NovelToon NovelToon
Ich Liebe Dich

Ich Liebe Dich

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:77.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Rani Giza

Kevin adalah pengembara yang tersesat di padang pasir. Sementara itu Sofi adalah gerimis yang turun dengan anggun ke bumi. Kevin tak pernah membayangkan akan dipertemukan dengan gadis itu. Dia juga tak pernah membayangkan akan jatuh cinta setengah gila pada si pemilik senyum indah tersebut. Tetapi takdir berkata lain. Persingunggan-persinggungan yang tak sengaja terjadi membuat dia terjerat semakin dalam akan keteduhan Sofi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Giza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Kevin datang ke rumah Sofi dengan menaiki kendaraan umum. Sepulang sekolah dia langsung membawa mobilnya ke bengkel langganannya. Jadi, kemungkinan besok dia juga akan berangkat ke sekolah naik bus atau angkot.

Kevin tiba di rumah Sofi setelah menempuh perjalanan selama kurang-lebih tiga puluh menit. Di depan rumah yang ukurannya jauh lebih kecil dari rumahnya itu dia sempat termenung sejenak. Dia baru sadar kalau rumah Sofi begitu sederhana. Beberapa hari lalu—ketika mengantarkan Sofi dari rumah tetangganya untuk mengantar kue—dia langsung menjalankan mobilnya setelah Sofi turun. Jadi, dia tak sempat memperhatikan.

Rumah sederhana itu tampak asri dihiasi beberapa pot yang tergantung berjajar di teras. Pot itu berisi bunga lavendel yang segera Kevin yakini sebagai bunga kesukaan Sofi atau mungkin ibunya. Halaman rumahnya sempit dan ditumbuhi beberapa rumput kecil yang letaknya tak beraturan. Pemandangan itu sangat berbeda dengan pemandangan halaman rumah Kevin yang luas dan dipenuhi oleh bunga beraneka macam yang tertata rapi karena selalu dirawat oleh asisten rumah tangga keluarganya. Dalam hati Kevin memaki dirinya sendiri. Selama ini dia sering mengeluh dengan keadaan yang dimilikinya. Dia selalu merasa hidupnya kurang sempurna. Terkadang seseorang memang perlu melihat ke bawah dulu untuk melihat keterbatasan orang lain sebelum akhirnya bisa mensyukuri kelebihan yang dimiliki.

Gerimis lembut dan kecil turun ketika Kevin berjalan melewati halaman rumah Sofi untuk mendekati pintu. Untuk mengecek keberadaan orang di dalam, dia ketuk pintu rumah itu pelan, beberapa kali. Hampir selama lima menitdia mengetuk pintu. Selama itu juga tak terdengar suara sahutan dari dalam.

Gerimis yang turun dari langit semakin lama semakin rapat frekuensinya. Meski masih dengan tetesan kecil dan lembut, tapi itu tetap saja mampu membuat sebagian kecil baju Kevin basah. Tak ingin tubuhnya lebih basah lagi karena lama menunggu, dia memutuskan untuk menelepon Sofi. Dia menunggu agak lama sebelum akhirnya nada sambung di seberang berganti dengan suara Sofi.

“Halo ... ini siapa, ya?”

Dari pertanyaan Sofi itu Kevin yakin bahwa pesan darinya memang belum sempat terbaca. “Ini Kevin, Sof! Tadi gue sudah SMS lo, tapi nggak lo bales,” sahutnya.

Hening beberapa detik. Sofi tak langsung menyahuti Kevin. Mungkin gadis itu tengah memeriksa pesan yang Kevin maksud. “Maaf, Kak, saya nggak sempet baca. Tadi habis keliling jualan kue saya langsung ketiduran. Sekarang Kak Kevin lagi di mana?”

“Depan rumah lo.”

“Ya ampun, Kak. Kak Kevin tunggu bentar, ya! Saya ganti baju bentar aja. Habis itu saya ke depan buat bukain pintu.” Kevin mendengar kalimat bernada panik itu dari seberang sebelum akhirnya sambungan terputus.

Kurang-lebih lima menit kemudian pintu rumah Sofi terbuka dan gadis itu muncul di baliknya. Kevin tersenyum samar ketika melihat penampilan Sofi. Perpaduan kaos putih dan rok selempang berwarna peach yang menempel di tubuhnya membuat penampilan gadis itu tampak kasual dan feminim. Rambutnya dikucir kuda. Wajah innocent-nya yang dihiasi poni miring tampak teduh meski tanpa polesan make-up.

“Astaga, Kak Kevin basah! Mobil Kak Kevin mana? Ke sini naik apa tadi?” tanya Sofi panik. Bagaimanapun Kevin jadi basah oleh gerimis seperti itu karena menunggu dia.

