Kisah Asmara Arini, seorang gadis muda sederhana dengan kekasihnya Aditya yang harus kandas ditengah jalan. Status sosial menjadi tembok penghalang hubungan mereka.
Dengan terpaksa Aditya melakukan pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya.Tanpa Aditya sadari, Arini melahirkan seorang anak dari hubungan mereka selama ini.
Dengan menelan kekecewaan dan sakit hati, Arini membesarkan anaknya seorang diri dengan penuh perjuangan dan air mata. Hingga akhirnya datang seorang pria bernama Radit yang begitu bersimpatik dan mengagumi kehidupan Arini. Bersamaan dengan itu pula Aditya datang kembali dalam kehidupannya.
Akankah Arini kembali menerima cinta Aditya?
Atau....
Akankah Arini menerima cinta tulus Radit yang begitu mencintai dan menerima semua masa lalunya?
Penasaran.....? pantengin terus cerita di setiap partnya...❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan Kedua
Suara telepon Arini berdering, berkedip-kedip kemudian mati. Sesaat berdering kembali seakan tak sabar memanggil si mpunya untuk segera mengangkat.
"Bundaaaa...ada telepon." Teriak Nuno yang kala itu sedang menggambar, merasa risi dengan suara telepon yang sangat nyaring bunyinya terus menerus bergetar di atas meja.
Arini keluar dari kamar mandi masih berbalut handuk di badannya.
"Kenapa nggak diangkat sih sayang, bunda kan lagi mandi."
"Tanggung bun, Nuno lagi asyik gambar."
"Hallo Bude..Maaf tadi Arini lagi di kamar mandi." Terdengar jawaban dari sana, mengangguk-anggukan kepala dan Arini mengiyakannya. Ntah apa yang dibicarakan Bude Wati. Klik.... telepon ditutup.
Arini segera bersiap-siap, memakai baju santai dan sedikit memakai bedak tipis dan livgloss dibibirnya.
"Nuno kita kerumah Bude Wati yuk, bunda mau bantuin Bude masak."
"Memang ada acara apa bun, ko masak-masak segala?"
"Bunda juga nggak tau, sekarang Nuno beresin buku gambarnya kita kesana sekarang mumpung belum terlalu sore."
"Iya bun.." Nuno segera membereskan peralatan gambarnya.
Setelah sampai di rumah Bude Wati, Arini dikejutkan dengan kehadiran Mbak Anggun anak pertama Bude Wati.
"Loh ko ada Mbak Anggun, kapan datang Mbak?"
"Ariniii....kamu makin cantik aja, baru tadi malam ko Rin.." Memeluk Arini, cipika-cipiki.
"Halo Nuno ponakan tante yang cakep." Mencium pipi Nuno gemas.
"Halo tante." Nuno tersenyum, mencium punggung tangan Mbak Anggun.
"Gimana kabarnya Mbak, Mas Dito nya mana ko nggak keliatan?"
"Lagi keluar dulu ketemu sama temennya, sebentar lagi juga pulang."
Dari arah dapur Bude Wati muncul...
"Eh sudah datang rupanya. Yuk Rin, sini bantuin Bude masak. Kalau ngobrol terus kapan mulai masaknya dong." Sanggah Bude Wati memotong pembicaraan Arini dan Anggun.
"Iya Rin bantuin ibu masak yah, soalnya tar malam mau ngadain reuni kecil-kecilan sama temen-temen SMA dulu. Palingan sepuluh orangan lah nggak banyak."
"Wah seru dong Mbak, bisa ketemy temen lama lagi."
"Ya gitu deh, tadinya mau diluar tapi Mas Dito ngusulin di rumah aja lebih bebas katanya. Nah sekarang Nuno maen dulu sama Tante Laras di atas yah, tante Laras punya game baru loh."
"Memang Nuno nggak boleh bantuin juga ya Tan..?"
"Memang Nuno bisa bantuin apa, ngupasin bawang? entar tangannya kepotong pisau berdarah-darah sakit banget kan."
"Bantuin doa aja Tan..." Nuno langsung berlari menuju kamar Laras di lantai atas.
"Awas yah udah berani ngerjain tante sekarang..." Anggun tertawa dibuatnya.
"Nuno tambah lucu aja ya Rin."
"Ya gitu Mbak, lebih bawel."
"Mbak kapan ya punya momongan, ampe sekarang belun dikasih juga."
"Sabar aja Mbak, mungkin belum waktunya. Lebih banyak ikhtiar dan berdoa saja biar cepat dikasih kepercayaan sama Tuhan."
"Iya Rin, kadang aku suka ngiri liat temen-temen yang baru beberapa bulan menikah udah bisa langsung punya anak. Mbak udah dua tahun malah belum isi juga."
Dua tahun yang lalu sebelum Anggun menikah dengan Dito. Arini adalah tempat curhatnya Anggun, tempat dia berkeluh kesah. Tidak ada lagi rahasia yang Anggun simpan kepada Arini apalgi tentang kisah asmaranya yang naik turun kadang berbelok bagaikan jalanan, hee..
