Seorang gadis sma yang berpura-pura sudah kuliah dan mengajar les kini terjebak dalam sebuah hubungan yang membuat hidupnya berubah menjadi nyonya besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vava olive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Nadia berjalan seorang diri di sebuah mall besar,sebelumnya ia bersama dengan keluarganya,lalu berpisah karna mempunyai janji dengan mikayla.
"Ahh kenapa tiba-tiba mikayla pulang.." gerutu nadia sembari mencoba menghubungi salah satu dari keluarganya untuk ikut pulang.
"Dan kenapa mereka semua ga bisa di hubungi si.."
Benar,sebelumnya memang nadia sudah ada janji dengan mikayla,mereka akan menonton bersama hari ini.
Ini adalah kali pertamanya mau keluar rumah setelah kejadian di puncak di acara saudara vino,juga saudara saga.
Dan sampai saat ini nadia masih menutup komunikasi dengan keduanya.
Bahkan nadia sengaja mengganti nomor telfonnya untuk menghindar.
"Jangan bilang vino atau siapapun kalau ada yang menanyakan keberadaan dan nomorku..pliisss.." ucap nadia kepada mikayla tempo hari lalu melalui sambungan telfon.
"Pokonya siapapun jangan.."
"Kamu menghindar?"
"Aku lagi capek,aku mau fokus belajar dulu,"
"Beberapa hari ini aku mengabaikan pelajaran-pelajaran sekolah.."
"Padahal kamu tau sendiri tinggal menghitung bulan kita akan di hadapkan dengan ujian..".
"Tapi nad.."
"Ada sesuatu yang pengen aku ceritain!"
Mendengar hal itu nadia kembali teringat dengan masalah yang mikayla hadapi,ia pun tak dapat menolaknya dan akhirnya mereka berjanji untuk bertemu di mall tempat mereka biasa nongkrong.
Setelah tidak mendapat respon dari keluarganya akhirnya nadia memilih untuk membeli minuman terlebih dahulu.
Ia merasa lelah berlari menuju lobby berharap bisa melihat mobil sang papa melintas.
"Dine in atau take a way kak" tanya seorang kasir yang melayaninya.
Nadia melihat sekitar,resto yang nampak sepi dan memiliki ruang privat.
"Dine in saja,Saya di ruang itu bisa?" Ucap nadia dengan menunjuk sebuah meja yang saling tertutup pembatas tinggi di sebelah-sebelahnya.
"Bisaa.."
"Saya bayar pakai ini.." nadia membayar menggunakan kartu hitam milik saga,karna ia berfikir cukup lama kartu itu di tangannya tapi tidak pernah ia gunakan.
"Waahh..baru ini saya melihat kartu hitam itu..".
Ucap sang kasir yang sepertinya orang baru,bisa di lihat dari pakaian yang ia pakai berbeda dengan yang lain.
Setelah melakukan pembayaran ia pun duduk seorang diri,
"Seharusnya saga tidak menyadari bahwa aku memakai kartunya!" Bathin nadia lalu memasukkan kembali kartu itu kedalam dompetnya.
Selain makan desert yang terhitung sangat mahal,nadia juga membeli begitu banyak barang,
Ia keluar masuk store dengan brand ternama.
Membeli pakaian,tas,sandal,sepatu hingga alat makeup.
Dan tentu saja ia menggunakan kartu saga.
"Dia selalu menyombongkan diri dengan yang dia punya.."
"Apakah dia kesal kartunya aku pakai untuk belanja sebanyak ini!".
Setiap kali nadia berjalan dan melihat sesuatu yang menarik tanpa fikir panjang ia langsung membelinya.
"Aduh berat sekali.." ucap nadia,ia meletakkan seluruh belanjaannya di bangki sebelahnya yang kosong dan meluruskan kakinya.
"Pasti orang mengira,ini nih okb,orang kaya baru.." ucap nadia dengan menahan tawa.
"Ah tidak..terus aku bawa kemana semua ini.."
"Kenapa aku ga memikirkan itu.."
"Seharusnya aku membeli perhiasan saja.."
"Perhiasan! Aku belum membeli itu.."
Lagi-lagi ia tertarik dengan barang yang melintas di fikirannya,nadia pun memasuki sebuah toko perhiasan membeli sebuah cincin.
"Hmm bagus.." puji nadia.
