NovelToon NovelToon
BRANDALAN POSESIF

BRANDALAN POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

​SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF

​Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.

​Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.

​Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.

​Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRANDALAN POSESIF

BRANDALAN POSESIF

BAB 11: Markas Singa dan Sumpah Darah.

​Matahari sore Jakarta yang mulai meredup menciptakan siluet panjang di aspal parkiran kampus. Ketegangan yang merayap di tengkuk Shania bukan lagi sekadar delusi. Foto crosshair merah yang membidik jantung Davindra di layar ponselnya terasa seperti vonis mati yang menunggu waktu untuk dieksekusi.

​Abaikan aturan lima meter. Persetan dengan sanksi Nenek Savitri. Shania berlari menyeberang jalan, kerudung instan yang ia kenakan berkibar tertiup angin kencang. Ia mengabaikan tatapan heran mahasiswa lain dan peringatan Pak Mamat yang memanggilnya dari kejauhan. Fokusnya hanya satu: pria yang sedang bersandar angkuh di mobil sport hitamnya itu.

​"Davindra!" seru Shania dengan napas tersengal-sengal.

​Davindra sedikit terperanjat. Ia menegakkan tubuh, melepaskan kacamata hitamnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai yang mematikan sekaligus mempesona.

"Shania? Baru beberapa jam, lo sudah kangen aja?" ujarnya dengan nada percaya diri yang mutlak, seolah ancaman maut tidak pernah ada dalam kamusnya.

​"Jangan kegeeran! Aku ke sini karena mau memberitahukan sesuatu!" ketus Shania.

Wajahnya merah padam, separuh karena kelelahan berlari, separuh lagi karena emosi yang meluap.

​"Sesuatu kalau lo udah suka sama gue?" Davindra terkekeh, melipat tangan di dada, menikmati pemandangan Shania yang sedang marah-marah di depannya.

Baginya, kemarahan Shania jauh lebih hidup daripada kepatuhan robotik para pelayan di mansion.

​Shania ingin sekali menjambak rambut berantakan pria itu. Bagaimana bisa ada orang yang nyawanya sedang diujung tanduk tapi masih sempat-sempatnya melontarkan rayuan murah?

Tanpa membuang kata-kata, Shania menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Davindra.

​"Lihat ini! Seseorang mengirimiku foto ini. Kamu sedang dibidik, Davindra! Ada sniper yang mengawasimu!"

​Davindra mengambil ponsel itu. Matanya menyipit melihat gambar crosshair yang membidik dadanya sendiri. Namun, alih-alih panik atau segera mencari perlindungan, tawa pelan justru keluar dari tenggorokannya. Ia tertawa seolah baru saja melihat meme lucu, bukan ancaman pembunuhan.

​"Lo, takut calon suami lo ini kenapa-napa?" tanya Davindra dengan senyum yang sangat menyebalkan bagi Shania.

​"Davindra! Ini bukan saatnya untuk bercanda! Mereka serius! Foto ini diambil dari jarak yang sangat dekat dengan posisi kita sekarang!"

Shania menoleh ke sekeliling dengan waspada, mencari jendela gedung atau atap yang mungkin menjadi sarang penembak jitu.

​"Kalau lo setakut itu, sekarang lo ikut, gue!"

​Tanpa menunggu persetujuan, Davindra menarik pergelangan tangan Shania. Ia membukakan pintu mobil sport-nya dan hampir 'memaksa' gadis itu masuk. Deru mesin mobil yang gahar memecah kesunyian parkiran. Davindra menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan kepulan asap dan Pak Mamat yang kebingungan di belakang.

​Pelarian ke Sisi Gelap.

​Mobil itu membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Shania mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat.

"Kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke mansion!"

​"Mansion itu penjara emas, Shania. Di sana banyak telinga Nenek. Gue butuh tempat di mana gue bisa jadi raja sepenuhnya," jawab Davindra dingin.

