Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-11
Pagi yang cerah di Bandung menyambut Nara dengan udara yang sejuk. Wanita itu sudah tampil segar dan cantik dengan busana kasual yang nyaman namun tetap terlihat gaya.
Sebelum keluar kamar, rasa tanggung jawabnya sebagai sekretaris tetap muncul. Ia mengambil telepon kamar dan menghubungi room service.
"Selamat pagi, tolong kirimkan sarapan ke kamar Pak Arkan Delvin di kamar sebelah ya. Menu nya... bubur ayam dengan kecap banyak, teh manis hangat, dan roti bakar. Terima kasih," ucapnya rapi.
Setelah memastikan pesanan masuk, Nara menghela napas lega.
"Sudah deh... tugas mulia selesai. Sekarang waktunya aku senang-senang!" serunya semangat.
Nara melangkah keluar kamar. Di lobi, Dimas sudah menunggu dengan senyum lebar dan bunga matahari kecil di tangannya.
"Pagi, Nar! Cantik banget hari ini," sapa Dimas ramah sambil memberikan bunga itu.
"Ya ampun, repot-repot aja sih. Makasih ya Dim!" Nara menerima bunga itu dengan wajah berseri-seri. "Yuk pergi!"
Mereka pun berjalan beriringan menuju mobil Dimas, tertawa dan berbincang akrab seolah tidak ada beban di dunia ini.
Sementara itu, di kamar Arkan...
Pria itu baru saja bangun dan sedang mengeringkan rambutnya setelah mandi. Tepat saat itu, pintu diketuk dan room service datang membawa nampan sarapan.
"Pak, ini sarapan yang dipesan Bu Nara," kata pelayan itu sopan.
Arkan mengernyitkan dahi. "Oh... dia yang pesan?"
"Iya, Pak. Beliau baru saja keluar kamar tadi."
Wajah Arkan yang tadinya tenang, langsung berubah masam saat membaca catatan kecil di nampan. 'Pesan khusus: Kecap banyak, jangan lupa. Dari Nara.'
"Hmph... perhatian juga dia," gumamnya pelan, tapi kemudian ia teringat sesuatu. Dia pesanin aku, terus dia kemana? Pagi-pagi buta udah keluar?
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah foto dikirim oleh salah satu anak buahnya yang berjaga.
📷 Foto: Nara sedang tertawa lebar sambil berjalan berdampingan dengan Dimas menuju sebuah mobil.
Raut wajah Arkan berubah drastis. Kedua tangannya terkepal kuat memegang handuk.
"Ooh... jadi pagi-pagi udah kencan sama si anak bos itu ya, sepertinya beberapa hari ini kamu santai banget ya?!" geramnya kesal.
Rasa cemburu yang ia sangkal, kini meledak kembali dengan intensitas yang lebih besar!
"Bagus... sangat bagus," ucapnya dengan nada rendah yang menyeramkan. Ia menatap bubur di depannya yang tadi terlihat menggugah selera, kini terasa tak enak dipandang.
Arkan mengambil HP nya, lalu mengetik pesan dengan jari yang cepat dan emosi.
_______
Di seberang jalan, tepat di depan kedai bubur yang cukup terkenal, Nara dan Dimas baru saja hendak masuk. Suasana sangat asik, mereka tertawa lebar menikmati obrolan ringan.
Tiba-tiba...
Tring! Tring! Tring!
Ponsel di tangan Nara bergetar hebat, layaknya ada kebakaran atau bencana alam. Nara buru-buru mengambilnya, dan saat melihat nama pengirim serta isi pesannya, wajah cerianya langsung berubah pucat.
✉️ "KAMU DIMANA?! KENAPA KAMAR KOSONG?! SAYA BUTUH BANTUAN SEKARANG! CEPAT BALIK!!!"
"Ya ampun... si Bos gila lagi," gerutu Nara pelan, keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. Ia tahu betul, kalau Arkan sudah memakai tanda seru sebanyak itu, artinya bahaya besar!
"Ada apa, Nar?" tanya Dimas bingung melihat wajah Nara berubah drastis.
Nara menghela napas panjang, lalu menatap Dimas dengan wajah memelas. "Maaf ya Dim... kayaknya sarapannya batal dulu deh. Si Bos... eh maksudnya Pak Arkan manggil aku mendadak. Katanya butuh bantuan penting banget."
"Hah? Tapi kan ini waktu luang kamu, Nar? Lagian apa sih yang begitu penting sampai pagi-pagi gini?" tanya Dimas tak terima, merasa kesal karena janjiannya diganggu.
Nara hanya bisa tersenyum kecut. "Ah Pak Arkan itu mah... kerjanya gak kenal waktu, Dim. Kalau udah manggil gitu, ngeri kalau gak diturutin. Bisa gajiku dipotong berkali-kali nanti."
Dengan berat hati, Nara pun pamit. "Maaf banget ya Dim, lain kali kita ganti waktu ya. Aku harus buru-buru balik!"
