NovelToon NovelToon
And A Long Nightmare

And A Long Nightmare

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Supernatural / Romansa Fantasi-Non-Human / Horor / Tamat
Popularitas:24.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yura (Wulan Noviyanti)

Pada malamnya kau bermimpi, dan esok pagi mimpi itu sudah jadi nyata.

Ann Azalea harus menghadapi kenyataan bahwa mimpi buruknya muncul sebagai kenyataan. Pertemuannya dengan seorang hantu lelaki dan hilangnya banyak hal darinya, membawanya menuju kebenaran akan jati dirinya. Gadis Bali yang hidup tidak biasa. Kebenaran demi kebenaran yang menyakitkan mulai terlihat.

Dan, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk menikmati hasil karya berantakan yang ditulis seorang remaja berusia satu setengah dekade ini. Semoga para pembaca bersedia memberi kritik-saran yang amat berguna untuk pembangunan novel saya selanjutnya.

[HIATUS]

Arigatou Gozaimasu.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yura (Wulan Noviyanti), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(10) BADAI DWI BUANA

Maung mengeong cukup keras dari bawah ranjang. Memanggilku dengan keimutannya. Ia menantiku membuka mata dan menyadarkanku kalau hari ini aku memiliki jadwal baru dalam kehidupan monoton Ann Azalea. Hari ini, seorang Ann Azalea akan bekerja pada akhirnya meski cuma sebagai buruh petik bunga. Bibi meminta tenagaku untuk membantunya memanen bunga potong di kebun Bibi di bukit utara desa. Ia akan menjemputku pukul sepuluh pagi dan aku masih belum bangun di pukul delapan.

 

Aku melompat dari ranjang dan berlari ke dapur tanpa menghiraukan Maung yang bermain dengan selimutku yang masih menggumpal tak karuan di atas kasur. Di tangga menuju dapur, aku terpeleset dan nyaris terjatuh. Tak hanya itu, mataku masih ketutupan kotoran sehingga tidak melihat pintu tengah tertutup. Aku meringis dan memukuli pintu dapur.

Setelah kubuka, tahu-tahu aroma makanan merebak. Di atas meja sudah berjejer beberapa piring dan mangkuk berisi makanan secukupnya. Makanan yang biasa dijual warung nasi yang buka pagi-pagi. Sepertinya bapak paham dan akhirnya meninggalkan harta karun pengenyang perut itu untukku.

Saat akan mengambil makanan, aku melihat sekeliling rumah dan menyadari banyak pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai karena kelalaianku yang baru pertama terjadi. Biasanya, aku akan bangun menyongsong pagi dari pukul enam. Pertama, aku harus menyiapkan makanan. Setelah perut terisi, barulah fokus menyelesaikan tugas lain.

Namun kini, tanaman di kebun masih kering kerontang. Lantai keramik terasa kasar tertutupi debu. Maung belum mendapat jatah sarapannya. Setumpuk pakaian kotor siap cuci belum disentuh.

Ini semua akibat kelelahan karena pendakian batu di Tamba Mumbul hari lalu.

Perutku terasa perih. Langsung saja aku mengambil piring dan menyendokkan nasi, tempe, serta sayur tumis. Buru-buru kumasukkan ke mulut tiga buah tempe persegi hingga penuh. Dengan kunyahan pelan sampai cepat. Mereka menghalus dan segera kutelan.

Aku menuangkan air dari teko dengan ceroboh dan membasahi baju sendiri. Demi mengejar waktu, kulempar gelas plastik yang kupegang dan mencuci piring tanpa memedulikan gelas plastikku yang sudah jungkir balik di lantai yang berdebu.

Selesai acara sarapan, Ann Azalea melanjutkan dengan menyiram tanaman. Aku hampir saja jatuh tersandung akibat selang panjang yang terhubung ke keran air. Daripada mengumpatnya dengan sarkas, cepat-cepat aku memutar keran dan menyiram tanaman.

