NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Teratai Di Atas Abu

Bab 34 — Turnamen Empat Sekte Dimulai

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Di tengah Kota Langit Utara, dataran luas berukuran ribuan langkah telah disiapkan. Di sana berdiri sepuluh panggung pertarungan yang dibangun dari batu giok hitam yang kokoh, setiap sisinya dikelilingi oleh penghalang pelindung energi spiritual agar kekuatan para petarung tidak merembes keluar. Di sekeliling arena, ribuan tempat duduk terisi penuh oleh penonton, mulai dari tetua sekte, pendekar kelana, hingga bangsawan dan pedagang kaya dari seluruh penjuru wilayah utara. Udara tebal dipenuhi energi spiritual dan suasana persaingan yang menekan dada.

Di panggung utama, Tetua Agung Kota Langit Utara berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi seluruh penjuru tempat.

“Turnamen Empat Sekte Besar dibuka hari ini! Ajang ini menjadi tempat bagi para jenius muda untuk menguji kemampuan, mengukur kedalaman ilmu, dan mengukuhkan kedudukan aliran masing-masing. Ingatlah, pertarungan hanya berhenti jika salah satu pihak menyerah, terlempar keluar arena, atau tidak mampu lagi bertarung. Dilarang membunuh lawan yang sudah tak berdaya. Mulailah!”

Tepuk tangan dan sorak sorai meledak bergemuruh. Di bawah panggung, di tempat khusus peserta, Lian Hua berdiri tenang di samping Tetua Bai. Ia mengenakan seragam Sekte Gunung Awan Putih berwarna biru tua, pedang kayunya terikat rapi di punggung. Matanya tenang menatap ke depan, namun di dalam hatinya ia mengamati setiap sosok yang ada di sekelilingnya.

Di sini berkumpul bibit-bibit unggulan dari empat kekuatan besar, ditambah aliran-aliran kecil yang diundang. Setiap sosok yang berdiri di barisan itu memancarkan hawa yang luar biasa.

Di sebelah kanan, kelompok Sekte Pedang Langit berdiri tegak dengan pedang tergantung di pinggang. Aura mereka tajam, dingin, dan seolah bisa membelah udara di sekelilingnya. Di barisan depan, ada seorang pemuda berwajah dingin bernama Jian Chen, yang dikenal sebagai jenius terbesar sekte itu dalam seratus tahun terakhir. Kekuatannya sudah menyentuh ambang tingkat Batin Bercahaya, satu tingkat di atas Inti Roh, dan ia disebut-sebut sebagai calon juara yang paling kuat.

Di sebelah kiri, rombongan Sekte Guntur Hitam tampak garang dan berwibawa. Tubuh mereka besar dan kokoh, tenaga dalam mereka kasar namun sangat padat, bergetar halus setiap kali mereka bergerak. Di sana ada Wu Gang, kakak dari Lin Feng yang dikalahkan Lian Hua tempo hari. Ia menatap tajam ke arah Lian Hua, matanya menyimpan dendam yang membara, berjanji dalam hati akan membalas kehinaan adiknya itu.

Dan di barisan paling ujung, berdiri kelompok Istana Awan Putih. Pakaian mereka berwarna putih bersih, gerakan mereka lembut dan anggun, namun hawa yang memancar dari mereka adalah hawa dingin yang menusuk tulang, seolah mereka bukan manusia biasa, melainkan roh yang turun dari langit. Di antara mereka, Lian Hua melihat sosok gadis yang berjalan paling depan—Su Yan, gadis bertopeng merah yang menemuinya di pasar dulu. Ia menoleh sekilas ke arah Lian Hua, matanya berkedip memberi isyarat diam, lalu kembali menatap ke depan dengan wajah datar.

“Lihatlah mereka,” bisik Tetua Bai di samping telinga Lian Hua. “Semua yang ada di sini adalah puncak dari generasi muda wilayah utara. Setiap orang yang kau lihat, rata-rata sudah berlatih puluhan tahun, memiliki bakat luar biasa, dan didukung ilmu tinggi sekte mereka. Jangan meremehkan siapa pun, dan jangan lengah sedikit pun. Di sini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.”

Lian Hua mengangguk pelan. “Aku paham, Guru. Aku takkan memandang rendah mereka, tapi aku juga takkan membiarkan siapa pun menginjakku.”

Pengundian pasangan pertarungan pun dimulai. Nama demi nama dibacakan, menentukan siapa yang akan bertemu siapa di ronde pertama. Suasana makin tegang, setiap peserta menahan napas menunggu nasib mereka ditentukan.

