Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Sebuah Kenangan
kembali ke masa kini.
Angin di atas bukit bertiup sedikit lebih dingin.
Jemarinya masih menggenggam liontin itu erat-erat.
Dan untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak bisa jelaskan—
hari ini, nama Yel Feng terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Tepat pada saat itu, nalurinya seolah memberi peringatan—samar, halus, namun terasa jelas.
Namun, itu sudah cukup untuk membuat seluruh tubuhnya langsung menegang.
Cang Li perlahan mengangkat kepala. Udara di sekitar bukit terasa sedikit berubah—tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk disadari.
Ada seseorang di sini.
Dan orang itu...
sudah berada cukup lama untuk mengamati dirinya.
Tatapan Cang Li langsung menyapu area sekitar rumah.
Pepohonan, bebatuan, dan bayangan reruntuhan tampak biasa saja.
Namun kemudian, pandangannya terhenti pada satu titik.
Di bawah naungan pohon tua yang berdiri tak jauh dari sisi rumah, ada sesosok pria yang sejak tadi bersandar dengan santai.
Ia berdiri begitu tenang, seolah tidak sedang menyusup—melainkan memang pantas berada di sana, seakan tempat itu adalah miliknya sendiri.
Melihat itu, Cang Li langsung mundur setengah langkah.
Tangannya secara refleks turun ke gagang pedang di pinggang.
Pria itu mengenakan jubah hitam panjang. Tudung gelap menutupi sebagian besar wajahnya, membuat sosoknya tampak seperti bayangan yang terlepas dari cahaya siang.
Meski wajahnya tidak terlihat jelas, kehadirannya terasa begitu nyata—menekan dan berbahaya.
“Siapa kau?”
Suara Cang Li terdengar lebih dingin dari biasanya.
Pria berjubah hitam itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya memiringkan kepala sedikit, lalu terdengar suara berat dan rendah keluar dari balik bayangan tudungnya.
“Seperti dugaanku...”
Nada suaranya terdengar tenang.
Namun justru karena itulah, ada sesuatu yang membuat tengkuk Cang Li terasa dingin.
“Kau pasti akan datang ke tempat yang penuh kenangan seperti ini.”
Kalimat itu membuat alis Cang Li langsung berkerut.
“Bagaimana kau tahu tempat ini?”
Pria itu tidak menjawab pertanyaannya.
Ia justru menatap lurus ke arah kalung yang masih tergenggam di tangan Cang Li.
Dan untuk pertama kalinya, nada suaranya berubah sedikit lebih dalam.
“Kau masih menyimpannya.”
Jantung Cang Li berdetak sekali lebih keras.
Tatapannya menajam.
“Apa maksudmu?”
Namun pria itu hanya tersenyum samar di balik bayangan tudungnya.
Senyum yang tidak terlihat jelas...
tapi cukup terasa.
Entah mengapa, senyum itu membuat Cang Li merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan.
Bukan sekadar rasa bahaya atau ancaman, melainkan sesuatu yang terasa lebih dekat, lebih personal, dan jauh lebih mengganggu.
Ia tidak menyukai perasaan itu—sama sekali tidak.
Tanpa memberi kesempatan bicara lebih jauh, Cang Li langsung mencabut pedangnya.
Sret!
Bilah pedang itu terhunus dengan kilatan dingin.
Tubuh Cang Li langsung merendah, lalu kakinya menghentak tanah.
Lalu dalam satu tarikan napas, ia melesat maju.
Gerakannya cepat, tajam, dan tanpa ragu.
Tebasannya langsung mengarah ke leher pria berjubah hitam itu.
Namun—
Wush!
Yang terkena hanyalah udara kosong.
Mata Cang Li langsung membesar. Sosok itu tiba-tiba menghilang begitu saja—tanpa suara, tanpa jejak, bahkan tanpa sisa aura yang bisa ia rasakan.
Tulang belakangnya langsung menegang.
Terlambat.
“Terlalu lambat.”
Sebuah suara berat berbisik tepat di belakang telinganya.
Rasa dingin itu terasa sangat dekat.Bulu kuduk Cang Li pun langsung berdiri.
Ia baru sempat menoleh setengah ketika sebuah tangan besar telah lebih dulu mendarat ringan di bahunya.
Sentuhan itu tidak terasa kasar, namun justru karena itulah, kesannya menjadi jauh lebih mengerikan.
Karena itu berarti orang ini bisa menyentuhnya kapan saja tanpa memberinya kesempatan untuk bereaksi.
“Kau menjaga kalung itu dengan baik, ternyata.”
Mata Cang Li menyipit tajam.
Tanpa pikir panjang, ia langsung memutar tubuh dan mengayunkan pedangnya ke belakang dengan seluruh kekuatan.
Namun sekali lagi, gerakannya terhenti—seolah membeku di udara.
