NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Simulasi dan mentor dingin

Pagi di Unit 402 dimulai dengan aroma kopi yang jauh lebih kuat dari biasanya. Saga sudah berdiri di depan meja makan, bukan dengan gulungan cetak biru atau maket gedung, melainkan dengan sebuah laptop yang menampilkan draf CV milik Nala.

Di sisi lain meja, Nala duduk dengan mata yang masih setengah mengantuk, memegang cangkir berisi teh manis yang uapnya mengepul.

"Nala, saya sudah baca CV kamu semalam," Saga memulai, suaranya sedatar penggaris besi. "Dan sejujurnya, kalau saya jadi manajer HRD, saya akan membuang dokumen ini ke tempat sampah dalam waktu tiga detik."

Nala yang tadinya menguap langsung tersedak tehnya sendiri.

"Apa?! Mas, itu CV perjuangan saya selama kuliah! Isinya pengalaman organisasi semua!"

"Itulah masalahnya," Saga memutar layar laptop ke arah Nala.

"Pengalaman organisasimu terlalu banyak 'seksi konsumsi' dan 'koordinator lapangan'. Di Jakarta, terutama di industri kreatif yang kamu incar, mereka butuh portfolio, hasil kerja nyata, bukan kemampuanmu memesan seratus kotak nasi uduk dalam waktu satu jam."

Nala mengerucutkan bibirnya. "Ya kan itu melatih kepemimpinan, Mas!"

"Itu melatih logistik, bukan estetika," potong Saga cepat.

"Gencatan senjata kita mencakup bantuan saya untuk kariermu. Jadi, hari ini kita lakukan simulasi. Anggap saya adalah Direktur Utama dari agensi iklan ternama, dan kamu sedang melamar sebagai Junior Creative Strategist. Pakai baju kerjamu, sekarang."

Nala melongo. "Sekarang? Ini masih jam delapan pagi!"

"Dunia profesional tidak menunggu matamu melek sempurna, Nala. Cepat. Saya tunggu sepuluh menit."

Nala mendengus kesal, namun ia tetap berlari ke area bawah untuk berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian, ia muncul dengan kemeja putih dan rok span hitam yang sedikit ketat—pakaian "tempur"-nya saat wisuda dulu.

Ia berjalan mendekat dengan sepatu hak tinggi yang bunyinya berisik di lantai kayu.

Saga memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan tatapan mengintimidasi.

"Duduk. Jangan goyangkan kaki, jangan memainkan pulpen, dan yang paling penting, jangan menyebut kata 'anu' atau 'apa ya' di setiap awal kalimat."

Simulasi dimulai. Saga memberikan pertanyaan-pertanyaan teknis yang tajam, jauh lebih sulit daripada yang Nala bayangkan.

"Kenapa saya harus mempekerjakan seseorang yang tidak punya pengalaman kerja formal tapi sudah punya rencana pernikahan bulan depan?" tanya Saga tiba-tiba, menyisipkan fakta pahit ke dalam simulasi.

Nala tertegun. "Lho, kok bawa-bawa itu?"

"HRD akan melihat cincin atau statusmu, Nala. Mereka takut kamu akan cuti panjang setelah menikah. Jawab!"

Nala menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya.

"Karena dedikasi saya tidak diukur dari status sipil saya, Pak. Saya datang ke Jakarta untuk membuktikan bahwa saya bisa membangun nilai bagi perusahaan Anda, dengan atau tanpa rencana pribadi saya."

Saga terdiam sejenak. Ada kilat apresiasi tipis di matanya, meski ia segera menutupinya.

"Lumayan. Tapi ekspresi wajahmu masih terlihat seperti orang yang sedang ditagih utang. Rileks sedikit."

Baru saja Nala hendak membalas, sebuah nada dering video call yang sangat spesifik memecah ketegangan. Itu ponsel Saga. Nama pengirimnya: Mama Sayang.

"Mati aku! Mas, jangan diangkat! Kita lagi simulasi!" bisik Nala panik.

"Kalau tidak diangkat, dia akan telepon sampai besok pagi!" Saga menyambar ponselnya dan mengaktifkan kamera. "Halo, Ma?"

Layar menampilkan wajah ceria Tante Sofia yang tampaknya sedang berada di sebuah butik pengantin. "Saga! Nala! Wah, kalian sudah rapi sekali pagi-pagi begini? Mau ke mana? Mau pre-wedding ya?!"

