"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadapi Semua
"Biarkan anak itu tahu siapa orang tuanya. Itu haknya", ucap Kakek Akbar yang baru saja datang dan duduk di samping Sita.
Sita yang sedang menikmati secangkir teh dan roti di beranda samping rumah kakeknya sambil melihat putranya bermain di taman, terhenyak dengan suara kakeknya.
"Kakek!" Seru Sita. Wanita itu sejenak melihat ke arah kakeknya, sebelum akhirnya pandangannya kembali tertuju pada sang putra.
"Aku takut, Kek", kata Sita. "Aku takut Gala akan lebih memilih orang tuanya daripada aku".
"Itu hak Gala. Dia berhak untuk tau darimana asal usulnya dan menentukan dia ingin hidup dengan siapa", kata Kakek Akbar.
"Tapi bukan sekarang, Kek. Aku belum siap", kata Sita.
"Semakin lama kamu hidup dengan Gala, maka akan semakin tidak siap kamu membuka rahasia ini dari Gala", kata Kakek Akbar.
Sita menyesap tehnya, menghirup aroma melati dalam-dalam dari cangkir tehnya. "Terus aku harus gimana, Kek?" Tanya Sita sambil meletakkan cangkir ke atas meja.
"Biarkan semua berjalan alamiah, jika pria itu memang menyadari keberadaan Gala sebagai anaknya, biarkan saja ia dan Gala tau. Begitu juga dengan Mila. Jika memang Gala memilih mereka, berarti kamu harus mengikhlaskannya", kata Kakek Akbar.
"Tapi, Kek. Mereka dulu tak menginginkan Gala. Mereka ingin menyingkirkan Gala. Lalu apa pantas mereka mendapatkan Gala, sekarang?" Ucap Sita.
Kakek menghirup udara dalam-dalam, sebelum kemudian melepaskannya perlahan.
"Manusia bisa saja berubah. Bisa jadi mereka menyesal dan ingin memperbaiki diri dengan memberikan kasih sayang kepada anaknya, yang dulu tidak mereka lakukan", kata Kakek Akbar.
"Apa aku bisa seikhlas itu menyerahkan anakku, kek? Aku takut", kata Sita dengan mata yang kini tengah memandang Gala dengan berkaca-kaca.
"Itu tergantung kamu, Sita. Jika kamu belajar ikhlas, kamu akan bisa melakukannya", kata Kakek Akbar.
Suasana sejenak hening, hanya samar-samar suara Gala yang ada di taman terdengar sampai ke serambi rumah itu. Sita mencoba merenungi ucapan kakeknya.
"Benar apa kata Kakek, jika aku disini terus, aku hanya akan bergulat dengan ketakutanku sendiri", kata Sita sambil mengamati raut wajah kakeknya. "Aku akan menghadapi semuanya, kek! Nanti selepas makan siang, aku akan pulang dan kembali pada aktivitasku", kata Sita diikuti hembusan nafas kasar.
"Kakek percaya kamu mampu, Sita", kata Kakek Akbar sambil menyunggingkan senyum sebagai bentuk dukungan.
"Terima kasih, Kek. Kakek selalu menyemangati hidupku", kata Sita yang kemudian memberi ciuman di pipi ayah dari ibu kandungnya itu.
"Sita, kamu mau pulang? Aku ikut ya", kata Danar yang baru bergabung di ruang makan untuk makan siang.
Sita tersenyum. "Emang Mas Danar tega ninggalin Kakek disini?" Tanya Sita.
Danar menggelengkan kepalanya. "Ayo, Kek ikut ke rumah Sita", rengek Danar sambil menarik tangan sang kakek, layaknya anak kecil.
Danar memang tidak senormal orang seusianya. Dia mengalami disabilitas intelektual karena ketika ia di kandungan, ibunya pernah mengalami benturan sangat hebat karena perbuatan saudaranya.
Sejak usia kanak-kanak, Danar sudah ikut sang Kakek tinggal di sebuah desa yang cukup jauh dengan tempat tinggal orang tuanya. Bukan karena orang tuanya tidak menginginkannya. Namun kecintaannya pada Kakek Akbar, membuatnya tidak ingin berpisah dengan laki-laki tua itu, ketika Kakek Akbar memutuskan meninggalkan semua kesuksesannya di dunia bisnis, kemudian tinggal di desa kecil menghabiskan masa tuanya.
