Berprofesi sebagai seorang penulis, Dinara berharap kisah cintanya akan semanis novel yang ditulisnya. Akan tetapi, menemukan seseorang yang tepat tidaklah semudah saat kita menulis cerita. Kisah cinta yang penuh lika-liku membuat Dinara belum juga menikah meski usianya hampir menginjak kepala tiga.
Kehidupan Dinara semakin bertambah kacau saat Mama mulai mencampuri urusan asmaranya. Jika dalam waktu tiga bulan Dinara belum juga mendapatkan lelaki yang tepat, terpaksa dirinya harus menerima pria yang mamanya jodohkan.
© 2023 | Nur Azizah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurAzizah504, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agam Punya Mama?
"Ngapain, Sher?"
Adam mundur dua langkah saat Sherly semakin dekat ke arahnya. Langkah kaki yang tidak teratur, pada akhirnya membuat Adam terhenti hanya untuk membantu Sherly tegap berdiri.
"Nikah, yuk, Dam!"
Astaga. Adam kira apa tadi. Jantungnya sudah berdetak dua kali lebih cepat, tetapi Sherly malah memamerkan senyum lebar tanpa dosa.
"Kamu mabuk, Sher. Tidur sana."
Sebenarnya percuma saja berbicara dengan orang seperti Sherly. Mau seserius apa pun Adam menolaknya, Sherly tetap pada kemauan awalnya.
Buktinya wanita ini mengubah ekspresinya menjadi masam. Bibirnya dimanyunkan dan sebuah decakan terdengar dari sana. "Kok, kamu jahat, sih, Dam? Aku serius ngajak kamu nikah lagi. Mau, ya?"
Sherly bergelayut pada lengannya. Kepalanya disandarkan pada bahu Adam. Dua detik kemudian, sosok itu berpindah haluan. Dari yang semula hanya menyandar, kini malah memeluk Adam dengan erat.
"Lepasin aku, Sher. Ini gak bener. Kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi," kata Adam seraya melepaskan Sherly dari pelukannya.
"Aku mau mati aja kalau gitu. Kamu jahat!"
Adam menepuk dahi sewaktu Sherly mengeluarkan satu per satu pasokan air matanya. Sebelum keadaan jadi semakin parah, Adam menarik tangan Sherly dan menuntunnya untuk berbaring di kasur.
Ketika Adam akan berlalu pergi, jari tangannya mendadak ditarik kembali. Sherly tersenyum manis, mengukir lengkungan indah yang sejak dulu Adam sukai.
Di tengah-tengah kesadarannya, wanita berambut panjang itu berkata, "Aku sayang kamu, Dam. Kamu gitu juga, 'kan?"
Apakah sayang itu masih benar-benar ada? Entahlah, Adam ragu untuk menjawabnya.
* * *
Pagi-pagi sekali, Adam menyuruh Bi Iga untuk kembali pulang ke rumahnya setelah semalam diminta menginap secara tiba-tiba. Dia tak mau jika sampai wanita itu tahu bahwa semalam Sherly yang mabuk ikut pulang bersamanya. Adam hanya takut Bi Iga akan berpikir yang bukan-bukan. Walau sebenarnya perbuatan Adam salah, tetapi pada dasarnya dia melakukannya karena terpaksa.
Hari ini, menu sarapan yang Adam siapkan adalah nasi goreng dan telur mata sapi. Dia memilih menu praktis yang tentunya sedap dimakan. Selain karena tak bisa memasak banyak macam, Adam juga didesak oleh pekerjaan lain.
Salah satunya adalah mengantar Sherly pulang dengan aman.
Kedua tangan Adam bergerak lincah dan cekatan. Memotong berbagai bahan, mengaduk nasi yang sudah diberi bumbu, dan setelahnya memindahkan ke sebuah wadah saat nasi gorengnya benar-benar matang.
Adam akan beranjak pergi ke kamar Sherly sebelum akhirnya kedua tangan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Morning, Dam."
Tanpa berbalik pun Adam tahu kalau Sherly adalah pelakunya. Agam saja sangat jarang bersikap semanja ini kepadanya. Saking jarangnya, Adam sampai lupa kapan terakhir kali Agam tersenyum dan memeluknya dengan bahagia.
"Lepasin, Sher," pinta Adam dengan mengulang-ulang kalimat yang sama dari semalam.
"Emang kenapa, sih? Kamu aja dulu suka banget peluk aku kayak gini," jelas Sherly dengan santai, seolah perbuatannya masih terlihat biasa saja.
"Iya, dulu. Saat kamu masih jadi istri aku."
