NovelToon NovelToon
Perindu Senja

Perindu Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:53.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ata~Tenareten

Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.

Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Malam

Selang beberapa saat kemudian Mey telah membersikan darah yang tercecer di tangannya, dia merasa sedikit legah sebab aroma amis dari darah itu telah tiada. Dia kemudian mengikuti Indri dari belakang memasuki dapur.

Jarak dari dapur ke kamar mandi kurang lebih 1,5 meter, sebab kamar mandi meraka berada di luar rumah, yang tepatnya disamping kiri dapur itu.

Karena jaraknya tidak terlalu jauh, tentunya semua pembicara mereka bertiga yang ada di dalam dapur terdengar jelas oleh mereka berdua.

Melihat Ibunya dan Ibu Elena menatapi Indri penuh tanya, Mey mulai berlari ke arah Metallo tanpa menghiraukan mereka bertiga. Tanpa di sadari tangan kanannya bergerak sendiri, dan memegang lengan dari Metallo untuk memastikan luka yang ada pada Metallo.

Kejadian ini terjadi kedua kalinya yang menimpa dia sebelum tak menyadarkan diri. Utung saja yang dipegang olehnya ialah lengan kiri Metallo, jikalau tidak Metalli pasti akan merangkak kesakitan.

"Darah..." cetus Mey, memperhatikan siku Metallo yang terluka akibat benturan dengan beberapa batu mangga yang berada di taman.

Ibu Elena dan Ibu Esi seketika kaget. Mereka berdua memang memperhatikan Metallo sejak hadirnya di dapur itu, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, dilain sisi mereka berdua berpikir bahwa cerita dari Metallo hanya iming-iming yang ingin menipu-dayakan mereka berdua.

Ibu Esi bereaksi terlebih dahulu ketika mendengar ucapan dari Mey, dia langsung saja bangkit dari duduknya, dan mulai melangkah menuju ke arah Metallo dan duduk disamping kanannya.

Melihat tangan Metallo bersimbah darah yang telah mengering, Ibu Esi pun menghela nafas panjang, "Ada apa denganmu, Nak?"

Ibu Elena terdiam sesaat, memandanginya dengan raut wajah yang sangat datar, "Ceritakanlah, apa yang terjadi padamu?" kedua alis matanya terangkat, memandangi Metallo dengan mata yang sedikit melebar? "Kenapa engkau menutupi ini dari, Ibu?"

Metallo tersenyum canggung. Ia menghela nafas panjang sebelum mengangkat tangan kanannya, dan menunjukan luka itu kepada mereka berdua, "Ini... Ini hanyalah luka ringan, Bu. Aku bisa mengatasinya."

Ia kemudian menggerakkan tangannya, dan meyakinkan mereka bahwa ia tidak apa-apa, tetapi sayangnya luka itu menghasilkan perih yang luar biasa. Walaupun demikian, ia sama sekali tidak menjerit kesakitan, sebab ia tidak mau merepotkan mereka berdua terutama Ibunya, karena ia tahu bahwa Ibunya sangat panik, hanya saja dia bersikap biasa saja demi menutupinya dari Ibu Esi.

Beda dengan Indri yang berdiri melihat mereka penuh kebingungan, 'Bodoh... Wajahmu tak bisa menipu dayakan kami. Jelas itu sangat sakit, apalagi luka itu dibagian yang sangat sensitif,' dia kemudian mengahlikan pandangannya kepada Mey, dan mengeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Janganlah engkau anggap ini hanyalah luka ringan, jikalau tidak diobati sesegera mungkin maka akan berakibat fatal." Ibu Esi kemudian menyuruh Mey mengambil obat Merah, yang di letakkannya di samping kanan jendela kamar keluarga mereka, "Nak, tolong ambilkan obat Merah."

Mey hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seraya bergegas mengambil obat. Sedangkan Ibu Elena kini mulai menghampiri Metallo, "Tidak usalah, Esi. Besok pasti sudah kering luka ini."

Ibu Elena terlihat tidak begitu khawatir dengan anaknya. Dia justru mengkhawatirkan anak Ibu Esi, sebab fia tahu Mey memiliki phobia dengan darah.

"Dia tidak apa-apa, Esi," dia kemudian menghela nafas panjang, sebelum bergumam pelan kepada Ibu Esi, "Kamu tidak sadar... Anakmu itu phobia dengan darah, Esi."

Ibu Esi manganggukkan kepalanya pelan sebelum manggil Mey, namun ketika Ibu Esi mengarahkan pandangannya ke arah pintu dapur, dia merasa sedikit bingung karena Mey berdiri disitu.

Mey memandangi Ibunya dengan senyuman yang penuh makna, "Ibu tenang... Aku sama sekali tidak takut dengan darah, tetapi Aku tak mau mencium aromanya, Bu," dia menutup hidungnya dengan tangan kirinya, seraya melangkah menghampiri mereka, "Bu... Cepat olesi lukanya, jikalau tidak...." perkataannya terhenti, sebab dia tidak dapat mengontrol dirinya.

"Indri... Indri," Ibu Esi panik seketika melihat Mey yang hampir pingsan akibat mencium aroma amis darah.

