Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan
Satu jam kemudian Rena ke dapur mencari Luna, "lun..Luna..."
"Ya non," jawab gadis itu yang segera menemui Rena.
"Mana makanannya, aku udah lapar,"
"Oh sudah ada, sebentar non saya ambilkan." ucap Luna berlalu ke dapur.
"Makanan apa ini?"tanya gadis itu sambil menatap jijik.
"Maaf non, hanya itu yang ada di kulkas, jadi saya hanya bisa masak nasi goreng dan telur mata sapi." jawab Luna menunduk
"Ada apa ini?" Miranda mendekat Setelah mendengar suara keributan.
"Ini Ma, masa dia cuma masak ini, makanan apa ini?" bentak Rena.
"Maaf nyonya, tidak ada bahan makanan lain di kulkas, jadi saya hanya masak itu saja." ucap Luna takut-takut.
"Oh iya saya lupa. Nanti kamu ikut saya belanja. Sekarang kamu nyuci gih, sudah seminggu pakaian tidak di cuci, oh ya cuci yang bersih ya awas jika masih ada noda yang tertinggal, satu lagi jangan sampai pakaian saya rusak karena baju saya harganya sangat mahal." ketus Rena
"Baik nyonya." sahut Luna kemudian bergegas naik ke lantai atas mengambil pakaian kotor, dia memasukkan nya ke dalam kantong plastik dan membawanya turun.
"Ma, kok Mama nggak marah sih?"
"Sudahlah makan saja, memang sejak kepergian Lila Mama belum belanja, kan biasanya si bodoh itu yang belanja,"
"Iya tapi makanan apa ini Ma!"
"Makan, jangan banyak bicara, setelah kita jadi orang kaya, dan menguasai semua harta warisan ini, kau bebas melakukan apapun,"
Dengan wajah merengut Rena menarik nasi goreng di depannya dan mulai memakannya, begitu juga dengan Miranda wanita itu pun menyantap nasi goreng yang dimasak oleh Luna.
Didalam kamar Rena, Luna bisa melihat jika wanita itu adalah gadis yang sangat boros, pakaian, tas dan sepatu branded berjajar dan tersusun rapi disana, sangat kontras dengan kamar Lila, yang hanya ada tempat tidur dan lemari kecil, tidak ada tas branded, serta Sepatu berjajar rapi seperti milik Rena.
Pakaian Rena juga sangat berkelas dan tentu saja mahal, "Apa yang kau lakukan?" suara bentakan Rena membuat Luna terkejut.
"Maaf non, ini semua mau dicuci?"
tanya Luna menunjukkan setumpuk pakaian kotor.
"Iya, dan kau harus mencucinya dengan tangan, ingat jangan sampai rusak." ucap gadis itu
"Baik Non," jawab Luna menunduk
"Oh iya lun, aku penasaran, apa kau memiliki saudara?"
"Ada non, saya memiliki adik tapi adik saya sudah meninggal,"
"Meninggal? kapan?" tanya Rena lagi, gadis itu masih yakin jika yang di depannya adalah Lila.
"Sejak masih kecil non, kaya ibu saya adik saya itu sakit-sakitan. Dan dia akhir nya meninggal."
"Oh, apa kamu pernah ke Jakarta sebelumnya?"
"Belum non, saya baru pertama kesini ingin mengadu nasib non, setelah ibu saya meninggal saya putuskan untuk meninggalkan kampung halaman saya."
"Ya sudah sana balik kerja, oh ya antarkan minuman ke kolam, aku mau berenang."
"Iya, siap non." Ucap Luna berlalu dari kamar tersebut.
Setelah kepergian Luna, Rena menarik napas lega, "Ternyata dugaaanku salah," ucapnya pelan.
***
"Lun...Luna..." panggil Miranda dengan suara keras dari atas balkon.
"Ya nyonya," gadis itu berlari dengan tergopoh-gopoh menemui majikannya.
"Lambat sekali, aku haus, buatkan aku minum"
"Minum apa nyonya, panas, dingin, atau-"
"Jus apel," potong Miranda
"Maaf nyonya tapi tidak ada buah apapun di kulkas,"
"Lalu untuk apa kau bertanya aku mau minum apa?" tanya Miranda kesal.
"Dasar bodoh," lanjutnya marah.