Tanaman sudah puas dengan sarapannya, Maung memanggilku. Aku beranjak ke dapur dan mewadahi sepotong tempe dengan kertas. Maung melahapnya perlahan, padahal aku tahu harimau adalah hewan karnivora. Maung dengan polosnya menyemil tempe itu.

Meski merasa sedikit letih, kupaksa tubuhku menuju ember penuh tumpukan pakaian. Aku mengurusi mereka di kamar mandi sekalian membersihkan diri. Air dingin membuat tulang-tulangku semakin menggigil. Pantas saja aku merasa agak pening setelah mandi.

Setelah berpakaian segera aku mengepel lantai. Langit sudah kelabu tertutup awan.

“Selesai juga ….”

Diriku semakin kelelahan dan memutuskan menjatuhkan diri di lantai teras yang basah baru selesai dipel. Ambruk. Kepalaku pening dan pandanganku kabur berkunang-kunang. Kututupi dahiku dengan tangan kanan, kukira suhu tubuhku naik. Maung malah dengan santainya melompat ke atas perutku dan mendengkur.

Waktu yang bagus karena tidak ada bapak yang menggotongku ke dalam kamar.

Apa yang melayang nampak melayang dua kali lipat, dan aku bingung bagaimana cara menjelaskannya. Pusing membuat otakku tidak mampu menerima rangsangan dari luar dengan optimal dan malahan segalanya diperburuk dua kali lipat. Awan kelabu jadi hitam legam. Makhluk yang harusnya bepenampilan konyol dan kocak malah nampak seram di mataku. Mata besar mereka terpaku padaku yang terkapar. Mereka melompat-lompat girang menyaksikan penderitaanku. Taring mereka yang patah terlihat tajam, tebal dan runcing. Ukuran mereka yang cuma selutut juga jadi dua kalinya tinggi Bapak.

Ternyata memang seram juga.

Aku harus segera menuju kandangku. Kamar. Tak mampu berdiri, terpaksa aku merangkak. Namun, sesuatu terasa menarik kakiku. Ketika aku berbalik, tiada apapun di sana. Apakah ‘mata’-ku mulai bermasalah? Seharusnya ada si pengganggu gaib yang menarik kakiku, tapi tidak nampak. Awan kelabu sudah mengumpul dan menebal. Aku tak mampu menyeret tubuhku lebih jauh. Aku kalah akan rasa sakit ini.

Kupandangi saja langit kehitaman di atas mataku. Kudoakan agar hujan sehingga Bapak akan kembali dari kebun, kemudian menggopohku ke kamar. Memberiku minum, dan menyelimutiku seperti yang Ibu lakukan ketika aku kecil dulu.

Suara angin bergemuruh bertiup dari barat. Pepohonan meliuk-liuk, mengingatkanku dengan hobi menari yang kugeluti dahulu. Angin dingin melarikan tetes-tetes air yang terlepas dari kawanannya. Perlahan dinginnya menyelusup ke dalam pori-pori kulitku, membuatku menggigil dan memeluk erat Maung yang baru saja terlelap.

Aku meragukan pendengaranku. Kudengarkan erangan dan auman dari kejauhan dihanyutkan sang bayu, menjadi satu dengan pilunya tangisan langit. Butiran air berukuran besar meluncur bebas dari atas, membasahi bumi yang terkeringkan selama enam bulan lamanya. Aroma rerumputan tersentuh air hujan yang melarutkan polusi udara menusuk hidung. Hujan asam sepertinya turun saat ini.

Lantai teras terkena imbas hujan pagi. Butiran hujan yang terpecah di tanah terciprat ke lantai keramik putih mulus yang baru saja kubersihkan sebelum terkapar. Sungguh tidak menghormati pekerjaanku. Kini, tetes-tetes tidak sabaran itu menyatu menjadi saluran air setelah bebas dari awan. Beregrak meliuk mengikuti jalan kering yang terbentuk alami menuju satu kumpulan, meski tidak semuanya akan jadi satu. Ada yang terserap ke tanah, ada yang ditarik akar tanaman, maupun membasahi wajahku yang mengenaskan. Bapak masih belum datang juga.

