Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Amanda melanjutkan pekerjaannya sembari menggerutu, ekspresi wajahnya masih kesal, ia merasa masih belum bisa menerima dan percaya perbuatan yang telah dilakukan oleh Jolie terhadapnya, apalagi dangan alasan kebenciannya yang tidak masuk di akal.
"Jika aku selalu beruntung apakah ini juga menjadi salahku?" gerutunya. "Aku menyesal sudah menganggapnya teman baik."
"Dan ya, jika dia ingin menjualku, setidaknya jual aku pada laki-laki kaya dan tampan, seperti ...?" Amanda menggantungkan ucapannya saat kembali teringat pada pria yang pernah tidur dengannya, pria pertamanya. Wajah tampangnya masih terbayang di benaknya.
Tapi ... entah di mana pria tampan itu saat ini?
Rasa lelah hinggap di tubuhnya dan Amanda memilih berhenti sejenak untuk beristirahat, ia menarik napas untuk menetralkan rasa lelah, juga emosinya. Setelah itu melihat sekeliling, pekerjaannya sudah hampir selesai.
Memang lebih baik dirinya bekerja sendiri dari pada bersama Jolie yang hanya akan mengganggunya.
Amanda menyenderkan tubuhnya, ia merasa sedikit lelah. Namun tiba-tiba saja perutnya mulai tidak nyaman. Gelombang mual datang, memaksa Amanda untuk bergegas ke kamar mandi. Amanda membungkukkan tubuhnya di depan wastafel dan langsung memuntahkan semua isi perutnya.
Hoek Hoek!
Suara muntah berulang kali memenuhi ruangan yang cukup luas itu.
Sekitar lima belas menit Amanda berkutat dengan rasa mualnya. Setelah merasa lebih baik Amanda membasuh bibirnya dengan air lantas mengeringkannya dengan tisu. Setelah itu menarik napas dalam-dalam berusaha untuk mengembalikan kenyamanannya.
Sejenak Amanda berdiri sambil memandangi pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang terjadi, kenapa dirinya mendadak merasa mual. Namun, sebelum Amanda mendapkan jawaban, rasa pening datang, penglihatannya pun menjadi kabur. Amanda lantas memejamkan mata mencoba untuk mengembalikan kesadarannya.
Mungkin dirinya kelelahan lantaran bekerja sendiri.
Amanda berbalik, berdiri bersandar pada meja wastafel ia lantas memilih untuk beristirahat sejenak, tetapi rasanya semua tenaganya sudah tercabut dari tubuhnya membuat Amanda memilih untuk meminta bantuan pada rekan kerjanya yang yang lain.
Tidak lama rekan kerjanya bernama Hana datang, dia panik melihat Amanda terduduk di lantai dan terlihat lemas. "Amanda, kamu gak apa-apa?" tanyanya.
"Aku laper, Han," jawab Amanda pelan nyaris tidak terdengar.
Hana terbelalak, masih dalam keadaan khawatir, "Amanda, jangan bercanda!" serunya.
"Aku gak bercanda, Hana. Tadi aku muntah, terus sekarang tiba-tiba laper," ujar Amanda, mencoba menyakinkan temannya.
Hana menghela napas, masih diliputi rasa cemas. "Ya Tuhan, Amanda. Baiklah, ayo kita makan, tapi jangan pingsan dulu."
"Iya." Amanda mengangguk lemas.
Tanpa membuang waktu, Hana segera membantu Amanda berdiri dan membawanya ke ruang istirahat.
-
-
Amanda duduk di ruang istirahat sambil memakan makanan yang ia pesan melalui aplikasi, tidak tanggung-tanggung Amanda memesan dua porsi nasi padang dan semuanya telah habis. Saat ini Amanda sedang menikmati es buah, menyendoknya perlahan sembari merasakan kesejukan yang menyegarkan tenggorokannya juga mengabaikan pandangan orang-orang di dekatnya.
Keberuntungan memang selalu berpihak padanya Amanda, hingga malam hari pun dia bisa mendapatkan apa yang dirinya mau.
Beberapa rekan kerja Amanda menatap takjub, mereka nampak heran melihat porsi makan Amanda yang luar biasa. Bahkan ada yang merasa kenyang sebelum mereka makan.
"Manda, kamu sehatkan?" tanya salah satu rekan kerjanya, seorang laki-laki dengan nada penuh keheranan.
Amanda hanya mengangguk, tanpa mengatakan satu patah kata pun, karena mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.
"Gila, tubuh kecil tapi makannya banyak," imbuh yang lainnya, tetapi tidak dipedulikan oleh Amanda.
GLEK
Hana yang duduk di hadapan Amanda menggeleng juga menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Sebelumnya Amanda membuat dirinya khawatir dan sekarang membuatnya bertambah khawatir dengan cara Amanda makan.
"Aku sudah kenyang," ucap Amanda.
"Bagaimana gak kenyang, dua porsi nasi padang sama es buah kamu lahab semuanya," balas Hana disambut tawa cekikikan oleh Amanda.
"Kalian sendiri kenapa gak makan?" tanya Amanda.
"Kita sudah kenyang lihat kamu makan," balas Joni, salah satu rekan kerjanya.
Amanda kembali tertawa mendengar respon rekan kerjanya. Sampai dirinya melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam kerjanya sudah habis. Sudah saatnya untuk pulang.
"Aku balik dulu ya," pamit Amanda.