"Yaudah... aku anterin balik ya?" tawar Dimas sopan.
"Nggak usah Dim, nanti ketahuan malah makin panjang urusannya. Aku jalan kaki aja lagian deket kok," tolak Nara halus lalu berlari kecil meninggalkan tempat itu dengan hati yang dongkol setengah mati.
Sepanjang jalan kembali ke hotel, mulut Nara tak henti bergumam.
"Dasar bos tidak tahu diri! Udah aku pesanin sarapan, udah aku siapin semua, eh malah manggil-manggil seenaknya! Apa sih yang begitu penting coba?!" geramnya kesal.
Sesampainya di depan kamar Arkan, Nara mengetuk pintu dengan cukup keras.
Brak! Brak! Brak!
"MASUK!" terdengar suara berat dari dalam.
Nara mendorong pintu masuk dengan wajah yanh dibuat setenang mungkin. Ia melihat Arkan sedang duduk santai di sofa, memakai baju santai, dengan nampan sarapan yang sudah ada di meja tapi belum disentuh sama sekali.
"Bapak panggil saya, ini kan libur saya pak, padahal saya ada janji loh" tanya Nara langsung, mencoba memupuk kesabaran yang mulai menipis.
Arkan menatap Nara datar dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Ia menatap baju Nara yang terlihat cantik dan rapi, beda jauh dengan biasanya.
"Janji apa? Janji sama si Dimas itu?" tanya Arkan santai namun nadanya menusuk.
Jantung Nara berdegup kaget. "I-iya... kenapa? Itu kan waktu luang saya! Bapak kan tadi bilang ada urusan mendadak!"
Arkan berdiri, berjalan mendekati Nara hingga jarak mereka sangat dekat. Aura cemburu dan kekesalannya terasa sangat kuat.
"Memangnya kamu pikir saya butuh apa sih sampai manggil kamu?" tanya Arkan pelan.
Nara mengerutkan kening bingung. "Ya... mana saya tahu! Mungkin butuh salin dokumen? Butuh kopi? Atau butuh dimarahi?!"
Arkan tersenyum miring, senyum yang sangat menyebalkan namun membuat jantung Nara berdebar aneh.
"Saya cuma mau bilang... kamu masih ingat sama siapa kamu bekerja. Dan perlu kamu ingat ya, kita kesini buat kerja bukan buat santai-santai," jawab Arkan santai.
"HAH?! Santai-santai apanya?! Saya juga kerja kok! kemarin kan rapatnya lancar jaya! Bapak yang dapat untung besar!" serang Nara tak terima, tangannya terkepal di samping badan. "Terus kalau cuma mau ngomongin itu, kenapa harus heboh kayak ada kebakaran?! Saya kan lagi ada janji penting!"
Arkan mendengus pelan, lalu berjalan mendekati meja makan. Ia mengambil sendok, mulai menyendok bubur ayam yang dipesan Nara tadi, lalu memakannya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Janji apa yang lebih penting daripada perintah bos? Lagian... kamu pikir saya tidak lihat?" ucap Arkan tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun penuh arti.
Nara tersentak. "Lihat apa?"
"Lihat kamu jalan berdua sama si Dimas itu," Arkan menoleh tajam, matanya menatap Nara dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. "Senyum lebar, dikasih bunga, mau diajak makan... asik banget ya? Sampai lupa sama jam kerja."
Wajah Nara memerah padam, campur aduk antara malu dan kesal. "Ya ampun Pak! Itu kan cuma temenan! Teman lama! Lagian kan sudah selesai rapatnya! Itu waktu luang saya!"
"Waktu luang pun tetap milik perusahaan selama kamu masih dalam tugas dinas," potong Arkan cepat dengan logika yang memaksakan. "Dan saya tidak suka melihat sekretaris saya terlalu akrab dengan laki-laki lain. Terutama laki-laki yang tatapannya ke kamu itu... bukan tatapan biasa."
Nara ternganga. "Ih! Bapak ini ngaco ya! Dimas itu sopan dan baik banget! Beda jauh sama Bapak yang galak dan suka marah-marah gak jelas!"
"Biarin saja," Arkan kembali meminum tehnya dengan wajah sok tenang. "Yang penting sekarang kamu sudah disini. Sudah tidak ketemu dia. Dan sekarang... tolong ambilkan jaket saya di lemari. Kita packing, kita pulang sekarang juga."
"Hah?! Sekarang?! Kan tadinya mau sore!" Nara makin bingung.
"Rencana berubah. Saya ingin cepat sampai Jakarta hari ini. Ayo gerak! Jangan banyak bacot!" perintah Arkan ketus, kembali ke mode bos yang menyebalkan.
Nara menghentakkan kakinya kesal. "IYA PAK! IYA! DASAR PRIA MENYEBALKAN!" teriaknya lalu berlari keluar kamar untuk membereskan barang-barangnya dengan hati dongkol setengah mati.
Di dalam kamar, Arkan hanya menatap punggung Nara yang menghilang di balik pintu kamar nya.
BERSAMBUNG...