Banyak yang bernapas lega saat mendapatkan lawan yang terlihat lebih lemah atau dari sekte kecil. Sebagian lagi mengerutkan kening saat nama mereka disandingkan dengan peserta unggulan.

Hingga akhirnya, suara pembawa acara terdengar lantang, membuat seluruh ruangan hening sekejap, dan ribuan pasang mata serentak tertuju ke satu arah.

“Pertarungan nomor tujuh: Lian Hua dari Sekte Gunung Awan Putih... melawan Jian Chen dari Sekte Pedang Langit!”

Nama itu bergema, membuat heboh seisi arena.

Jian Chen! Sosok yang diprediksi akan menjadi juara turnamen, orang yang dianggap paling kuat di antara semua peserta, jenius yang telah melampaui batas usianya sendiri. Dan di ronde pertama saja, ia sudah dipertemukan dengan Lian Hua—pemuda yang baru saja terkenal dengan julukan Pendekar Teratai, namun bagi banyak orang masih dianggap pendatang baru yang belum teruji sepenuhnya.

“Tidak mungkin... bagaimana bisa ada pasangan seberat ini di babak awal?” gumam banyak orang tak percaya. “Bukankah seharusnya para unggulan baru bertemu di babak perempat final atau semifinal? Kenapa mereka harus bertarung sekarang? Salah satu dari dua harapan besar ini harus gugur di awal jalan?”

Di barisan Sekte Gunung Awan Putih, wajah para tetua berubah berat. Gao Feng dan murid lain saling pandang khawatir. Jian Chen berada di level yang jauh berbeda. Mengalahkan murid Sekte Guntur Hitam saja sudah hebat, tapi melawan Jian Chen... itu adalah tantangan yang nyaris mustahil bagi siapa pun.

Tetua Bai menatap Lian Hua dengan cemas, namun pemuda itu sendiri justru tetap tenang. Tak ada jejak takut atau ragu di wajahnya. Justru di matanya, bersinar kilatan semangat dan tantangan yang tajam.

Di seberang sana, Jian Chen berjalan perlahan naik ke atas panggung batu. Ia berdiri tegak, wajahnya dingin tanpa ekspresi, seolah lawan di hadapannya hanyalah angin lalu belaka. Pedang panjang di pinggangnya berkilau dingin, beresonansi dengan energi spiritual di sekelilingnya. Ia menatap Lian Hua dari jauh, lalu perlahan mengangkat tangan, memberi isyarat undangan dengan gaya yang penuh wibawa.

Lian Hua menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia melangkah maju, menaiki tangga panggung satu per satu. Di punggungnya, pedang kayu itu terasa semakin berat, namun semakin terasa hidup, seolah ikut berdebar menantikan pertarungan besar ini.

Di tengah arena luas itu, di bawah sorotan ribuan pasang mata, dua sosok berdiri berhadapan.

Satu membawa pedang besi tajam dan ilmu pedang tertinggi, dianggap puncak generasi muda wilayah utara. Satu lagi membawa pedang kayu dan warisan kuno yang telah hilang ratusan tahun, pemuda yang baru bangkit dari keterpurukan, membawa nasib satu klan di pundaknya.

Ronde pertama belum dimulai, tapi semua orang sudah tahu: pertarungan ini bukan sekadar perebutan kemenangan. Ini adalah bentrokan antara bakat luar biasa dan warisan purba, antara kekuatan yang dikembangkan, dan kekuatan yang mengalir dalam darah.

Lian Hua berdiri tegak di seberang Jian Chen, matanya bertemu dengan manik mata dingin lawannya. Di dalam hatinya, tekadnya mengeras menjadi baja.

Inilah awalnya, batinnya bergumam. Mereka mengira aku akan kalah mudah. Mereka mengira Jian Chen terlalu kuat bagiku. Tapi hari ini... aku akan membuktikan, bahwa teratai yang tumbuh dari lumpur, justru mekar paling indah dan paling kokoh di tengah badai sebesar apa pun.

Dan di tribun penonton, di balik topeng merahnya, Su Yan menatap pemuda itu dengan napas tertahan. Ia tahu betul betapa berat tantangan ini. Namun ia juga tahu... di sinilah letak pembuktian sesungguhnya. Di sinilah Lian Hua akan mulai menulis ulang namanya di lembaran sejarah dunia persilatan.

“Mulailah pertarungan nomor tujuh!” seru pembawa acara.

Suara itu memecah keheningan. Dan di atas panggung batu itu, dua kekuatan besar mulai bergetar, bersiap meledak dan mengguncang seluruh Kota Langit Utara.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!