"Tunggu!" cegah Hana. "Kamu berani pulang sendiri?"
"Beranilah, kaya gak biasanya saja," balas Amanda. "Aku duluan ya."
"Hati-hati di jalan," pesan Hana, dibalas senyuman oleh Amanda sebelum melangkah pergi.
Amanda bergegas ke ruangan ganti, tetapi di tengah perjalanan ia melihat melihat sosok Romi. Setelah kejadian waktu itu, mereka tidak lagi bertemu, terdengar kabar jika Reno pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Sejujurnya Amanda berharap tidak bertemu lagi dengan pria itu, tetapi takdir berkata lain.
Jelas saja mereka akan selalu bertemu saat dirinya masih bekerja di tempat itu, lantaran hotel tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak bisnis keluarganya Reno.
Langkah Amanda otomatis melambat sebelum akhirnya berhenti, saat pandangannya bertemu dengan Reno, pria itu berdiri di dekat pintu ruangan ganti, seperti sengaja menunggunya. Sempat merasa ragu untuk melanjutkan langkahnya, tetapi dirinya sudah sangat lelah dan ingin segera pulang. Setelah menguatkan diri, Amanda melanjutkan langkahnya. Saat tiba di dekat Reno, Amanda menyapa pria itu secara profesional.
"Selamat malam, Pak Reno," sapa Amanda.
"Aku ingin bicara denganmu." Tanpa izin dari Amanda, Reno menarik Amanda masuk ke dalam ruangan ganti lantas mengunci pintu di belakang mereka.
Amanda terbelalak, dadanya naik turun menahan emosi. "Apa yang Bapak lakukan?" tanya Amanda.
"Stop memanggilku dengan sebutan itu," ucap Reno pelan, tapi penuh tekanan.
"Lalu Anda mau saya memanggil Anda dengan sebutan apa?" tanya Amanda, "Sayang begitu?" ujar Amanda sarkas.
"Amanda ...."
"Kita sudah putus, Pak Reno."
"Aku tidak mau kita putus," ujar Reno. "Ayo kita kembali bersama!"
Amanda tersenyum sinis, "Kembali pada Anda sama saja saya mengulangi sebuah kesalahan."
Reno yang tidak terima dengan penolakan Amanda langsung mencengkram kedua pundak Amanda dengan kuat, membuat Amanda meringis. "Kamu hanya wanita dari kalangan rendah, berani sekali kamu menolakku."
PLAK
Amanda yang merasa kesal langsung mendaratkan tamparan di pipi Reno, matanya memanas menahan tangis atas penghinaan yang Reno berikan.
"Aku memang wanita miskin, lalu kenapa kamu masih mengejarku. Masih penasaran dengan tubuhku? Seperti apa rasanya?" tanya Amanda sarkas. "Sayang sekali sudah ada pria lain yang lebih dulu mendapatkan tubuhku."
Reno yang kalap mencengkram leher Amanda membuatnya kesulitan untuk bernapas. "Siapa pria itu?"
Dengan sisa tenaganya Amanda mendorong dada Reno, membuat pria itu mundur beberapa langkah, bahkan punggungnya menabrak lemari besi.
Amanda tidak mempedulikan hal itu, rasa sakit hatinya membuat tidak ada rasa belas kasih terhadap pria itu sirna.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya, siapapun pria itu, itu bukan urusanmu," ucap Amanda dengan ekspresi kesal.
Reno masih tidak terima dengan penolakan Amanda, lantas menatap wanita itu dengan tatapan hina. "Lihat saja, akan kubuat kamu mengemis dan mau membuka kakimu lebar-lebar untukku dengan suka rela!" ucap Reno.
"Jangan bermimpi!" Setelah mengatakan kalimat itu Amanda pergi meninggalkan ruangan ganti sembari memaki Reno. "Dasar laki-laki gila!"
Amanda membuka pintu ruangan ganti dan dikejutkan dengan keberadaan Jolie di hadapannya. Sesaat mereka saling memandang, hingga suara Reno mengalihkan perhatian Jolie. Amanda pun langsung pergi tanpa berniat untuk mengatakan apa pun pada wanita yang Amanda juluki siluman rubah itu.
****
Amanda sudah keluar dari hotel, dia sudah dalam perjalanan pulang dengan ojek online yang dirinya pesan sebelumnya. Rasa kesal pun masih menyelimuti dirinya, menganggap hari itu adalah hari tersial dalam hidupnya. Dijebak oleh temannya sendiri, hampir dilecehkan oleh pria tua yang jelek, dan kembali bertemu dengan Reno.
"Apalagi yang akan terjadi besok padaku?" batin Amanda.
"Mba, kita sudah sampai." Perkataan pengendara ojek online membuat lamunan Amanda buyar.
Karena melamun dan meratapi kesialannya sepanjang hari, membuat Amanda tidak sadar jika telah sampai di gerbang kosnya.
"Oh iya, Pak. Terima kasih." Amanda lantas turun dari motor.
Masih dengan langkah berat Amanda berjalan masuk ke tempat kosnya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat ada motor sport berwarna hitam berhenti di depannya.
"Anj—"
"Watch your mouth!"
Amanda terbelalak saat mendengar suara tegas seorang pria, lebih terkejut lagi ketika Amanda melihat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu!"
Amanda kehilangan semua kata-katanya melihat pria yang ada di hadapannya saat ini adalah pria yang pernah menghabiskan malam dengannya.
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