NovelToon NovelToon
"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.

​Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.

penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi itu, Arkan duduk di meja makan dengan tatapan yang lebih tajam daripada pisau bedah. Tangannya sibuk menggosok sendok perak menggunakan tisu antiseptik, tapi pikirannya melayang ke gambar kucing berkacamata yang muncul di monitor kantornya kemarin.

Di depannya, Evelyn sedang sibuk dengan sebuah loyang besar. Wajahnya masih terlihat "polos" dengan kacamata tebal yang sedikit melorot ke ujung hidung. Ia mengenakan celemek bermotif polkadot warna-warni yang sangat kontras dengan dapur minimalis Arkan yang serba putih dan steril.

"Tuan Arkan, hari ini Eve mau belajar buat kue kering! Kata buku resep, kue ini bisa meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi stres akibat kuman!" seru Evelyn sambil menimbang tepung dengan gaya yang sengaja dibuat kikuk, hingga tepung itu berhamburan ke lantai.

Arkan mengernyitkan dahi. "Jangan kotori lantainya, Evelyn. Dan pastikan kau memakai sarung tangan medis. Aku tidak mau memakan kue yang tercemar bakteri tanganmu."

"Iya, Tuan Sstt-Sstt! Eve pakai sarung tangan lapis tiga kok!"

Sebenarnya, di balik keriuhan tepung itu, Evelyn sedang menjalankan misi penting. Di dalam salah satu wadah margarin yang ia bawa, tersembunyi sebuah alat penyadap frekuensi tinggi yang ia ambil dari markas faksi pemberontak semalam. Ia harus membedahnya, tapi Arkan terus mengawasinya seperti elang.

"Ed, aktifkan mode senyap pada alatnya. Arkan punya pendengaran yang sensitif terhadap bunyi mekanis," bisik Evelyn ke arah kerah celemeknya.

"Siap, Queen. Tapi hati-hati, Arkan sepertinya memasang kamera mikroskopis baru di sudut dapur," balas Edward.

Evelyn mendengus pelan. Pria ini benar-benar terobsesi pada pengawasan.

Evelyn mulai memasukkan adonan ke dalam oven. Sambil menunggu, ia berpura-pura asyik membaca buku resep, padahal di balik buku itu ia sedang mengamati Arkan. Arkan tampak sedang menerima telepon serius dari Samuel.

"Apa? DNA-nya tidak cocok dengan siapa pun di database kriminal?" suara Arkan terdengar meninggi. "Periksa lagi! Cari di database atlet atau militer!"

Evelyn tersenyum miring. Tentu saja tidak cocok, Tuan. Aku sudah menukarnya dengan profil DNA seekor koala di pusat data nasional pagi ini.

Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar lagi. Sebuah notifikasi masuk. Wajah Arkan berubah pucat, lalu merah padam. Ia membanting ponselnya ke meja (setelah melap meja itu dengan tisu, tentu saja).

"Ada apa, Tuan? Apa kumannya sudah mulai bisa main HP?" tanya Evelyn dengan nada khawatir yang dibuat-buat.

"Seseorang baru saja meretas akun bank pribadiku dan menyumbangkan sepuluh miliar rupiah ke **Yayasan Perlindungan Kucing Berkacamata**!" geram Arkan.

Evelyn hampir saja meledak tertawa. Itu adalah ulah jahilnya tadi subuh karena kesal Arkan menarik dagunya semalam. "Wah! Itu yayasan yang bagus, Tuan! Pasti kucing-kucing itu sekarang bisa beli kacamata bermerk!"

Arkan berdiri dan mendekati Evelyn. Ia berhenti tepat satu meter. "Kau... kau tahu sesuatu tentang ini?"

Evelyn mengerjapkan mata. "Eve? Eve cuma tahu cara hitung kembalian beli telur di pasar, Tuan. Sepuluh miliar itu nolnya ada berapa ya? Apa sebanyak kuman di tangan Tuan?"

Arkan menatap mata Evelyn dalam-dalam. Di balik lensa tebal itu, ia melihat kejujuran yang sangat... menyebalkan. Arkan berbalik dan berjalan menuju oven. "Bau apa ini? Kenapa baunya seperti plastik terbakar?"

Evelyn membelalak. Ia lupa! Alat penyadap yang ia sembunyikan di bawah loyang kue kering tadi!

"JANGAN DIBUKA, TUAN! ITU RAHASIA DAPUR!" teriak Evelyn panik.

Tapi terlambat. Arkan sudah membuka pintu oven. Asap hitam mengepul keluar. Arkan terbatuk-batuk, refleks trauma asapnya muncul sesaat, tapi amarahnya lebih besar. Ia mengambil penjepit makanan dan menarik keluar sebuah benda yang sudah meleleh di antara kue-kue kering yang gosong.

Benda itu berbentuk kotak kecil dengan sisa-sisa kabel perak yang mencuat.

"Evelyn... jelaskan padaku. Sejak kapan resep kue kering membutuhkan motherboard seluler sebagai bahan pengembang adonan?" tanya Arkan dengan suara rendah yang sangat mengancam.

Evelyn mematung. Otaknya berputar 360 derajat. "O-oh... itu... itu adalah teknologi terbaru dari masa depan, Tuan! Namanya 'Kue Digital'!"

Arkan mengangkat alisnya. "Kue Digital?"

"Iya! Jadi, kalau kita makan kue itu, kita bisa langsung kenyang hanya dengan melihat gambarnya di internet! Alat itu fungsinya untuk mengirimkan aroma kue ke seluruh dunia lewat sinyal Wi-Fi! Eve mau jadi pengusaha sukses, Tuan!" Evelyn memberikan pose "semangat" dengan tangan yang masih penuh tepung.

Arkan menatap benda meleleh itu, lalu menatap istrinya. Ia merasa dunianya semakin tidak masuk akal sejak menikahi wanita ini.

"Buang benda itu. Dan bersihkan ovennya dengan alkohol murni. Aku akan pergi ke kantor. Jangan berani-berani memasak 'perangkat keras' lagi di dapurku!" Arkan pergi dengan langkah gusar, meninggalkan bau plastik terbakar yang menyengat.

Evelyn menghela napas lega, ia segera mengambil sisa alat yang meleleh itu. "Hampir saja. Maaf ya, alat penyadap, kau harus berkorban demi ilmu pengetahuan 'Kue Digital'."

Evelyn segera menghubungi Edward. "Ed, rencana selanjutnya. Kita harus membuat Arkan berpikir bahwa ada hantu di rumah ini yang hobi meretas. Dengan begitu, dia tidak akan curiga padaku."

"Hantu peretas? Queen, ide Anda semakin liar," sahut Edward.

"Biarkan saja. Selama dia sibuk memburu 'hantu', aku bisa bebas memburu Sebastian Black."

Malam itu, saat Arkan sedang mencoba tidur di kamarnya yang steril, tiba-tiba lampu di kamarnya berkedip-kedip membentuk kode morse. Arkan yang paham kode morse langsung membacanya.

“K-U-M-A-N A-D-A D-I M-A-N-A M-A-N-A”

Arkan langsung melompat dari tempat tidur, menyambar botol disinfektan raksasanya, dan mulai menyemprot ke segala arah dengan membabi buta. Di lantai bawah, Evelyn sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegang tablet kontrol lampu rumah mereka.

"Selamat berolahraga malam, Tuan Higienis!" bisik Evelyn puas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!