Tatapan matanya kini berubah tajam, aura berandalan yang biasanya tertutup oleh setelan jas kantor cabang kini muncul kembali.

​Mereka berhenti di depan sebuah gudang tua yang tampak terbengkalai di kawasan industri Jakarta Utara. Namun, saat gerbang besi yang berkarat itu terbuka secara otomatis, Shania terperangah. Di balik dinding kusam itu terdapat kompleks modern dengan sistem keamanan tingkat tinggi. Puluhan motor besar terparkir rapi, dan beberapa pria berbadan tegap dengan tato di lengan tampak sedang berjaga.

​Ini adalah 'Markas Singa'—pusat kekuatan bawah tanah Davindra yang tidak pernah diketahui oleh Nenek Savitri, Bramasta dan Ratna maupun publik.

​Saat Davindra turun dan membukakan pintu untuk Shania, suasana di dalam markas seketika hening. Para pria yang tadinya sedang tertawa atau membersihkan senjata, mendadak membeku. Mata mereka melongo, seolah baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan.

​"Bos? Siapa gadis sholehah yang Bos bawa?" tanya Galang, salah satu tangan kanan Davindra yang bertubuh paling besar.

​"Iya, Bos. Tumben banget Bos bawa cewek ke markas. Biasanya juga bawa musuh buat dihajar," sahut yang lain, masih tidak percaya melihat seorang gadis berhijab berada di tengah-tengah sarang penyamun.

​Davindra tidak menjawab. Ia merangkul bahu Shania secara protektif, memberikan tatapan maut pada anak buahnya yang membuat mereka langsung menunduk dan kembali ke kesibukan masing-masing.

​"Dia, bukan sembarang cewek. Dia Shania. Dan mulai detik ini, siapa pun yang berani menatapnya lebih dari tiga detik, matanya gue cungkil," suara Davindra terdengar tenang, namun getaran ancaman di dalamnya sangat nyata.

​Strategi di Balik Bayangan.

​Davindra membawa Shania ke sebuah ruangan kaca di lantai atas yang berfungsi sebagai pusat komando. Di sana, layar-layar besar menampilkan berbagai data intelijen, termasuk pergerakan keluarga Mahendra.

​"Gue, tahu soal sniper itu sebelum lo kasih tahu, Shania," ucap Davindra tiba-tiba sambil melemparkan jaket kulitnya ke meja.

​Shania tertegun. "Maksudmu... kamu sudah tahu?"

​"Foto yang dikirim ke lo itu adalah psy-war. Mereka ingin lo panik, lari ke gue, dan memancing gue keluar dari zona nyaman Nenek. Dan itu berhasil," Davindra menatap Shania intens. "Tapi mereka salah perhitungan. Mereka nggak tahu kalau gue punya unit kontra-intelijen yang lebih gila."

​Davindra menekan sebuah tombol di meja. Layar besar di depan mereka berubah menunjukkan rekaman dari sebuah drone. Di sana, terlihat seorang pria dengan senapan laras panjang sedang diringkus oleh dua orang anak buah Davindra di atap sebuah gedung dekat kampus tadi.

​"Itu orang yang membidikmu?" tanya Shania dengan suara gemetar.

​"Salah satu dari mereka. Mahendra mengirim tiga orang. Dua sudah 'dibereskan', satu sengaja gue lepas biar dia lapor ke tuannya kalau gue nggak semudah itu buat dibunuh," jawab Davindra mendekat ke arah Shania, memojokkannya ke meja monitor.

​"Dengar, Shania. Nenek ingin lo jadi 'cahaya' buat gue. Dia ingin gue jadi cucu penurut yang main aman. Tapi dunia ini nggak aman buat lo. Mahendra nggak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau."

​"Tapi dengan membawaku ke sini, kamu melanggar semua perintah Nenek! Kamu akan kehilangan segalanya, Davindra! Rekeningmu, jabatanmu..."

