Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Langit London menyambut kedatangannya dengan warna abu-abu yang khas saat pesawat yang ditumpangi Cameron akhirnya mendarat dengan mulus. Udara dingin langsung menyergap begitu ia keluar dari bandara, membawa aroma hujan yang samar dan suasana kota yang terasa berbeda dari hiruk-pikuk tempat yang biasa ia tinggali.
Perjalanan menuju rumah keluarganya berlangsung dalam diam. Mobil hitam yang menjemputnya melaju menyusuri jalanan kota, melewati bangunan-bangunan klasik yang berdiri kokoh, seolah menyimpan sejarah panjang yang tak tergoyahkan. Namun bagi Cameron, semua itu bukanlah sesuatu yang menarik.
Yang ada di pikirannya hanya satu, alasan kepulangannya. Permintaan mendadak dari ibunya bukanlah sesuatu yang biasa. Terlebih dengan nada yang tidak memberi ruang untuk penolakan.
“Aku tidak suka kota ini,” gumam Cameron diiringi helaan napas panjang.
Mobil hitam itu akhirnya memasuki gerbang besar kediaman keluarga Rutherford di London. Bangunan megah itu berdiri anggun, dengan arsitektur klasik yang mencerminkan kekuasaan dan warisan panjang keluarga tersebut.
Begitu mobil berhenti, pintu langsung dibukakan oleh pelayan. Cameron turun tanpa banyak kata, langkahnya mantap namun pikirannya tetap penuh tanda tanya. Pintu utama kediamannya terbuka bahkan sebelum ia sempat mengetuk.
“Cameo! Akhirnya, kau pulang juga.”
Suara itu terdengar hangat, jauh berbeda dari suasana dingin yang ia bawa.
Wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampirinya, wajahnya dipenuhi senyum bahagia. Ia langsung memeluk Cameron dengan erat, seolah sudah lama tidak bertemu.
“Ibu senang kau akhirnya pulang,” ucapnya lembut.
Cameron sedikit menghela napas, tetapi tetap membalas senyum dan pelukan itu dengan sopan. “Ibu.”
Ia melepaskan pelukan itu perlahan, menatap wajah ibunya yang tampak begitu senang.
“Ayo, masuk. Ibu sudah menyiapkan makan siang untukmu,” lanjut Bianca dengan antusias. “Semua makanan favoritmu.”
Cameron mengernyit tipis. Kecurigaan itu mulai muncul.
Ia tahu ini bukan sekadar sambutan biasa, pasti ada sesuatu yang akan terjadi.
Cameron mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah, melewati ruang-ruang yang sudah sangat ia kenal. Meja makan telah tertata dengan berbagai hidangan dan semuanya memang makanan favoritnya.
Namun alih-alih merasa nyaman, Cameron justru semakin yakin. Ada sesuatu yang sedang direncanakan.
“Ibu,” panggilnya akhirnya, menghentikan langkah Bianca.
Wanita itu menoleh. “Ya, Nak?”
“Apa yang sebenarnya ingin Ibu bicarakan?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi. “Ini tidak seperti biasanya.”
Bianca tersenyum, tetapi tidak langsung menjawab. Ia justru merapikan sedikit kerah kemeja Cameron, gestur kecil yang terasa penuh perhatian.
“Nanti kau juga akan mengetahuinya,” katanya pelan, lalu tersenyum tipis. “Ayahmu sendiri yang akan menjelaskannya kepadamu.”
Jawaban itu tidak membuat Cameron puas. Sebaliknya, justru semakin mempertegas dugaannya.
“Sekarang, makanlah dulu,” lanjut Bianca, seolah tidak ingin pembicaraan itu berlanjut. “Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh.”
Cameron tidak membantah. Ia tahu, memaksa jawaban sekarang tidak akan menghasilkan apa-apa.
Mereka duduk di meja makan. Tak lama kemudian, Michael juga bergabung. Pria itu datang dengan langkah tenang, membawa aura wibawa yang kuat. Wajahnya yang tegas, dan sorot matanya tajam, dan kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah suasana menjadi lebih formal.
“Cameron,” ucapnya singkat.
“Ayah.” Cameron berdiri dari duduknya dan sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.
“Duduklah,” kata Michael. Suaranya terdengar tegas dan berat, tak memberi ruang bagi Cameron untuk tidak mematuhinya.
Makan siang berlangsung dalam suasana yang cukup tenang, tetapi bukan berarti nyaman. Percakapan yang terjadi hanya sebatas hal-hal ringan, pekerjaan, kondisi perusahaan, dan beberapa hal formal lainnya.
Tidak ada yang menyentuh inti. Dan hal itu membuat Cameron semakin waspada. Hingga akhirnya, makan siang itu selesai.
“Temui aku di ruang keluarga,” kata Michael sambil berdiri.
Cameron tahu jelas itu bukan sebuah permintaan, tetapi lebih seperti perintah.
Cameron mengangguk singkat sebelum ikut berdiri. “Baik, Ayah. Aku akan datang 5 menit lagi,” kata Cameron dengan patuh.
