Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleh-oleh Kalimantan
Hari kedua aku ke kampus. Seperti kemarin, aku berbohong pada Mbakyu. Kukatakan hari ini adalah praktek kedua lanjutan dari hari kemarin. Aku tidak sepenuhnya bohong, memang ada praktek hari ini. Tapi sebenarnya aku bisa saja memanggil pihak kampus untuk mengujiku di rumah tapi kukatakan pada Mbakyu aku tidak bisa memahami jika melalui daring.
Sengaja kukatakan pada Tina untuk menungguku di bawah tangga. Kelasku ada di lantai atas, melewati lorong yang tidak terlalu panjang. Sengaja, agar aku bisa leluasa bertemu dia, seseorang yang merebut perhatianku baru-baru ini.
Kelas dimulai, Dosenku masuk ruangan. Tapi bukan dia. Bukan Varun yang menjadi Dosenku pagi ini. Kubuka kembali jadwal kuliahku. Mata kuliah yang sama seperti kemarin. Tapi Dosenku berbeda. Akan kutunggu satu atau dua jam lagi. Ah, aku lupa, dia adalah Dosen tamu jadi dia akan datang setelah Dosen inti selesai memberikan materi. Baiklah, akan kutunggu dengan sabar.
"Baik sodara, kelas hari ini cukup seru, tapi semua bisa mempraktekkan keterampilan dasar klinik dengan cukup baik, sekian dari saya, terima kasih" Kata Dosen mengakhiri.
Dia tak ada. Berarti dia hanya datang hari kemarin. Dia adalah Dosen tamu, tentu tidak hadir setiap saat. Hanya hadir pada event tertentu. Oh, aku sudah berbohong pada Mbakyu tapi tidak mendapat hasil apa-apa.
Semua mahasiswa keluar ruangan, akupun demikian. Aku berjalan gontai. Jujur saja aku kecewa dia tak datang. Apakah ini namanya rindu? Kupikir rindu hanya untuk dua orang yang sudah berpacaran. Apa mungkin aku merindukan seseorang yang bahkan bukan apa-apaku.
Para mahasiswa begitu cepat berjalan, Kini tinggallah aku senidiran di lorong ini. Agak gelap, membuatku merinding. Banyak cerita mistis tentang gedung sekolah atau gedung kampus terngiang di telingaku. Dulu aku sering ngobrol dengan teman-temanku tentang kisah horor di sekolah. Sekarang aku berjalan sendirian begini, seakan ada yang mengikutiku di belakang.
Di ujung gang kulihat seseorang sedang duduk sambil membaca buku. Postur tubuhnya tak asing lagi. Aku berjalan pelan mendekatinya. Benar, itu dia, yang tak asing bagiku. Kenapa dia duduk di sini. Kupikir dia tak akan datang karena memang bukan pegawai tetap. Kenapa dia di sini. Kelasku berpindah, bagiamana ia tahu itu. Atau aku hanya ge er saja, dia datang bukan untukku. Varun, dialah orang itu.
Mengetahui keberadaanku, Varun berdiri menghadap ke arahku. Ia memandangku. Sepertinya ia memang menungguku.
"Pak Dosen" Panggilku.
"Aku menunggumu keluar"Katanya.
Kami duduk di kursi panjang. Aku harap tak ada seorangpun yang melihat ini. Jujur, aku takut.
"Apa benar kamu dari Jawa?" Dia bertanya.
"Iya" Jawabku.
"Aku dengar orang Jawa bisa menggunakan guna-guna"
"Hm?"
"Semalaman aku tidak bisa tidur" Kata Varun.
Apa? Tidak bisa tidur? Apa dia bohong? Apa dia tahu semalam aku tidak bisa tidur, lantas dia menyindirku?
"Aku pikir kamu mengguna-gunai aku" Katanya.
"Ehm, kamu percaya?" Tanyaku. Pertanyaan yang aneh.
