Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Jadi Manusia?
"Jadi ... kalau kita sering sentuhan, energinya makin penuh? Dan kamu bisa jadi manusia lebih lama?"
Dori duduk bersila di kasur, menatap layar laptop dengan tatapan penuh perhitungan. Matanya berkilat licik, seperti pedagang yang menemukan barang langka.
Di layar, sosok Matcha muncul setengah badan. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat dan lelah, tapi tatapannya tajam.
"Teorinya begitu. Ikatan jiwa kita semakin kuat karena sering berinteraksi. Energi positifmu mengalir ke tubuhku."
"Wah, berarti aku kayak baterai walking charger buat kamu dong?" celetuk Dori.
"Baterai?! Jangan samakan aku dengan benda elektronik murahan!" sergah Matcha tak terima, pipinya sedikit memerah. "Ini adalah koneksi spiritual level tinggi!"
"Iya iya, spiritual. Tapi intinya sama kan? Aku kasih energi, kamu kasih skill menulis. Saling menguntungkan."
Dori menggaruk dagunya berpikir. Kalau Matcha bisa jadi manusia ... apa mungkin bisa diajak keluar kamar?
"Cha ... coba keluar lagi dong sekarang. Kita tes durasinya," ajak Dori penuh harap.
"Belum bisa! Energi masih di bawah 50 persen! Bahaya kalau dipaksakan!" tolak Matcha tegas.
"Terus gimana cara nge-charge cepet?"
"Makanan yang banyak dan berkualitas," jawab Matcha pelan, suaranya turun sedikit.
Dori tersenyum lebar. "Oke! Deal! Mulai hari ini, aku akan 'makanin' kamu sampai kenyang! Asal kamu janji bakal nemenin aku jalan-jalan!"
"Jalan-jalan?! Ke mana?! Ke pasar?! Ke keramaian?!" Matcha melotot kaget.
"Kenapa nggak? Kamu kan kanjeng gusti yang hebat! Masa takut sama orang banyak?" goda Dori.
"Aku bukan takut! Aku hanya ... tidak ingin menimbulkan keributan! Auraku terlalu kuat, orang biasa bisa pingsan!"
"Yaelah, pake baju biasa aja kan bisa! Kita samarin!"
Tiba-tiba, layar laptop berkedip biru terang. Sebuah dokumen digital muncul dengan sendirinya, melayang di udara.
Tulisan emas terpampang megah di atas kertas tak kasat mata itu.
[KONTRAK IKATAN JIWA: TAHAP 2]
Dori dan Matcha sama-sama menoleh serentak.
"Apa lagi ini?" tanya Dori waspada.
Matcha menyipitkan mata membaca isi kontrak itu dengan serius. Wajahnya berubah dari bingung jadi kaget, lalu jadi cemas.
"Isinya ... peraturan baru. Karena kita sudah mencapai level kedekatan tertentu, sistem memberlakukan aturan baru."
"Bacain! Jangan diem aja!" desak Dori tidak sabar.
Matcha menarik napas panjang, lalu mulai membacakan poin demi poin dengan suara berat.
"Pertama: Kedua belah pihak wajib berada dalam radius 10 meter satu sama lain. Jika terpisah lebih jauh, energi akan berkurang drastis."
"Hah?! Jadi aku nggak bisa pergi jauh tanpa kamu?!"
"Kedua: Setiap hari wajib melakukan 'pertukaran energi' minimal satu jam. Bisa lewat makan bareng, ngobrol, atau sentuhan fisik."
"Wah, kayak jadwal pacaran!" Dori terkikik.
"KETIGA!" Matcha memotong keras, wajahnya sangat serius.
"Jika salah satu pihak merasa sakit atau terluka, pihak lain akan merasakan rasa yang sama persis. Rasa sakit itu akan dibagi dua."
Dori terdiam. Senyumnya langsung hilang.
"Jadi ... kalau aku jatuh sakit, kamu juga ikutan sakit? Dan kalau kamu kenapa-napa, aku juga ikutan ngerasain?"
"Betul. Itu namanya rasa sakit bersama. Konsekuensi dari ikatan yang terlalu dalam," jelas Matcha pelan.
Suasana jadi hening sejenak. Berat juga ternyata syaratnya. Tapi Dori justru tersenyum tipis. Anehnya ... Ia tidak keberatan sama sekali.
Berarti mulai sekarang, mereka benar-benar berbagi segalanya. Bahagia sama-sama, susah juga sama-sama.
"Gak apa-apa deh," kata Dori mantap. "Asal kamu nggak ninggalin aku, aku terima semua syaratnya."
Matcha menatapnya lekat-lekat. Ada kilat hangat di mata hijaunya. "Dasar bodoh. Orang lain pasti lari terbirit-birit tahu ada kontrak begini. Kau malah terima seenaknya."
"Karena kamu bukan orang sembarangan, Cha. Kamu partnerku."
Mendengar kalimat itu, dada Matcha terasa hangat luar biasa. Ia mengangguk pelan, lalu menandatangani kontrak digital itu dengan ujung jarinya. Cahaya menyala terang lalu menghilang.
[KONTRAK DISAHKAN. SELAMAT, ANDA BERDUA SEKARANG TERVERIFIKASI SEBAGAI "PATNERSHIP "]
"Wah, statusnya jadi gitu," Dori geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba, Matcha memegang dadanya sendiri. Wajahnya berubah aneh. "Aduh..."
"Kenapa?! Kenapa?!" Dori panik.
"Tiba-tiba. .. perutku terasa melilit. Lapar ... sangat lapar! Seperti ada api yang membakar!" erang Matcha memegang perut.
"Hah?! Kenapa tiba-tiba?!"
"Itu efek kontrak poin nomor dua! Tubuhku menuntut asupan energi SEKARANG!" Matcha menatap Dori dengan mata berbinar liar.
"CEPETI BELI MAKANAN! AKU MAU YANG BANYAK! AKU MAU SEMUA YANG ENAK! JANGAN PELIT!"
Dori melongo melihat perubahan drastis dari hantu anggun jadi hantu kelaparan.
"GILA YA! BARU SAH KONTRAK LANGSUNG MINTA JAJAN BANYAK!!"
Tapi di balik omelannya, tangan Dori sudah sigap meraih dompet dan HP.