“Lagi di bengkel. Terus tadi gue naik angkot.” Kevin tersenyum dalam melihat wajah panik Sofi. “Ke rumah gue sekarang, yuk.”

Sofi mengangguk. Setelah menutup pintu rumahnya dia lantas mengikuti langkah Kevin.

Di dalam angkot Sofi sempat mencuri-curi pandang pada Kevin beberapa kali. Di wajah cowok itu ada beberapa luka lebam yang dia yakini merupakan akibat perkelahian. Sebenarnya dia penasaran, ingin bertanya dan memastikan. Namun, karena takut disangka kepo, Sofi memilih diam saja dan memfokuskan pandangannya pada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan.

Setibanya di rumah Kevin, Sofi tampak agak terkejut. Dia takjub akan pemandangan megah rumah dua lantai yang berdiri di hadapannya. Halaman rumah Kevin begitu luas dihiasi oleh berbagai macam tanaman hias dalam pot yang tertata asri. Di samping rumah itu ada garasi. Sedangkan di teras rumah ada dua buah kursi dengan satu meja berada di tengah. Di bagian atas teras rumah itu ada balkon.

“Keluarga Kak Kevin pada ke mana, kok sepi gini?” tanya Sofi ketika mereka telah berada di ruang tamu.

“Mama lagi di rumah sakit, nungguin adek. Kalo Bi Tini kayaknya udah pulang dari rumah sakit. Bentar, ya, gue cek ke dapur, sekalian supaya bikinin lo minum.”

Beberapa detik usai Kevin melangkah ke bagian dalam rumah, Sofi terlarut dalam ketakjuban yang lebih besar daripada ketika dia berada di luar rumah tadi. Baginya tempat yang dia datangi sekarang ini bukanlah sekedar rumah. Tempat ini seperti istana. Sofi tak bisa membayangkan kalau dia bisa tinggal dalam rumah sebesar ini. Ruang tamu tempat dia duduk saat ini begitu luas, dua kali luas ruang tamu rumahnya. Satu set sofa berwarna merah marun menghiasi ruang tamu itu. Di tengah sofa ada meja pendek beralaskan karpet berwarna senada dengan warna sofa. Di tembok, tepatnya di atas salah satu sofa, terpanjang lukisan seekor burung elang sedang menyambar ikan di sungai. Dan pada pojok ruang tamu—di dekat celah menuju ruang bagian dalam—ada sebuah pohon imitasi dengan daun segi lima berwarna oranye.

“Ditunggu, ya, Bi!” Suara Kevin itu terdengar dari bagian tengah rumah disusul dengan suara sahutan, “Iya, Mas Kevin,” yang terdengar agak samar di telinga Sofi.

Suara-suara itu membuyarkan Sofi dari kekagumannya terhadap ruang tamu. Sekarang rasa takjubnya teralih pada hal lain. Pada sosok Kevin yang sedang berjalan ke arahnya sambil bertelanjang dada dengan menenteng tas ransel. Di pundaknya tergantung sebuah kaos berwarna hitam.

Sofi tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Namun, yang pasti suhu tubuhnya naik dan mendadak dia kegerahan ketika matanya tertuju pada dada bidang dan perut rata Kevin. Terlebih saat tatapan matanya jatuh pada tato kepala burung elang yang terlukis pada perut Kevin, tepatnya di samping pusar. Tato yang letaknya tepat berada di atas celana yang selalu terpasang agak melorot itu terlihat artistik berpadu dengan kulit cerah Kevin. Saat itu Sofi merasa waktu seperti terhenti dalam beberapa detik.

“Cewek bisa nafsu juga, ya, kalo lagi liatin cowok?” Kevin sudah berdiri tepat di hadapan Sofi ketika kalimat itu keluar dari mulutnya.

Sofi gelagapan karena kepergok seperti itu. Seketika jantungnya bergemuruh. Wajahnya jadi memerah seperti kepiting rebus. “Nggg ... nggak. Saya ... saya takjub aja lihat tatonya. Bagus banget,” Sahut Sofi tergagap.

“Ha ... ha ... becanda kali, Sof! Jadi tegang banget gitu mukanya,” kata Kevin sambil memakai kaosnya.

Sofi bisa mencium dengan jelas aroma vanila yang menguar dari tubuh Kevin. Mereka memang berdiri berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja yang lebarnya kurang-lebih satu meter. Aroma vanila dari tubuh Kevin itu tercium lebih tajam daripada tadi ketika mereka duduk berdampingan di dalam angkot, membuat Sofi yakin kalau cowok itu telah menambahkan parfum lagi ke tubuhnya.