"Awalnya iya, tapi kemudian aku berpikir lagi. Sepertinya kita ditakdirkan bertemu"
"Hm?"
"Awalnya aku tidak ingin ke Lombok, aku lebih senang menetap di Brunei, tapi kemudian aku mengiyakan ajakan Bayu dengan terpaksa. Sekarang aku bertemu denganmu. Menurutmu apakah itu takdir?"
Benar juga, awalnya aku terpaksa menikah dengan pria tua itu. Tapi kemudian melalui pernikahan ini aku bertemu dengannya. Jika ini takdir, bukankah ini takdir yang tidak wajar. Kenapa kami dipertemukan dalam keadaan yang tidak bebas.
"Sejak pertemuan di rumah itu, aku merasa jadi orang aneh. Tidur gak nyenyak, maan gak enak, aku terus bermimpi tentangmu. Sampai ajhirnya aku sholat di atas gazebo di rumah itu"
Oh jadi benarlah, dialah yang sholat malam itu.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Atau sebenarnya reinkarnasi itu benar ada, dan kita di kehidupan sebelumnya adalah saling kenal?"
"Kamu percaya itu?" Tanyaku sedikit tertawa.
"Tidak lah, musyrik kalau aku percaya"
Dia melihatku, menatapku tajam.
"Terima kasih" Katanya
"Hm?"
"Terima kasih telah memberikan senyum itu. Aku yakin suamimu belum pernah mendapatkannya"
Aku tertunduk. Terus terang aku malu dengan ucapannya. Dia sedang memujiku atau menyindirku. Ah, jangan-jangan aku hanya mangsa yang akan ia terkam. Apalagi suasana di tempat ini sepi. Aku menyuruh Tina menunggu di bawah. Ah, aku takut. Tapi entah kenapa aku tida juga menjauh. Aku masih saja berada di sampingnya. Entah.
***
Masih tentang Varun. Sejak bertemu dengannya di kampus dan sempat ngobrol sedikit, rasanya aku tak percaya jika dia juga berkelakuan seperti Bayu. Dia santun saat bertemu denganku. Tak ada sedikitpun kalimat atau perilaku yang melecehkanku. Sama sekali.
Dia merasakan juga yang kurasakan. Pikirannya tak tenang, akupun demikian. Dia tak bisa tidur, aku juga sama. Oh Ya Robbi perasaan macam apa ini. Menurutku ini bukan cinta. Aku pernah mencintai seseorang, Firman. Jadi aku tahu rasanya cinta. Tapi ini sungguh berbeda. Jika cinta aku ingin selalu bersamanya, ingin selalu melihat wajahnya, ingin memilikinya. Aku akan melayang jika dia memujiku, aku akan jingkrak-jingkrak jika dia meresponku. Tapi ini berbeda. Ada perasaan takut setiap aku bertemu dengannya. Aku justru tak ingin melakukannya lagi. Aku tak ingin bertemu jika itu hanya membuatku tak bisa tidur. Aku tak nyaman dengan perasaan ini. Namun jika perasaan ini hilang, aku akan kembali seperti sebelumnya. Tak bergairah, tak bersemangat, seperti mayat hidup. Menjalani hidup sebagai istri Romo Djani seperti boneka.
"Nyonya, semua diminta ke depan, Romo perjalanan pulang hampir sampai" Tina melapor.
Bagaimana menurutmu? Bukankah pria tua itu sangat manja? Berangkat diantar sampai pintu, pulang disambut di pintu. Lalu bagaimana dengan kami para istri? Bukankah kami hanya boneka yang bisa diambil, dipakai, dipajang bahkan dibuang seenaknya? Dimana perikemanusiaan dan prikeadilan? Tidak bolehkah aku menyebutnya telah merenggut kemerdekaan kami? Huft.