Rambutku dihiasi ribuan butir air kecil-kecil. Kumpulan tetes air lainnya mengalir di wajahku. Suara jejak kaki di air membuatku yang setengah sadar mulai siaga. Bapak menapak di lantai yang basah. Ia menepuk pipiku. Aku tak sanggup meresponnya. Lagipula, mataku sudah mengalah dan memutuskan untuk menutup.

Suara gemuruh dan beberapa kali kilatan menyambar menyambut diriku yang baru siuman. Terasa hangat dalam balutan selimut tebal. Bapak duduk di sebuah kursi kayu di sebelahku. Meja bundar kecil mewadahi segelas air putih dan semangkuk air es untuk kompres. Tanganku muncul dari balik selimut dan menempel pada dahi kemudian leher. Panas.

“Tadi Bibi telpon, bapak sudah bilang kamu tidak bisa ikut. Juga karena hujan makanya batal petik bunga. Bibi titip salam, semoga lekas sembuh katanya.”

Bapak menyerahkan segelas air. Kubalas penjelasannya dengan anggukan.

 

Riuh angin masih terdengar liar di luar sana. Jendela kamar bergemeletuk. Membayangkan kekacauan di taman yang diakibatkan badai setelah ini membuatku semakin membebani diri dan memperparah penyakit. Berusaha aku menenangkan pikiranku tapi Bapak sudah duluan menyuruhku jangan banyak berpikir lagi. Ann bodoh.

Aku meneguk habis air dalam gelas dan menaruhnya ke atas meja lagi. Maung melompat ke arahku dan meniduri kakiku. Bapak mengelusnya sesaat, kemudian perlahan meninggalkanku. Ditutupnya pintu kamar dengan rapat hingga angin tak mampu masuk. Gelap.

Tak lama Bapak kembali sambil menjinjing tas kain berwarna merah kumal. Lontar-lontar panjang mencuat dari dalam tas dengan warna kusam yang tak kalah legam dengan warna langit sekarang.

Bapak duduk di tempatnya yang barusan. Dipangkunya tas merah itu, memilah satu-satu lontarnya dan mengambil sebuah. Dengan lap yang dibawanya di tangan kanan, ia membersihkan lontar tersebut dengan teliti dan perlahan. Warnanya berubah sedikit lebih putih kekuningan dibandingkan yang sebelumnya.

Setelah dirasa bersih, Bapak memperhatikan aksara yang terukir pada selembar lontar tersebut. Perlahan dilafalkannya Bahasa Bali kuno yang lebih sulit dari Bahasa Bali Alus. Aku tak mampu mendengarnya dengan jelas, ditambah pengetahuanku tentang bahasa kuno masih kurang. Aku bahkan tidak pernah tahu sebelumnya kalau Bapak bisa membaca lontar kakawin yang lama tersimpan di dalam lemari kayu tua yang berdiri tegak di sanggah.

Dengan tembang mengalun lembut yang membawa ketenangan pada pikiranku yang sumpak. Menjernihkan pandanganku. Membersihkan kekalutan yang menyelubungiku. Kemudian, bayangan Nomad yang begitu jernih muncul dalam khayal. Tak menghiraukan suara merdu Bapak, aku memasuki alam khayalku lebih dalam.

Nomad ….

Sosok pria muda itu terus menjauhiku, mengajakku menyelam lebih dalam ke lautan fantasi tanpa arti yang hanya menyakiti hati. Jejak demi jejak Nomad kuikuti semirip langkah pria itu di depanku. Semakin larut dalam keputusasaan akan rasa kehilangan.

Kemunculan senyum hangat Ibu mewarnai perjalananku mencari si tengik yang terhormat. Senyumannya masih sehangat mentari di Kuta, seindah tenun Gringsing dari Tenganan, namun menyayat karena kesedihan yang ditinggalkannya bagai peristiwa Bom Bali tahun 2002 silam. Alunan melodi kakawin yang Bapak bawakan larut dalam imajinasiku dan menuntunku menuju Nomad. Kulewati senyuman Ibu menuju kerinduan kebersamaanku dengan delapan bocah spesial milikku.