“Ngomong-ngomong Kak Kevin dapet nomor hape saya dari mana, ya?” tanya Sofi setelah Kevin duduk di hadapannya.

“Pas bantu ngambil buku lo, gue nemu kartu nama lo jatuh. Terus gue ambil, deh! Maaf, ya,” jawab Kevin sambil tersenyum manis.

Senyum Kevin itu terlihat tulus. Namun, Sofi harus tetap waspada. Dia tak boleh terlena. Bukannya apa-apa, Kevin terkenal punya banyak penggemar di sekolah. Bukan tidak mungkin kalau cowok itu memang sengaja bertingkah manis ke semua gadis yang mendekatinya. Jadi, menjaga perasaan adalah jalan teraman agar Sofi tak terhanyut lebih jauh oleh pesona Kevin.

Sofi ikut duduk. “Oh, terus Kak Kevin mau dibantu apaan jadinya?” tanyanya.

“Gini nih ceritanya, tadi di sekolah gue nggak ikut pelajaran Bahasa Inggis. Terus dikasih tugas gitu deh, bikin narative text. Dan gue nggak tahu itu yang kaya gimana. Soalnya tiap kali ada pelajaran itu gue ngerasa kayak lagi ada di planet lain,” jelas Kevin sambil mengeluarkan buku tugasnya dari dalam tas.

“Masak, sih, Kak? Padahal Bahasa Inggris itu mudah loh pemahamannya. Apa lagi buat orang Indonesia. Abjadnya kan nggak beda, cuma pengucapannya aja.”

Kevin tersenyum singkat menanggapi Sofi. Mungkin gadis itu berpikir kalau dia benar-benar payah dalam pelajaran tersebut. Padahal sebenarnya kemampuan Bahasa Inggrisnya tak seburuk itu. Dia hanya malas belajar. Malas memperkaya kosa kata.

Sebenarnya Kevin bukan tipe murid dengan IQ jeblok. Dia selalu mendapat peringkat lima besar dulu waktu duduk di bangku SD. Saat segalanya masih normal. Saat ayahnya masih sering di rumah dan setia memberikan pujian baginya setiap angka-angka indah muncul di lermbaran laporan hasil belajarnya. Keseriusan Kevin dalam mengikuti pelajaran di sekolah mulai berkurang saat dia berada di kelas sembilan. Saat segala keributan yang sering terjadi antara Radit dan Mona dimulai. Dia tak pernah serius mendengarkan para guru yang menerangkan di kelas. Kalau hanya untuk pekerjaan rumah atau ulangan, dia bisa mendapatkan nilai lumayan dengan mengancam bintang kelas untuk memberitahukan jawaban. Kevin selalu berpikir kalau segala yang dia lakukan saat ini sudah tak penting lagi. Untuk apa dia serius belajar? Mau menjadi apa? Toh keluarganya sudah hancur. Radit dan Mona seperti sudah tak mungkin disatukan lagi. Bahkan semakin hari tanda-tanda perpisahan antara keduanya semakin nyata terlihat. Lalu siapa yang akan peduli kalau dia menjadi seseorang yang baik atau bukan? Menjadi seorang murid yang berprestasi atau bukan? Semua orang di rumahnya seperti terpecah belah dengan ego masing-masing. Tak ada lagi yang peduli padanya.

“Boleh saya lihat buku materi pendampingnya, Kak?”

Kevin menyerahkan buku yang Sofi maksud.

Hanya butuh waktu beberapa menit bagi gadis itu untuk memelajari bukunya. Dengan telaten dia lantas menjelaskan semua pada Kevin. “Narrative text itu teks atau cerita rekaan yang mengikuti alur. Kalo contohnya biasanya kaya cerita rakyat dan dongeng gitu, Kak. Misal cerita Malin Kundang dan Danau Toba. Atau kalo Kak Kevin mau ngarang cerita dongeng sendiri juga bisa,” katanya.

“Kalo gue ngarang cerita sendiri terus lo yang terjemahin ke Bahasa Inggris gimana?”

“Boleh-boleh.”

Suasana jadi hening ketika Kevin mulai menulis karangannya. Cowok itu tenggelam dalam keseriusannya menggoreskan pena di atas kertas, sementara Sofi memperhatikan dalam diam. Tidak berapa lama, muncul seorang wanita berdaster dengan postur tubuh agak gemuk datang menghampiri mereka berdua. Dia membawa dua gelas minuman. Wanita itu adalah asisten rumah tangga Kevin. Wanita yang tadi menyahuti suara Kevin.

“Neng, pacarnya Mas Kevin, ya?” tanya wanita bercepol itu sambil tersenyum ramah ketika meletakkan gelas di atas meja.

“Bukan, Bi, saya temannya,” jawab Sofi sambil tersenyum.

