"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Motor Mas Dika berhenti di depan sebuah warung tenda pecel ayam yang sangat akrab di ingatanku. Aroma sambal terasi yang digoreng dan wangi ayam ungkep yang khas langsung menyapa indra penciumanku, membawa kembali potongan kenangan manis saat kami masih sering makan di sini secara diam-diam.
"Masih ingat tempat ini kan, Ra?" tanya Mas Dika sembari membantuku turun dari motor dan melepaskan helmku dengan telaten.
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang akhirnya terbit setelah seharian terkunci di kamar. "Mana mungkin aku lupa, Mas. Dulu kita harus sembunyi-sembunyi kalau ke sini supaya nggak ketemu tetangga Bapak."
Kami memilih duduk di bangku panjang paling sudut, tempat yang dulu sering kami tempati agar tidak terlalu mencolok. Suasana warung yang ramai dengan suara sutil yang beradu dengan wajan memberikan rasa hangat yang tidak kutemukan di rumah megah mertuaku. Di sini, aku merasa kembali menjadi Aira yang biasa, bukan menantu yang memikul beban aib.
"Pak, pecel ayam dua ya. Nasi uduknya yang banyak, sambalnya dipisah saja buat istri saya," pesan Mas Dika kepada penjualnya.
Sembari menunggu pesanan datang, Mas Dika menggenggam tanganku di atas meja kayu yang dilapisi spanduk plastik itu. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh kasih. "Makan yang banyak ya, Yang. Kamu harus kuat buat diri kamu sendiri dan juga buat si Cantik di dalam sana."
Saat pesanan datang, aku makan dengan sangat lahap. Rasa lapar yang kutahan seharian akhirnya terbayar tuntas. Mas Dika sesekali menyuapkan potongan kol goreng ke piringku, memastikan aku benar-benar kenyang. Di tempat sederhana inilah, di bawah lampu bohlam yang temaram dan suara hiruk pikuk jalanan, kami sejenak melupakan drama keluarga yang menyesakkan.
"Enak banget, Mas," ucapku lirih setelah menghabiskan suapan terakhir.
"Alhamdulillah. Senang lihat kamu semangat makan lagi," sahutnya sembari mengelap sudut bibirku dengan tisu. "Habis ini kita ke toko perlengkapan bayi ya? Mas mau beli baju-baju mungil buat anak kita."
Kebahagiaan sederhana di warung pecel ayam ini menjadi tenaga tambahan bagiku.
"Mas mau beli sprei baru juga, bantal buat ibu hamil, atau apapun yang kamu suka biar tidur kamu lebih nyenyak," tambah Mas Dika sembari merapikan anak rambutku yang tertiup angin malam.
Aku tertegun sejenak. Perhatiannya begitu melimpah, seolah ia sedang berusaha menambal semua luka yang muncul sejak kepindahanku ke rumah ibunya. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Mas Dika membuatku terdiam lebih lama.
"Dan untuk kerjaan kamu di toko... kamu resign saja ya, Sayang? Nggak apa-apa, kan?" Mas Dika menatapku dalam, menunggu reaksiku. "Mas bukannya mau membatasi kamu, tapi Mas nggak mau kamu kecapekan. Belum lagi tekanan di sana, Mas takut kamu makin stres kalau harus menghadapi pertanyaan teman-teman kamu atau pandangan orang lain."
Aku menunduk, memainkan ujung tisu yang sudah basah. Ada rasa berat yang menghimpit dada. Pekerjaan di toko adalah satu-satunya duniaku di mana aku merasa berdaya, tempat di mana aku bukan sekadar "istri karena kesalahan". Tapi aku juga sadar, perutku yang kian membesar tidak akan bisa lagi disembunyikan di balik meja kasir. Cepat atau lambat, rahasia ini akan meledak di sana.
"Iya, Mas. Mungkin memang lebih baik begitu," jawabku lirih. Aku tidak punya pilihan lain. Menjaga ketenangan batin demi janin ini jauh lebih penting daripada mempertahankan gengsi di tempat kerja.
Mas Dika mengembuskan napas lega, seolah satu beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. "Makasih ya, Ra, sudah mau mengerti. Mas janji akan penuhi semua kebutuhan kamu. Mas nggak akan biarkan kamu kekurangan."
Ia membayar tagihan makan kami, lalu menuntunku kembali menuju motor. Kami membelah jalanan kota yang kian ramai menuju toko perlengkapan bayi. Di sepanjang jalan, aku memeluk pinggangnya erat, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa meskipun satu per satu pintu duniaku tertutup,mulai dari rumah orang tua hingga pekerjaan,Mas Dika adalah satu-satunya pintu yang akan tetap terbuka untukku.