NovelToon NovelToon
Cintai Aku Suamiku

Cintai Aku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: shanum

"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."

Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.

Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murka Daffa

Bugh!

Kepalan tangan melayang pada wajah Arif, menjatuhkan lelaki itu ke sofa. Bagas sontak berdiri meneriakkan nama putranya tegas, Santi dan bu Rina berteriak terkejut akan apa dilakukan oleh lelaki langsung ditarik lengannya kasar oleh sang papa.

"DAFFA!" teriak Bagas menarik lengan putranya. "Apa yang kamu lakuin?!"

"Dia pantes dapat itu, Pa! Bahkan dia pantes dapat lebih dari itu!" teriaknya menunjuk wajah Arif, menepis tangan papanya. "Dia cinta sama Nia, dan dia pengen rebut Nia dari Daffa!" sambungnya.

Bagas, bu Rina dan Santi terkejut bukan main, mendengar kata-kata yang terlontar menyiratkan amarah menggebu dari Daffa. "Jangan ngomong yang gak masuk akal!" tegas Bagas.

"Gak masuk akal?! Papa tanya aja sama dia, apa yang udah dia omongin ke Daffa kemarin! Dia terang-terangan ngomong kalau bakal rebut Nia, dia udah lama cinta sama Nia! Sekarang juga dia kesini buat bawa Nia pergi dari hidup Daffa!" berapi-api lelaki itu menjelaskan, suara semakin meninggi menunjukkan amarah tengah dirasakan.

Ketiganya menatap Arif, lelaki itu berdiri seraya memegangi bibir dengan ibu jari. Senyum terpasang sangat tipis, menatap Daffa tanpa adanya rasa takut sama sekali. "Apa yang dia katakan memang benar. Saya akan merebut Vania, karena dia tidak bahagia dan hanya ketakutan saja." Arif menjelaskan pada lainnya, tapi dia menatap lelaki di depannya.

"Dasar kurang ajar!" geram Daffa, mengangkat kembali kepalan tangan dan ingin menghadiahkan pada Arif atas ucapan dianggapnya terlalu berani.

"Mas!" teriak Vania dari kejauhan, menoleh semua orang padanya.

Telinga mendengar kegaduhan, Vania keluar dari kamar. Melihat sang suami hendak melayangkan pukulan, perempuan masih tampak pucat itu lekas mencegah. Vania berjalan ke ruang keluarga, meski kepala terasa berat. Daffa menatap lekat istrinya, rahang masih mengerat kuat dengan tangan gemetar hebat, menahan amarah pada kepalan tangannya.

"Apa yang mas lakuin?! Kenapa mas mukul mas Arif?"

"Jangan pernah bela atau panggil dia kayak gitu di depanku!" teriak Daffa murka.

"Daffa!" teriak Bagas.

"Jangan ikut campur urusan rumah tangga Daffa, pa! Nia istri Daffa, dan gak pantes dia bela laki-laki lain kayak gitu!" sarkasnya cepat.

"Istri?" tatap Vania pada mata sang suami. "Sejak kapan mas anggap aku istri? Aku gak pernah ngerasain jadi istri selama kita nikah. Seorang istri bukan untuk dibentak, bukan untuk diacuhkan, tapi dibimbing dan disayangi, Mas.

"Kamu gak akan pernah ngerti apa pun, Nia! Karena emang kamu gak pernah mau ngerti keadaanku!" tegas Daffa.

"Bagian mana yang aku gak ngerti, Mas? Aku terus nyoba buat ngertiin mas, biarpun itu juga nyakitin hati aku sendiri. Gak ada istri mana pun yang akan bahagia, ngelihat suaminya terus mencintai mantan istrinya dan pakai cincin dari pernikahannya yang dulu, Mas." Vania berucap pilu.

"NIA!" bentak Daffa keras.

"Mba Nessa udah gak ada, Mas. Dia udah bahagia di sana, dan gak akan pernah kembali ke mas lagi, meski seberapa kali mas minta dia buat balik. Kalau mas emang cinta sama mba Nessa, lepasin dia dan biarin dia tenang di sana. Apa mas pikir, dengan terus hidup dalam kenangan, mba Nessa akan bahagia? Enggak, Mas. Itu cuma bakal buat mba Nessa berat, dan it—," terpotong perkataan Vania.

"CUKUP, NIA!" teriak Daffa, menampar kuat wajah perempuan di depannya.

Vania hampir terjatuh, tapi beruntung Arif dan Bagas menahan tubuhnya. "Keterlaluan kamu, Daffa!" maki Bagas. "Apa ini yang udah papa ajarin ke kamu selama ini?! Beraninya kamu mukul perempuan!"