Adam mengambil langkah tegas. Ia melepaskan kedua tangan Sherly yang menaut di depan perutnya dengan sedikit paksaan. Dengan sekali putar pula, posisinya sudah berubah menghadap ke arah Sherly.
"Tapi, sekarang udah enggak, 'kan? Kamu lupa kalau kita gak punya hubungan apa-apa?"
"Kok, kamu jahat, sih, Dam? Suka banget nyakitin hati aku."
Sebelum Sherly sempat meneteskan air matanya, Adam lebih dulu beranjak menuju meja makan. Ia menyusun tiga piring dan memberinya masing-masing sebuah gelas yang diisi dengan air putih.
"Makan, Sher. Abis ini kamu pulang."
"Ngusir banget, sih?" Sherly berdecak, sepertinya dia tak jadi menangis.
"Bukan ngusir. Aku cuma gak mau tetangga sampai mikir yang bukan-bukan," jelas Adam sangat sopan.
Walau cemberut, Sherly tetap menduduki sebuah kursi di sebelah kiri Adam. "Agam mana, Dam?" tanyanya sewaktu tidak menemukan keberadaan putranya di mana pun.
"Di kamar, masih tidur."
"Aku bangunin, ya?"
"Jangan. Nanti dia syok liat kamu tiba-tiba muncul di depannya."
"Tapi, aku, kan, mamanya, Dam. Mana mungkin dia syok."
"Karena kamu mamanya, makanya dia syok," sahut Adam sambil mengalaskan nasi ke piring Sherly.
"Maksudnya?"
"Kamu pikir sendiri, deh, Sher. Mama mana yang gak pernah muncul di hadapan anaknya selama lima tahun? Mama mana yang wajahnya gak pernah terlihat lalu tiba-tiba datang dengan senyuman? Bukan hanya Agam, tapi aku juga kaget, lo. Udah lima tahun kamu menghilang. Sekarang tiba-tiba datang dan ngajak balikan."
Sherly terdiam karena penuturan Adam yang sangat panjang. Dirinya memang buruk, Sherly tahu itu. Dia telah meninggalkan Agam di saat umurnya masih dua tahun. Dia bahkan melewati masa-masa saat Agam pertama kali masuk sekolah. Dia tidak tahu makanan kesukaan putranya. Apa yang anak itu sukai atau yang dia benci.
"Aku jahat banget, ya, Dam? Kira-kira Agam bakalan nerima aku gak, ya?"
"Aku gak bisa jawab, Sher. Nantilah kamu liat sendiri reaksinya. Tapi, apa pun yang bakalan terjadi, kamu gak boleh marahi Agam. Sejauh ini aja, dia udah banyak menutup diri."
Sherly benar-benar tertunduk lemah. Nasi goreng buatan Adam yang terlihat sangat lezat mendadak tak ingin lagi dimakan olehnya.
Sejak dulu, Sherly memang salah. Dia telah gagal menjadi istri dan ibu yang baik. Dia terlalu lemah, susah bertahan dan kurang bersabar. Setelah ini, bolehkah dia berharap Agam akan memanggilnya dengan sebutan 'Mama'?
"Kamu makan duluan aja. Aku mau liat Agam dulu."
Perkataan Adam membuat Sherly tersadar dari rasa bersalahnya. Sewaktu ia mendongak untuk melihat Adam, ekor matanya malah tak sengaja menemukan seorang anak kecil yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Sherly tahu kalau itu adalah Agam, putranya. Dan, apakah si kecil ini juga mengenali dirinya?
"Udah bangun, Champ? Sini, sarapan bareng." Adam berusaha bersikap normal. Walau pada dasarnya dia tahu betul, Agam terkejut dengan kehadiran mamanya di antara mereka.
Melihat tak ada gerakan sama sekali, Sherly mengambil langkah untuk mendekati Agam dan berjongkok di depannya. Dengan senyum yang dipercaya tulus, Sherly berkata seakan dirinya ibu paling hebat di dunia, "Sayang, ini Mama. Mama pulang buat Agam."
Spontan saja Agam menjauh sewaktu Sherly berusaha mengusap kepalanya. Wajahnya datar, tatapan matanya berubah tajam.
"Agam gak mau ngomong sama Mama? Agam marah, ya, karena Mama perginya lama banget?" bujuk Sherly kesekian kali.
Sementara itu, Adam memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia tidak akan membantu ataupun memperkeruh keadaan. Dia hanya ingin melihat, sepintar apa Sherly mengambil hati putra mereka.
"Sayang." Sherly kembali bersuara. Kali ini, terdengar lebih lembut dari sebelumnya. "Mama tau--"
"Sejak kapan Agam punya Mama?"
* * *
sequel cerita arhan, dong