NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Sore itu, Erlan kembali pulang lebih awal. Keputusan yang beberapa waktu lalu mungkin terasa mustahil, kini justru menjadi kebiasaan baru yang perlahan ia nikmati. Pagi tadi ia sudah memastikan semua barang yang akan dibawa ke rumah baru tempat Linda dan Kirana tinggal telah disiapkan dengan rapi. Tidak ada yang terlewat, tidak ada yang tertinggal. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menyiapkan sesuatu bukan karena kewajiban, melainkan karena keinginan.

Di kantor, beberapa pekerjaan memang masih menumpuk. Namun seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya menyelesaikan bagian yang benar-benar penting, lalu menyerahkan sisanya kepada Adi dan Rama.

“Pak, ini masih perlu direvisi,” ujar Rama sambil menyerahkan map.

Erlan melihat sekilas, lalu menutupnya tanpa membaca lebih jauh.

“Besok saja. Kalian selesaikan dulu semuanya.”

Adi dan Rama saling melirik. Tidak ada yang berani membantah.

“Baik, Pak,” jawab Adi akhirnya.

Meski begitu, dalam hati mereka tahu, perubahan ini bukan sekadar soal pekerjaan. Erlan yang sekarang bukan lagi Erlan yang dulu. Ada sesuatu yang membuatnya ingin segera pulang, sesuatu yang jauh lebih penting daripada rapat dan angka-angka.

Di perjalanan pulang, Erlan menghentikan mobilnya di sebuah minimarket. Ia berdiri cukup lama di depan freezer, memperhatikan deretan es krim dengan berbagai warna dan rasa. Pilihannya jatuh pada satu kotak besar berisi tiga rasa: cokelat, stroberi, dan vanila.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Kirana pasti suka.”

Ia memasukkan kotak itu ke dalam kantong belanja dengan hati-hati, seolah membawa sesuatu yang berharga. Dan memang begitu. Bukan soal es krimnya, melainkan siapa yang akan menerimanya.

Perjalanan dilanjutkan. Di dalam mobil, Erlan sempat terdiam cukup lama. Tangannya memegang kemudi, tapi pikirannya melayang.

Menjadi seorang ayah.

Masih terasa aneh baginya. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun setiap kali Kirana memanggilnya “Ayah”, ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Dan Linda... wanita itu memilih untuk tetap di sisinya. Bahkan bersedia menikah dengannya. Pikiran itu membuat Erlan menghela napas pelan, lalu tersenyum.

“Sepertinya... ini yang aku cari selama ini.”

Mobilnya akhirnya memasuki halaman rumah. Begitu mesin dimatikan, pintu rumah sudah terbuka. Linda berdiri di sana, dan di sampingnya, Kirana yang langsung berlari kecil begitu melihatnya.

“Ayah!”

Erlan tersenyum lebar. Ia segera membuka pintu mobil, lalu berjongkok sedikit untuk menyambut putrinya. Kirana langsung memeluknya, dan Erlan tanpa ragu mengangkat tubuh kecil itu.

“Anak ayah sudah lama menunggu ggu?” tanyanya lembut sambil mencium pipi Kirana.

Kirana tertawa kecil, lalu matanya langsung tertuju pada kantong di tangan Erlan.

“Ayah bawa apa?”

Erlan mengangkat alisnya, pura-pura berpikir.

“Hm... ada sesuatu.”

“Apa?” Kirana mencoba meraih kantong itu.

Erlan menariknya sedikit menjauh.

“Nanti saja. Setelah makan malam.”

Wajah Kirana langsung berubah.

“Tapi Kirana mau sekarang...”

“Tidak bisa,” jawab Erlan tenang. “Kalau sekarang, Mama marah.”

Linda yang berdiri di dekat pintu langsung menyahut,

“Bukan mungkin lagi. Pasti.”

Kirana menatap Linda, lalu kembali ke ayahnya.

“Sedikit saja...”

Erlan menggeleng.

“Tidak ada sedikit-sedikit sebelum makan.”

Kirana cemberut, tapi tidak bisa membantah.

Linda kemudian melangkah mendekat.

“Turunkan dulu. Ayah mau mandi.”

Erlan menurunkan Kirana dengan hati-hati. Namun anak itu masih menatap kantong tersebut penuh rasa penasaran. Sebelum ia sempat mengambilnya, Linda sudah lebih dulu meraih kantong itu.

“Ini Mama simpan.”

“Mama...” protes Kirana pelan.

“Setelah makan,” jawab Linda singkat.

Erlan hanya tersenyum melihat itu, lalu berjalan ke kamar mandi. Ada ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rumah ini terasa hidup.

---

Makan malam berlangsung hangat. Kirana duduk di kursinya sendiri, berusaha makan tanpa bantuan. Sendok di tangannya bergerak tidak stabil, dan sebagian besar makanan justru jatuh ke meja.

“Ayah, lihat,” katanya bangga.

Erlan menahan tawa.

“Wah, sudah pintar makan sendiri.”

Linda melirik.

“Pintar, tapi bajunya sudah tiga kali ganti hari ini.”

Kirana menoleh.

“Kirana tidak sengaja...”

