Mereka dijodohkan oleh sang Kakek sejak kecil dan direstui oleh kedua orang tua. Setelah dewasa, mereka tidak setuju dijodohkan dan melarikan diri sebelum pertunangan dilangsungkan, karena sudah punya kekasih.
Hanya berbekal sisa tabungan semasa kuliah dan sedikit keberanian, mereka lari dari rumah, meninggalkan proses pertunangan demi sang kekasih. Namun sangat menyakitkan, saat tahu kekasih mereka telah berpaling..
》Mungkinkah mereka terus berlari atau kembali pada keputusan orang tua?
》Mungkinkah ada kesempatan kedua untuk melanjutkan proses perjodohan sang kakek?
Ikuti kisahnya di Novel "SECOND CHANCE"
Selamat membaca.
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pulang.
...~•Happy Reading•~...
Beberapa jam kemudian, mobil mereka tiba di rumah orang tua Maya. Hatinya was-was, takut orang tuanya marah, tapi dia juga merasa senang. Bisa melihat lagi halaman yang penuh dengan bunga bermekaran dan rumah yang dirindukannya.
Mereka cepat tiba di kota Asiri, karena yang menjemput Maya lewat jalan tol, agar bisa lekas tiba di rumah. Mereka hanya istirahat sebentar di rest area, lalu meneruskan perjalanan ke Asiri.
Saat masuk ke rumah, Mamanya sudah tunggu dengan wajah galak di ruang tamu. "Bagus! masuk ke kamar dan tidak boleh keluar dari sana, sebelum tahu kesalahanmu." Ucap Mama Maya sambil menjewer kupingnya, seakan anak balita atau remaja yang nakal.
"Mamaaa, emang Putri ABG?" Protes Maya sambil memegang tangan Mamanya yang sedang menjewer, agar telinganya tidak terlalu sakit.
"Kalau kau sudah dewasa, tidak lakukan ini pada orang tuamu." Ucap Mama Maya sambil terus menjewernya masuk ke dalam kamar.
"Mamaaa... Sakiiiittt... Kuping Putri bisa dipakai untuk berlayar, jika dijewer terus begini." Ucap Maya sambil memegang telinganya agar tidak makin sakit.
"Sakit? Kau tahu juga rasa sakit? Jika Omamu masih hidup, pantatmu sudah biru membara." Ucap Mamanya yang sudah melepaskan jeweran, tapi memukul pantatnya dengan tangan.
Maya yang menyadari Mamanya masih marah, mengeluarkan senjata andalannya. "Ma, biarkan Putri duduk dulu. Kaki Putri baru sakit, jadi ngga kuat berdiri lama." Ucap Maya dengan suara yang pelan, seakan kakinya masih sakit lalu mendekati salah satu kursi yang ada di dekat mereka.
Mamanya berhenti memukul, lalu melihat ke arah kakinya. "Kau apakan kakimu? Tidak cukup lari dari rumah, lari juga di jalanan?" Tanya Mamanya yang tiba-tiba jadi cemas. Hati Maya tersenyum senang, melihat wajah cemas Mamanya.
"Bukan lari, Ma. Hanya turun dari angkot, lalu salah pijak. Jadi kecekluk dan bengkak lagi. Tuuuh... masih ada bekasnya." Ucap Maya sambil menunjuk pergelangan kakinya.
'Mungkin ada orang yang tidak bersyukur karena sakit, tapi hari ini aku bersyukur karena kakiku sakit.' Maya berkata sendiri dalam hati.
"Kau sudah ke dokter?" Tanya Mamanya yang langsung memeriksa pergelangan kakinya, lalu memanggil pelayan untuk menyiapkan ramuan untuk mengobati kakinya.
Hal inilah yang dirindukan Maya saat kakinya sakit dalam kesendirian di malam itu. Urus sendiri sambil menahan sakit yang membuat dia sangat sedih. Jika di rumah, banyak orang yang menemaninya, terutama Mamanya.
"Ini sudah mau pulih, Ma. Putri sudah ke rumah sakit untuk periksa. Cuma masih belum kuat kalau lama berdiri." Ucap Maya mencegah Mamanya melakukan tindakan yang lebih ekstrim.
"Kau tidak makan? Lihat wajahmu, tinggal tulang." Mama Maya baru melihat wajah putrinya yang lebih kurus, hingga tulang pipinya terlihat lebih jelas.
"Yaa, makan, Ma. Kalau ngga makan, sudah game. Mungkin ini pengaruh kurang tidur seminggu ini. Kaki tiba-tiba sakit, karena tidur banyak gaya." Ucap Maya yang menyadari, memang dia kurang istirahat dan makan tidak teratur saat sakit.
"Kau mau makan apa, biar dimasakin." Tanya Mamanya yang masih cemas dengan kondisi putrinya.
'Pantas seminggu ini hatiku sangat cemas dan khawatir memikirkan anak ini.' Mama Maya membatin, sambil mengambil ramuan obat-obatan yang dibawa oleh pelayan untuk mengompres kaki Maya.
