"Aku ingin putus"Ucap Michi tertunduk dia menahan tangisnya.
"Putus? kenapa?"Satria meminta penjelasan dia tidak terima begitu saja.
"Karena aku hamil"jelas Michi.
Duar....
Bagai di lempar Boom ke wajahnya Satria sungguh terkejut medengar pernyataan kekasihnya orang yang paling dia cintai hamil,bagaimana tidak karena selama ini mereka jarang bertemu bahkan Satria sangat menjaga Michi dia tak pernah berani menyentuh gadis itu meski sehelai rambut pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Pagi Buta
"Ayo kita menikah"bisiknya.
Mata michi langsung terbelalak saat mendengar itu.
"Apa?!"Michi memekik kencang.
"Apa anda sudah hilang akal hah?!"Michi memaki mencoba mendorong tubuh pria besar di hadapannya ini namun Agung sama sekali tak bergerak sedikit pun tenaga Michi bagaikan debu lewat di depannya saja.
Agung tergelak melihat reaksi Michi.
"Aku masih waras oleh karena itu aku mau menikahi mu,bila tidak kita bisa di fitnah orang karena di kira pasangan mesum"ucap Agung santai.
"Bukan begitu maksud saya pak Agung...anda jangan seenaknya saja mengambil keputusan secara sepihak,anda fikir saya sudi menikah dengan anda hah?!"Michi kesal.
"Lalu kau fikir aku mau menikah dengan mu karena aku cinta kamu bagitu?Oh astaga percaya diri sekali kamu ini...aku mau menikah dengan mu itu karena terpaksa,kau dengar...ter-pak-sa"Agung berkata sombong dan menyebalkan lagi.
Michi kesal dan geram dia mengepalkan tangannya kencang saat Agung lengah Michi berlari kepojok ruangan dan langsung mengambil sapu yang berdiri disana.
"Pergi dari sini dasar orang tidak tahu malu"Michi mengayunkan sapu ke arah Agung.
Agung langsung mengelak dari pukulan Michi,dan Michi terus menghajarnya hingga Agung keluar dari dalam ruko keributan yang di timbulkan di lantai bawah membuat Sinta dan Pingki yang ada di lantai dua pun turun kebawah dan betapa terkejutnya mereka melihat Michi sedang berlarian membawa sapu dan mengejar Agung.
"Apa yang orang itu lakukan disini? Dan sepertinya Michi tidak terlihat ketakutan padanya?"Pingki berfikir bingung.
"Keluar kau dari tempat ku"maki Michi.
Saat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Hei...Michi apa kau lupa aku juga berhak tinggal disini,kau membeli ruko ini dengan uanga ku"teriak Agung di depan pintu ruko.
Michi berjalan cepat dan dia terkejut saat melihat dua orang sahabatnya berada di bawah tangga dan melihat tingkahnya yang aneh.
"Chi...kenapa?"tanya Pingki.
"Kenapa apanya?"Michi masih kesal dan nadanya masih datar.
"Ya itu orang kenapa bisa ada disini?"tanya Pingki.
"Orang gila nggak waras jangan di fikirin mending kita tidur ajah"ucap Michi masih datar.
"Bagaimana kita bisa tidur kalo itu orang teriak-teriak terus di depan Chi..."Pingki menunjuk ke arah pintu.
"Ck...ah....bodo ah..."Michi berjalan menaiki tangga.
"Bukan gue kasihan sama dia,cuma dia bisa buat kerusuhan di sekitaran sini Michi dan kita yang bakalan kena getahnya"ucap Pingki dia berusaha berfikir logis.
Michi menghela nafasnya dalam.
"Terserah asal dia nggak masuk ke kamar gue ajah"ucap Michi sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Dan saat di dalam kamar Michi langsung mengunci pintu kamarnya dan juga jendela kamar dia takut kalau tiba-tiba saja saat dirinya terlelap tidur Agung tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan melakukan hal gila lagi.
Pingki dan Sinta membiarkan Agung masuk dan meninggalkam pria tampan namun gila itu di lantai bawah tepatnya di toko terserah dia mau melakukan apa asal tidak membuat kerusuhan saja.
Begitukah fikiran Pingki.
Namun berbeda di dalam kamar Michi yang memang masih trauma dengan Agung menjadi gelisah dan tidak bisa tidur dia terus mengawasi pintu kamarnya takut-takut Agung masuk dan menerobos ke dalam kamarnya.
Fikiran yang negatif mulai menguasai otaknya hingga dia tidak bisa tirtidur hingga pukul 3 dini hari.
