Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Kehancuran Sang Konsorsium
Ruangan yang tadinya sunyi mendadak bising oleh sirene peringatan. Di layar monitor besar milik Volkov, barisan kode hijau mulai berubah menjadi merah darah dengan logo "Z" yang berkedip-kedip di tengahnya.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Volkov, wajahnya yang tadi tenang kini memerah karena murka. "Hentikan sekarang atau aku akan meledakkan anjingmu!"
Araya tidak bergeming. Jarinya masih menari di atas layar tablet kecil yang ia hubungkan ke terminal. "Terlambat, Volkov. Aku tidak menyerang sistem bom itu secara manual. Aku meretas satelit komunikasi yang mengontrol sinyal pemicunya. Sekarang, bom itu tidak lebih dari sekadar tumpukan logam yang berisik."
Di seberang kaca, Leon yang menyadari perubahan situasi langsung bergerak. Dengan teknik pelepasan sendi yang ekstrem, ia meloloskan diri dari ikatan kursi, menghantam penjaga terdekat, dan mematikan hitung mundur bom tersebut tepat di angka 00:03.
Arkanza tidak membuang waktu lagi. Ia menarik bagian kepala naga dari tongkatnya, menarik sebilah pedang tipis berbahan titanium yang berkilau di bawah lampu neon.
"Sekarang, giliranmu," ucap Arkanza dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.
Para penjaga Volkov segera melepaskan tembakan. Arkanza bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk pria yang memegang tongkat. Ia menggunakan meja kerja marmer sebagai tameng, lalu melesat maju, melumpuhkan musuh satu per satu dengan gerakan yang presisi dan mematikan.
Volkov mencoba meraih pistol di laci mejanya, namun sebuah belati keramik putih melesat dan menancap tepat di punggung tangannya.
"Argh!" Volkov mengerang kesakitan, memegangi tangannya yang bersimbah darah.
Araya berdiri di depannya, menatap Volkov dengan tatapan dingin. "Kau membuat kesalahan terbesar dengan melibatkan orang-orang terdekat Arkanza. Dan kesalahan kedua..." Araya menekan satu tombol terakhir di tabletnya. "...kau menyimpan seluruh data rahasia Vanguard Consortium di server yang baru saja aku hapus selamanya."
"K-kau... kau menghancurkan bank bayaran dunia?" Volkov terengah-engah, tidak percaya bahwa dinasti kejahatannya runtuh dalam hitungan menit.
"Bukan hanya menghancurkannya," timpal Arkanza yang kini sudah berdiri di samping Araya, pedangnya menempel di leher Volkov. "Araya baru saja mengirimkan seluruh daftar klienmu ke Europol. Besok pagi, kau bukan lagi pemimpin konsorsium. Kau hanyalah orang paling dicari di seluruh dunia."
Suara helikopter polisi Zurich mulai terdengar di kejauhan, mengepung kastil. Leon masuk ke ruangan dengan napas terengah namun memberikan hormat kepada Arkanza dan Araya. "Tuan, Nyonya... area sudah bersih."
Arkanza menyarungkan kembali pedangnya ke dalam tongkat naga. Ia menoleh ke arah Araya, menarik pinggang istrinya itu mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Di tengah kekacauan ruangan yang hancur, Arkanza mencium kening Araya dengan penuh perasaan.
"Pekerjaan bagus, Queen," bisik Arkanza.
Araya menyandarkan kepalanya di dada Arkanza, merasa sangat lelah namun lega. "Bisa kita benar-benar menikmati bulan madu sekarang? Tanpa pistol, tanpa kode, dan tanpa bom?"
Arkanza terkekeh, mengangkat tubuh Araya dalam gendongan bridal style. "Tentu. Tapi jangan salahkan aku jika aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar hotel selama seminggu penuh."
Wajah Araya memerah seketika, namun ia melingkarkan tangannya di leher Arkanza. Di bawah langit salju Zurich, pelarian mereka berakhir, dan babak baru sebagai penguasa yang tak terkalahkan dimulai.
T B C