NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARSITEK TAKDIR DAN DARAH YANG MEMBEKU

Jakarta setelah "Badai Tujuh Pilar" tidak lagi sama. Secara kasat mata, Sudirman tetap macet, lampu-lampu neon masih berkedip genit di atas kelab malam, dan para eksekutif masih menyesap kopi lima puluh ribuan mereka. Tapi di balik tembok-tembok beton mansion Menteng dan bunker-bunker rahasia, ada ketakutan yang merayap seperti racun.

Namanya, Arka, kini menjadi kata terlarang. Sebuah mitos urban yang baru saja merobek tatanan dunia bawah dalam satu malam.

Di lantai paling atas Hotel The Obsidian—aset baru yang Arka "ambil alih" dari sisa-sisa harta klan Mahesa—Arka duduk di depan jendela kaca floor-to-ceiling. Di depannya, pemandangan kota tampak seperti tumpukan sirkuit elektronik yang menyala.

Ia memegang sebuah crystal tumbler berisi cairan amber, tapi matanya tidak menatap minuman itu. Pupilnya berdenyut halus, membedah setiap inci kota di bawahnya dengan Mata Sakti.

"Tuan," suara Tuan Yan terdengar pelan di belakangnya. "Konsorsium Pusat sudah bergerak. Mereka tidak menyerang secara fisik. Mereka melakukan apa yang paling mereka kuasai: Financial Genocide."

Arka menyesap minumannya, dingin dan tajam. "Jelaskan."

"Seluruh rekening yang terafiliasi dengan nama Anda, bahkan dana likuid milik Klan Wijaya yang mendukung Anda, telah dibekukan secara internasional. Alasan resminya? Pendanaan terorisme dan pencucian uang. Secara teknis, Anda adalah orang terkaya di Jakarta yang tidak bisa membeli sebatang rokok pun di minimarket saat ini."

Arka tertawa kecil. Tawa yang tidak sampai ke mata. "Klasik. Mereka pikir mereka bisa mencekik naga dengan memutus aliran airnya. Mereka lupa, naga bisa memakan api."

"Masalahnya bukan hanya uang, Tuan," Tuan Yan melangkah maju, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. "Unit Medis Konsorsium telah mengeluarkan perintah boikot. Siapa pun praktisi medis, rumah sakit, atau penyedia teknologi penyembuhan yang berurusan dengan 'faksi Arka' akan dicabut izinnya. Mereka tahu Anda sedang mencoba menyembuhkan kondisi Ibu Maria yang... tidak stabil."

Gelas di tangan Arka retak sedikit. Tekanan udara di ruangan itu mendadak turun drastis.

"Mereka menggunakan ibuku sebagai pion lagi?" bisik Arka. Suaranya rendah, namun mengandung getaran yang bisa meruntuhkan nyali seorang jenderal.

"Sepertinya begitu. Mereka tahu kekuatan fisik Anda tak tertandingi, jadi mereka menyerang dari sisi kemanusiaan Anda. Mereka ingin Anda berlutut dan memohon akses medis."

Arka berdiri, berjalan menuju balkon. Angin malam Jakarta yang polutif menerpa jas sutra hitamnya yang tak berkancing. Di dalam kepalanya, suara si Kakek kembali terngiang: 'Carilah Ruang Kosong di dalam hatimu...'

"Yan, kau tahu apa perbedaan antara seorang pembunuh dan seorang Dewa?"

Tuan Yan terdiam, menunggu.

"Pembunuh hanya bisa mengambil nyawa. Tapi Dewa? Dewa memutuskan siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus membusuk. Jika mereka menutup gerbang medis dunia ini untukku, maka aku akan menciptakan surga medisku sendiri. Aku akan membuat seluruh penguasa negeri ini datang merangkak ke pintuku, bukan untuk uang, tapi untuk satu hari tambahan dalam hidup mereka."

Keesokan harinya, di sebuah vila rahasia di pinggiran Bogor, sebuah pertemuan "Hantu" sedang berlangsung.

Di sana duduk Jenderal Pratama, salah satu pemegang komando tertinggi militer yang dikabarkan sedang menderita kanker stadium akhir yang dirahasiakan negara. Di sampingnya, beberapa menteri senior dan pemilik konglomerasi media yang semuanya memiliki satu kesamaan: mereka sedang sekarat.

Konsorsium mungkin menguasai uang, tapi mereka tidak bisa menyuap Malaikat Maut.

Pintu vila terbuka. Arka masuk tanpa pengawalan. Ia hanya membawa sebuah tas kulit kecil. Clarissa berjalan di sampingnya, tampak anggun dengan dress formal warna zamrud, namun matanya waspada seperti macan betina.

"Jadi, ini 'Anak Ajaib' yang menghancurkan Tujuh Pilar?" Jenderal Pratama terbatuk, suaranya parau. Matanya yang menguning menatap Arka dengan sinis. "Kau datang ke sini untuk apa, Nak? Menawarkan perlindungan? Lihat aku. Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dari sel-sel tubuhku yang berkhianat."

Arka tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, gerakannya luwes, hampir seperti predator yang sedang berdansa. Tanpa permisi, ia mengaktifkan Mata Sakti Tahap 2: Bedah Atma.

Di penglihatan Arka, tubuh Jenderal Pratama berubah menjadi struktur transparan. Ia bisa melihat tumor hitam yang melilit paru-paru sang Jenderal seperti akar pohon iblis. Ia bisa melihat energi kehidupan (Ki) sang Jenderal yang sudah redup, hampir padam.

"Anda punya waktu tiga minggu, Jenderal. Empat jika Anda beruntung," ucap Arka datar.