Kakek Akbar menepuk punggung Danar perlahan. "Kapan-kapan saja ya? Perjalanannya jauh, kakek capek", kata Kakek Akbar. Danar menurut meski mukanya nampak cemberut.
"Paman kalau ke rumah Gala, bawa si Mongmong, ya?" Kata Gala, sambil mengunyah makanannya. Danar pun mengangguk senang.
Selepas makan siang, Sita dan yang lain bersiap untuk kembali ke kota. "Mas Danar jaga diri baik-baik ya, jaga Kakek juga. Kalau Mas Danar pengin ke rumah Sita, bilang aja, nanti Sita Jemput", kata Sita lembut setelah mengambil alih Gala dari gendongan Danar.
Tak lupa Sita mencium punggung tangan kakaknya juga kekeknya, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Dadah kakek, Dadah paman, sampai jumpa", ucap Gala sambil melambaikan tangan, sebelum mobil yang ia tumpangi melaju.
Kurang lebih 4 jam, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari tempat Kakek ke kota.
"Selamat sore, bu!" Kata Nazrul, salah satu satpam di rumah Sita, sesaat setelah membuka pintu mobil yang terdapat Sita di dalamnya.
"Tolong bawa Gala masuk ya, Zrul!" Perintah Sita dan di iyakan oleh satpamnya itu.
"Apa kemarin-kemarin ada yang mencari saya, Zrul?" Tanya Sita, sambil menutup kembali pintu mobil.
"Mas Bayu dan Mbak Ratih sempat kesini, bu", kata Nazrul yang kini berdiri saling berhadapan dengan Sita.
"Selain itu?" Tanya Sita lagi.
"Mmm....itu bu!" Kata Nazrul menunjuk mobil yang terparkir di garasi mobil.
"Sejak kapan dia di sini?" Kata Sita.
"Barusan, Bu. Tadi datangnya sama Mbak Mila. Kayaknya jemput mbak Mila kerja", kata Nazrul.
Sita melihat jam di pergelangan tangannya. Kemudian tersenyum sinis. "Jam segini sudah pulang dari kantor", Sita menghembuskan nafas kasar.
"Ya sudah Zrul, kamu bawa Gala ke kamarnya", kata Sita sambil melangkah masuk ke rumah, mendahului satpamnya itu.
Sita memedarkan pandangannya ke ruang tamu, namun sosok tamu yang ia cari tak nampak. Ia pun melanjutkan masuk ke ruang tengah, namun lagi-lagi sang tamu juga tak ia jumpai. Sita mengernyitkan dahinya, ada pikiran negatif yang sempat melintas di kepalanya. Namun, cepat-cepat coba ia tepis.
Melintasi kamar tamu, yang sudah beberapa pekan ini di tempati Mila, Sita mendengar suara aneh. Suara yang tak pernah dia dengar sebelum-sebelumnya. Ada semacam rintihan atau erangan, membuat wanita itu bergidik ngeri.
Sempat ia ingin segera melangkah cepat menuju tempat tujuannya, yaitu dapur. Namun, rasa penasarannya yang tinggi, membuat ia justru mendekat ke kamar itu. Ia berusaha menepis rasa takutnya.
Klekkkk.....Sita memberanikan diri membuka pintu kamar Mila itu. Suasana kamar yang tadinya benar-benar gelap, kini nampak remang-remang karena adanya cahaya lampu dari luar ruangan yang ikut masuk, sehingga memperlihatkan sebagian isi kamar itu.
Bak tersambar petir di siang bolong, melihat pemandangan yang kita terpampang di hadapannya, membuat gemuruh rasa marah, benci, kecewa, sedih bergulat menjadi satu dalam diri Sita. Sebagaimana pergulatan dua insan di hadapannya, yang kini sedang menikmati setetes kenikmatan dunia tanpa ikatan pernikahan.
"Milaaaaa......!" Teriak Sita lantang.
______________
Mohon maaf, lama saya tidak update, karena memang kondisi tidak memungkinkan. Yang baca novel saya satunya pasti sudah ngerti. Mohon maaf sekali lagi🙏
Jangan lupa tinggalin jejak ya, jejak kalian menjadi semangatku. Terimakasih😉
Happy Reading🌺🌺🌺
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"