"Akh...sial gara-gara orang gila itu aku jadi nggak bisa tidur huft...sebaiknya aku bersiap membuat adonan saja lah"
Michi keluar dari dalam kamarnya dan turun ke dapur toko yang ada di lantai bawah.
Michi mulai menyiapkan segala bahan yang akan dia jadikan kue untuk hari ini.
Saat sedang menyiapkan beberapa bahan yang dia taruh di atas meja dia melihat ke arah sofa yang tepat berada di depan dapur,yang hanya terhalang kaca.
Dia melihat seorang pria tertidur dengan lelap disana,masih memakai pakaian jas putih resmi yang sama seperti yang dia lihat semalam.
Michi memalingkan wajahnya dan mulai membuka kemasan tepung dan dia tuangkan ke dalam baskom,dia mulai berkonsentrasi membuat adonan.
Suara di dapur yang tidak terlalu berisik namun cukup mengganggu seseorang yang sedang terlelap di sofa.
Suara mesin penggiling adonan yang agak berisik membuatnya terbangun dan akhirnya mendekat ke arah dapur karena penasaran.
Agung menyandarkan bahunya di ambang pintu sambil memperhatikan seorang wanita kecil berbadan seperti tusuk gigi itu,tengah sibuk dengan adonan tepung di tangannya.
Dan juga sedang sibuk mencetak dan menyusun pastel yang sudah di cetak di dekat kompor.
"Bisa ku bantu?"
Suara Agung mengagetkan Michi hingga dia terperanjat.
"Anda sejak kapan ada disana?"tanya Michi sewot.
"Sejak tadi,ternyata kau sudah mulai bekerja sejak jam segini?"Agung malah mendekat pada Michi.
Michi melangkah mundur wasapada dia takut kalau Agung akan macam-macam lagi.
"Ada yang bisa aku bantu?"tanya Agung santai.
"Tidak perlu aku biasa melakukan semua ini sendirian,anda pergilah dari sini"Michi memalingkan wajahnya dan menyibukan dirinya dengan adonan di tangannya.
Tapi agung bukannya pergi malah memperhatikan tangan kecil itu membentuk adonan menjadi pastel,terlihat trampil dan lihai.
"Anda kenapa masih disini sih?!"Michi kesal.
"Cuma mau lihat ajah, nggak boleh?"tatapnya nakal,membuat Michi menjadi gusar.
"Nggak...nggak boleh sudah sana"usir Michi.
Tiba-tiba Agung membuka jasnya dan menggulung lengan bajunya.
"Aku mau belajar seperti kamu itu, boleh?"ucapnya lembut setengah menggoda
Michi kesal dia menghentakan satu kakinya,namun itu terlihat lucu di mata Agung hingga Agung malah tergelak melihatnya.
"Boleh tidak?"semakin senang Agung menggodanya.
"Nggak boleh anda jangan dekat-dekat sama saya,pergi sana"usir Michi lagi.
Tak lama Sinta datang ke dapur dan melihat Michi bersama Agung disana.
"Aish...kau ini kan asistennya kenapa bos mu lebih dahulu mengerjakan semua ini sebelum kamu hem?"ucap Agung kesal saat melihat kedatangan Sinta yang menurutnya terlambat.
"Hei...Pak dia tidak terlambat,memang jam kerjanya jam segini,aku memang terbiasa mengolah semuanya sendiri dulu,bagian dia hanya mematangakan semua yang sudah ada"Michi sewot.
"Ooo....begitu...kalau begitu aku mau ikut bantu ya..."rengeknya seperti anak kecil.
"Nggak...nggak perlu anda mana tahu cara di dapur andakan biasa bekerja di kantor dengan laptop dan pena"singgung Michi ketus.
"Ck...kenapa kau ini ketus begini sih...dimana Michi yang imut yang sangat di cintai Satria adik ku itu hem?"Agung mencoba membujuk.
Michi menatap tajam ke arah Agung karena dia kesal sangat kesal dengan orang yang tidak tahu malu ini.
"Michi yang seperti itu sudah mati lima tahun yang lalu"ucap Michi dingin.
Agung menatap Michi tak kalah tajam saat Michi berkata seperti itu.
"Kau mati karena aku kan? Oleh karena itu aku kan berusaha menghidupkan jiwa mu yang sudah mati itu"kali nada Agung serius.
"Bagaimana caranya,kau menghidupkan jiwa yang sudah mati ini?"tanya Michi sinis.
"Kita menikah mencoba menata masa depan bersama dan lupakan masa lalu"ucap Agung santai tanpa dosa
Klontang....
Suara baskom stanles membentur lantai,Sinta terkejut saat mendengar Agung melamar Michi di pagi buta seperti ini.
...🌲🌲🌲🌲🌲...