Mata Cang Li terbelalak.
Pria berjubah hitam itu menahan bilah pedangnya hanya dengan dua jari.
Dua jari, tanpa goyah sedikit pun, tanpa ekspresi, dan tanpa terlihat mengerahkan tenaga.
Seolah yang ia pegang bukan senjata tajam, melainkan ranting tipis yang tidak layak ditakuti.
“...!”
Cang Li langsung menekan pedangnya dengan lebih kuat.
Namun bilah itu tidak bergerak sedikit pun.Rasa dingin pun perlahan menjalar di punggungnya.
Orang ini...
jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia lawan.
Bahkan sebelum pikiran itu selesai terbentuk—
DUAK!
Sebuah tendangan keras menghantam perutnya.
Tubuh Cang Li terangkat dari tanah.
Seluruh udara di paru-parunya seolah dipukul keluar sekaligus.
Ia terlempar ke belakang dan menghantam batang pohon besar dengan bunyi berat.
Buk!
Batang pohon itu bergetar kuat hingga daun-daunnya berguguran.
Pedang di tangan Cang Li pun hampir terlepas.
Ia jatuh ke satu lutut sambil terbatuk kasar, tangan kirinya menekan perut, wajahnya pucat karena rasa sakit yang menjalar sampai ke tulang belakang.
Rasa mual naik hingga ke tenggorokannya, tetapi ia menahannya dengan paksa.
Tidak, ia tidak akan jatuh semudah itu.
Pria berjubah hitam itu berdiri beberapa langkah di depannya, tetap santai seperti seseorang yang bahkan belum mulai bertarung sungguhan.
“Kau berkembang.”
Suaranya terlihat rendah dan datar.
Tidak terdengar mengejek, namun justru itulah yang membuat kalimat itu terasa lebih menusuk.
“Setidaknya... dibandingkan anak kecil yang dulu.”
Cang Li perlahan mengangkat kepala,
tatapannya menyala penuh tekad.
“Tapi...” lanjut pria itu, “kau masih sangat jauh dari harapanku.”
Kalimat itu langsung menyalakan sesuatu di dalam dada Cang Li.
Amarah, kebingungan, dan harga diri—serta sesuatu yang jauh lebih dalam dari semuanya.
rasa muak karena dipandang seolah-olah pria itu mengenalnya.
“Jangan bicara seolah kau mengenalku!”
Cang Li memaksa dirinya untuk berdiri.
Tubuhnya masih terasa nyeri, namun genggamannya pada pedang justru semakin erat.
Energi di pusat tubuhnya mulai berputar liar.
Dan detik berikutnya—
Zzzzzttt!
Percikan listrik ungu meledak dari tubuhnya.
Petir-petir kecil menjalar di sepanjang lengan, bahu, dan bilah pedangnya, memercikkan cahaya tajam yang membuat udara di sekitarnya bergetar.
Aura Cang Li langsung berubah—menjadi lebih ganas, lebih tajam, dan jauh lebih berbahaya.
“Volt Piercer!”
Dengan raungan pendek, ia melesat lagi.
Kali ini jauh lebih cepat.
Petir ungu mendorong tubuhnya ke depan seperti anak panah.
Bilah pedangnya menusuk lurus ke arah dada pria berjubah hitam itu dengan kekuatan yang mampu menembus batu.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat napas Cang Li tercekat.
Pria itu tidak menghindar, juga tidak mundur. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan—dan pada saat yang sama—
Zzzzzttt!!
Petir ungu yang sama persis tiba-tiba menyelimuti lengannya.
Cahaya listrik itu bukan sekadar tiruan kasar atau elemen yang mirip.
Itu adalah jenis petir yang benar-benar sama dengan milik Cang Li—dari warna, getaran, hingga tekanan auranya, semuanya identik.
Mata Cang Li pun langsung melebar.
“Apa...?”
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, pria berjubah hitam itu tampak sedikit tertarik.
“Jadi kau memang sudah bisa sampai tahap ini.”
Nada suaranya terdengar hampir... puas.
“Bagus.”
Ia memiringkan kepala sedikit.
“Kalau begitu, mari kita lihat...”
Tubuhnya kembali menghilang begitu saja.
“...seberapa kuat tekadmu.”
Mata Cang Li langsung bergerak cepat, menyapu ke kiri, kanan, belakang, hingga ke atas.
Namun, ia tidak menemukan apa pun—tidak ada bayangan, tidak ada suara langkah, bahkan tidak ada jejak aura yang bisa ia rasakan.
Lalu, ia merasakan sesuatu di depannya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Pria berjubah hitam itu telah berdiri tepat di hadapannya—terlalu dekat, terlalu cepat.
Refleks Cang Li langsung mengambil alih.