“Iya juga nggak apa-apa atuh, Neng, kalian teh cocok, kasep sama geulis! Kasian Mas Kevinnya biar ada yang nemenin. Biar nggak suntuk-suntuk terus. Non Alice lagi sakit, Tuan jarang pulang. Nyonya juga jarang ada di rumah, lebih sering nemenin Non Alice di rumah sakit,” cerocos wanita itu dengan logat sunda yang sangat kental. Ceritanya mengalir seolah Kevin tak sedang ada bersama mereka.

Sofi tersenyum sekilas sebelum akhirnya menjawab, “Masak, sih, Bi? Menurut saya, saya lebih kayak asisten yang jalan sama artis kalo jadi pacar Kak Kevin.”

Bi Tini ikut tersenyum mendengar jawaban Sofi yang terkesan merendah itu. “Ih, si eneng mah kalo dibilangin suka nggak percayaan. Beneran cocok kamu jadi pacarnya Mas Kevin. kalo belum, yaudah jadian aja atuh sekarang juga. Lagian kasihan Mas Kevin, Belakangan ini dia suka galau. Kalau pulang ke rumah mukanya sering bonyok-bonyok. Nyonya sering marah-marahin dia kalo pulang bonyok begitu. Bi Tini teh suka nggak tega sama dia, Neng,” katanya sambil menarik nampan plastik yang tadi dia pakai untuk membawa gelas dari atas meja. Wanita itu tidak sadar kalau dari tadi orang yang dia bicarakan memerhatikannya.

Sofi baru akan membuka mulutnya untuk membalas ucapan Bi Tini ketika wanita itu menoleh karena bahunya ditepuk Kevin. “Iya, Mas Kevin, ada yang bisa saya bantu lagi?” tanyanya.

“Sekarang lagi tren ngomongin orang di depan orangnya langsung, ya, Bi?”

“Eh, maaf atuh, Mas. Keceplosan,” kilahnya, “ya sudah atuh Bi Tini kembali lagi ke dalam.” Wanita itu kemudian berjalan menuju bagian dalam rumah dengan tergesa.

Ketika sosok Bi Tini benar-benar telah menghilang, Sofi melepaskan tawanya yang tadinya sempat dia tahan. “Lucu banget sih, Kak,” katanya setelah tawanya reda.

“Dia emang suka nggak bisa ngerem ngobrol kalo ketemu orang. Kalo Dion sama Ferro ke rumah juga diajakin ngobrol melulu sama dia.”

Bi Tini itu tetangga Kevin. Suaminya meninggal sekitar sembilan tahun lalu karena penyakit jantung. Dia punya seorang anak laki-laki yang saat ini bekerja sebagai admin di sebuah bank swasta. Dia sendiri yang meminta untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah Kevin lantaran penghasilan suaminya sebagai ojek pangkalan waktu itu tak cukup untuk membiayai sekolah anak sematawayangnya.

Sudah lama Mona meminta wanita itu untuk berhenti bekerja padanya. Terhitung sejak Radit sudah tak pernah lagi menafkahi keluarga. Namun, wanita itu tetap memaksa untuk membantu urusan keluarga Kevin. Katanya dia prihatin dengan kondisi keluarga Kevin, jadi dia tak ingin begitu saja pergi. Niatnya tulus ingin membantu. Kalau hanya untuk makan dia masih dapat dari anaknya. Lagi pula dia sudah terlanjur nyaman katanya. Maklum, wanita itu sudah bekerja sejak Kevin masih bayi. Karena sudah tak mungkin lagi memberi imbalan uang, Mona biasanya memberi Bi Tini imbalan berupa tas atau dompet hasil rajutannya sendiri.

Kevin menyerahkan tulisannya pada Sofi ketika dia telah selesai mengarang. Sofi membacanya. “Bidadari Penyelamat dan Pengembara yang Tersesat”. Itu yang menjadi judul karangan Kevin. Bercerita tentang seorang pangeran yang kabur dari istana karena kondisi kerajaan yang hancur berantakan akibat perang saudara dan perebutan kekuasaan pasca ditinggal sang raja. Dalam perjalanannya pangeran itu diserang binatang buas. Dia tesesat dan kehabisan bekal. Sampai akhirnya dia bertemu seorang bidadari cantik yang menolongnya. Bidadari itu mengobati luka-lukanya serta memberinya banyak makanan dan minuman.

“Ceritanya bagus, Kak,” kata Sofi setelah gadis itu selesai menerjemahkan karangan Kevin ke dalam Bahasa Inggris.

Kevin tersenyum saja mendengar pujian Sofi itu. Kelak gadis di depannya itu akan tahu kalau cerita yang ditulisnya tersebut berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.