Didalam hatinya Luna hanya bis menggeram kesal karena Miranda memaki dan mengatai nya bodoh.
"Huh!" Miranda membuang napas berat, 'Aku lupa jika dia bukan Lila, dia pembantu baru,"
Miranda meraih dompetnya dan menarik sejumlah uang lalu memberikannya kepada Luna, "Nih uang, kamu pergi belanja bulanan, nanti kamu diantar oleh sopir."
"Belanja dimana nyonya? supermarket?"
"Enak banget di supermarket? di pasar, buruan siap-siap,"
"Iya nyonya."sahut Luna kembali berjalan ke dapur,
"Eh tunggu, ambilkan aku cemilan dan juga air dingin,"
"Jangan bilang itupun tidak ada," sambung Miranda
"Sebentar nyonya saya ambilkan." sahut Luna.
Gadis itu segera berlari ke belakang sambil menggerutu, dan saat itu tak sengaja dia bertemu dengan seorang wanita tua, "Lila" ucap wanita itu
"Bibik...," sahut Luna, langsung saja bibik memeluk gadis itu, keduanya berpelukan namun Luna masih bingung siapa wanita di depannya itu.
"Terima kasih ya Allah, kau telah mengabulkan doaku, Alhamdulillah nona selamat." sahut Bik Anne
Wajah Luna semakin kaget, dia memang sudah mencari tau sebelumnya tentang siapa saudara kembarnya, dan dari informasi yang dia terima bahwa saudara kembarnya itu tinggal dengan ibu tiri dan saudara tirinya yang kejam.
"Luna..."
"Ya nyonya sebentar," Luna melepaskan pelukannya dan segera mengambil air minum dan cemilan untuk Miranda, sebelum wanita itu mengamuk.
"Nanti kita bicara ya bik," ucapnya pada Bik Anne
Wanita tua itu terkejut, "Dia bukan Lila cara bicara dan suaranya berbeda.
***
Luna berbelanja diantar oleh sopir, dan gadis itu pun memulai penyelidikan nya.
"Bapak sudah lama bekerja disini?"
"Sudah neng," jawab pria paruh baya yang dia kenal dengan nama mang Asep.
"Pembantu sebelumnya kemana ya Pak?''
"Wah saya kurang tau, tapi nyonya memang hanya memiliki satu pembantu, Bik Anne, neng sudah ketemu belum?"
'Oh ibu tua yang tadi, dan namanya Bik Anne,' batin Luna
"Sudah mang tapi cuma sekilas,"
",Bik Anne tugasnya merawat tuan yang sedang sakit, makanya nyonya cari pembantu baru," jelas mang Asep
"Maaf mang saya dengar anaknya nyonya baru meninggal ya, kecelakaan?"
"Iya neng, dan hal itu yang bikin bapak jadi sakit-sakitan, bapak teringat neng Lila terus ".
"Oh ya?"
"Bapak kenapa nggak dibawa ke rumah sakit?"
"Nggak tau juga neng, eh kita udah sampe, saya tunggu disana ya neng," ucap mang Asep menghentikan mobilnya, Luna turun dan masuk ke dalam pasar.
Luna yang tidak pernah belanja ke pasar, tentu saja kesulitan, gadis itu kebingungan dan sesekali dia menutup hidungnya karena mencium aroma yang tidak sedap.
Luna sudah menghubungi seseorang tak lama orang itu datang, dan dia segera berbelanja. Luna hanya menunggu sambil duduk di sebuah warung,
Setengah jam kemudian orang tersebut datang dengan belanjaannya, dan dia menyerahkannya kembali ke pada Luna, lalu Luna pun pergi.
Dia segera kembali bersama dengan mang Asep.
Di rumah.
Luna naik kelantai atas untuk membersihkan ruangan dan mengepel lantai, tujuannya adalah mencari tau dimana pria tua yang disebut Miranda itu berada, Luna sangat ingin bertemu dengannya, mencekiknya dan membuangnya ke laut biar dimakan ikan hiu.
Luna sudah mengepel semua ruangan, tinggal ruangan paling ujung yang belum dia buka, Luna semakin mendekat, tiba tiba ada seseorang dibelakangnya dan memegang pundaknya.
"Mau ngapain kamu?" tanyanya dengan suara ketus dan penuh ancam.
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...