"Lain kali itu, kasih kabar pada orang tua. Kau tidak pikirkan orang tua sangat khawatir terjadi sesuatu denganmu?" Mama Maya berkata sambil memukul pelan betis Maya yang pergelangan kakinya sedang diperiksa oleh Mamanya.
Papa Maya sampai meminta orang ke rumah sakit untuk mengecek namanya di semua rumah sakit di kota Jasi, karena khawatir terjadi sesuatu dengannya. Dua orang karyawannya diminta khusus untuk mencari Maya di Jasi selama enam bulan terakhir. Karena mereka berpikir, Maya tidak akan kemana-mana selain Jasi, tempat kuliahnya.
Mereka yakin, Maya tidak akan ke tempat yang belum pernah dia tinggali. Oleh sebab itu, mereka tidak mencari di Moro. Mereka mengenal Maya yang tidak pernah pergi sendiri ke tempat yang baru dan tidak dikenalnya.
"Iyaa, Ma. Ngga lagiii. Tapi biarkan Putri istirahat dulu, sangat lelah." Ucap Maya sambil menunjukan wajah lelahnya.
Mamanya mengangguk, lalu menuntun dia ke kamar. Walapun kesal dan marah dengan tindakan Maya, tapi hatinya sangat lega melihat putrinya dalam keadaan baik dan selamat.
Setelah ditinggal Mamanya, Maya bergulingan di tempat tidur yang sangat dirindukannya. Kemudian dia mengambil ponselnya untuk mencari Philemon di sosial media. Dia yakin bisa ketemu nama Philemon, jika dia mengetik namanya di sosial media.
Sampai tertidur, dia tidak menemukan nama Philemon. Walaupun dia sudah memotong-motong namannya, yang muncul bukan pria gondrong, tapi kebanyakan botak.
Setelah lama tertidur, dia terkejut bangun saat ada yang menarik selimutnya. "Cepat bangun. Sudah bikin susah orang tua, sekarang pulang dan enak-enakan tidur?" Terdengar suara bariton Papa Maya yang membangunkan setelah pulang kerja.
"Papaaa... Aku seperti jatuh dari pohon. Kaget tau, Pa." Maya berkata sambil mengumpulkan nyawanya, lalu duduk melihat Papanya sedang menatap dengan wajah marah.
"Anak tidak tau, sayang orang tua. Kau ingin lihat orang tua mati sebelum waktunya?" Tanya Papanya dengan suara menggelegar dalam kamar.
"Yaa, jangan, Papaaa. Nanti Putri sama siapa?" Maya berkata pelan dengan hati sedih mendengar ucapan Papanya.
Tindakan kabur dari rumah karena marah, tidak dipikirkan sampai pada tingkat seperti itu. Bisa membuat orang tuanya sedih dan susah, bahkan mungkin bisa sakit. Memikirkan hal itu, hatinya makin sedih.
"Jangaaan? Bukannya sudah bisa hidup sendiri di luar?" Tanya Papanya lagi yang masih emosi.
"Tidak akan lagi, Papaaa. Putri minta maaf, sudah nyusahin Papa dan Mama." Maya berkata pelan karena menyadari kesalahannya.
"Dapat yang dicari?" Tanya Papa Maya lagi, masih penasaran dengan kehidupan putrinya setelah tinggalkan rumah dan apa yang membuat dia senekat itu, meninggalkan rumah. Maya sontak melihat wajah Papanya.
"Dapat, Pa... Tapi kicil-kicil?" Melihat wajah Papanya sudah semarah tadi, Maya bisa menjawab lagi seperti biasanya, jika ingin ngeledekin Papanya.
"Dapat kecil-kecil? Memang apa yang kau cari?" Tanya Papanya heran dengan jawaban Maya. 'Jodoh apa yang kecil-kecil?' Pikir Papa Maya.
Papa Maya berpikir, dia pergi dari rumah karena tidak mau dijodohkan. Jadi dia pergi cari jodoh atau pacar.
"Pekerjaan kan, Pa. Putri belum dapat kerja di kantoran." Maya menjawab pelan, tanpa mengerti maksud pertanyaan Papanya.
"Pekerjaan...?! Di pabrik ada banyak kerjaan, kau cari di luar? Sekarang tidak boleh keluar lagi dan siap-siap untuk bekerja di pabrik." Papa Maya bernafas lega, mendengar jawaban Maya.
"Pernah dengar ungkapan, tidak ada makanan gratis? Itu mulai berlaku untukmu." Papa Maya berkata galak, lalu keluar dari kamar Maya dengan wajah tersenyum.
"Ada apa dengan wajahmu, Pa." Tanya Mama Maya yang melihat wajah suaminya berbeda setelah keluar dari kamar Maya. Saat masuk kamar dengan emosi, saat keluar kamar terlihat senang.
"Rumah ini sudah kembali lagi seperti rumah. Dengar saja. Sebentar lagi dia berteriak." Ucap Papa Maya sambil tersenyum dan terdengarlah teriakan Maya memanggil Papaaaa.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
apa lemon nanti pria yang dijodohkan sama kamaya