Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Apartemen penthouse Lexington yang terletak di lantai teratas pusat kota Los Angeles menyambut mereka dengan kemewahan yang sunyi.
Sore itu, cahaya oranye kemerahan masuk menembus kaca jendela setinggi langit-langit, menyinari lantai marmer yang biasanya terlihat sangat steril.
Namun, suasana hati di dalamnya jauh dari kata steril. Briella melangkah masuk dengan bahu yang lunglai. Bayangan wajah kecewa Ayahnya di kediaman Xander masih menari-nari di pelupuk matanya. Ia langsung menuju sofa velvet panjang dan duduk melamun, menatap kosong ke arah gedung-gedung tinggi yang mulai menyalakan lampunya.
Lexington melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang ia gulung hingga ke siku. Ia tidak membiarkan kesedihan menyelimuti ruangan itu lebih lama. Ia tahu, Briella butuh pengalihan.
"Sayang, jangan terus menatap gedung-gedung itu. Mereka tidak akan memasakkanmu makan malam," suara Lexington memecah keheningan. Ia berdiri di balik kitchen island yang modern. "Aku akan memasak. Kau mau membantuku? Atau kau hanya ingin menjadi kritikus makanan yang cerewet malam ini?"
Briella menoleh perlahan. "Kau mau memasak? Bukankah kau biasanya hanya memesan makanan dari koki bintang lima atau makan salad yang membosankan?"
"Hari ini spesial. Aku ingin membuktikan bahwa 'mesin' ini juga bisa bekerja di dapur," Lexington memberikan senyum tipis, lalu ia mengambil sebuah celemek berwarna navy dari laci. "Ayo sini. Pakai ini."
Entah karena lelah berdebat atau memang lapar, Briella bangkit. Ia mendekat ke arah dapur. Lexington berdiri di belakangnya, melingkarkan tali celemek itu ke pinggang Briella. Aroma parfum sandalwood milik Lexington kembali menyerang indra penciumannya, membuat jantung Briella berdesir.
"Kita akan membuat Saffron Risotto," ucap Lexington. Ia mengambil stoples kecil berisi rempah termahal di dunia itu. "Buka ini. Dan tolong, sayang... jangan tumpah. Harga saffron ini lebih mahal dari beberapa alat medismu."
"Jangan mulai menghinaku, Valerio!" Briella mendengus, namun ia menerima stoples itu dengan hati-hati.
Mereka mulai bekerja. Lexington memotong bawang bombay dengan gerakan yang sangat presisi—setiap irisan memiliki ketebalan yang sama milimeter demi milimeter—sementara Briella bertugas mengaduk kaldu.
Suasana yang tadinya berat perlahan mencair. Sifat usil Lexington mulai muncul saat ia melihat betapa seriusnya Briella menatap butiran beras di panci.
"Kau tahu, Briella..." Lexington berujar tanpa mengalihkan pandangan.
"Hmmm?" jawab Briella singkat sambil mengaduk kaldu.
"Anak-anak kita nanti pasti akan sangat bangga melihat ibunya. Maksudku, lihatlah dirimu... kau begitu cantik bahkan dengan rambut yang diikat acak-acakan seperti itu dan wajah yang sedikit cemong karena tepung," Lexington menoleh, memberikan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan.
Briella hampir menjatuhkan sendok kayunya. "Apa maksudmu 'anak-anak'? Kita bahkan baru menikah sehari, Lex. Dan status kita sedang di ujung tanduk!"
Lexington terkekeh, suara tawa rendah yang terdengar sangat seksi di telinga Briella. "Maksudku anak, dan anak lagi, dan anak-anak kita nanti, Sayang. Rumah besar ini butuh suara langkah kaki kecil yang berisik."
"Nggak! Nggak ada anak-anak!" seru Briella sambil mengacungkan sendok kayu ke arah Lexington. "Aku nggak mau ya kamu nuntut aku harus punya anak kembar seperti genetik keluargamu. Kau pikir hamil gampang? anak satu saja sangat melelahkan!"
Lexington menghentikan kegiatannya, ia melangkah mendekat hingga Briella terpojok di antara meja dapur dan tubuh tegapnya.
"Bisa jadi loh, Sayang. Secara aku punya gen kembar, kemungkinan anak-anak kita nanti kembar itu sangat besar. Hmmm... kau tahu kan, adikku Kensington bahkan hampir memiliki anak kembar dulu."
Mata Briella membelalak. "Apa? Tunggu... bukankah Kensington belum menikah? Dia bahkan masih sibuk dengan dunianya yang aneh itu."
Raut wajah Lexington berubah sedikit redup, sejenak ia teringat pada saudara kembarnya yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang dengannya. "Kekasihnya dulu... tapi... ya itu..."
"Ya itu apa? Jangan membuatku penasaran, Lex! Apa kekasihnya menggugurkan bayi mereka karena takut pada keluarga Valerio yang gila?" tanya Briella menyelidik.
Lexington menghela napas, ia kembali fokus pada masakan di depannya, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku kurang tahu detailnya. Kensington sangat tertutup soal itu. Intinya, hal itu tidak berakhir baik." Ia diam sejenak sebelum menatap Briella kembali. "Mari jangan bahas kembaranku. Bahas saja bagaimana kita akan membuat versi 'kembar' kita sendiri yang lebih lucu dan tidak sekaku ayahnya."
Briella mencibir, namun pipinya merona merah. "Kau benar-benar percaya diri ya, Profesor. Ingat, aku masih dalam mode 'ingin bercerai' pagi tadi."
"Mode itu sudah kedaluwarsa sejak kau memilihku di depan ayahmu tadi sore," Lexington menyolek hidung Briella dengan ujung jarinya yang terkena sedikit krim. "Kau sudah memilih menjadi Valerio. Dan seorang Valerio tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya."
Briella tertawa kecil, ia mengambil sedikit saus dari panci dan mengoleskannya ke pipi Lexington. "Kau berisik sekali. Cepat selesaikan masakanmu, aku lapar!"
Malam itu, di tengah uap harum risotto dan candaan kecil, ketegangan soal keluarga Xander seolah memudar sementara.
Di dapur itu, mereka bukan lagi musuh di pengadilan atau pasangan skandal media. Mereka hanyalah dua orang yang sedang mencoba memperbaiki masalalu yang rusak dengan bumbu cinta yang sedikit kacau namun terasa nyata.
"Lex," panggil Briella pelan saat mereka mulai duduk untuk makan.
"Ya?"
"Terima kasih sudah memasak. Meskipun... rasanya agak terlalu banyak garam," goda Briella.
Lexington mendengus. "Mustahil."
Dan tawa mereka kembali pecah, mengisi ruang-ruang hampa di apartemen mewah itu, setidaknya untuk malam ini.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya