Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Spesies
"Kamu tidak apa-apa, Chira?"
Rayna bertanya dengan nada cemas yang tak tertutupi. Ia memapah tubuh mungil itu, memeriksa telapak tangan Chira yang memerah dengan teliti. "Ada yang luka? Di mana yang sakit, Sayang?"
Chira tidak menjawab. Gadis kecil itu hanya menggeleng pelan, namun matanya melirik tajam ke arah Arita—sebuah tatapan penuh permusuhan yang jarang terlihat dari anak seusianya.
"Ck, kenapa malah bengong? Cepat minta maaf!" tegur Deva ketus pada Arita. Suaranya dingin, membuat suasana di koridor itu mendadak mencekam.
Arita tersentak. Ia memaksakan sebuah senyum getir yang tampak sangat tidak alami. Sambil melirik ke arah Asha yang berdiri tak jauh dari sana, ia mencoba memasang topeng malaikat. Ia berjongkok, mencoba menyentuh Chira.
"Maaf ya, Kakak tadi benar-benar tidak lihat. Jangan marah, ya? Nanti Kakak traktir es krim paling enak, mau?" tawar Arita dengan nada yang dibuat semanis madu.
Bukannya luluh, Chira justru mendengus ketus dan menyentakkan tangan Arita. "Ndak usah! Uangnya simpan saja, pakai buat beli kacamata balu untuk Bibi!"
Wajah Arita kaku seketika. "Eh... kok panggil Bibi? Kakak kan masih muda. Panggil Kak Arita, ya?" protesnya dengan urat leher yang mulai menegang.
"Gulita?" sahut Chira polos, namun terdengar sangat menghina.
"Pfftt!" Tawa Rayna pecah di samping Deva, tak mampu lagi membendung gelitik di perutnya.
'Ck, kecil-kecil ternyata menyebalkan!' gerutu Arita dalam hati. Wajahnya merah padam menahan dongkol yang luar biasa. Ia berdiri, menatap Rayna dengan tatapan menilai yang sangat tidak bersahabat.
"Siapa sih sebenarnya anak ini?," desis Arita tajam.
Chira mengangkat dagunya dengan bangga. "Chila anaknya Doktel! Keponakannya Onty Layna! Bibi jangan galak-galak sama Chila, nanti Chila suntik itu tangannya!"
Mendengar jawaban itu, Arita membatin sinis. 'Cih, ternyata satu spesies sama gadis bodoh ini. Pantas saja mulutnya tidak punya filter. Bibit unggul dalam membuat orang darah tinggi'
Rayna sebenarnya ingin meralat bahwa Chira adalah sepupunya, bukan keponakannya. Namun, ia menutup rapat mulutnya. Baginya, wanita seperti Arita sama sekali tak penting untuk tahu seluk-beluk silsilah keluarganya.
Di sisi lain, Asha melangkah mendekat. Ia mengabaikan ocehan Arita sepenuhnya, matanya hanya tertuju pada Rayna.
"Kaki kamu... masih kesemutan?" tanya Asha pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran. Ia memperhatikan Rayna dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah ingin memastikan tidak ada satu inci pun bagian tubuh gadis itu yang disakiti oleh Deva di UKS.
Sadar akan sorot protektif dari Asha, Deva menyeringai tipis. Itu adalah senyum tantangan. Dengan gerakan posesif, ia mencengkeram lembut bahu Rayna dan menariknya hingga menempel di sisinya. Sebuah klaim teritorial yang nyata, tepat di depan mata Asha.
"Dia baik-baik saja," potong Deva dengan nada tenang yang menusuk. "Kakinya sudah jauh lebih baik setelah aku urus tadi."
Rayna yang merasa suasana makin gerah, ia segera melepas dirinya dari dekapan Deva dengan halus, lalu menggandeng jemari kecil Chira. "Ayo pergi, Chira. Pelajaran berikutnya sudah mau dimulai."
Namun, Arita belum puas menuangkan emosinya. Ia melipat tangan di dada lalu mencibir, "Dokter ya? Hebat juga ibumu itu. Tapi sayang sekali, anaknya nggak punya sopan santun. Benar-benar nggak berkelas."
Langkah Rayna terhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Arita dengan sorot yang kini jauh lebih dingin dan tajam.
"Setidaknya mulut bocah ini jujur, Rita," balas Rayna tenang namun telak menghujam harga diri lawannya. "Daripada bersikap manis di depan orang, tapi hatinya penuh kebencian. Itu yang menurutku... benar-benar murahan."
Arita ternganga, tak sangka akan mendapat balasan seberani itu. Deva hanya melirik Arita dengan tatapan jijik sebelum beralih pada Rayna. "Ayo, aku antar kalian ke kelas."
Asha hanya bisa berdiri mematung dengan wajah mendung saat melihat Deva kembali memimpin jalan di samping Rayna, meninggalkan Arita yang menghentakkan kaki karena kalah telak dari seorang anak kecil.
Setelah Chira diantar ke tempat penitipan, Rayna berdiri berhadapan dengan Deva di koridor yang mulai sepi.
"Terima kasih ya, Deva. Sudah bantu aku di UKS tadi," ucap Rayna malu-malu, teringat Deva yang hampir menciumnya.
Deva tersenyum tipis. Namun, tatapannya tiba-tiba turun ke arah jari manis Rayna yang polos. Dahinya berkerut dalam. "Cincin kamu... ke mana?" tanyanya cemas.
'Jangan-jangan dibuang?' pikir Deva, jantungnya mendadak berdegup tak beraturan.
Tanpa kata, Rayna merogoh balik kerah seragamnya dan menarik sebuah rantai halus. Di sana, cincin itu tergantung manis sebagai liontin kalung. Melihat benda itu masih ada, Deva mengembuskan napas lega yang panjang. Seolah beban seberat gunung baru saja terangkat dari pundaknya.
"Syukurlah," gumamnya lirih. Ia lalu mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Rayna dengan sangat lembut, seolah memperlakukan sebuah porselen yang berharga.
"Kalau ada yang mengganggumu, beritahu aku. Biar aku yang urus. Dan juga... apa nanti sore kamu punya waktu luang?"
"Untuk apa?" tanya Rayna penasaran.
'Apa dia mau mengajakku kencan seperti Ayah dan Bunda dulu? Lalu memberiku kejutan berlian?' batin Rayna dengan mata yang berbinar cerah.
Sebenarnya, ada dorongan kuat di hati Rayna untuk mengadu tentang baju olahraganya yang sengaja dirusak dan mejanya yang penuh coretan kasar. Namun, ia menahannya. Ia ingin menyelesaikannya dengan tangannya sendiri.
"Itu..." Deva menggaruk tengkuknya, mendadak tampak salah tingkah yang menggemaskan. "Kalau kamu nggak sibuk, aku mau mengajakmu ke pesta ultah teman kelasku."
Rayna tertegun sejenak, lalu sebuah Senyuman manis mengembang sempurna di wajahnya. "Boleh. Aku tunggu di rumah, ya!" ucapnya melambai kecil lalu beranjak pergi.
Deva membalas lambaian itu hingga punggung Rayna hilang di belokan. Begitu benar-benar sendiri, ia mengepalkan tangan ke udara, melakukan selebrasi kecil dengan wajah memerah kegirangan. Lalu ia berjalan menuju kelas dengan perasaan membuncah, tak sadar ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Byan yang berada di kelas 11-A hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang mendadak seperti remaja yang baru mengenal cinta. Ia tak sangka Deva sampai nekat bolos hanya untuk menjinakkan hati Rayna.
Namun, Byan dibuat terkejut saat melihat adiknya itu dengan santai masuk ke kelas 11-D dan mengambil satu bangku di sana. Meski diteriaki guru yang sedang mengajar, ia tetap melenggang pergi dengan bangku di pundaknya.
Dari kelima bersaudara, memang hanya Deva yang punya nyali bertindak seliar itu.
Mau dibawa ke mana bangkunya?