Ia mengayunkan pedangnya secara horizontal dengan seluruh tenaga.
Tebasan itu cukup cepat untuk membelah tubuh kultivator biasa menjadi dua.
Namun pria itu hanya sedikit memiringkan tubuhnya.
Sangat sedikit.
Bilah pedang itu pun lewat begitu saja, tidak mengenai apa pun.
Gerakannya begitu halus dan efisien, tanpa gerakan berlebihan atau sia-sia—hanya kendali yang sepenuhnya sempurna.
Dan sebelum Cang Li sempat menarik kembali pedangnya—
BUM!
Sebuah pukulan telak menghantam tepat di ulu hatinya.
Itu bukan sekadar pukulan biasa, melainkan pukulan yang dilapisi petir ungu.
Seluruh tubuh Cang Li langsung kaku. Matanya membelalak, mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Rasa sakit itu tidak hanya menghantam daging dan tulangnya—
tetapi juga menyambar meridian dan aliran energinya sekaligus.
Petir pria itu masuk ke dalam tubuhnya seperti ribuan jarum panas yang merobek dari dalam.
Kakinya kehilangan tenaga, dan pedangnya terlepas dari genggaman.
Clang!
Bilah itu jatuh ke tanah.
Tubuh Cang Li sempat goyah sekali, lalu dua kali, sebelum akhirnya ambruk berlutut.
Napasnya tersengal, pandangannya mulai bergetar dan kabur, sementara seluruh tubuhnya perlahan kehilangan rasa.
Seolah semua tenaga, semua amarah, dan semua harga dirinya baru saja dihancurkan dalam hitungan detik.
Ia mencoba bangkit, tetapi gagal.
Ia berusaha meraih pedangnya, namun tidak berhasil.
Ia memaksakan tubuhnya untuk bergerak, tetapi tetap tidak berhasil.
Yang tersisa hanyalah rasa frustrasi yang begitu besar sampai nyaris terasa lebih sakit daripada pukulan tadi.
Ia membenci perasaan ini—perasaan lemah dan tidak berdaya.
Perasaan bahwa, sekali lagi, ia tidak mampu melindungi apa pun.
Pria berjubah hitam itu melangkah mendekat.
Sepasang sepatu hitam berhenti tepat di depan wajah Cang Li yang tertunduk.
Ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri—berat, kacau, dan dipenuhi amarah.
Kemudian, sesuatu yang dingin menyentuh lehernya: jemari pria itu.
Dengan gerakan tenang, pria berjubah hitam itu menarik kalung perak dari leher Cang Li.
Terdengar bunyi klik.
Tali pengaitnya terlepas.
Mata Cang Li yang mulai buram seketika membesar.
“Jangan...”
Suaranya terdengar serak, lemah, dan nyaris tidak terdengar.
Namun itu adalah pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, nadanya benar-benar berubah.
Ia mampu menahan pukulan, rasa sakit, bahkan penghinaan. Namun, bukan itu yang menjadi masalah.
Bukan kalung itu
Bukan satu-satunya benda yang selama ini menghubungkannya pada sesuatu yang tak pernah benar-benar dijelaskan.
Cang Li mengangkat tangan gemetar ke arah pria itu, mencoba meraihnya.
Namun jari-jarinya hanya menyentuh udara kosong.
Pria berjubah hitam itu menatap liontin perak di tangannya selama beberapa detik, terasa sangat lama.
Seolah ia sedang menatap sesuatu yang telah lama hilang.
Lalu akhirnya, dengan suara yang jauh lebih pelan dari sebelumnya, ia berkata—
“Maafkan aku...”
Kalimat itu terdengar aneh, bahkan terlalu aneh.
Sebab, untuk sesaat, suara itu tidak terdengar seperti suara musuh, melainkan seperti suara seseorang yang sedang menahan sesuatu.
“Tapi kau belum siap memegang nama ini.”
Mata Cang Li bergetar.
Yang mengguncangnya bukan kalung atau benda itu, melainkan nama tersebut.
Kepalanya terasa semakin berat.
Pandangan di matanya semakin gelap.
Namun di detik-detik terakhir kesadarannya, satu pertanyaan membakar lebih kuat daripada rasa sakit mana pun.
Siapa sebenarnya pria ini?
Dan yang lebih mengerikan—
kenapa petirnya... sama denganku?
Tubuh Cang Li akhirnya ambruk sepenuhnya ke tanah.
Dunia di sekelilingnya perlahan ditelan kegelapan.
Suara angin, gesekan daun, dan langkah kaki yang samar semakin menjauh.
Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam, ia sempat melihat bayangan pria berjubah hitam itu berdiri di hadapannya—
Ia terdiam, berdiri tegak, dan menggenggam liontin perak itu di tangannya.
Kemudian, semuanya berubah menjadi gelap gulita.
End Chapter 11