Kisah seorang gadis desa yang harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal, hanya karena dia pernah menolong ibu dari pria tersebut.
Devan Pratama dan Hanum Umaizah ialah dua anak manusia yang tidak pernah bertemu sebelumnya, kini mereka berdua di persatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Akan kah, mereka berdua dapat melewati kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga mereka berdua??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11
" Jadi, maksud kedatangan kami sekeluarga ke rumah nak Juna itu untuk melamar Hanum untuk anak kami Devan " ucap pak Airlangga.
Hanum yang baru saja datang pun terkejut saat mendengar penuturan pak Airlangga yang bermaksud
ingin melamar dirinya untuk menjadi istri dari putranya.
Dan tanpa sadar dia menjatuhkan mainan yang dia pegang.
Prakk!!!!
Suara mainan yang terjatuh membuat semua orang yang ada di sana terkejut, begitu juga dengan Hanum.
" Maaf, saya tidak sengaja " ucap Hanum sambil mengambil mainan yang jatuh sambil masih menggendong keponakan nya.
" Kak Juna tadi memanggil aku, ada apa ya kak?" tanya Hanum setelah mengambil mainan.
Bukan nya menjawab pertanyaan Hanum, Juna malah berkata " Duduk sebelah kakak!"
" Sebenarnya ada apa ya? Dan bapak ini siapa??" tanya Hanum dalam hati.
Meskipun dalam hati dia masih bertanya-tanya tentang siapa laki-laki yang ada di rumah kakak nya tetapi, Hanum tetap menuruti perkataan kakak nya dan duduk disebelah kakaknya sambil menggendong Eza.
" Jadi, ini yang nama nya Hanum ma?" tanya pak Airlangga kepada istri nya.
" Iya pa, cantik kan orang nya" jawab bu Vania sambil tersenyum.
" Iya ma, cantik " kata pak Airlangga.
Hanum yang mendengarkan percakapan dua orang di depan nya pun hanya diam saja.
" Hanum perkenalkan ini ayah nya Devan, namanya om Airlangga " ucap bu Vania memperkenalkan suami nya.
Hanum hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu dia berkata "Assalamualaikum pak, saya Hanum " sambil mengulurkan tangannya.
Pak Airlangga langsung menyambut uluran tangan Hanum sambil berkata " Walaikumsalam, panggil saja om Airlangga ".
Hanum hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
" Ternyata anak nya cantik " kata pak Airlangga.
Mendengar perkataan pak Airlangga, Hanum hanya tersenyum.
" Aku senang sih kalau ada yang bilang aku cantik tetapi, maksud nya mereka datang ke sini dan bicara seperti tadi itu apa ya?!" batin Hanum.
Tanpa ada yang mengetahui ternyata ada seseorang yang diam-diam mencuri pandang.
" Memang benar sih kalau dia cantik tetapi, tetap saja aku tidak bisa menikah dengan dia. Karena dia bukan orang yang aku cinta " ucap Devan dalam hati.
" Maksud omongan pak Airlangga tadi apa ya? Aku tidak mengerti" ucap Hanum dalam hati.
" Apa sebaiknya aku tanyakan kepada beliau saja ya??" pikir Hanum.
" Iya! Aku harus bertanya! Daripada nanti aku terus kepikiran dan malah pusing sendiri mending, aku tanya langsung kepada orang nya mumpung orangnya masih ada disini!!" ucap Hanum.
Saat dia akan bicara muncul ketakutan dalam hati nya.
" Tapi aku takut" ucap Hanum dalam hati.
" Aku tidak boleh takut! Aku harus tetap bertanya!!" tekad Hanum dalam hati.
Setelah mengumpulkan keberanian untuk bertanya, Hanum menghela napas berat.
Huh!!!
" Maaf pak, eh maksudnya om. Saya mau tanya maksud ucapan om Airlangga tadi apa ya?" ucap Hanum pelan.
" Ucapan om yang mana ya?" tanya pak Airlangga.
" Yang tadi, sebelum saya menjatuhkan mainan om" jawab Hanum.
" Oh! Yang itu?!" kata pak Airlangga.
Hanum menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
" Jadi, maksud kedatangan kami sekeluarga ke sini itu untuk melamar kamu ( Hanum ) untuk anak om dan tante " ucap pak Airlangga mengulangi ucapan nya.
Tika yang baru datang dari dapur pun langsung ikut duduk di sebelah Hanum untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Hanum melirik ke arah Devan, dan dia melihat devan yang terlihat kurang senang dengan ucapan papa nya.
