NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Maison de Blanc

Dokumen resmi berlogo Maison de Blanc terpampang jelas. Seluruh anggota dewan direksi duduk mengelilingi meja oval. Suasana ruangan mendadak riuh.

Anastasia duduk di kursi seberang Shanaya. Perempuan itu melipat kedua tangannya di atas meja. Bibirnya melengkung ke atas, memamerkan senyum paling angkuh yang pernah ia buat. Matanya menatap Shanaya dengan kilat kemenangan.

"Ini kesempatan emas bagi Kesuma, Paman," kata Anastasia lembut. Ia menoleh ke arah salah satu direktur senior. "Maison de Blanc adalah raksasa Eropa. Mereka mencari wajah baru untuk koleksi musim semi. Aku tidak menyangka mereka memperhatikan portofolio desainku."

Direktur senior itu mengangguk puas. "Ini angin segar. Apalagi setelah rumor buruk yang menimpa keluarga Restu kemarin. Kita butuh sentimen positif di pasar global. Kerja bagus, Anastasia."

Shanaya duduk bersandar. Wajahnya sama sekali tidak menampilkan emosi. Ia menatap layar proyektor itu dengan saksama. Dokumen itu terlihat sah. Ada stempel elektronik, tanda tangan perwakilan direktur regional Asia, dan rincian kontrak awal. Semuanya mengarah pada satu nama. Anastasia Lim.

Ada yang salah. Sangat salah.

Maison de Blanc adalah merek tua yang sangat memuja orisinalitas. Tiga hari lalu, artikel Kanal Satu membedah habis-habisan kasus plagiarisme desain Anastasia. Publik mungkin mudah lupa, tetapi kurator fashion Paris tidak pernah tidur. Tidak mungkin mereka mempertaruhkan reputasi ratusan tahun untuk berkolaborasi dengan desainer yang baru saja tersandung skandal curian.

"Jadi, kita sepakat?" Anastasia memecah lamunan Shanaya. Suaranya penuh nada provokasi. "Aku akan memimpin proyek ini. Aku harap Kak Naya tidak keberatan menyerahkan otoritas divisi desain kepadaku untuk sementara waktu. Bagaimanapun juga, ini permintaan langsung dari Paris. Kita harus profesional, kan?"

Beberapa direktur menatap Shanaya. Mereka menunggu reaksi keras, kemarahan, atau setidaknya bantahan.

Shanaya justru tersenyum tipis. Ia merapikan dokumen di depannya, lalu berdiri dengan anggun.

"Lakukan apa yang menurutmu benar, Nas." Suara Shanaya datar dan tenang. "Pastikan saja kamu tidak mempermalukan nama Kesuma di tingkat global."

Shanaya berbalik. Hak sepatunya mengetuk lantai marmer ruang rapat. Ia meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Anastasia tertegun sesaat di kursinya. Kemenangannya terasa hambar tanpa perlawanan dari Shanaya.

Dinda berlari kecil mengikuti langkah bosnya menyusuri lorong kantor. Asisten itu tampak nyaris kehabisan napas.

"Mbak Naya gila ya?" bisik Dinda panik begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja Shanaya. Pintu ditutup rapat. "Maison de Blanc itu target utama kita! Mbak Naya yang lobi mereka mati-matian sebulan terakhir. Kenapa malah dikasih ke Anastasia begitu aja?"

"Duduk, Din." Shanaya meletakkan tasnya ke atas meja. "Tarik napas."

"Saham dia di perusahaan ini bakal meroket kalau proyek ini jalan, Mbak." Dinda memegang pelipisnya sendiri. "Dia baru aja menikung kita terang-terangan."

"Mereka tidak memilih dia." Shanaya menyalakan komputer kerjanya. Matanya bergerak cepat membaca baris-baris kode di layar. "Maison de Blanc tidak sebodoh itu. Perhatikan surat tadi. Tanda tangannya milik perwakilan regional Asia di Singapura. Bukan dari kantor pusat di Paris."

"Maksudnya?"

"Dia menyuap orang dalam." Shanaya mengetuk meja kacanya berulang kali. Ritmenya cepat. Otaknya menyusun kepingan teka-teki. "Dia butuh validasi cepat untuk menutupi skandalnya. Dia membakar uang untuk membeli persetujuan regional. Paris mungkin belum tahu apa-apa."

Ponsel hitam di saku jas Shanaya bergetar. Satu pesan teks masuk.

Dari Steven Aditya.

Tiga puluh menit lalu Direktur PR Maison de Blanc regional Asia menerima transfer enam digit ke rekening cangkangnya. Sepupumu bermain sangat kasar hari ini. Perlu saya rilis buktinya sekarang?

Shanaya menatap layar ponsel itu. Jantungnya berdetak kencang. Steven kembali melakukan hal yang tidak masuk akal. Pria itu menyadap aliran dana internasional dalam hitungan menit hanya untuk memberinya informasi. Tidak ada keuntungan bisnis bagi Kanal Satu dalam hal ini. Ini murni Steven yang campur tangan.

Tangan Shanaya bergerak lincah membalas pesan tersebut.

Jangan rilis apa pun. Biarkan dia merasa terbang. Aku butuh kontak langsung Jean-Luc Dubois. CEO Paris. Sekarang.

Balasan Steven datang kurang dari lima detik. Sebuah deretan angka internasional. Diikuti satu kalimat peringatan.

Jangan buat saya membuang peluru untuk prajurit yang tidak bisa menembak, Shanaya.