"Biasanya yang seperti itu sebagai hadiah dari pasangannya kak.."
"Tapi kalau kaka mau yang itu gapapa.."
"Atau kaka mau lihat-lihat yang lain.."
Terdengar sarkas,pelayan tersebut seperti sedang meledeknya karna membeli hadiah untuk diri sendiri,bukan di belikan.
Tapi meski begitu nadia tetap mengambil pilihan pertama dan langsung memakainya.
Nadia menatap semua belanjaannya yang sangat banyak,
Sekali lagi ia berfikir bahwa tidak mungkin ia membawanya pulang.
Dan tidak mungkin juga menitipkan barang itu ke salah satu temannya,termasuk mikayla.
"Dia akan langsung curiga.."
"Hmm engga-engga.."
"Ayo berfikir.."
"Apartmen.."
Nadia pun menghentikan mobil yang baru saja menurunkan penumpang dan bertanya apakah akan menjemput penumpang lain.
Setelah sang sopir menjawab tidak,barulah ia memasukkan belanjaan itu kedalam mobil.
"Kemana kita non.."
"Mmm tunggu sebentar pak..jalan dulu aja.."
Tuuuut tuuut tuuut...
"Hallo non.."
"Hallo bi..akhirnya angkat telfonku juga.." ucap nadia.
"Oh iyaa kenapa non.."
"Kebetulan bibi sedang bersama mas aldo.."
"Mas aldo.."
"Apa papahnya ga dirumah!" Sengaja nadia menanyakan keberadaan saga karna memang itulah alasan sebenarnya ia menelfon bibi.
"Dirumah non..sepertinya baru habis berenang!"
"Kenapa non..kok tumben.."
"Oh engga..ga jadi bi.."
"Terimakasih ya.."
Setelah mematikan ponselnya,nadia pun langsung mengarahkan sopir menuju apartmen milik saga.
Hanya tempat itu satu-satunya yang bisa ia tuju.
"Hahh capeknya.."
Ucap nadia begitu selesai membenahi belanjaannya dikamar yang satu,bukan kamar utama yang biasa ia gunakan bersama saga.
"Seru kali ya kalau aku juga punya sendiri,jadi kalau menghindar aku bisa kesana.."
Sementara itu di kediaman saga.
Pekerjaan cukup membuatnya pening,beberapa hari ini selalu menunda pekerjaannya.
Saga pun juga mengingat-ingat kembali betapa dirinya terlihat angkuh akhir-akhir ini.
Ia memandangi beberapa berkas diatas meja ruang kerjanya.
Dan mulai mengecek satu persatu.
"Email!"
"Ah rupanya anak ini menggunakan kartuku juga!" Gumam saga.
Ia pun mencolokkan ponselnya yang di kabel pengisi daya.
Hampir setengah hari ia mengecek pekerjaannya,saga meregangkan tubuh-tubuhnya lalu bangkit.
"Aldo dimana bi.." terdengar suara saga dengan volume tinggi.
"Ah ada pak,sedang di kamar..bermain dengan mobil-mobilannya.."
"Mau saya panggilkan!"
"Engga,.buatkan saya jus ya bi.."
"Saya di halaman belakang!"
Saga pun menyandarkan diri dikursi panjang yang terbuat dari plastik menyerupai rotan.
Ia memejamkan matanya sesaat.
"Hanya makan desert tapi untuk harga yang lumayan mahal.."
"Sepertinya dia sengaja ingin mengurasku!" Ucap saga sambil tersenyum.
"Ini jusnya pak..".
"Sepertinya berenang bukan ide yang buruk.."
"Bi coba tanyakan aldo apakah dia mau berenang!"
"Lalu bawakan saya handuk!" Perintah saga.
Beberapa saat kemudian dengan berlari-lari kecil sang pembantu itu menghampiri tuannya.
"Mas aldo ga mau katanya pak.."
"Oh yasudah.."
"Mana handuknya!"
"Ah saya lupa..gara-gara non nadia telfon.."
Ucap sang pembantu yang nampak ingin pergi cepat-cepat untuk mengambilkan handuk.
"Nadia kenapa bi.."
"Ga tau,kirain saya mau kerumah.."
"Setelah saya memberi tau bahwa mas aldo dan tuan pun ada..langsung dimatikan telfonnya.".