Hal itu membuat Hanum berpikir " Kenapa ekspresi anak nya terlihat tidak senang ya! Apa mungkin dia di paksa oleh orang tua nya ya?!".
" Tapi, wajar saja sih! Kan kita baru ketemu tadi terus, sekarang papa nya bilang kalau beliau mau melamar aku untuk menjadi menantu nya" ujar Hanum dalam hati.
" Atau mungkin juga dia sudah mempunyai kekasih! Bisa jadi itu!!" ucap Hanum dalam hati.
" Terus, aku harus bagaimana ya??" pikir Hanum.
" Aku harus menolak nya atau harus menerima nya ya?!" ucap Hanum dalam hati bingung.
Saat Hanum sedang sibuk dengan pikiran nya sendiri, tiba-tiba....
" Num, Hanum.." panggil Juna sambil menepuk bahu nya.
" Astaghfirullahalazim" terkejut Hanum.
" Ada apa kak?" tanya Hanum.
" Itu kamu di tanya sama pak Airlangga " jawab Juna.
" Maaf om, tadi om tanya apa ya?" tanya Hanum.
" Maka nya kalau ada orang bicara di dengarkan, jangan malah melamun!" sindir Juna.
Mendengar sindiran kakak nya membuat Hanum kesal, lalu dia pun langsung menginjak kaki kakak nya.
Hal itu langsung membuat Juna berteriak " Aww!!".
Mendengar Juna berteriak kesakitan, pak Airlangga langsung bertanya " Ada apa nak Juna?".
" Tidak apa pak, tadi ada sesuatu yang menggigit kaki saya pak" jawab Juna bohong.
" Oh! Mungkin di gigit semut ya nak Juna?!" kata bu Vania.
" Mungkin juga bu " jawab Juna.
Mendengar itu Hanum pun diam sambil menahan tawanya.
" Memang enak! Kaki nya aku injak!!" ucap Hanum dalam hati.
" Siapa suruh menyindir aku!" batin Hanum.
Di sela obralan antara beliau dengan Juna, tiba-tiba bu Vania berkata "Hanum, tante boleh tidak bertanya?".
" Tentu saja boleh bu, memang tante mau bertanya tentang apa ya?" jawab Hanum.
" Ibu mau bertanya apakah kamu mau menikah dengan putra tante?" kata bu Vania.
Hanum terdiam saat mendengar perkataan bu Vania.
" Aduh! Aku harus menjawab apa nih?! Masa iya aku langsung jawab, aku tidak mau bu" ucap Hanum dalam hati.
" Yang ada nanti akan membuat mereka kecewa tetapi, kalau aku terima lamaran mereka terus, anak nya menolaknya dan tidak mau menikah dengan ku, mau di taruh mana muka ku" batin Hanum.
Ting!!!
Saat sedang bingung, tiba-tiba Hanum mendapatkan sebuah ide.
" Maaf sebelumnya tante, apakah maksud tante mas Devan yang akan menikah dengan saya?" tanya Hanum.
" Iya Num, Devan yang akan menikah dengan kamu" jawab bu Vania.
" saya mau bertanya boleh tante?" kata Hanum.
" Iya boleh, memang kamu mau bertanya tentang apa?" jawab bu Vania.
" Apakah mas Devan sudah setuju dengan rencana om dan tante?" tanya Hanum.
" Tentu saja dia setuju, iya kan Dev?! " jawab bu Vania sambil melihat ke arah Devan.
Devan pun hanya tersenyum, tetapi senyuman itu terkesan di paksakan.
" Maaf tante, tetapi kan kami baru bertemu tadi siang dan mungkin saja mas Devan sudah memiliki kekasih yang dia cintai dan saya tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan mas Devan dan kekasih nya itu tante " kata Hanum.
Devan terkejut dengan perkataan Hanum.
" Apa mungkin dia berniat menolak lamaran papa dan mama ya?!" pikir Devan
" Terus, darimana dia mengetahui kalau aku sudah memiliki kekasih ya?" batin Devan.
" Dan tebakan nya benar lagi, apa mungkin dia bisa membaca pikiran!?" batin Devan.
" Jadi, maksud nya kamu tidak mau menikah dengan Devan ?!" kata bu Vania yang terkejut dengan perkataan Hanum.
" Aduh!! Aku harus menjawab apa lagi!?" pikir Hanum.
" Kira-kira dia mau menjawab apa ya?" ucap Devan dalam hati penasaran.
" Kenapa aku jadi deg-degan ya?" batin Devan.
lanjuuuuit