Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam panas
"Rex..." ucap Maple dengan suara pelan, bisikan itu terdengar lembut di tengah ruangan yang hanya diisi suara nyala kayu bakar dari perapian.
Entah apa yang melintas dalam pikirannya—apakah rasa lelah yang membuatnya menyerah, atau keinginan untuk merasakan sesuatu yang nyata setelah bertahun-tahun merasa hampa.
Tanpa berpikir panjang, ia mendekatkan wajahnya perlahan dan mencium bibir Rex dengan lembut.
Bibirnya yang masih sedikit dingin menyentuh bibir pria itu, gerakannya terasa kaku namun tulus—menunjukkan bahwa ini adalah hal yang baru baginya.
Ciuman itu membuat Rex sedikit terdiam sejenak. Aroma tubuh Maple yang berpadu dengan wangi hujan menyadarkan dirinya akan keberadaan wanita di depannya.
Setelah beberapa saat, ia mulai membalas ciuman itu—lembut pada awalnya, namun perlahan-lahan menjadi lebih dalam dan menuntut seiring dengan hasrat yang mulai membara di dalam dirinya.
Setelah beberapa saat, Rex melepaskan ciuman mereka. Ia dengan lembut membalikkan tubuh Maple, lalu membungkus lengannya erat dari belakang. Badan yang besar dan berototnya memberikan rasa aman yang tak pernah Maple rasakan sebelumnya.
"Kau tahu? Kau bisa membuatku gila, Maple?" bisik Rex di telinga kanannya dengan nada rendah yang menggema di tenggorokan Maple. Nafas hangatnya menyentuh kulit leher putih dan jenjangnya, memberikan sensasi mengelitik yang membuat bulu kuduknya merinding dan tubuhnya sedikit menggigil.
Tanpa berkata apa-apa, Maple menarik salah satu tangan Rex hingga masuk ke dalam bawah kaos hitamnya yang sudah sedikit basah akibat keringat dan sisa kelembapan hujan.
Jari-jari Rex menyentuh kulitnya yang lembut dan mulus, dan gerakan tangannya yang perlahan membuat Maple merasa seperti ada arus listrik yang mengalir di sepanjang tubuhnya.
Rex membelai dengan lembut bagian depan tubuh Maple, jari-jari tangannya secara perlahan menemukan bukit kembarnya yang kencang.
Sementara itu, bibirnya meresapi lehernya dengan lembut, kadang-kadang memberikan ciuman yang sedikit menggigit hingga meninggalkan bekas merah muda yang jelas terlihat.
"Ugh... Aaah..." suara desah lembut keluar dari bibir Maple saat jari Rex mulai bermain dengan lembut namun pasti.
Sensasi baru yang ia rasakan membuatnya tak bisa berpikir jernih lagi—semua pikiran tentang kesedihan dan putus asa seolah lenyap seketika.
Setelah beberapa saat membuat Maple terengah-engah karena kenikmatan, Rex kembali membalikkan tubuhnya hingga mereka saling menghadap.
Wajah Maple memerah karena gairah, matanya yang biasanya kosong kini terpampang penuh hasrat dan keinginan yang jelas.
Ia menatap Rex dengan pandangan yang tak lagi menunjukkan rasa ingin mati, melainkan keinginan untuk hidup dan merasakan sesuatu yang nyata.
Dengan lembut, Rex menggendong Maple seperti seorang bayi—tubuhnya mengelilingi leher dan pinggang Rex seperti koala yang menggenggam batang pohon. Ia membawanya melalui lorong yang dihiasi lukisan-lukisan lama menuju kamar tidur pribadinya yang luas dan mewah.
"Brak—"
Pintu kamar ditutup dengan lembut menggunakan kaki Rex, lalu ia melangkah menuju ranjang besar yang dilapisi seprai sutra putih yang terlihat sangat empuk.
Rex meletakkan tubuh Maple dengan sangat hati-hati, seperti menghadapi sesuatu yang sangat berharga. Ia menunduk, menatap wajah wanita di bawahnya dengan pandangan yang intens dan penuh perhatian.
"Kau punya mata yang begitu indah," ucap Rex dengan suara lembut, sebelum ia kembali mencium bibir Maple—kalinya lebih dalam dan penuh gairah.