Erlan mengangguk.

“Tidak apa-apa. Namanya juga belajar.”

Linda menghela napas, tapi tidak berkata apa-apa lagi.

Beberapa saat kemudian, Kirana mulai bercerita.

“Tadi pagi Kirana jalan-jalan sama Mama.”

“Oh ya?” Erlan terlihat tertarik.

“Iya. Terus Kirana siram bunga.”

Linda tersenyum kecil.

“Lebih banyak main air daripada menyiram.”

Kirana langsung membela diri.

“Kirana siram... sedikit.”

Erlan tertawa kecil.

“Yang penting bunga dapat air.”

Kirana tersenyum puas, lalu melanjutkan makan walaupun tetap berantakan.

---

Setelah makan malam selesai, Erlan berdiri dan mengambil kotak es krim dari dapur. Ia meletakkannya di meja.

Mata Kirana langsung berbinar.

“Es krim!”

Erlan membuka kotak itu perlahan.

“Ada tiga rasa. Cokelat, stroberi, dan vanila.”

Kirana langsung mengambil sendok dan menyendok dengan semangat.

Linda menatap pemandangan itu dengan ekspresi pasrah.

“Ini baju ganti lagi nanti.”

Erlan tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Linda menatapnya datar.

“Kamu yang mencuci?"

Erlan terdiam sejenak, lalu berkata,

“Kalau begitu, kita cari bantuan.”

Linda mengernyit.

“Maksudnya?”

“Aku bisa minta yayasan kirim ART. Yang berpengalaman.”

Linda terdiam, lalu menggeleng pelan.

“Aku tidak yakin.”

“Kenapa?”

“Kalau semua dikerjakan orang lain... aku tidak punya kegiatan.”

Erlan menatapnya.

“Kamu bisa istirahat.”

Linda tersenyum tipis.

“Aku tidak bisa diam. Apalagi hanya di rumah.”

Erlan memahami, walaupun tidak sepenuhnya. Ia hanya mengangguk pelan.

---

Di sisi lain, Kirana mulai melambat. Sendoknya berhenti di udara.

“Ayah...” katanya pelan.

“Sudah kenyang?” tanya Erlan.

Kirana mengangguk.

“Banyak...”

“Tidak harus dihabiskan,” kata Erlan.

Kirana menghela napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

---

Beberapa saat kemudian, Kirana kembali bersuara.

“Ayah, besok berenang?”

Erlan tersenyum.

“Kirana ingat janji ayah?”

“Iya!”

“Kita berenang setelah sarapan.”

Kirana langsung tersenyum lebar.

“Yeeey!”

Linda hanya menggeleng, tapi terlihat ikut senang.

---

Malam semakin larut. Setelah membersihkan diri, Kirana mulai mengantuk. Namun sebelum tidur, ia memeluk Erlan.

“Ayah... Kirana mau tidur sama Ayah dan Mama.”

Erlan menoleh ke arah Linda.

Linda terlihat ragu. Sudah lama mereka tidak tidur satu ranjang. Ada jarak yang dulu terbentuk, dan belum sepenuhnya hilang.

Namun melihat Kirana, Linda akhirnya menghela napas.

“Baiklah.”

Kirana tersenyum lebar.

---

Di kamar, suasana terasa berbeda. Kirana berada di tengah, memeluk kedua orang tuanya. Tidak butuh waktu lama sampai ia tertidur pulas.

Ruangan menjadi hening.

Erlan menatap Kirana sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke Linda.

“Aku merindukan ini,” katanya pelan.

Linda terdiam beberapa saat.

“Aku juga.”

Namun wajahnya tidak sepenuhnya tenang.

“Ada yang kamu pikirkan,” ujar Erlan.

Linda menghela napas.

“Aku masih khawatir... tentang orang tuamu.”

Erlan menatapnya serius.

“Aku sudah memutuskan.”

Linda menatapnya.

“Mereka tidak akan mudah menerima ini.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Erlan menarik napas pelan.

“Aku sudah terlalu lama mengikuti apa yang mereka mau.”

Linda terdiam.

“Kali ini,” lanjut Erlan, “aku ingin memilih hidupku sendiri.”

Linda menatapnya dalam diam.

“Dan kalau itu membuatmu kehilangan mereka?”

Erlan tersenyum tipis, tapi ada kelelahan di matanya.

“Aku sudah kehilangan banyak hal karena mereka.”

Linda tidak langsung menjawab.

“Ini bukan tentang kamu atau Kirana,” kata Erlan. “Kalau aku pergi, itu karena mereka tidak pernah berhenti memaksakan kehendak.”

Linda menunduk, lalu tersenyum kecil.

“Aku hanya tidak ingin menjadi alasan.”

“Kamu adalah alasan aku bertahan.”

Linda menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, kekhawatiran di matanya sedikit berkurang.

“Aku juga sudah lama memimpikan ini,” katanya pelan.

Erlan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Kirana yang tertidur di antara mereka.

Sebuah keluarga.

Mungkin belum sempurna. Mungkin masih banyak hal yang harus dihadapi.

Namun untuk malam itu, mereka memilih untuk tetap berada di sana.

Bersama.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!