NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Langkahku terasa sangat berat saat harus menghampiri barisan keluarga Mas Dika yang masih duduk di ruang tamu. Dengan sisa-sisa keberanian yang kukumpulkan, aku membungkuk, mencoba menunjukkan baktiku sebagai anggota keluarga baru. Namun, saat tanganku terulur untuk menyalami Mbak Diana, sebuah luka baru kembali digoreskan.

Belum sempat ujung hidungku menyentuh punggung tangannya, Mbak Diana sudah menarik tangannya dengan kasar. Gerakannya begitu cepat, seolah-olah kulitku adalah bara api yang siap membakar atau kotoran yang menjijikkan. Ia memalingkan wajah, mendengus sinis sambil merapikan gamis mahalnya.

Aku mematung. Rasanya seperti ditampar di depan umum. Malu, marah, dan sedih bercampur menjadi satu, menyumbat tenggorokanku hingga aku sulit bernapas.

Namun, di sampingnya, Bapak Mertua melakukan hal yang tak terduga. Beliau justru mengulurkan tangan lebih dulu. Saat aku menyalaminya, beliau menepuk bahuku pelan. Sorot matanya teduh, seolah ada pesan tersirat bahwa beliau menerimaku, meski dunia—termasuk putri dan istrinya sendiri—menolakku. Tatapan itu adalah satu-satunya oksigen di ruangan yang terasa mencekik ini.

"Sabar ya, Nduk," bisik beliau nyaris tak terdengar.

Aku hanya bisa mengangguk kecil. Setelah prosesi yang terasa seperti eksekusi itu usai, aku segera berbalik. Aku tidak ingin berada di sana sedetik pun lebih lama. Aku masuk ke kamar, menutup pintu, dan langsung melepas kebaya putih yang sejak tadi terasa mencekik dadaku.

Aku menggantinya dengan daster rumahan yang longgar. Saat bercermin, aku mengusap perutku. Bayi di dalam sana bergerak halus, seolah ikut merasakan lelahnya hari ini. Di luar, suara Mbak Diana masih terdengar mendominasi ruang tamu. Ia tertawa renyah, bercanda dengan suaminya dan Mas Dika seolah-olah hajat ini adalah pesta kemenangan, bukan pernikahan penuh air mata.

Aku memilih untuk tidak peduli. Aku tidak ingin menjadi pajangan di ruang tamu hanya untuk dikuliti oleh tatapan sinis Mbak Diana. Dengan langkah pelan, aku menyelinap ke dapur.

Suasana dapur yang berantakan karena sisa-sisa hajatan terasa lebih bersahabat daripada ruang tamu yang penuh kepalsuan. Aku duduk di kursi kayu kusam, mengambil sepiring nasi dengan lauk seadanya. Aku makan dalam diam, menyuap nasi yang terasa hambar di lidah. Di dapur ini, aku merasa kembali menjadi Aira yang bukan siapa-siapa, bukan pengantin, bukan pula menantu. Aku hanyalah wanita yang sedang berusaha menyambung hidup untuk janin di rahimku.

Aku baru saja hendak menyuap nasi saat sebuah tangan keriput mendarat lembut di bahuku. Aku tersentak, menoleh, dan mendapati Mbah Neni sudah berdiri di sana dengan tatapan yang sulit diartikan. Beliau tidak marah, tapi guratan di wajah rentanya menunjukkan sebuah harapan yang berat.

"Nduk, kok malah makan sendirian di dapur?" tanya Mbah Neni lirih. Beliau menarik kursi kayu di depanku, duduk dengan napas yang terdengar sedikit tersengal setelah seharian sibuk mengurus hajat.

Aku menunduk, memainkan butiran nasi di piring. "Aira cuma mau tenang sebentar, Mbah. Di depan... suasananya nggak enak."

Mbah Neni menghela napas panjang, tangan keriputnya meraih jemariku dan meremasnya pelan. "Mbah tahu hatimu sakit, Mbah tahu gimana rasanya dipandang sebelah mata. Tapi dengar Mbah, Ra. Sekarang Dika itu sudah jadi suamimu. Kamu sudah sah di mata Allah dan negara."

