alam semesta ingin mengingatkan bahwa di balik setiap kehancuran, selalu ada secercah keindahan yang layak untuk diperjuangkan.

***

Suasana kantor Bimo & Rekan kembali berubah muram. Kali ini, kliennya adalah seorang gadis desa bernama Rina. Dengan suara gemetar, ia menceritakan bahwa kakaknya, seorang ART yang bekerja di sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta, dinyatakan meninggal dunia karena terpeleset di kamar mandi dan mengalami gegar otak.

"Jenazahnya sudah dikremasi sebelum saya sempat melihatnya, Pak Bimo," isak Rina. "Majikannya bilang itu kecelakaan. Tapi kakak saya tidak pernah sekalipun mengeluh sakit, dan dia selalu bilang majikannya sering menyembunyikan sesuatu di ruang bawah tanah."

Aris yang mengamati dari ruang tersembunyi merasakan firasat buruk. Kematian yang disembunyikan lewat kremasi cepat adalah tanda klasik upaya penghilangan bukti.

**

Tanpa membuang waktu, Aris melakukan perjalanan ke rumah majikan tersebut. Aris tidak menemukan aktivitas mencurigakan di permukaan. Namun, ia memutuskan untuk melompat kembali ke waktu dua hari sebelum kematian sang kakak menggunakan gelang peraknya.

Selama 20 jam di masa lalu, Aris menyaksikan sisi gelap rumah itu:

1.Rahasia Bawah Tanah:

 Aris melihat sang majikan—seorang kolektor barang antik ilegal—menyimpan artefak selundupan di ruang bawah tanah.

2.Saksi Mata:

Sang kakak, ART tersebut, tidak sengaja melihat transaksi gelap saat sedang membersihkan area bawah tanah.

3.Eksekusi:

 Aris menyaksikan bukan kecelakaan yang terjadi, melainkan sang majikan mendorong korban hingga jatuh, lalu memanipulasi keadaan kamar mandi agar terlihat seperti terpeleset.

**

Aris kembali ke masa kini dengan membawa bukti visual yang tak terbantahkan. Namun, karena jenazah sudah dikremasi, mereka tidak bisa melakukan autopsi untuk membuktikan adanya kekerasan fisik.

Aris meminta bantuan Panji untuk memerintahkan anak buahnya untuk memasang CCTV di rumah tetangga yang dekat dengan rumah majikan tersebut, untuk memanipulasi video rekaman.

"Kita tidak bisa menyerang dengan hukum medis," bisik Aris kepada Bimo dan Hana. "Kita harus menyerang dengan logika pencurian."

Bimo kemudian menyusun strategi unik. Ia tidak melaporkan kasus pembunuhan tersebut secara langsung. Bimo justru mengajukan gugatan perdata atas "kehilangan barang berharga milik keluarga korban yang dibawa oleh majikan".

Di ruang sidang, Bimo memutar rekaman yang diperoleh Aris, namun bukan rekaman pembunuhannya, melainkan rekaman saat majikan tersebut menyembunyikan artefak selundupan di ruang bawah tanah, lewat manipulasi CCTV Panji.

"Yang Mulia," Bimo berargumen, "Majikan ini tidak hanya terlibat dalam kematian seorang pekerja, tetapi juga mengelola gudang barang ilegal. Jika dia bisa begitu kejam menyimpan artefak curian di atas penderitaan seseorang, bukankah logis untuk mencurigai adanya manipulasi dalam klaim 'kecelakaan' yang dia buat sendiri?"

Sementara Panji, sang Godfather, bergerak di sisi lain. Ia mengirim orang-orangnya untuk mengamankan ruang bawah tanah tersebut sebelum majikan itu sempat memindahkan artefak selundupan nya.

Saat polisi datang untuk menggeledah atas dasar laporan "gudang barang ilegal" yang dibawa Bimo, mereka menemukan artefak selundupan tersebut. Dengan artefak itu sebagai bukti kuat, si majikan panik.

Dalam interogasi yang sangat tertekan, ia akhirnya mengakui bahwa ia memang membunuh sang ART karena ketakutan rahasianya terbongkar.

Rina akhirnya mendapatkan keadilan bagi kakaknya, meskipun kebenaran itu datang melalui jalan yang memutar.

#Aris di lorong waktu, bisa merekam video, lalu di manipulasi dengan cara anak buah Panji memasang CCTV di sekitarnya kejadian, seolah olah rekaman tersebut dari CCTV, padahal aslinya rekaman video dari Aris di lorong waktu.

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!