Mereka berdiri berjejer dengan tumbuhan durian dan rambutan kecil di depan mereka. Waktu dalam dunia imaji bukanlah pengganggu. Jadi, tahu-tahu pohon tersebut sudah tinggi menjulang dan menutupi wajah mereka dari penglihatanku. Tak lama pun buah-buah muncul menghiasi ujung ranting pohon-pohon harapan yang telah mereka tanam. Kelak akan menjadi berkah bagi yang lain. Mereka pantas menerima gelar pahlawan.

Terhanyut lebih jauh bersama lirik-lirik penuh nasehat dan petuah, aku mengalir menuju Nomad.

Aku merindukannya sebagai bayangku. Seseorang yang mencariku dan aku membuangnya menuju ketidakpastian. Aku tersesat dalam kesedihan dan tak kunjung menemukannya. Keraguan tumbuh lebih subur daripada gulma di taman.

Aku berdiri di sebuah titik. Suara Bapak menggema dalam pikiranku, menjadi soundtrack yang mengiringi pergolakan batin yang tengah kulalui. Langit biru di atas kepalaku bertransformasi begitu cepat menjadi lukisan senja. Rerumputan bergoyang dihempas angin yang kuat. Tumbukan pantulan langit sore dan hijau kebiruan rerumputan menimbulkan kesan ilusi warna lembayung.

Pria itu berdiri menutupi surya. Pemandangan sunset yang dirindukan wisatawan ketika berlibur ke Bali yang sakti. Meski indah, ia hanya akan ada sesaat. Macam pelangi—lengkungan bibir yang indah itu hanya nampak sesaat dan menghilang dari pelukku.

Mulutnya terbuka mencoba mengucapkan satu nama yang ia harapkan kehadirannya. Sayang beribu sayang, tak terdengar. Kakawin yang Bapak kidungkan terdengar jauh lebih jelas, yang semakin mengacaukan jiwaku yang terluka. Pemandangan ini kurindukan, sekaligus tidak ingin pemandangan ini terjadi di duniaku yang sungguhan jika inilah definisi perpisahan.

Otakku hancur diperas enigma. Di mana dan ke mana, hidup bersama mengapa, yang ternyata jawaban yang kuinginkan adalah dirinya. Tidak bisa ditemukan meskipun aku sudah melanglang buana. Aku pun tidak kuat berkelana. Jangan lagi melangkah, jangan buat diriku semakin merana.

Nomad, jangan pergi dari Ann. Dengarkanlah jeritan dan erangan ini yang begitu memilukan. Di mana-mana suara itu akan terdengar sebagai sebuah panggilan. Kumohon jangan melawan. Jiwaku sudah merasa kelelahan. Sudah cukup untuk menjelajahi satu petualangan.

Dengar aku menjerit dari neraka. Sedangkan kamu melirik dari surga. Bawalah aku ke atas sana meski tak sampai menyentuh nirwana, tak masalah. Aku hanya perlu warna yang didapat hanya dari senyumanmu serupa pelita lentera.

Aku tidak minta jauh-jauh melayang, sudah cukup hanya menerawang. Wajahmu pun selalu terbayang dikala kalut mulai menyerang. Berkali-kali kusembahyang, memohon pada Sang Maha Penyayang. Cepatlah kita bertemu lagi, sayang. Dengarlah dariku sebuah erangan panjang.

Perlahan kudekati dirinya. Jingga surya menerangi awaknya, semakin berwibawa. Meski terlihat manja, dia sudah dewasa. Dia bukanlah seorang Nomad saja. Dia juga bukan manusia. Dia bukanlah makhluk khayalanku semata. Dialah jawaban dari enigma.

