NovelToon NovelToon
My Bodyguard My Love

My Bodyguard My Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Fantasi Wanita / Kehidupan di Kantor / Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Una Rofia

Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.

Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.

Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.

Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.

Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Setelah diusir dari kediaman utama Alvarendra, Renata dan Elena langsung saja menuju salah satu rumah yang memang mereka beli tanpa sepengetahuan Tuan Winata selama ini. Namun saat sampai disana lagi-lagi mereka diusir bahkan pintu gerbang juga dikunci dengan penjagaan ketat. Begitu juga dengan rumah-rumah yang lain semua dijaga dengan ketat bahkan mereka langsung diusir begitu saja.

" Apa-apaan ini, kenapa kita tidak bisa masuk kerumah kita sendiri " kata Renata.

" Ma, beberapa rumah yang kita beli juga apartemen tidak ada yang mengetahuinya kecuali kita berdua. Bagaimana bisa mereka mengusir kita dari bangunan milik kita sendiri ini tidak benar ma " ucap Elena.

" Anak itu pasti pelakunya, dia pasti yang menyuruh orang-orang itu untuk mengusir kita " ujar Renata.

" Apa yang harus kita lakukan sekarang ma, kita mau kemana sekarang? '' tanya Elena.

'' Kita sewa hotel dulu, setelah itu kita ambil uang cash untuk kebutuhan kita " kata Renata.

Sabrina masih dengan kesibukannya mempelajari berkas-berkas yang tadi Hendra berikan kepadanya.

Tak

Seseorang menaruh segelas kopi dihadapan Sabrina.

" Nona, anda sudah bekerja keras sejak tadi. Tapi jangan lupakan untuk istirahat anda tidak bisa membiarkan tubuh anda terlalu lelah '' ucap Vano.

" Aku tidak bisa minum kopi '' tutur Sabrina.

" Maaf saya tidak tahu kalau anda tidak bisa minum kopi " timpal Vano.

" Tidak masalah, minum saja sayang kalau dibuang " kata Sabrina.

" Nona, sesuai dugaan anda mereka datang ke rumah-rumah mereka. Dan orang-orang yang kita tempatkan disana sudah menjalankan tugasnya " lapor Vano.

" Baguslah, suruh mereka berjaga selama beberapa hari kedepan. Mungkin setelah ini aku akan menjual sebagian rumah-rumah yang mereka beli '' Kata Sabrina.

" Baik nona '' balas Vano.

" Lebih baik kita pulang sekarang '' ucap Sabrina setelah melihat jam yang dia pakai.

Sabrina lalu membereskan beberapa berkas yang belum selesai dia baca. Dia lalu membereskan dan memasukkannya kedalam tas kerja miliknya.

" Biar saya yang membawanya " tawar Vano.

" Tidak usah, kau bukan sekretarisku jadi bekerjalah sesuai pekerjaan yang telah diberikan untukmu '' tolak Sabrina.

" Saya tidak keberatan, apapun yang bersangkutan dengan anda saya wajib membantu anda walaupun itu bukan pekerjaan saya " ujar Vano yang tak keberatan sama sekali.

Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu, Vano terus memaksa membawakan tas kerja milik Sabrina walaupun Sabrina sudah beberapa kali menolak tapi akhirnya dia menyerah dengan memberikan tas itu pada Vano.

" Paman aku pulang sekarang " ucap Sabrina yang melewati tempat kerja Hendra.

" Baiklah, kau sudah bekerja keras hari ini " balas Hendra.

Seperti yang kita tahu, Hendra lebih dekat dengan Sabrina karena sejak dia diusir oleh Tuan Winata dialah yang selalu membantu Sabrina. Bahkan saat Devira meninggal dia satu-satunya orang yang selalu disisi Sabrina untuk menemaninya. Dan saat itu dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh Tuan Winata.

" Kapan kau tumbuh menjadi sebesar ini, rasanya baru kemarin paman ikut bahagia atas kelahiranmu namun sekarang kau telah tumbuh menjadi gadis yang sangat tangguh " lirih Hendra setelah melihat punggung Sabrina yang mulai menjauh.

" Andai kamu adalah putriku, aku akan sangat merasa senang memiliki putri sepertinya " sambungnya.

" Tuan, semoga saja aku bisa memenuhi permintaan anda. Aku akan melakukan sebaik mungkin untuk membuatnya selalu merasa aman walaupun aku tidak bisa menggantikan tugas anda tapi aku berjanji akan melindunginya sebaik mungkin " batin Hendra.

Sejujurnya saat Winata mengusir Devira dan menceraikannya Hendra sama sekali tidak menyetujui keputusan itu. Bahkan untuk pertama kalinya dia berani melawan perkataan tuannya itu, walau telah dilarang memberikan bantuan sekecil apapun untuk Devira juga Sabrina tapi secara diam-diam dia selalu menemui mereka dan memastikan tak ada yang mengetahuinya.