“Gue salin ntar aja, deh. Sekarang kita ke rumah sakit. Gue mau kenalin lo ke Mama, sekalian mau lihat Alice. Abis itu gue cepet-cepet anter lo pulang biar nggak kemaleman,” kata Kevin sambil merapikan semua buku yang berada di atas meja lalu dimasukkannya semua buku itu ke dalam tas.

Ketika Kevin masuk, Sofi menunggu dengan kebingungan yang menggantung di kepala. Selama ini dia tak pernah dikenalkan dengan orangtua teman laki-lakinya secara pribadi. Biasanya dia mengenal orangtua teman-temannya secara spontan, karena sering bermain ke rumah mereka. Itu pun hampir semuanya perempuan karena kebanyakan teman yang dia datangi rumahnya memang teman perempuan. Kalaupun ada teman laki-laki, pasti tak seorang diri dia datang. Dia selalu datang berama-ramai dengan beberapa temannya yang lain, itu pun pada saat belajar kelompok.

Kevin keluar lagi sepuluh menit kemudian. Celana selututnya kini telah berganti dengan jins panjang. “Ayo,” katanya sambil mengulurkan tangannya pada Sofi yang masih duduk di sofa. Sofi hanya memandangi tangan Kevin tanpa bermaksud meraihnya. “Maaf,” kata Kevin lagi. Cowok itu lantas melangkah lebih dulu ke luar rumah.

Sebelum mengikuti Kevin, Sofi melangkah menuju bagian dalam rumah. Dia berhenti pada celah lebar yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Sambil menolehkan kepala ke kanan lalu ke kiri dia berkata, “Bik ... Bik Tini!” pelan, tapi tak ada sahutan dari dalam. Dia berharap bisa menemui Bik Tini untuk berpamitan. Ditunggu beberapa detik, wanita itu tak kunjung tampak batang hidungnya. Tak ingin Kevin menunggu, dia lantas membalikkan badan lalu berjalan mendekati pintu.

Ketika Sofi keluar dari rumah Kevin, dia mendapati cowok itu sedang berdiri di depan seorang pria. Pria itu mengenakan kemeja, dasi, dan celana rapi seperti orang kantoran. Di belakangnya terparkir sebuah mobil jenis sedan.

“Ngapain Papa ke sini?” tanya Kevin jutek pada pria di depannya itu. Ekspresi tidak suka tampak jelas di wajah cowok itu.

“Dasar anak tidak tahu sopan santun! Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu sama orangtua, hah! Mama kamu, iya?!” pria di depan Kevin membalas dengan nada tinggi.

“Bukan Mama yang ngajarin, tapi Papa sendiri yang ngajarin!” bantah Kevin lugas dan tegas.

Balasan selanjutnya dari pria itu bukan kata-kata lagi, melainkan sebuah tamparan keras di pipi Kevin.

Sofi membelalakkan mata melihat pemandangan itu. Selama ini dia tak pernah melihat seorang ayah memukul anaknya secara langsung di depannya seperti sekarang. Kedua orang tuanya pun kalau marah hanya mengoceh dengan nasihat panjang lebar. Bukan melakukan kekerasan fisik.

“Dasar kamu anak tidak tahu diuntung! Tidak tahu terima kasih sama orangtua!” bentak Radit.

“Kevin akan hormat dan patuh sama Papa kalau Papa pantes dihormati! Papa jarang pulang ke rumah dan nggak pernah lagi kasih nafkah buat Mama. Menurut Papa, Papa pantes gitu disebut sebagai ayah yang baik? Nggak, Pa!” desis Kevin. Napasnya bergemuruh oleh amarah yang meluap. Jeda yang ada diantara mereka membuat suasana terasa begitu hening. Sang ayah menatap anaknya tajam, sementara sang anak juga tak mau kalah. Dengan segala keberanian yang dipunyai, Kevin melepaskan semua rasa kesalnya selama ini. “Papa itu ada tapi kayak nggak ada. Hidup, tapi seperti mati. Nggak ada gunanya sama sekali dalam hidup Kevin!”

Mendengar itu Radit semakin terbakar amarah. Dia tampar lagi wajah Kevin hingga tubuh cowok itu mundur beberapa langkah ke belakang.

Sofi tidak sanggup lagi melihat pemandangan di depannya itu. Gadis itu ingin memisahkan pertikaian antara ayah dan anak tersebut, tapi dia merasa tak punya hak. Kelegaan merayap di dada Sofi saat dia melihat Bik Tini muncul dari celah di samping garasi rumah bersama seorang laki-laki. Laki-laki itu sudah berjalan dulu mendekati Kevin dan Radit ketika Sofi berkata, “Bik, Kevin ...,” dengan raut cemas. Bik Tini hanya mengangguk pelan. Dia lantas mengajak Sofi mendekat pada majikannya. Tak ada rasa takut atau ekspresi terkejut seperti yang tampak di wajah Sofi muncul di wajah wanita itu. Dia seperti sudah terbiasa dengan keributan dan pertikaian yang terjadi.