Beliau menjeda kalimatnya, menatap ke arah pintu dapur yang menghubungkan dengan ruang tamu di mana suara tawa Mbak Diana masih sesekali terdengar. "Pernikahan itu ibadah, dan salah satu berkahnya adalah kebersamaan. Jangan biarkan luka hatimu membuatmu abai sama kewajiban. Sana, panggil Dika. Ajak dia makan ke sini. Kalau makan ya harus bareng, itu kuncinya rumah tangga biar berkah."

"Tapi Mbah, di sana ada Mbak Diana... Aira takut," bisikku jujur.

"Justru karena ada mereka, kamu harus tunjukkan kalau kamu dan Dika itu satu," Mbah Neni menepuk tanganku lebih keras, memberiku suntikan kekuatan. "Jangan biarkan orang lain—siapa pun itu—merasa mereka punya celah untuk memisahkan kalian. Panggil suamimu, Ra. Katakan padanya, istrinya sudah menunggu di meja makan."

Aku terdiam cukup lama. Ada pergolakan hebat di dadaku. Di satu sisi, aku ingin terus bersembunyi di dapur ini selamanya, tapi di sisi lain, nasihat Mbah Neni benar. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi pecundang di rumahku sendiri.

Dengan berat hati, aku meletakkan sendok, mencuci tangan, dan melangkah keluar menuju ruang tamu. Begitu kakiku menginjak lantai ruang tengah, percakapan di depan mendadak melambat. Mbak Diana melirikku dengan sudut mata yang tajam, sementara Mas Dika yang sedang duduk bersandar langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat kehadiranku.

"Mas..." panggilku pelan, berusaha menjaga agar suaraku tidak gemetar. "Ayo makan dulu. Aira sudah siapkan di dapur."

Mas Dika tampak tertegun sejenak, seolah tidak percaya aku akan mengajaknya bicara di depan kakak perempuannya. Ada binar lega yang sekilas melintas di matanya.

"Wah, pengantin barunya sudah laper ya?" sindir Mbak Diana dengan senyum miring yang menghina. "Baru juga sah beberapa jam, sudah nggak sabar mau berduaan di dapur?"

Mas Dika melirik Mbak Diana dengan tatapan menegur, lalu ia berdiri dan menghampiriku. "Iya, Yang. Mas memang sudah lapar dari tadi. Yuk," ucapnya sembari menggandeng tanganku dengan erat, mengabaikan tatapan sinis kakaknya yang seolah ingin menembus punggung kami.

Saat kami berjalan menuju dapur, aku merasa seolah-olah sedang membawa "pemenang" ke daerah kekuasaanku. Namun, aku tahu ini hanyalah awal. Di balik pintu dapur itu, sebuah kebenaran baru sedang menanti kami berdua—tentang bagaimana kami harus menghadapi sisa hidup kami sebagai pasangan yang dipersatukan oleh luka, tanpa restu sepenuhnya.

Tepat saat kami sampai di depan meja makan dapur, Mas Dika menghentikan langkahnya. Ia tidak langsung duduk, melainkan memutar tubuhku menghadapnya.

"Ra," bisiknya serak. "Makasih sudah manggil Mas. Aku tadi bingung harus gimana di depan Mbak Diana..."

Baru saja aku ingin menjawab, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke dapur. Mbak Diana rupanya tidak membiarkan kami tenang begitu saja.

"Dika, kamu yakin mau makan makanan rumahan begini? Ibu sudah masakin rendang kesukaanmu di rumah, lho. Apa nggak sebaiknya kamu pulang sebentar? Ibu masih nungguin kamu dari tadi pagi," ucap Mbak Diana yang sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan bersedekap.

Dunia seolah berhenti berputar. Mbak Diana sedang mencoba menarik Mas Dika kembali ke rumah ibunya, tepat di hari akad kami. Apakah Dika akan memilih makan bersamaku, atau ia akan menyerah pada panggilan ibunya yang "sakit"?

Bagaimana sikap Mas Dika saat dipaksa memilih antara istrinya yang baru sah atau ibunya yang sedang menanti di rumah? Apakah ia akan tetap duduk di dapur atau justru pergi meninggalkan Aira sendirian lagi?

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!