Ruangan itu hening seketika. Para penguasa itu saling lirik. Kalimat Arka barusan adalah penghinaan sekaligus kenyataan yang paling mereka takuti.

"Lancang sekali kau!" salah satu ajudan mencoba menarik pistol, tapi Clarissa lebih cepat. Dalam satu gerakan kilat, gadis itu sudah menempelkan pisau lipat perak ke jakun sang ajudan.

"Tenang," Arka melambaikan tangan. "Aku di sini bukan untuk membunuh. Aku di sini untuk menawarkan kesepakatan."

Arka mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari tasnya. Di dalamnya ada setetes cairan berwarna emas murni—hasil kondensasi energi murni yang ia ekstrak lewat meditasi Mata Sakti semalam.

"Konsorsium membekukan asetku. Mereka pikir aku butuh uang mereka untuk menyelamatkan ibuku," Arka menatap Jenderal Pratama, tepat di manik matanya. "Tapi mereka salah. Aku tidak butuh uang mereka. Aku hanya butuh kalian."

"Apa maksudmu?" tanya sang menteri senior, suaranya gemetar.

"Aku akan menyembuhkan kanker Anda dalam sepuluh menit, Jenderal. Tanpa operasi. Tanpa kemoterapi. Dan sebagai gantinya, Anda dan semua orang di ruangan ini akan menjadi 'perisai' politikku. Kalian akan memastikan bahwa setiap gerakan Konsorsium untuk membekukan asetku atau mengganggu ibuku akan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap negara."

Jenderal Pratama tertawa getir. "Menyembuhkan kanker stadium empat dalam sepuluh menit? Kau pikir kau siapa? Tuhan?"

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, meletakkan dua jarinya di dahi Jenderal.

BOOM!

Sebuah gelombang energi hangat meledak di dalam ruangan. Para pengawal Jenderal terlempar ke belakang oleh tekanan angin yang tak terlihat.

Mata Arka bersinar emas terang. Ia mulai menarik "akar hitam" dari paru-paru sang Jenderal menggunakan manipulasi Ki tingkat mikroskopis. Secara fisik, Jenderal Pratama berteriak, tapi bukan teriakan kesakitan—itu adalah teriakan pelepasan. Uap hitam yang berbau busuk keluar dari pori-pori kulitnya.

Sepuluh menit kemudian.

Jenderal Pratama terengah-engah. Wajahnya yang tadinya pucat pasi kini memerah segar. Ia berdiri, sesuatu yang tak bisa ia lakukan tanpa bantuan selama berbulan-bulan. Ia menarik napas panjang, dalam, dan bersih. Rasa sesak yang menghantuinya hilang total.

"Ini... ini mustahil," sang Jenderal meraba dadanya. Ia merasa seperti kembali ke usia tiga puluh tahun.

Arka mundur satu langkah, merapikan lengan jasnya yang sedikit berkerut. "Hasil tes medis Anda akan bersih besok pagi. Tapi ingat, Jenderal... apa yang bisa kuberikan, bisa juga kuambil kembali dengan cara yang jauh lebih menyakitkan."

Arka menoleh ke arah penguasa lainnya yang kini menatapnya dengan pandangan penuh pemujaan sekaligus ngeri.

"Kalian ingin hidup selamanya? Kalian ingin melihat cucu kalian tumbuh besar?" Arka tersenyum tipis. "Maka pastikan tidak ada satu pun orang Konsorsium yang bisa tidur nyenyak malam ini. Blokir semua akses mereka ke pemerintahan. Jadikan mereka orang asing di tanah mereka sendiri."

Hari itu, Arka bukan lagi sekadar pemuda sakti yang pandai berkelahi. Ia telah bertransformasi menjadi Dewa Medis di mata para elit.

Saat ia keluar dari vila, Clarissa mendekat, membisikkan sesuatu. "Strategi yang cerdas, Arka. Kau menggunakan keserakahan mereka akan hidup untuk menghancurkan cengkeraman finansial Konsorsium. Tapi... bagaimana dengan si Kakek? Aku mendapat laporan ada seseorang dengan ciri-ciri yang sama terlihat di pelabuhan tua."

Arka menghentikan langkahnya. Ia menatap ke arah pelabuhan di kejauhan. Mata Sakti-nya berdenyut. Ada sebuah sinyal energi yang sangat familiar, namun sangat kuno, memanggilnya dari sana.

"Biarkan dia. Si Kakek ingin aku bermain di papan catur ini, maka aku akan memenangkan permainannya lebih cepat dari yang dia duga," Arka masuk ke dalam mobil. "Kirim pesan ke Tuan Yan. Kita mulai tahap kedua: The Jade War. Kita akan menguras habis cadangan giok energi Konsorsium di pasar gelap."

Mobil Rolls-Royce itu melesat pergi, meninggalkan para penguasa negeri yang kini resmi menjadi pion di tangan seorang pemuda bernama Arka.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar nyawa, tapi takdir dari sebuah bangsa.

Di sebuah ruangan gelap dengan ratusan monitor, seorang pria dengan jubah putih—Ketua Konsorsium Pusat—melihat data kesehatan Jenderal Pratama yang tiba-tiba pulih total. Ia meremas tablet di tangannya hingga hancur.

"Dia bukan hanya memiliki Mata Langit... dia memiliki Nadi Pencipta," bisiknya ngeri. "Panggil Klan Macan Putih. Katakan pada mereka, sudah waktunya menggunakan 'Proyek Omega'."

Di sisi lain kota, Arka berdiri di depan cermin, melihat tato naga di punggungnya yang kini mulai memiliki mata yang menyala merah. Ruang kosong di hatinya mulai terisi, tapi bukan oleh cinta... melainkan oleh ambisi dingin yang bisa membekukan api neraka.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!