Aku turun, dan seperti biasanya aku selalu menjadi yang terakhir datang. Tidak hanya para istri, para pelayanpun siap menyambut kedatangan suamiku beserta maduku. Untung aku datang terlambat. Tak berapa lama mobil rombongan tiba. Aku tidak perlu menunggu lama dengan berdiri.
Romo keluar dari mobil beserta Jenny. Marni bilang, dulunya Jenny adalah seorang model. Pantas jika dia begitu menarik karena pandai merawat diri. Dandanannya juga selalu up to date. Tak heran jika Romo sering memilihnya dalam setiap kesempatan. Yah, aku senang, artinya Romo akan sangat jarang melirikku.
Penyambutan dilaksanakan cukup spesial. Banyak makanan dihidangkan di meja makan. Banyak orang yang ikut serta dalam perjamuan makan. Para pimpinan pelayan, asisten Romo dan karyawan yang ikut ke kalimantan ikut daam perjakuan makan sore ini. Sayangnya Bayu tak ada. Jika Bayu tak ikut serta, maka temannya juga tak ada. Ah, aku memikirkannya lagi.
"Bagaimana Bune, selama kutinggal, aman?" Romo bertanya pada Mbakyu Halimah.
"Aman Romo, Alhamdulillah" Jawab Mbakyu sambil melirik tajam ke arah lestari yang sempat bikin kacau. Sementara Lestari tertunduk malu.
"Azimah, bagaimana kuliahmu?" Romo bertanya padaku. Deg, aki sedikit takut menjawab. Aku mencoba menguasai keadaan.
"Lancar Romo, saya sempat ke kampus dua hari karena ada praktek yang tidak kumengerti jika hanya lewat daring" Aku berusaha membuat mimik wajahku tampak tenang.
Romo manggut-manggut. Ia tampak menerima laporanku. Syukurlah.
"Deni, ambilkan hadiah untuk para istriku" Perintah Romo.
Deni segera mengambil tas besar di mobil.
"Bagikan satu-satu untuk istriku" Kata Romo.
Satu orang mendapat satu tas besar. Isinya kain Kebat, gelang giok, serta kalung dengan mata berlian. Kain Kebat adalah kain tenun yang biasa digunakan oleh suku Dayak Kalimantan. Konon kain ini sekarang cukup langka dan hanya digunakan pada upacara adat.
"Kalung yang saya berikan itu, adalah bermata berlian. Kebetulan di Kalimantan saya kenal pengusaha Berlian, dia awalnya hanya memberikan satu saja untuk Jenny, yang sekarang dipakai Jenny. Lalu saya jelaskan, bahwa istriku masih ada tiga di rumah. Kemudian dia beri lagi tiga hahaha" Jelas Romo.
Jenny tampak senang sekali. Jelaslah, kalung yang diberikan kepada Jenny lebih bagus dari yang kami terima. Kulirik Lestari. Tepat seperti dugaanku. Lestari tampak cemburu. Ia berusaha keras menyembunyikan kecemburuannya. Ia sudah mendapat peringatan keras dari Mbakyu. Dia pasti sudah kapok protes lagi.
"Bune, ini untuk putra kita, Mehmed" Kata Romo menyodorkan sebuah amplop cokelat besar pada Mbakyu Halimah. Mbakyu Halimah membukanya.
"Itu adalah sertifikat tanah. Rumahku di Kalimantan, sekarang sudah resmi menjadi milik Mehmed" Kata Romo.
Mehmed tampak senang menerima hadiah itu.
"Terima kasih Romo" Kata Mehmed.
Romo mengelus kepala Mehmed. Ia begitu sayang dengan anak tunggalnya itu. Sejenak aku berpikir, untuk apa kalung berlian ini, kain Kebat ini juga gelang giok ini, aku akan mempercantik diri di depan siapa? Benda-benda ini seakan tak berguna untukku. Benda-benda ini memang impian setiap wanita, tapi kurasa tidak denganku. Aku tidak menginginkan ini berapapun harganya. Jika boleh aku ingin menukarnya dengan kebebasan.
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