NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:187k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELARIAN DIBALIK TUGAS SUCI.

Dinginnya embun pagi masih menyelimuti kediaman Ferdiansyah saat Arumi sudah menyelesaikan shalat Subuhnya. Dengan gerakan cekatan, ia merapikan hijabnya di depan cermin, berusaha mengabaikan sosok yang masih terlelap di atas ranjang besar itu. Arumi sengaja berangkat lebih awal. Ia tidak sanggup jika harus memulai pagi dengan siraman makian atau tatapan menghina yang selalu dilemparkan Ariya. Baginya, ketenangan fajar adalah satu-satunya kemewahan yang ia miliki sebelum terjun ke dalam badai batin.

Saat ia melangkah keluar kamar, ia berpapasan dengan Heny yang baru saja keluar dari kamarnya. Sang ibu mertua tampak terkejut melihat Arumi sudah siap dengan tas medis dan jas putih yang tersampir di lengan.

"Arum? Pagi sekali, Nak? Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Heny dengan nada khawatir.

Arumi memaksakan sebuah senyum tipis. "Maaf, Ma. Ada pasien yang harus Arum tangani segera di rumah sakit. Jadwal operasinya dimajukan sedikit."

Heny mengangguk paham, meski matanya menyiratkan kesedihan. "Oh, begitu. Eh, Arum, Mama hampir lupa. Hari ini jadwal Ariya untuk cek up rutin ke rumah sakit. Apakah kamu bisa membantunya nanti? Kamu tahu sendiri, Ariya terkadang sangat keras kepala jika ditangani orang lain."

Arumi terdiam sejenak. Ada keraguan yang nyata di matanya. Bayangan tamparan kemarin pagi masih terasa menyengat di ingatannya. Namun, sisi profesionalnya sebagai dokter beradu dengan lukanya sebagai istri.

"Kalau pasien yang Arum tangani selesai cepat, Arum pasti akan membantu, Ma," jawab Arumi akhirnya, memberikan jawaban yang aman sebelum bergegas pamit.

Heny menatap kepergian menantunya dengan bahu yang merosot. Tak lama, Ferdiansyah keluar dari kamar dan berdiri di samping istrinya. Ternyata, ia mendengar seluruh percakapan singkat itu.

"Sepertinya hubungan mereka tidak akan bertahan lama, Ma," gumam Ferdiansyah dengan suara yang sarat akan penyesalan. "Jika mereka sampai bercerai, Papa adalah orang pertama yang akan menyesal. Wanita setulus Arumi mungkin tidak akan pernah ada lagi untuk Ariya."

Heny menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Jangan bicara begitu, Pa. Mama tidak rela kalau mereka sampai berpisah. Arum itu anak yang baik."

Tanpa mereka sadari, pintu kamar di hadapan mereka terbuka sedikit. Ariya, yang sudah terbangun dan duduk di kursi rodanya, mendengar setiap patah kata orang tuanya. Rasa panas menjalar di dadanya. Ia segera memutar kursinya keluar, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh protes.

"Mengapa Papa dan Mama selalu membelanya? Dia tidak sebaik yang kalian kira!" seru Ariya dengan nada tinggi. "Dia hanya wanita munafik yang memiliki lelaki simpanan di luar sana!"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ariya. Kali ini pelakunya adalah Ferdiansyah. Suasana seketika menjadi sangat mencekam. Ariya memegang pipinya, menatap ayahnya dengan sorot mata tak percaya.

"Papa menamparku? Demi wanita itu?" tanya Ariya dengan suara bergetar karena marah.

Plak!

Tamparan kedua kembali mendarat di pipi yang lain. Ferdiansyah menatap putranya dengan murka yang tidak tertahankan.

"Kalau Papa tidak percaya, lihat saja CCTV depan rumah!" teriak Ariya. "Tadi malam dia pulang dibonceng pria naik motor! Bukankah itu bukti kalau dia berselingkuh?"

Ferdiansyah justru tertawa miris, sebuah tawa yang meremehkan. "Kau benar-benar pria terbodoh yang pernah aku besarkan, Ariya. Kau menelan mentah-mentah apa yang matamu lihat tanpa menggunakan otakmu sedikit pun!"

Ariya tertegun mendengar kata-kata pedas ayahnya.

"Kalau kau cerdas, kau akan berpikir, seberapa kaya lelaki simpanannya sampai bisa bergonta-ganti motor setiap malam?" lanjut Ferdiansyah dengan nada menghina. "Hanya tukang ojek yang memiliki motor beragam jenis! Kau menyebut istrimu punya simpanan, padahal dia rela naik ojek karena mobilnya dipinjam paksa adik tirimu demi menjaga perasaan ayahmu! Kau sungguh bodoh, Ariya!"

Ferdiansyah bergegas pergi meninggalkan Ariya yang mematung dengan wajah pucat pasi. Kata "tukang ojek" itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Heny yang masih berdiri di sana menatap anaknya dengan iba. "Cepatlah cari tahu kebenarannya, Nak. Jangan kunci hatimu dengan kebencian. Penyesalan selalu datang terakhir, dan Mama tidak ingin kau hancur saat menyadarinya nanti."

Heny menyusul suaminya ke bawah, meninggalkan Ariya yang mulai gelisah. Pikirannya melayang pada video-video dari Lusi. Memang benar, motornya selalu berbeda. Apakah benar itu hanya ojek? Keraguan mulai menyusup ke sela-sela egonya. Dengan hati yang bimbang, ia kembali ke kamar untuk bersiap-siap menuju jadwal cek up-nya.