Walaupun Arini lebih muda tiga tahun dari Anggun, tapi Arini lebih bisa bersikap bijak dan dewasa dalam mengyingkapi sebuah masalah. Maka dari itu Anggun sering meminta pendapat Arini soal apapun itu.
"Sabar toh Cah Ayu...Ibu juga dulu waktu mau ngandung kamu kosongnya lama ampe lima taun. Mungkin kamu nurun dari ibu kosongnya lama." Bude Wati menimpali.
"Memang bisa gtu Bu?"
"Ya bisa donk, masa ibu bohong."
Kemudian mereka bertiga melanjutkan acara masak-memasaknya. Sambil diselingi obrolan masa kecil Anggun dan Laras yang diceritakan Bude Wati dengan penuh semangat. Kadang Mbak Anggun mengelak karena cerita ibunya itu sedikit dilebih-lebihkan. Membuat Arini tertawa mendengarnya. Melihat keakraban Ibu dan anak yang tidak pernah Arini rasakan membuatnya sedikit iri.
Jam delapan malam....Sebagain teman-teman Anggun dan Dito sudah mulai berdatangan. Kebetulan mereka satu SMA jadi teman-temannya pun sama. Ada yang membawa istri ada juga yang baru menggandeng tunangannya.
Arini ikut tersenyum dipojokan memperhatikan senda gurau mereka, terlihat saling melepas rindu. Menceritakan masa-masa SMA mereka dulu yang harus kena hukuman didepan tiang bendera karena ketauan menyontek saat ulangan, dibawa ke ruang BP karena makan dikantin saat jam pelajaran masih berlangsung dan ada juga yang memanjat tembok sekolah hanya karena ingin nonton bioskop karena takut kehabisan karcis,,haaa....sungguh menggelikan.
"Rin...tolong bawain ini kesana ya!" Menunjuk wadah berisi es campur dengan buah-buahan berwarna-warni terlihat sangat menyengarkan.
Arini membawanya menuju taman belakang yang sudah disulap menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul. Dengan menyimpan sebuah meja panjang tempat menyimpan makanan dan menggelar beberapa helai tikar sebagai alas tempat duduk agar bisa berselonjoran kaki, santai.
Ketika Arini menyimpan wadah es dan menata beberapa gelas dimeja. Tiba-tiba terdengar suara Dito yang baru datang bersama seseorang dari arah belakang. Saat Arini berbalik hendak menyimpan gelas kotor, badan Arini malah bersenggolan dengan temannya Dito, alhasil air yang tersisa di gelas kotor itu tumpah mengenai kemeja temannya Dito.
"Aduh maaf Mas, saya nggak sengaja."
"Nggak papa Mbak, nggak pa...."
Tidak melanjutkan kata-katanya, saat pandangan mata mereka bertemu..
Eh...Ya Tuhan kenapa ada cowok ini lagi, makin panjang daftar malu ku, gumam Arini.
Eh... wanita ini lagi, Dewa cinta memang benar-benar berada dipihakku, gumam Radit.
"Arini ya...?"
Arini mengerutkan dahi tak mengerti, kenapa cowok ini tahu namanya.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Dito.
"Tadi sempet ketemu di Mall, waktu kita janjian tadi."
"Oh pantesan..."
"Saya Radit." Menggulurkan tangannya kerah Arini.
"Loh kalian belum kenalan, tadi katanya udah sempet ketemu."
"Sempet ketemu tapi nggak sempet kenalan. Aku cuma tau nama dari nametage aja."
Arini baru menyadari, ternyata gara-gara baju kerjanyaa cowok didepannya ini tahu namanya. Kemudian Arini menyambut uluran tangan Radit.
"Kalau begitu saya pamit ke dapur dulu." Arini pamit undur diri.
"Rin mau kemana, ikut gabung aja sama kita." Anggun datang menghampiri sebelum Arini hilang dari pandangannya.
"Nggak usah Mbak, mau beres-beres dapur dulu."
Radit memperhatikan Arini tak berkedip. Memakai jeans biru ketat selutut dipadukan kaos putih polos. Rambut yang diikat keatas dengan sebagian rambut halus yang menjuntai dikening, membuat Radit benar-benar terpesona dengan kecantikannya. Tanpa polesan make-up pun sudah benar-benar sangat cantik. Ahhh....
"Ehemm..ehemm.." Deheman Anggun membuyarkan perhatian Radit, padahal orang yang dilihatnya sudah lama berlalu pergi.
"Radit ayo...temen-temen udah pada nungguin." Radit tersenyum kikuk malu, seperti seorang maling yang ketauan nyolong barang curian, seperti anak kecil yang ketauan ibunya makan permen, seperti seekor kucing yang ketauan nyolong ikan asin, seperti...seperti....dan seperti yang lain-lainnya....Apes...