Suaranya menggema dalam batinku, meredam kidung lembut yang Bapak bawakan. Ann menjadi kata pilihannya. Tangannya merentang lebar, menyambut diriku yang tak kunjung bergerak dari tempatku terpaku.

Mungkin aku terlalu lama untuk melakukan yang hatiku selama ini inginkan, Nomad menangis. Bukannya karena aku tidak mau lagi memeluknya, mendekapnya, dan mengurungnya setelah ini, namun kakiku tak dapat kugerakkan. Tangan-tangan gelap menarik kakiku ke dalam tanah. Nomad pun tidak melakukan apapun kecuali terisak.

Aku meronta-ronta dan melambai ke arahnya. Nihil jawaban maupun tindakan darinya. Aku semakin mengerang dan menjerit sejadinya. Sekuat tenaga kupanggil nama yang merupakan pemberianku itu. Aku tak takut melakukannya meski pita suaraku terputus sekali pun. Habis harapan.

Awan hitam membumbung tinggi dan membawa pergi pemandangan indah ini. Tubuhku tenggelam dalam tanah. Sebelum wajahku benar-benar terbenam, kulihat awan mulai memecah diri menjadi ribuan rintik hujan. Dingin dan tajam menusuk permukaan wajahku.

Gelap.

Aku salahkan tenggorokanku karena tidak berfungsi optimal saat memanggil namanya. Aku tidak ingin menyalahkan pria itu lagi. Karena sebenarnya ini semua salahku kan?

Apa aku tertidur? Lalu, mengapa aku melihat Bapak sedang memegang lontar dan melihat ke arahku? Tangan Bapak mendekati mataku dan menghapus keringat mataku. Benci kumengatakan kalau aku menangis.

“Tenanglah. Kalau ada yang kamu cari, jangan sampai putus asa untuk menggapainya. Tadi, bapak dengar kamu menjerit memanggil seseorang. Bapak tidak mau mengganggumu, silahkan cari dia dan bapak tinggal membantumu walau berupa doa saja.

Bapakmu ini cuma manusia biasa dan tidak bisa melakukan yang lebih jauh seperti dirimu, Ann. Lakukan sebisamu dan bapak melakukan sebisa bapak. Meski sebisamu, jangan anggap ketika kamu menangis kesakitan dan kamu menganggap itulah akhir kata ‘bisa’ dalam dirimu. Tidur saja, bapak tahu itu melelahkan.”

“Aku tidak mau tidur lagi, pak … nanti kalau aku bermimpi buruk lagi, bagaimana?!”

“Setahu bapak, Ann Azalea tidak sepesimis ini— “

“Karena dia sudah lama terpuruk.”

“Meskipun sadar cahaya tinggal selangkah lagi darinya?” Bapak malah tertawa, menertawai kebodohan putri semata wayangnya.

“Ann, Ann …. Sudahlah.” Bapak nampak berpikir. Ia pun lanjut bicara.

“Kamu tahu, namamu sebenarnya lebih panjang dari yang selama ini kau bawa ke mana pun. Kamu bahkan tidak menyadarinya 'kan?

Ann Azalea hanyalah sepotong nama. Selengkapnya dari namamu itu, adalah harapan yang bapak dan ibumu tanam dalam hatimu. Bapak harap, kamu tidak menyianyiakan doa kami, Ann.

Ann hanyalah singkatan dari kata Bulan, benda langit yang menerangi malam. Azalea, sebuah bunga indah yang dicintai ibumu, bahkan setelah ia tiada ia belum memilikinya di taman pribadinya. Bunga Azalea yang berarti kesederhanaan. Sebagai Bulan Azalea, dengan nama yang lebih panjang lagi, Gusti Ayu Anom Bulan Azalea.”

Aku sontak terkejut. Namaku mengandung derajat yang lebih tinggi dari Bapak? Mengapa ini bisa terjadi? Ibu pun bukanlah seorang dari Tri Wangsa bagian kedua bahkan pertama. Bapak hanyalah seorang manusia dari kasta biasa. Bagaimana bisa aku menjadi bagian dari Wangsa Ksatria? Ini bohong 'kan?