Sementara itu, kedua tangannya mulai membuka pakaian Maple satu per satu dengan gerakan yang lambat namun pasti, seolah ingin menghargai setiap bagian tubuhnya dengan seksama.
Hingga akhirnya Maple berbaring dengan tubuh polosnya di atas ranjang, kulitnya yang putih seperti mutiara terpampang di bawah cahaya lembut dari lampu meja sebelah ranjang.
Wajahnya yang sedikit memerah dan bibir yang sedikit membuka terlihat sangat menggoda di mata Rex.
Giliran Rex yang membuka pakaiannya—jaket, kaos, dan celananya dilepas satu per satu hingga tubuhnya yang berotot dan sempurna terlihat jelas
Beberapa tato yang mengelilingi lengannya dan bagian dada nya memberikan kesan yang lebih karismatik dan misterius di mata Maple, yang tak bisa menghentikan diri untuk melihat setiap lekukan ototnya.
Rex dengan sangat lembut menurunkan tubuhnya, jemari tangannya menyentuh area sensitif Maple dengan gerakan yang perlahan dan penuh perhatian.
Ia terus menatap wajah Maple, ingin melihat setiap reaksi yang muncul di wajahnya—karena ia tahu bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi wanita itu, dan entah mengapa ia merasa ingin membuat momen ini menjadi sesuatu yang tak terlupakan bagi Maple.
"Aaarh..." suara desah terkejut keluar dari bibir Maple saat ia merasakan sensasi yang belum pernah ada sebelumnya—seolah ada kumpulan panas yang mulai terbentuk di dalam dirinya dan perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Rex bermain dengan area tersebut dengan sangat terampil, mengetahui kapan harus mempercepat atau memperlambat gerakan agar Maple merasa nyaman.
Ia melihat wajah Maple yang mulai semakin terpancing kenikmatan, tangannya yang tadinya terentang kini menggenggam seprai dengan erat.
"Rex... Ber-henti..." ucap Maple dengan nafas terengah-engah, tubuhnya mulai menggigil karena merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari dalam dirinya.
"REX.. STOP!" teriaknya dengan suara yang sedikit tinggi, namun segera diikuti dengan desah panjang yang penuh kepuasan. "Aaaarrrrhhh..." Maple menggeliat sejenak sebelum tubuhnya rileks kembali, mata nya sedikit menutup karena merasa lelah namun penuh kepuasan setelah mencapai puncak kenikmatan hanya dengan sentuhan tangan Rex.
Rex kembali mencium bibirnya yang lembab, "Kita baru pemanasan, jangan bilang kau sudah lelah," bisiknya tanpa melepaskan ciuman mereka. Lidahnya menjelajahi bibir dan bagian dalam mulut Maple, membuatnya kembali merasakan sensasi yang menggairahkan.
Kemudian, Rex dengan perlahan menggesekkan bagian tubuhnya yang sudah kaku di area sensitif Maple, membuatnya mendesah lagi dengan suara yang lembut dan merdu.
"Hhhmph... Aaarh... Haaaa..." desahan Maple semakin jelas terdengar di kamar yang sunyi.
Tak butuh waktu lama, Rex secara perlahan namun pasti menyatukan tubuhnya dengan Maple.
Keduanya mengeluarkan suara leguhan yang bersamaan saat hubungan pertama mereka terjalin, dan Rex bisa merasakan adanya cairan merah muda yang menandakan keperawanan wanita di bawahnya kini telah menjadi miliknya.
Air mata mengalir dari sudut mata Maple—entah karena rasa sakit yang sedikit muncul, atau karena emosi yang ia rasakan setelah sekian lama merasa sendirian.
Rex dengan lembut menjilati air mata itu dan mencium setiap sudut wajahnya, memberikan rasa nyaman dan kepastian bahwa ia tidak sendirian.
Rex mulai menggerakkan pinggangnya dengan irama yang lambat dan lembut, disesuaikan dengan kemampuan Maple yang baru pertama kali melakukan hal ini.
Maple perlahan mengikuti iramanya, tubuhnya mulai menyesuaikan diri dan memberikan respons yang jelas bahwa ia mulai menikmati setiap sentuhan dan gerakan Rex.
Tangan kirinya memainkan salah satu bukit kembar Maple dengan lembut, sementara bibirnya menyapa leher dan bahu wanita itu dengan ciuman dan gigitan lembut yang membuatnya terus mendesah.
