lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di kediaman Tuan Harsono
Arjuna juga berkenalan dengan pria tua super ramah ini yang ternyata bernama Indroprasto. Saking ramahnya Inroprasto sampai-sampai bersikukuh memanggil Arjuna dengan sebutan Tuan. Sangat aneh.
Arjuna yang duduk di depan Indroprasto menghela nafas panjang, kemudian berucap, "kalau aku boleh tahu apakah kalian pelayannya gurunya Gumilar?" Tanya Arjuna. Arjuna sendiri tidak mengetahui siapa gurunya Gumilar sehingga dia bertanya seperti ini.
Indroprasto jelas menggelengkan kepalanya, "tidak Tuan, kami hanya bertetangga saja. Memangnya kenapa Tuan?" Tanya Indroprasto.
"Sudah kuduga!" Ucap Arjuna, "tidak mungkin orang-orang seramah kalian adalah pelayan dari orang yang sangat menjengkelkan!" Imbuh Arjuna.
Kemudian secara singkat Arjuna menceritakan masalahnya dengan gumilar, orang yang memaksanya datang ke tempat ini.
Indroprasto terlihat menggaruk kepalanya penuh dengan kebingungan, dalam hati Indroprasto berucap, "bukankah tinggal injak saja? Ansa adalah Tuan Tiada Tanding, mengapa harus bingung menghadapi orang selemah Harsono yang bahkan tidak bisa mengalahkan kami?"
Namun setelah itu Indroprasto merasa yakin, bahwa sebenarnya Tuan Arjuna sedang ingin bermain-main dengan Harsono dan murid muridnya.
Setelah Arjuna selesai bercerita, Indroprasto berucap, "apakah perlu kami bantu untuk berurusan dengan Gumilar dan Harsono?" Tanya Indroprasto.
"Oh, jadi nama gurunya Gumilar adalah Harsono? Tidak, tidak! Akan aku hadapi sendiri mereka aku penasaran sebenarnya mereka ini ingin apa!" jawab Arjuna.
Indroprasto hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia berucap, "kalau Tuan ingin menemui Harsono Tuan hanya perlu jalan terus di jalanan setapak ini, melewati kebun ini dan anda akan sampai di kediaman Harsono.." ucap Indroprasto.
Arjuna menganggukan kepalanya, "terimakasih pak Indroprasto.." ucap Arjuna.
Kemudian Arjuna berucap kepada Indroprasto, "rumahku ada di Dau.. ada sebuah toko barang antik di sana, toko itu adalah rumahku. Kalau anda ada waktu longgar anda bisa main kerumahku." Ucap Arjuna.
Kemudian Arjuna tersenyum cerah, "nanti akan aku beri beberapa barang antik sebagai ganti sekantung kopi nikmat ini." Kemudian Arjuna menambahkan, "ah ya! Aku juga memiliki beberapa tanaman pandan unik! Barangkali anda mau meminta daunnya sekedar untuk di buat cendol."
Ketika mendengar hal ini Indroprasto tidak bisa untuk tidak menganggukan kepalanya, "tentu Tuan, kami akan berkunjung ke kediaman anda." Ucap Indroprasto.
Kemudian mereka mengobrol cukup lama. Hingga ketikaArjuna sudah menghabiskan kopinya hujan di sini juga sudah reda.
"Aku pamit terlebih dahulu, aku harus menuju ke kediaman pak Harsono.." ucap Arjuna.
Dengan cepat Arjuna berdiri di susul Indroprasto. Di belakang Indroprasto muncul seorang pelayan yang membawa sekantung biji kopi yang sudah di sangrai.
"Ini untuk anda, Tuan." Ucap Indroprasto yang menyerahkan pesanan Arjuna sebelum ini.
Arjuna dengan ekspresi cerah menerima sekantung kopi itu, dan memasukannya ke dalam tas kecil miliknya.
"Terimakasih Pak Indroprasto, aku bebar-benar berharap nanti anda bisa datang kerumahku, aku akan membalas kebaikan yang telah kamu berikan kepadaku.." ucap Arjuna dengan senyuman tulus.
Indroprasto menjawab, "tentu Tuan..."
Arjuna kemudian berucap, "kalau begitu aku pergi dulu, ya." Arjuna kemudian melangkahkan kakinya pergi dari rumah joglo ini.
Ketika punggung Arjuna sudah tidak terlihat, baik Indroprasto maupun para memedi yang menghuni rumah joglo ini langsung lemas dan terjatuh ke tanah.