“Pak Radit, sudah, Pak! Kenapa, sih, ribut-ribut terus? Malu didengar tetangga.” Kata pria berpeci yang tadi berjalan bersama Bik Tini pada Radit.

“Pak RT jangan ikut campur urusan keluarga saya, ya!” bantah Radit tak terima.

Beberapa warga mulai berdatangan ke sekitar rumah Kevin. Mungkin karena malu, akhirnya Radit memilih untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Kevin yang masih berdiri dengan rasa sakit hati bercampur amarah.

Kevin tidak pernah menyangka Radit bisa berubah seperti ini. Mona selalu bilang kalau Radit jadi begitu karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaan. Namun, Kevin bukan bocah TK yang terlalu polos untuk bisa percaya omongan ibunya. Dia tahu betul sifat Radit. Laki-laki itu berubah pasti karena hatinya telah terisi oleh sosok wanita lain. Bukan ibunya lagi.

Kevin dan Sofi berpamitan pada Bik Tini dan Pak RT setelah semua tetangga membubarkan diri. Tak lama kemudian bus yang mereka tunggu melintas. Ketika telah berada di dalam bus, Sofi tak berani berkata-kata. Dia hanya memperhatikan lamat-lamat Kevin yang tengah tertunduk lesu. Dia memang menyimpan banyak pertanyaan tentang kejadian yang tadi dia lihat. Bagaimana awalnya hubungan mereka bisa seperti itu? Mengapa Kevin terlihat seperti begitu membenci ayahnya? Dan banyak lagi pertanyaan lain. Namun, Sofi tak berani membuka mulutnya. Dia tak ingin memperkeruh suasana hati Kevin.

Bus yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah sakit. Kevin masih membisu selama berjalan di pelataran rumah sakit. Sofi akhirnya mengeluarkan sebuah pertanyaan dari mulutnya untuk memastikan kalau cowok itu baik-baik saja. “Are you okay, Kak Kevin?”

Kevin menoleh pada Sofi sambil tersenyum samar. Sofi bisa melihat kalau senyum itu dipaksakan. Kevin tidak baik-baik saja. Ada luka yang tersirat pada mata itu. Dan itu membuat rasa prihatin menggelayut di hati Sofi.

Mereka berdua terus berjalan menyusuri beberapa lorong sebelum akhirnya berhenti di sebuah kamar pasien. Belum sempat Kevin menyentuh gagang pintu, papan kayu itu sudah lebih dulu terbuka dan dari dalam ruangan keluar seorang wanita. Wanita itu matanya memerah. Ada cairan yang sedang ditahan untuk tidak jatuh dari kelopak matanya.

“Mama mau ke mana?” tanya Kevin sambil menatap wanita itu penasaran.

“Mau ke depan sebentar,” Jawab Mona sambil mencoba memperlihatkan seulas senyum di wajah. “Kamu jagain adek bentar ya, Kak!” lanjutnya.

Kevin mengangguk patuh. Dia biarkan ibunya itu berjalan menjauh.

Di dalam kamar pasien ada sebuah ranjang dan satu meja. Di atas meja itu ada air minum, mangkuk, sendok dengan sisa makanan, satu kotak martabak telor yang sepertinya sudah dimakan separuhnya, dan tas rajut separuh jadi dengan jarum yang masih melekat. Sementara itu di atas ranjang terbaring seorang gadis. Badannya kurus. Wajahnya pucat. Gadis itu melihat Kevin sebentar lalu beralih pada Sofi dengan tatapan penuh tanya karena merasa asing.

Kevin melangkah lebih dekat pada gadis yang berbaring di ranjang itu, sementara Sofi berdiri agak jauh. Dia diam dan memperhatikan saja ketika Kevin mengelus rambut Alice lembut. Alice tak berbicara. Dia malah menangis. Lelehan air mata itu keluar begitu saja dari kedua kelopak matanya.

“Kamu kenapa nangis, Dek?” tanya Kevin.

“Alice ... nggak mau mati, Kak,” jawab Alice lirih.

Seperti ada tombak yang dilempar ke dadanya ketika Kevin mendengar kalimat Alice tersebut. Adiknya yang masih duduk di bangku kelas tujuh itu terlalu dini untuk memikirkan tentang hal yang berkaitan dengan kematian atau sejenisnya. Dia hanya harus tahu tentang kebahagiaan. Dia masih harus menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk tumbuh dan bermain bersama teman-temannya.