Michael berjalan pergi lebih dulu tanpa mengatakan apapun, langkahnya yang tegas cukup membuat Cameron yakin bahwa ada hal penting yang hendak sang ayah bicarakan dengannya.
Ruang keluarga itu terasa lebih sunyi dibandingkan bagian rumah lainnya. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan klasik, sementara furniture yang digunakan tampak mahal dan berkelas.
Saat Cameron masuk, Michael sudah berada di sana. Duduk di kursinya dengan posisi tegak, satu tangan bertumpu di sandaran, sementara tatapannya lurus ke depan.
Cameron berjalan masuk tanpa suara berlebih, lalu berdiri beberapa langkah di hadapan ayahnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya keheningan yang terasa berat.
Hingga akhirnya, Michael membuka suara. “Kapan kau akan melamar Regina?” tanyanya tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu datang tanpa peringatan. Langsung, tegas, dan penuh tekanan.
Cameron tidak langsung menjawab. Ia menatap ayahnya, mencoba membaca maksud di balik pertanyaan itu.
“Aku belum siap,” jawabnya akhirnya pelan, menjaga sikap dan suaranya tetap tenang.
Michael sedikit menyipitkan mata. “Satu tahun yang lalu kau juga berkata seperti itu,” katanya, menatap putra bungsunya dengan tatapan tajam.
“Kapan kau akan siap, Cameron? Kau tahu, pernikahan ini sangat penting bagi kedua keluarga. Kau tidak bisa menghindarinya terus-menerus,” tambah Michael. Ada sorot kemarahan dalam nada suaranya.
Cameron terdiam, tak berani menjawab.
Michael mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Keluarga Regina memiliki posisi yang menguntungkan. Pernikahan itu akan memperkuat apa yang sudah kita miliki.”
Cameron tetap diam. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini. Namun mendengarnya langsung tetap saja tidak menyenangkan.
“Aku tidak ingin menikah demi bisnis,” jawabnya singkat. Namun sukses memancing gelegak amarah sang ayah.
Michael terdiam dengan tangan yang mengepal kuat, lalu tersenyum tipis. “Semua dalam hidupmu adalah bagian dari bisnis, Cameron,” katanya menyinggung Cameron. “Termasuk pernikahan.”
Kalimat itu terasa menggantung di udara. Tidak bisa dibantah, tetapi juga tidak mudah diterima.
Cameron mengencangkan rahangnya. “Aku akan memikirkannya,” ucapnya pada akhirnya, kepalanya tertunduk, menahan kesal sekaligus merasa takut.
“Jangan membuatku kecewa seperti yang dilakukan wanita itu,” singgung Michael, lalu berbalik memunggungi Cameron. “Pergilah, aku sudah selesai bicara.”
Cameron menatap punggung tegak sang ayah, lalu tanpa kata berbalik pergi.
***
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Keheningan menyelimuti rumah besar itu, hanya dipecah oleh suara detak jam yang terdengar samar dari kejauhan.
Lampu-lampu di lorong telah diredupkan, menyisakan suasana yang tenang dan nyaris kosong. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama saat tangisan Cayden memecah malam.
Giana yang baru saja merebahkan tubuhnya langsung terbangun. Matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup lebih cepat saat ia mendengar tangisan itu.
Tanpa menunggu lama, dengan gerakan cepat, ia bergegas meraih Cayden yang terbaring di dalam boxnya, wajah kecilnya memerah, tangisnya pecah tanpa henti. Kedua tangannya yang mungil bergerak gelisah, seolah mencari sesuatu yang tidak ia temukan.
“Cayden, Sayang. Aku di sini,” bisik Giana panik namun lembut. Ia segera memeluk tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Namun tangisan itu tidak mereda. Giana mulai mengayun pelan, menepuk punggungnya dengan hati-hati. Ia mencoba menenangkannya.
“Kenapa kau menangis, Sayang? Apa kau lapar?” gumamnya lirih. Ia duduk di kursi dekat boks, mencoba menyusui Cayden.
Namun kali ini berbeda. Cayden tetap menangis. Tangisnya justru semakin kuat, yang langsung membuat dada Giana terasa sesak.
“Cayden, Sayang. Jangan menangis, ya? Aku di sini,” lirihnya dengan suara yang mulai bergetar.
Sarah, perawat dan seorang pelayan lain yang terbangun mendengar tangis Cayden langsung menghampiri Giana dan mencoba membantunya.
Sang perawat bahkan sudah sibuk mengambil peralatannya dan mencoba memeriksa suhu tubuh Cayden. Sarah bahkan turut menggendong Cayden yang masih terus menangis.
“Aku tidak tahu kenapa Cayden bisa tiba-tiba menangis,” kata Giana sambil berusaha menenangkan tangisnya. Ia kembali menggendong Cayden ke dalam pelukannya.
“Haruskah kita memberitahu Tuan? Cayden tetap tidak bisa berhenti menangis sejak tadi,” usul Sarah sudah menggenggam ponselnya dan bersiap menghubungi Cameron yang jauh di sana.