Shanaya tersenyum dingin. Ia mengangkat gagang telepon kabel di meja kerjanya. Saluran ini aman dan tidak bisa disadap. Ia menekan deretan angka panjang tersebut. Perbedaan waktu membuat Paris masih berada di jam awal pagi. Tapi nomor yang diberikan Steven adalah jalur pribadi. Panggilan itu pasti akan dijawab.

Nada sambung berbunyi tiga kali. Suara berat seorang pria terdengar dari seberang.

"Oui?"

"Monsieur Dubois. Selamat pagi dari Jakarta." Shanaya merespons dengan bahasa Prancis yang sempurna tanpa cacat. Intonasinya mengalir elegan, mencerminkan kelas dan otoritasnya.

Terdengar jeda sebentar di ujung sana. Ada suara kertas disingkirkan. "Mademoiselle Kesuma? Sebuah kejutan Anda menghubungi nomor ini secara langsung."

"Saya harus meminta maaf atas kelancangan saya, Monsieur." Shanaya duduk tegak. Matanya menatap lurus ke arah jendela luar.

"Saya hanya ingin meluruskan satu hal. Beberapa jam yang lalu, kantor kami menerima surat konfirmasi dari perwakilan regional Anda di Singapura. Mereka menyatakan bahwa kolaborasi musim semi Maison de Blanc akan diwakilkan oleh Anastasia Lim."

"Pardon?" Suara Jean-Luc Dubois mendadak meninggi. Nada ramahnya hilang seketika. "Itu tidak mungkin. Dewan kurator kami di Paris sepakat memilih Anda sejak awal. Kami sudah melihat sketsa kasar Anda. Kami tidak pernah menyetujui nama Anastasia Lim. Saya bahkan baru mendengar namanya."

Sudut bibir Shanaya tertarik ke atas. Fakta telanjang akhirnya terhidang di atas meja. Anastasia benar-benar menggali kuburannya sendiri dengan menyuap kantor cabang regional.

"Tampaknya ada miskomunikasi serius di internal perwakilan Asia Anda, Monsieur," ucap Shanaya tenang. "Saya memiliki bukti transaksi finansial ilegal yang melibatkan nama tersebut. Saya bisa mengirimkannya ke surel pribadi Anda sekarang."

"Envoyez." Napas CEO itu terdengar berat karena amarah. Merek sebesar Maison de Blanc sangat antisuap. Ini adalah penghinaan bagi kredibilitas mereka. "Saya akan meminta tim Asia-Pasifik kami melakukan verifikasi langsung di Jakarta sebelum dewan Paris mengambil tindakan resmi."

"Tentu, Monsieur."

"Asisten saya akan menghubungi Anda untuk detail pertemuannya."

Shanaya meletakkan gagang telepon. Matanya berkilat tajam. Anastasia mungkin berhasil merayakan kemenangannya pagi ini. Tapi sebentar lagi, dunia fashion Eropa akan memasukkan nama Anastasia Lim ke dalam daftar hitam permanen. Hukuman yang jauh lebih brutal daripada sekadar berita viral. Ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Tangan raksasa Paris yang akan mengubur sepupunya itu.

Dinda masuk ke ruangan dengan tergesa. Wajah asistennya itu pucat pasi. Ia membawa dua map tebal di tangannya.

"Mbak Naya," panggil Dinda cepat. Ia meletakkan map itu di atas meja. "Ada pergerakan aneh dari pihak Alvian Restu."

Shanaya menoleh. Fokusnya langsung beralih. "Apa yang dia lakukan? Saham perusahaannya sedang hancur. Dia tidak punya banyak ruang gerak."

"Justru itu masalahnya." Dinda membuka tabletnya dan memperlihatkan tangkapan layar percakapan dari grup wartawan hiburan. "Alvian tiba-tiba mem-booking satu ballroom utama di Hotel Ritz malam ini. Dadakan. Acaranya sangat tertutup. Dia juga menyewa perancang busana ternama untuk sebuah gaun."

"Gaun?" Shanaya berdiri dari kursinya. "Untuk siapa gaun itu?"

"Kita belum tahu, Mbak." Dinda menggeleng pelan. "Tapi rumor di kalangan wartawan mengatakan Alvian akan mengumumkan pertunangannya malam ini juga."

Tangan Shanaya mendadak dingin. Pertunangan? Dengan siapa?

Alvian jelas tidak bisa menikahinya saat ini. Hubungan mereka sedang renggang dan Shanaya memblokir semua akses komunikasi dan finansial. Jika Alvian berniat bertunangan malam ini untuk menyelamatkan perusahaannya, pria itu pasti menemukan mangsa baru yang lebih bodoh dan lebih kaya. Atau lebih buruk lagi, ada kekuatan lain yang sedang bermain di belakang layar untuk menopang Restu Group.

Layar komputer Shanaya tiba-tiba menyala terang, memunculkan notifikasi prioritas tinggi. Perhatian Shanaya teralih dari Dinda. Ia menunduk menatap layar monitor.

Sebuah surel baru masuk beberapa menit kemudian.

Asisten pribadi Jean-Luc Dubois mengirim detail pertemuan darurat dengan delegasi Maison de Blanc Asia-Pasifik di Jakarta.

Shanaya membaca isi surel itu perlahan, tapi yang membuat darahnya mendadak dingin bukan agenda pertemuannya.

Melainkan lokasi yang dipilih pihak Maison de Blanc.

Hotel Ritz.

Tempat yang sama dengan acara rahasia Alvian malam ini.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!