“Kenapa kamu ngomong gitu? Kamu akan sembuh, oke!” Kevin mencoba menenangkan sambil mengusap air mata di pipi Alice.

“Tadi ... Alice dengar ....” Kalimat Alice terhenti sejenak. Tertahan oleh napas sesak karena tangis. “Tadi Alice ... dengar dokter bilang sama Mama kalau sakit Alice udah nggak bisa disembuhin. Tadi Alice pura-pura tidur, Kak, padahal Alice ... dengar semuanya.” Air mata Alice semakin deras setelah kalimatnya itu selesai dia ucapkan. Sofi mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh dan keluar dari kelopak mata mendengarnya.

“Alice ... Alice nggak mau mati, Kak! Alice ... takut,” kata Alice lagi. Suaranya masih terdengar lirih. Air matanya juga belum surut.

Alice tak pernah mengeluh apa pun sebelumnya. Sakit yang dideritanya mulai terdeteksi sejak setahun lalu, ketika dia pingsan di sekolah saat upacara bendera. Sejak saat itu dia mulai rawat jalan. Puncaknya adalah dua bulan lalu. Saat kondisi fisik gadis itu sudah dinyatakan terlalu lemah oleh dokter. Akhirnya ranjang rumah sakit inilah yang menjadi tempatnya menghabiskan hari-hari yang menjemukan.

“Nggak, Alice, kamu pasti sembuh,” kata Kevin, lagi-lagi sambil mengusap air mata yang ada di pipi adiknya itu. Kevin tak pernah suka melihat orang yang disayanginya menangis. Terutama ibu atau adiknya.

Alice terdiam selama beberapa detik. Tangisnya belum reda. Dia tenggelam dalam pikiran-pikiran mengerikan yang membuatnya merasa semakin takut. Dia tahu Kevin hanya bermaksud menghibur. Dokter tadi itu tak mungkin sedang bercanda. Apa yang dikatakan pria itu bukan main-main.

Sofi sudah berhasil menetralkan wajah sendunya ketika dia berjalan mendekati Kevin dan Alice. Air mata yang tadi hampir jatuh dari kelopak matanya sudah keluar kemudian dia usap dengan jemari tangan. “Alice nggak boleh ngomong gitu ya, Dek,” katanya sambil mengelus kepala Alice lembut. “Alice pasti sembuh. Alice punya Kak Kevin, Mama yang bakalan nemenin Alice. Dan sekarang Kak Sofi bukan cuma jadi temennya Kak Kevin, tapi juga mau jadi temen kamu. Jadi, kamu nggak perlu sedih lagi, ya!”

“Kakak bohong!” kata Alice pelan sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya keluar lagi. Dia masih lebih percaya ucapan dokter daripada Sofi. Dia tahu Sofi hanya bermaksud menghiburnya, sama seperti Kevin.

“Dengar, Dek, dokter itu manusia dan bukan manusia yang bisa menentukan seseorang itu bisa sembuh atau tidak. Bukan manusia yang bisa menentukan seseorang itu akan tetap hidup atau tidak. Cuma Tuhan. Dan Alice harus percaya kalau Tuhan pasti akan memberi Alice kesembuhan, ya,” kata Sofi.

Alice terdiam sejenak, memastikan kalau kata-kata Sofi itu memang benar. Beberapa detik kemudian dia mengangguk lemah.

“Senyum, dong! Jangan nangis lagi, ya!” kata Sofi lagi sambil mengusap air mata di pipi Alice. Alice mengangguk lagi kemudian tersenyum. Sofi ikut tersenyum. Dia lantas membungkuk, melingkarkan satu tangannya ke badan Alice, lalu diciumnya pipi gadis itu.

Gumpalan daging di dada Kevin seperti meleleh melihat adegan di depan matanya tersebut. Alice bukan tipe anak yang mudah akrab dengan orang baru. Dia juga tidak bisa terlalu dekat dengan teman-temannya di sekolah. Namun dengan Sofi, adiknya itu bisa mudah luluh. Sikap manis dan lembut Sofi ternyata tak hanya berhasil menarik perhatian Kevin, tapi Alice juga. Dan itu semua sama sekali bukan rekayasa. Bisa Kevin lihat kalau Sofi tulus peduli pada adiknya. Tentu saja dia semakin tersanjung dan takjub pada gadis itu sekarang. Sofi dengan segala kelembutannya bagaikan rintik hujan yang menyapa hati gersang Kevin.