Saga dan Nala saling lirik dengan canggung. Nala segera mendekat ke samping Saga, memasang senyum manis andalannya. "Pagi, Mama! Ini... Nala lagi simulasi wawancara kerja, dibantuin sama Mas Saga."

"Duh, calon menantu Mama rajin banget! Tapi simulasinya berhenti dulu ya," Tante Sofia mengarahkan kamera ponselnya ke deretan gaun pengantin di belakangnya.

"Mama lagi di tempat Tante Linda. Lihat gaun ini! Ini model lace terbaru dengan potongan A-line. Mama rasa ini cocok sekali buat tubuh Nala yang mungil. Nala, coba kamu berdiri, Mama mau lihat ukurannya kira-kira!"

Nala terpaksa berdiri dan berputar di depan kamera, sementara Saga memegang ponselnya dengan tangan yang gemetar menahan kesal.

"Bagus sekali! Saga, kamu suka yang model ini atau yang lebih terbuka di bagian bahu? Kan kamu arsitek, biasanya suka yang estetik!" tanya Tante Sofia antusias.

Saga menatap layar, lalu menatap Nala yang sedang berdiri kaku dalam balutan kemeja putihnya.

Untuk sesaat, Saga membayangkan Nala benar-benar memakai gaun putih panjang dengan rambut yang disanggul rapi. Bayangan itu terasa begitu nyata hingga ia harus berdeham keras untuk sadar kembali.

"Yang mana saja asal Nala nyaman, Ma," jawab Saga pendek.

"Ah, kamu ini! Nala, nanti sore Mama kirimkan beberapa draf desain undangan yang sudah ada nama kalian ya? Oh iya, Mama juga sudah bicara dengan keluarga Nala di kampung. Mereka setuju kalau acaranya di Bandung saja supaya lebih dekat dengan keluarga besar kita!"

Nala hampir saja terjatuh dari sepatu hak tingginya. "K-keluarga Nala... sudah setuju, Ma?"

"Sudah! Ibu kamu senang sekali, katanya nggak nyangka dapet menantu arsitek sukses kayak Saga. Sudah ya, Mama mau lanjut fitting jas buat Papa!"

Klik. Sambungan terputus.

Unit 402 kembali hening, namun kali ini hening yang terasa sangat mencekam. Nala merosot kembali ke kursinya, wajahnya tampak pucat pasi.

"Mas... ini beneran makin gila. Ibuku... Ibuku sudah setuju."

Saga meletakkan ponselnya di meja dengan kasar.

Rencana "pelarian" mereka yang dibicarakan semalam seolah-olah baru saja tertabrak truk kontainer.

"Tiga puluh hari, Nala. Kita cuma punya waktu tiga puluh hari sebelum semua undangan itu disebar."

"Mas, gimana kalau wawancara kerjaku gagal? Gimana kalau aku nggak dapet alasan buat batalin ini?"

Saga menatap Nala tajam. Kali ini tidak ada nada dingin, hanya ada ketegasan yang tulus.

"Kamu tidak akan gagal. Kita akan perbaiki CV-mu hari ini juga. Kamu harus dapat kerja minggu depan. Itu satu-satunya tiket keluar kita dari sandiwara ini."

Nala menatap Saga, mencari kekuatan di balik wajah kaku arsitek itu. "Mas beneran mau bantuin aku sampai dapet kerja?"

"Saya tidak pernah menarik kata-kata saya, Nala. Sekarang, ganti sepatumu dengan sandal jepit. Kita akan merombak total portfolio-mu sampai malam."

Nala tersenyum kecil, sebuah senyum tulus yang pertama kali ia berikan untuk Saga tanpa paksaan Tante Sofia atau teman-temannya. "Makasih, Mas Sayang."

"Nala! Kan saya bilang simulasinya sudah selesai!"

"Hehehe, latihan biar nggak lupa, Mas!"

Di tengah tumpukan berkas dan rencana pernikahan yang makin mendekat, Unit 402 kini memiliki misi baru.

Gencatan senjata mereka perlahan berubah menjadi kerjasama tim yang tak terduga, meski selotip hitam di lantai masih setia menjadi saksi bisu antara dua hati yang sebenarnya mulai saling membutuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!