" Bagaimana mungkin, kartu itu ada isinya bahkan sangat banyak anda pasti telah melakukan kesalahan " kata Renata.

" Maaf nyonya, kartu ini tidak bisa digunakan " kata pegawai hotel itu.

" Kalau begitu gunakan yang ini " Renata mengeluarkan seluruh kartu yang dia punya bahkan beberapa adalah kartu tanpa limit.

" Tidak bisa nyonya " jawab pegawai itu setelah mencoba menggeseknya. Begitu pula dengan kartu-kartu yang lain sama sekali tak ada yang bisa digunakan.

" Coba pakai punyaku " Elena lalu mengeluarkan kartu miliknya.

" Tidak bisa " jawab pegawai itu.

" Alat itu pasti rusak, bagaimana mungkin kartu sebanyak ini tidak bisa digunakan " Renta mulai menyalahkan.

" Maaf nyonya, jika anda tidak percaya kita bisa mengetesnya menggunakan kartu pengunjung yang lain " kata pegawai itu.

Pegawai itu langsung memproses pembayaran pengunjung yang mengantri di belakang mereka.

" Lihatlah nyonya alat ini masih berfungsi dengan baik " kata pegawai itu.

" Ma, ikut aku " kata Elena sambil menarik tangan Renata pelan.

" Hubungi pihak bank dan tanyakan apa penyebabnya, tidak mungkin semua kartu-kartu itu tidak bisa digunakan " ucapan Elena setelah sedikit menjauh dari pegawai itu.

" Besok mama akan langsung ke bank, sekarang bagaimana kita bahkan tidak memiliki uang sepeser pun " bingung Renata.

" Ini pasti perbuatan Sabrina, hanya anak itu yang bisa melakukan ini " sambung Renata.

" Aku pasti akan membalasnya, dia sudah merebut semua yang seharusnya menjadi milikku " balas Elena.

" Aku akan meminta bantuan teman-temanku, mereka pasti akan membantu kita. Besok kita pergi ke bank dan tanyakan mengenai masalah kartu itu " lanjutnya.

Sampai di kediamannya Sabrina telah ditunggu oleh Zayn dan juga Kirana. Mereka memang sengaja menunggu kepulangan Sabrina untuk membicarakan suatu hal.

" Katakan ada apa? " tanya Sabrina.

" Untuk acara pembukaan beberapa butik besok apa anda akan hadir? " tanya Zayn.

" Aku akan hadir " jawab Sabrina.

" Lalu bagaimana dengan Alvarendra? " tanya Zayn lagi.

" Ada paman Hendra disana, lagipula Amortage jauh lebih penting untukku " jawab Sabrina.

" Nona makan malam anda sudah siap " maid datang dan menghentikan obrolan mereka.

" hmmm " balas Sabrina.

" kalian makan malam saja dulu, aku akan segera kembali " ucap Sabrina lalu pergi darisana.

Di kamar Sabrina membuka sebuah kotak pemberian Hendra yang ia bawakan langsung ke mansionnya.

Tanpa menunggu lagi Sabrina langsung membukanya dan ternyata isi kotak itu adalah handphone dan juga laptop serta beberapa flashdisk yang ia yakini itu adalah milik Winata.

Tak berniat memeriksanya lebih lanjut Sabrina lalu menutup kembali kotak itu dan meletakkannya di bagian paling bawah lemari nya.

" Bagaimana apa sesuatu yang orang lain rencanakan untuk nona Sabrina? " tanya Zayn.

" Tidak ada apapun " jawab Vano singkat.

" Bagaimana dengan sabotase lampu gantung bulan lalu? Nona Sabrina bilang kalau itu hanya kecelakaan tapi aku tidak yakin " kata Kinara.

" Bahkan nona lebih dulu mengetahui siapa pelakunya " balas Vano.

" Kenapa kita tidak tahu hal itu '' ucap Kinara.

" Ada hal yang tak selamanya nona beritahu pada kalian " kata Vano.

Beberapa saat kemudian Sabrina datang dan langsung duduk bergabung dengan mereka. Ketiga orang itu sama sekali belum menyentuh makanan itu karena mereka menunggu Sabrina datang.

" Makanlah " kata Sabrina.

Mereka akhirnya makan dengan tenang, dan setelahnya mereka langsung pulang. Mulai hari sekarang semua bawahan Vano yang dia dulu tugaskan untuk menjaga rumah Sabrina sudah bertugas secara terang-terangan.

1
Hind's S
wooo nggatheli enggak tayang2....
Ina Yulfiana
karyanya bagus awal baca langsung marathon buat baca para tokohnya uga gk menya menye tegas wibawa dan bersikap dewasa jd makin semngt bcanya dan bikin candu ...11
Ina Yulfiana
gmn reaksi Sabrina lo kedua orang tuanya masih hidup dan ternyata selm ni hanya sandiwara betapa kecewanya cih pasti ...

next semngt sukses selalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!