Dulu Stela tak pernah sedekat itu dengan Alice. Gadis itu bahkan pernah merajuk pada Kevin karena dia terlalu sibuk mengurus Alice di awal-awal adiknya tersebut sakit. Ya, sebelum penyakit Alice separah sekarang, Kevin memang selalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus adiknya itu. Dia tak ingin Alice kurang mendapatkan perhatian dari keluarga. Apalagi waktu itu Radit dan Mona sudah mulai sering ribut-ribut. Stela bukannya mendukung Kevin, tapi malah memprotes cowok itu. Stela bilang dia kesal karena waktu mereka bersama jadi berkurang.

Sekarang Kevin sadar satu hal, bahwa meski Sofi dan Stela sama-sama memiliki sikap manis dan lembut yang membuatnya jatuh hati, tapi mereka mempunyai perbedaan. Stela hanya peduli pada dirinya, sedangkan Sofi tidak. Sofi juga menyayangi Alice. Dan Kevin yakin kalau Sofi juga bisa dekat dengan anggota keluarganya yang lain.

“Siapa, Kak? Temen kamu?” Mona masuk ke dalam ruangan dengan kondisi wajah yang lebih segar dari tadi saat pertama kali wanita itu keluar dari kamar rawat Alice. Ada senyum di wajahnya ketika memandang Sofi. Mata merah serta air mata yang nyaris jatuh di kelopak matanya sudah tak tampak lagi.

“Iya, Ma. Sof, kenalin ini mama aku. Ma, ini Sofi, temen aku.”

“Sofi, Tante,” kata Sofi sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum santun.

“Kamu anak baru ya di sekolah? Kok sebelumnya tante nggak pernah lihat kamu main ke rumah?” tanya Mona setelah menyambut uluran tangan Sofi.

“Nggak, Tante. Saya adik kelas Kak Kevin.”

“Oh, adik kelas! Kok bisa kenal sama Kevin?” tanya Mona. Dia melirik Kevin sekilas. Dalam hitungan detik dia segera mengerti kalau ini bukan sesuatu yang biasa. Dia yakin kalau ada cerita khusus di balik perkenalan mereka yang mungkin sengaja direncanakan sedemikian rupa oleh Kevin. “Oh, sekarang ngincer adik kelas, Kak?” lanjutnya.

“Ceritanya panjang, Ma! Kalo diceritain bisa jadi novel lima ratus halaman.” Kevin tersenyum pada Mona lantas melirik Sofi sekilas. “Kalo beneran jadi, Kevin pasti bakal cerita deh,” lanjutnya. Mona tersenyum tipis menanggapi celoteh anak laki-lakinya itu.

Sofi tak benar-benar mengerti apa maksud Kevin. Dia tak ingin berprasangka apa pun. Namun, dengan pasti dia bisa merasakan getaran samar di dadanya ketika melihat Kevin tersenyum dalam padanya sesaat setelah cowok itu membalas ucapan Mona. Senyuman itu terlihat manis sekali di matanya.

1
Indah Nihayati
bagus thorr
Wati_esha
Akhirnya mencair juga hubungan Mona - Sofi.
Wati_esha
Satu per satu benang kusut terurai. Masih ada harapan bagi Kwvin - Sofi.
Ruby - Willy ke laut.
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Fawas Aficieanna
semangat thor
Wati_esha
Ruby ... memang menjebak Kevin. Untung Kevin minta tes DNA padanya setelah bayinya lahir. 😊
Wati_esha
Sofi .. akankah ia menemui Kevin untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang sudah ia ketahui?
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Wati_esha
Nah ... ternyata mrmang begitulah, Sofi dan Willy menjalin suatu hubungan mutualisme dari kaca mata mereka berdua.
Wati_esha
Jika memang tak dapat membuktikan bahwa Kevin tak bersalah, maka jalan satu-satunya ya, Kevin nikahi Ruby tapi jangan menyentuhnya sama sekali hingga lahir anaknya lalu tes DNA.
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Wati_esha
Belum ada tim sukses ya, yang ingin mencari tahu kebenaran cerita Ruby? Sayangnya Kevin tak sadarkan diri.
Laily Ilmiyatus
kapan ketahuannya kalo ruby gk hamil anaknya kevin?
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Wati_esha
Jadi ada unsur kesengajaan pada kecelakaan Mona.
Wati_esha
Kevin ... terluka karena berkelahi dengan Leo? Anak gembong narkotika itu.
Eka Suryati
mengapa sepi like, komen dan vote ya, padahal sepertinya cukup bagus
Gizza Ranny: kurang paham juga sama selera penghuni noveltoon, Kak. Aku gak tau juga gimana caranya author lain bisa dapet views berjuta-juta. 😂
total 1 replies
Eka Suryati
absen
Eka Suryati
mulai membaca
Gizza Ranny: wow, makasih. 🙏
total 1 replies
Wati_esha
Terima kasib update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!