“Nama lengkapku?” tanyaku memastikan, apakah telingaku yang bermasalah atau bukan.

“Iya. Kamu bukanlah darah daging kami yang sebenarnya. Bapak juga bingung kapan harus memberitahumu. Kamu adalah keturunan ksatria dari zaman dahulu. Bapak masih ingat di mana puri keluarga kandungmu. Leluhurmu adalah keluarga Kerajaan Buleleng. Bapak tidak tahu seluk beluknya, yang bapak tahu cuma itu. Sekarang, ini waktunya kamu yang mencari tentang kebenaran dirimu.”

Badai di luar belum berhenti, sekarang sudah disusul badai gejolak batin. Hancur karena termakan enigma yang diberikan Nomad, belah karena mengetahui nama asliku, Gusti Ayu Anom Bulan Azalea.

Aku tidak menyangka, mereka yang kupanggil bapak-ibu selama ini, bukanlah orang tuaku yang sejati. Darahku bukanlah darah mereka, malah jauh lebih tinggi dan itu menghancurkanku. Aku lebih baik menjadi Ann Azalea yang biasanya dan tinggal bersama Bapak sampai akhir, meski tidak ada Ibu.

Badai menghancurkan segalanya, yang buruk dan yang indah tak dipandang olehnya. Tak paham akan derita panjang yang akan kurasakan selama hidupku setelah ini. Mimpi buruk yang kupikir akan berhenti, lebih baik kupersepsikan tidak akan pernah berakhir saja kalau begitu.

.

.

.

.

 

1
Ryan Jacob
semangat Thor ditungggu karya-karyanya
francess
good job
dudodu
saya akan mendukung
Rian Cappuchino
Kak mampir yuk kenovelku.Judulnya "Ray Stardust."

Kutunggu kedatanganmu.

Terima kasih
Birulwalidain
aku udah mampir yaa, Oh iya thanks buat ceritanya, bagus banget!!!! apalagi kata - kata nya itu yg membuat ku teringat kembali dengan cerita buatan kakak ku dulu
Radin Zakiyah Musbich
up up up.... 🎉🎉🎉

ijin promo thor 🍿🍿🍿


jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",

kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿


jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️
Lestari Lestari Lestari
mau tanya boleh gak Thor?
nothing but regular human: iya kak
total 5 replies
Mr.black
semnagt kaka
nothing but regular human: Terima kasih ya
total 1 replies
IG : anissah_31
hai kak, semangat trs..
salam dr "Sang Pemuda" 😊
IG : anissah_31
Mampir yuk ke cerita aku..
"Sang Pemuda"
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, vote and coment.
Ev-
ssmangat terus!!!
boomlike ku mendarat, jangan lupa baca Juan, story geva dan ordinary life😊🤩
nrasyaaaa
Hai mampir ya ke cerita2 baru aku
Nunuy Hertati
waahhh msh abg dah bisa nulis....semangat say do'aku menyertaimu nak.
nothing but regular human: Terima kasih banyak 😄
total 1 replies
Srieaniez Ñew Srieaniez
kosakatanya bagus,,, semangat author,,,
nothing but regular human: Makasih banyak 😄
total 1 replies
Melia
Bahasanya keren banget yampun, penulisannya rapiiii 😭
nothing but regular human: Gak jga kok, msh pemula jga 😶
total 1 replies
Theira Version X
keren lanjutin lagi thor
nothing but regular human: Makasij 😄
total 1 replies
Miels Ku
kosakatanya miels suka banget
Miels Ku
yuraaa
miels mampir
Ria Ria
aku sudah mampir ya thor
Arumi Khazanah
Assalamualaikum....Maaf thor numpang promo🙏jangan lupa mampir lagi di karyaku

"Kasih Tak Sampai"
"Who I Am"

Dan jangan lupa kasih boom likenya, komenya dan vote

Aku tunggu....Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!