Mereka benar benar takut apabila mereka di lenyapkan Tuan Tiada Tanding ini, namun untung saja Tuan Tiada Tanding ini menerima suguhan mereka..
****
Waktu berjalan cukup cepat, setelah Arjuna berjalan beberapa menit di kebun kopi yang menurut Harsono sangat wingit, misterius, dan kuno ini.
Seharusnya...
Hingga akhirnya Arjuna melihat sebuah kompleks rumah villa yang di kelilingi taman yang begitu indah.
Arjuna yakin sekali tempat ini merupakan kediaman Gumilar dan gurunya. tanpa basa basi lagi Arjuna langsung melangkahkan kakinya ke taman itu.
Akhirnya Arjuna tiba di tepi taman wilayah tempat ini, di sini Arjuna melihat ada beberapa oeang yang merawat bunga Bunga dan pohon kopi yang berada di setiap sudut taman.
"Permisi, apakah di sini kediaman Pak Gumilar dan Gurunya?" Tanya Arjuna sopan.
Ketika Arjuna mengucapkan hal inu semua pembantu langsung menoleh dengan ekspresi kaget.
"hah? Ada penyusup!"
"Benar! Ada penyusup!"
Seketika itu juga para pembantu ini langsung mengeluarkan senjata tajam mereka, ada yang berupa parang, pisau, dan celurit.
"Penyusup, beraninya kamu menyusup ke kediaman Tuan Harsono!" Teriak salah satu pembantu.
Arjuna langsung menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung, mengapa dia malah di tuduh penyusup padahal Gumilar yang mengundangnya? Dalam hatinya Arjuna merasa kesal.
Dia sudah di paksa datang ke tempat ini, hujan-hujanan di kebun kopi hingga akhirnya dia berteduh. Dan kini ketika dia sampai dia malah di tuduh penyusup?
"Tunggu! Aku bukan maling!" Arjuna jelas mencoba untuk membela diri. Sementara itu dari kejauhan Gumilar yang sedang membersihkan halaman villa menghentikan aktivitasnya ketika mendengar teriakan salah satu pembantu. penyusup yang datang ke tempat ini hukumannya adalah kematian, sebagai muridnya Tuan Harsono jelas Gumilar juga berhak membunuh setiap penyusup.
Namun Gumilar sedikit kaget ketika dia memeriksa dia melihat Arjuna yang berdiri di tepi taman sambil mengangkat kedua tangannya. Yang hanya bisa tiba di tempat ini ketika melewati kebun kopi wingit yang terdapat rumah joglo hanyalah manusia biasa. Arjuna tiba di tempat ini dengan selamat, Artinya dia benar benar manusia biasa!
Itu Artinya selama ini Gumilar salah.
Para pembantu yang ada di situ mulai melangkahkan kakinya dan hendak membunuh Arjuna.
"Halah, jangan bohong kamu." Ucap Salah satu pembantu.
"Hentikan, dia bukan penyusup." Ucap Gumilar dengan lantang.
Seketika itu juga para pembantu di sana menurunkan senjata tajam mereka. Gumilar segera menghampiri Arjuna dengan ekspresi sedikit kaget.
"Bagaimana caramu datang ke tempat ini?" Tanya Gumilar dengan ekspresi yang seolah tidak percaya.
Arjuna menandangi Gumilar dengan ekspresi aneh, "hanya berjalan melewati kebun kopi biasa, memangnya ada jalan yang lain?" Tanya balik Arjuna.
Kebun kopi biasa?
Kemudian ekspresi Gumilar berubah menjadi ekspresi penuh penyesalan, bagaimana pun juga dia telah menuduh manusia biasa ini memiliki kesaktian dan motif tersembunyi.
"Kamu mengatakan aku harus bertemu dengan gurumu, bukan? Lalu di mana gurumu?" Tanya Arjuna dengan ekspresi tidak sabaran.
Gumilar menghela nafas panjang, sebenarnya Gumilar sudah tidak perlu mempertemukan Arjuna dengan gurunya sebab Arjuna sudah terbukti sebagai manusia biasa.
"Lebih baik kamu pulang saja."
Sebelum Arjuna mengomel-ngomel karena baru sampai dan di suruh pulang, sebuah suara terdengar dari samping, "Gumilar, itu sangat tidak sopan tamu kita sudah jauh-jauh datang ke tempat ini, dan kamu suruh pulang begitu saja?" Seorang pria tua dengan aura mengesankan berjalan tenang menuju ke arah Arjuna, sembari memandangi Arjuna dari atas sampai bawah.
***
Crazy Up nih, masa ngga di kasih b5