Setiap sentuhan dari Rex membuat pikiran Maple menjadi kosong dan melayang—semua masalah hidupnya, rasa ingin mati yang pernah menghantui dirinya, seolah lenyap tanpa jejak.
Saat ini, ia hanya fokus pada kenikmatan yang ia rasakan, pada tubuh Rex yang sedang menyatukan diri dengannya, dan pada perasaan hidup yang kembali mengalir di dalam dirinya.
Ia merelakan kesuciannya bukan karena ingin mati setelahnya, melainkan karena ingin merasakan kehangatan dan keberadaan seseorang Rex membuatnya begitu berbeda.
Setelah beberapa saat, Rex dengan lembut membalikkan tubuh Maple hingga ia berbaring telungkup.
Bentuk tubuh belakangnya yang indah terlihat semakin menggoda di mata Rex, yang langsung menyadari bahwa posisi ini memberikan kedekatan yang lebih dalam antara mereka berdua.
Ia kembali menyatukan tubuhnya dengan perlahan, lalu memulai gerakan yang sedikit berbeda namun tetap penuh perhatian.
"Aaaarhhh, Rex..." desah Maple semakin jelas dan penuh hasrat, tangannya menggenggam bantal dengan erat.
"Kau sepertinya menyukai posisi ini," ucap Rex dengan nafas terengah-engah, gerakan pinggangnya mulai sedikit mempercepat seiring dengan hasrat yang semakin membara.
"Lakukan dengan cepat, Rex..." ucap Maple dengan suara terbata-bata, tubuhnya mulai bergoyang mengikuti irama Rex dengan sendirinya.
"Shit..." umpat Rex dengan suara rendah saat mendengar kata-kata Maple yang membuat hasratnya semakin tak terkendali.
Ia mengangguk perlahan lalu mempercepat gerakannya sesuai dengan keinginan wanita di bawahnya.
Suara desah dan lenguhan lembut dari Maple memenuhi setiap sudut kamar, bercampur dengan irama yang teratur dari tubuh mereka yang saling menyatu.
Tubuh mereka yang awalnya terasa sejuk kini menjadi panas karena gairah dan keringat yang menetes di pelipis mereka.
Keringat dari tubuh Rex menetes ke punggung Maple, memberikan sensasi yang semakin menggairahkan.
Setelah beberapa saat lagi, Rex kembali membalikkan tubuh Maple hingga mereka saling menghadap lagi.
Mata mereka bertemu—pandangan penuh hasrat dan kehangatan saling menyilang.
Ia kembali menyatukan diri dengannya, kali ini dengan gerakan yang lebih lambat namun penuh makna, menikmati setiap detik kedekatan yang mereka rasakan.
Suara desah indah dari Maple kembali memenuhi ruangan, semakin merdu seiring dengan setiap gerakan Rex.
Hingga akhirnya, keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan—tubuh mereka menggeliat dan rileks secara bersamaan, nafas mereka memburu dan tak beraturan akibat kelelahan namun penuh kepuasan.
Rex berbaring di samping Maple, tubuhnya masih terasa lembut karena setelahnya. Ia menyadari bahwa mereka tidak menggunakan pengaman saat ini, namun pikiran itu segera sirna saat ia melihat Maple yang terbaring dengan wajah rileks dan nafas yang mulai kembali tenang di sebelahnya.
"Kau ingin melakukannya lagi?" tanya Rex dengan suara serak, tangannya secara perlahan membelai punggung Maple yang masih sedikit berpelukan.
Maple perlahan menoleh ke arahnya, matanya yang masih sedikit merah karena gairah kini menatap mata Rex yang tajam namun penuh kehangatan.
Sebuah senyuman lembut muncul di bibirnya—yang pertama kalinya terlihat sejak mereka bertemu.
"Ya," ucapnya dengan suara pelan namun tegas.
Dan sepanjang malam, mereka terus menjelajahi tubuh satu sama lain di setiap sudut kamar—dari ranjang yang empuk hingga karpet yang lembut di lantai kamar.
Hasrat mereka yang tak terpuaskan membuat malam itu terasa begitu singkat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maple merasa bahwa hidupnya memang memiliki makna dan tujuan.