Ibunya sangat panik ketika melihat anak semata wayangnya tak dapat mengontrol dirinya, tetapi dilain sisi Indri langsung menenangkan keadaan dengan membawa Mey menjauh dari mereka.

Sesampainya di depan teras dapur, mereka berdua berhenti sejenak. Tatapan Indri sangat tajam mengarah kepada dia, dan juga raut wajahnya nampak jelas kekecewaan yang tersembunyi, 'Dari tadi engkau selalu saja membuatku sibuk mengurusi dirimu.'

Mey tak tinggal diam oleh karena aroma amis darah tidak di rasakannya lagi, sehingga di melepaskannya kedua tangan Indri yang menyanggah di pinggangnya. Dia menundukkan kepalanya karena tak berani menatap Indri, yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, "Maafkanlah diriku, Indri. Sebab aku telah membuatmu kecewa dan juga kerepotan."

Indri kemudian memegang kedua pipinya, "Lihat aku," dia tersenyum begitu lebar kepada Mey dengan tatapan yang penuh makna, menatapi Mey yang begitu lugu di hadapannya hingga membuatnya meresa iba, "Hm... Aku ialah saidarimu, sudah seharusnya aku menjagamu."

Mey awalnya sangat cemberut tetapi ketika mendengar ucapan dari Indri, dia sangat senang, "Terima kasih Indri," pintanya, sembari memeluk Indri penuh dengan kehangatan.

Metallo yang berada di dalam dapur seketika terkesima melihat mereka berdua lewat jendela yang terbuka lebar. Ia mulai membayangkan bagaimana rasanya pelukan Mey yang begitu hangat, jikalau terjadi pada dirinya.

"Metallo..." Ibunya menyentil dahinya, "Hm..." dia kemudian menatap Ibu Esi. Ketika pandangan keduanya bertemu, mereka pun menggeleng-gelengkan kepala sesaat, sebelum mengalihkan kembali pandangan mereka kepada Mey dan Indri yang mulai menjauh dari mereka.

*****

Perginya mereka berdua tak tentu arah dan tujuan yang pasti. Langkah keduanya terhenti ketika melihat dari kejauhan nampak begitu terang lampu dari rumah yang tidak asing lagi di mata mereka.

"Bukankah ini..." ucapan Mey tersedak oleh ludahnya, ketika melihat tiga orang sejoli yang ada di tempat nongkrongan mereka, beda halnya dengan Indri, dia sendiri tak menghiraukan Mey sebab di sana ada seseorang yang membuatnya terpanggil untuk menghampiri mereka.

*****

Mereka tak lain adalah Faelo, Martin dan Festo. Ketiganya menunggu Metallo di situ hampir sejam. Tak ada yang mereka lakukan di situ, selain menyanyi tanpa diiringi musik.

Indri sendiri telah jatuh hati kepada Metallo dilain sisi dia juga tidak mungkin mengecewakan Faelo sebab Faelo adalah orang yang sangat perhatian kepadanya.

Beda halnya dengan Mey. Dia sendiri tak mencintai siapa pun, selain kedua orangtuanya. Tetapi hanya seseorang yang dapat membuatnya salah tingkah karena terlalu nyaman berada di dekatnya.

*****

"Indri..." Faelo terkejut dengan kedatangan Indri, begitu pula Festo dan Martin. "Hendak Kema...?" tanya Faelo terhenti, karena terlihat jelas raut wajah Indri yang mulai merasa tak nyaman.

Faelo berdiri sejenak, tatapannya terbalut tanya, namun dia menutupinya dengan senyuman hangat, "Indri, dari pada kamu berdiri terus... Lebih baik duduk di sini, sebab Metal dan Ibunya tak ada di rumah mereka."

Indri kemudian duduk bersama dengan mereka tanpa ada pertanyaan mengenai Metallo, sebab dia tahu bahwa Metallo dan Ibunya ada di rumah Ibu Esi. Deda halnya dengan Mey, dia tak menghiraukan ucapan mereka melainkan terus melangkah menuju ke teras rumah Metallo dan duduk di situ.

1
Reaz
semagat Thor.../Ok//Good/
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Abu Yub
luar biasa
Abu Yub
Aku kasih bintang masuk ngak dedek
Abu Yub
Aku mampir dedek/Rose//Rose/
Abu Yub
sedih
Abu Yub
dapat melihat
Abu Yub
Tumben
Abu Yub
indah namun aneh
Larina
Turut prihatin dengan keadaan listrik di wilayah Metallo, ternyata cukup payah
Larina
mereka sama-sama menarik nya
Larina
pH no,, dia salah sangka
KIA Qirana
Wah, kalian jadi lebih sakit kan, terjatuh, dan tertimpa 🤔🤔
Adinda
Kasihan Mey, jiwanya jadi murung
ALONE ⭕
Astaga, itu para ibu-ibu rombengan banget mulutnya
Zelyn ⭕
Hey Metallo sabarlah sedikit
Nina ♋
Apa aku seindah senja 🤔🤔🤔
Dhina ♑
Sungguh miris keadaan Mey.
Dikelilingi kebencian
Jazz ♋
Dia siapa
Jazz ♋
Pukulan kamu sungguh dahsyat Mey
Jazz ♋
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar........

Thor, itu maksudnya bagaimana ya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!