Sementara itu, suasana di kantin Citra Hospital tampak riuh. Arumi duduk di pojok ruangan, mencoba menikmati sepotong roti sebagai sarapan. Di sela-sela kunyahannya, ia mendengar pembicaraan beberapa rekan sejawat tentang bencana alam yang baru saja terjadi di wilayah Sumatera.

"Kabarnya daerah itu terisolasi. Mereka sangat membutuhkan bantuan medis segera," ujar salah seorang dokter.

"Hari ini jam sepuluh ada rapat koordinasi. Manajemen akan mengirimkan relawan ke sana," timpal yang lain.

Arumi terdiam. Sebuah ide melintas di benaknya. Mungkin ini adalah jawaban dari doanya untuk menghindar sejenak dari konflik rumah tangganya yang menyesakkan. Ia butuh jarak. Ia butuh ruang untuk bernapas tanpa harus melihat tatapan benci dari suaminya.

Pukul sepuluh tepat, ruang rapat utama sudah penuh. Ferdiansyah memimpin langsung pertemuan tersebut. Wajahnya tampak serius saat memaparkan kondisi di lapangan yang membutuhkan penanganan medis darurat.

"Rumah sakit kita akan mengirimkan tim relawan tahap pertama. Dibutuhkan setidaknya tiga dokter umum dan dua dokter spesialis bedah untuk berangkat sore ini. Adakah di antara kalian yang bersedia?" tanya Ferdiansyah sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

Tanpa ragu sedikit pun, Arumi langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Saya bersedia menjadi relawan, Pak."

Ferdiansyah tertegun. Ia menatap menantunya yang duduk di barisan tengah. Ada kilat keberatan di mata sang mertua. Ia tahu betul Arumi sedang berusaha melarikan diri dari Ariya. Sebagai atasan, ia mengagumi dedikasi Arumi, namun sebagai orang tua, ia khawatir ini akan menjadi awal dari perpisahan yang permanen.

"Dokter Arumi, tugas ini sangat berat. Lokasinya rawan dan fasilitas sangat terbatas. Apakah Anda sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Ferdiansyah, berusaha memberikan celah bagi Arumi untuk mundur.

"Saya sangat yakin, Pak," sahut Arumi dengan suara mantap. "Tenaga saya pasti sangat dibutuhkan di sana. Sebagai dokter, tugas kemanusiaan adalah prioritas saya saat ini."

Arumi sengaja memanggil Ferdiansyah dengan sebutan "Pak" untuk menunjukkan bahwa ini adalah keputusan profesional yang tidak bisa diganggu gugat oleh masalah keluarga. Ferdiansyah menghela napas panjang. Ia bisa melihat luka yang terselip di balik ketegasan mata Arumi.

Seluruh ruangan menunggu jawaban sang direktur utama. Jika Ferdiansyah setuju, maka Arumi akan pergi ke daerah konflik bencana dalam hitungan jam. Dan Ariya, yang saat ini mungkin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit ini untuk cek up, tidak akan tahu bahwa istrinya akan pergi ke tempat yang berbahaya tanpa pamit secara langsung.

"Baiklah," ucap Ferdiansyah akhirnya dengan berat hati. "Dokter Arumi masuk ke dalam tim pertama. Segera siapkan segala keperluan kalian. Keberangkatan pukul empat sore dari bandara."

Arumi mengangguk patuh, ada rasa lega yang aneh di hatinya. Namun, apakah pelarian ini benar-benar akan menyelesaikan masalah, atau justru akan membuat benang kusut dalam pernikahannya semakin sulit untuk diurai?

1
Nethy Sunny
aku merinding thor ngebayangin arumi terseret banjir lumpur 😱 semoga ada muzizat y arumi selamat
Nethy Sunny
nah aku suka nihh thor si arogan dah mewek2 nyesel
Nethy Sunny
bener kata papamu kamu laki2 terbodoh ariya
Nethy Sunny
bloon si ariyan maen percaya gitu ajah tanpa d konfirmasi atw d selidiki dulu kebenaranny
Nethy Sunny
tuh kan biangkerok emang si lusi sama mak tiri ini
Nethy Sunny
kasih paham tuh si ariya dah cacat juga masih angkuh ajah sifatny mana mulutny jahat banget lagi 😤
Nethy Sunny
kesalah pahaman ini ulah si lusi kayakny sekarang dgn tidak bertanggung jawab ny dia lari dr pernikahan
Nethy Sunny
sukurrin lusi so ingin sempurna terima kenyataan no calon suami mu
di wish
kekurangan novel ini ...gmn kabar ayah kandung Arumi dan kakekneneknya..kok gak ada pembahasan.
mama yogi
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Ririn Nursisminingsih
sukurin
ceuceu
Alhamdulillah happy ending/Rose/
terimakasih karyanya sangat bagus author/Pray//Heart/
ceuceu
Alhamdulillah selamat rizka elvina/Rose//Heart/
ceuceu
Alhamdulillah ya Allah ikutan tegang/Sob/
ceuceu
Harusnya marco jgn di serahkan ke polisi
ceuceu
Ya Allah kasihan keluarga kecil desta/Sob//Sob//Sob//Sob/
ceuceu
Kenapa ada penjaga ketat yg selalu stay,tapi selalu kecolongan orang jahat masuk dgn mudah.
ceuceu
Ceritanya bagus ga bertele" semua tokoh ada ceritanya,ga ngegantung/Good/
ceuceu
Persahabatan yg indah/Heart//Rose/
Gustina Tina
dr awal cerita, saya sdh suka👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!