​"Gue, nggak peduli!" bentak Davindra, namun suaranya kemudian merendah. "Gue, bisa bangun dinasti gue sendiri tanpa uang Elangga. Tapi gue nggak bisa biarkan mereka menyentuh lo bahkan seujung kuku pun. Di sini, lo aman. Di sini, gue hukumnya."

​Sumpah di Tengah Badai.

​Malam mulai larut. Shania duduk di kursi kebesaran Davindra, sementara pria itu berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke pelabuhan. Di markas ini, Davindra tampak berbeda. Ia bukan lagi cucu yang memberontak, melainkan pemimpin yang ditakuti.

​"Shania," panggil Davindra tanpa menoleh.

​"Ya?"

​"Lo, bilang tadi gue jangan kegeeran. Tapi jujur... kenapa lo lari nyamperin gue tadi? Lo bisa saja diam, masuk ke mobil Pak Mamat, dan biarin nasib gue ditentukan peluru itu. Kenapa lo peduli?"

​Shania terdiam. Pertanyaan itu menghunjam tepat di jantungnya. Mengapa ia peduli? Karena Davindra telah menyelamatkan ibunya? Ataukah karena di balik sikap posesif yang menyesakkan itu, Shania merasakan kesepian yang sama dengan yang ia rasakan selama ini?

​"Karena... karena aku nggak mau melihat seseorang mati di depan mataku, apalagi setelah semua yang sudah kamu lakukan untuk ibuku," jawab Shania diplomatis, meski hatinya berbisik lain.

​Davindra berbalik, berjalan perlahan menuju Shania. Ia berlutut di depan kursi gadis itu, membuat posisi mereka sejajar. Ia mengambil tangan Shania, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut—sebuah tindakan yang sangat kontras dengan imej berandalannya.

​"Ini bukan lagi soal perjanjian dengan Nenek. Ini soal gue dan lo. Mereka baru saja memulai perang terbuka dengan mengirim foto itu ke lo. Mereka mengincar ketakutan lo," Davindra menatap mata Shania dengan api yang berkobar.

​"Mulai besok, gue akan kirim dua orang intelijen terbaik gue buat nempel sama lo di kampus sebagai mahasiswa baru. Nenek nggak akan tahu. Pak Broto nggak akan tahu. Dan kalau Mahendra mencoba sekali lagi..."

​Davindra mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari saku celananya, lalu menggores sedikit telapak tangannya sendiri hingga darah segar menetes.

​"Gue, bersumpah demi darah ini, Shania. Darah Elangga dan darah yang gue tumpahkan sendiri. Barangsiapa yang membuat lo meneteskan air mata karena takut, mereka akan membayar dengan nyawa."

​Shania terpaku. Ia berada di tengah-tengah dua kutub yang sama-sama ekstrem: aturan kaku Nenek Savitri yang mencoba melindunginya dengan martabat, dan obsesi gelap Davindra yang melindunginya dengan kekerasan.

​Tiba-tiba, ponsel Davindra berdering. Itu dari Pak Broto.

​"Tuan Muda, Nyonya Besar tahu Anda membawa Nona Shania keluar dari jalur pulang. Beliau sudah memerintahkan unit taktis keluarga untuk mengepung koordinat Anda dalam sepuluh menit. Pulanglah sekarang, atau Nona Shania akan langsung dikirim ke luar negeri malam ini juga."

​Davindra menggeram. Ia menatap Shania, lalu ke arah pintu keluar.

​"Permainan kucing dan tikus ini semakin seru, Shania. Siap untuk ronde berikutnya di mansion?"

BERSAMBUNG ....

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh protektif banget
Saniaa96: hiii... makasih dah luangkan waktunya tuk baca🙏🙏☺️
total 1 replies
n
thor lanjut dong thor💪🤭 mau lihat posesif nya davindra..
Saniaa96: heee.. udah yaa dan mksh 🙏🙏☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!