Daffa mematung, tangan masih terangkat dan digenggam perlahan olehnya. Vania memegangi sisi wajah terasa sakit, namun tak sesakit hati yang terus ditikam oleh kata-kata juga sikap dari suaminya. Bu Rina merangkulkan tangan pada lengan Vania, membawanya ke dalam dekapan.

"Kita pulang, Nak. Ibu gak akan rela kalau kamu cuma disakiti aja di sini," katanya menatap tajam Daffa.

Mengajak Vania langsung berjalan, tubuh lemasnya mengikuti saja. Santi dan Bagas ingin mencegah, tapi keduanya tak memiliki keberanian setelah melihat sendiri perlakuan buruk dari putra mereka, yang begitu ringan tangan dan mulut. Arif mengikuti Vania juga ibu panti, sempat baginya untuk berpamitan pada si empunya rumah.

Daffa tersadar dari posisi mematung, melihat istrinya sudah tak ada lagi di depan mata. "Nia!" teriaknya memanggil.

"Mau apa lagi kamu sekarang?!" cegah Bagas mencengkeram lengan putranya.

"Lepasin, Pa! Daffa gak akan pernah biarin Nia pergi!"

"Buat apa?! Kamu siksa setiap hari?! Kamu udah ceraiin Nia, dan kamu udah gak ada hak apa-apa lagi! Hidup aja sama masa lalu kamu, dan sakitin semua orang!" tegas Bagas, menghempaskan tangan putranya dan membawa Santi pergi bersama.

Daffa terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia berlari menyusuri rumah untuk mencegah kepergian istrinya. Namun, mobil hitam dikendarai oleh Vania sudah berjalan, Daffa berlari mengejar seraya berteriak. "NIA!" teriaknya, berlari dengan sangat kencang. "NIA, TUNGGU!"

Arif melihat dari kaca spion, dia semakin mempercepat laju kendaraan keluar dari pagar. Daffa masih terus berlari, sekuat tenaga ia berteriak menyerukan nama sang istri. Membiarkan telapak kaki tanpa alas tersakiti oleh kerikil jalanan, sampai akhirnya langkah harus terhenti, karena mobil Arif sudah tak sanggup ditangkap oleh kedua matanya. Berlutut ditengah jalanan yang keras, tubuhnya berubah lemas tak berdaya.

"Aku mohon jangan pergi, Nia. Maafin aku," sesal Daffa mengurai air mata. "Aku salah, aku minta maaf. Tolong kembali, aku butuh kamu, Nia."

Tertunduk dalam sesal, ditemani air mata membanjiri wajah. Daffa terus memohon agar Vania kembali, walau nada sendu itu tak akan pernah disampaikan oleh angin pada telinga perempuan yang kini berada dalam dekapan bu Rina. Vania mengurai air mata, semua yang tertahan ia lepaskan dalam pelukan hangat mampu memberikan rasa aman.

Dalam luka hatinya sekarang, Vania pun memiliki penyesalan. Ia merasa telah gagal sebagai seorang istri, yang seharusnya menutupi masalah rumah tangga dan perlakuan suaminya. Harusnya ia tak menuruti bimbingan hati, melontarkan apa sudah tertahan dan terus menambah luka setiap detiknya. Dia merasa bersalah dan malu pada bu Rina, karena mengabaikan semua pesan telah dititipkan ketika dirinya menikah.

Bahwa seorang istri tak harus mengumbar sikap buruk suami, menjadikan rahasia bersama Tuhan sampai ajal datang menjemput nanti. Namun, semua yang terucap bukan atas kehendak Vania, mengalun begitu saja tanpa rencana, melontarkan kata yang sedikit saja tak pernah ingin untuk disampaikan, walau hanya sekedar pada angin yang berembus.

Bu Rina membisu, belaian tangan lembut diberikan pada punggung Vania, membiarkannya menumpahkan seluruh air mata, agar bisa sedikit terbebas dari beban serta luka yang dirasa. Setidaknya, apa yang terjadi telah menjawab segala tanya bu Rina, akan wajah serta mata penuh kesedihan Vania semenjak dirinya menikah. Sendirinya pun merasa sangat bersalah, karena pernah menyampaikan niatan dari keluarga Daffa untuk meminangnya.

1
Lenika Ariska Milala
ktNy end... tpi kok gk ada lanjutany,,
Isti Rahayu
kenapa sih bilang cinta aj susah .emang cintanya cuma buat Nessa yg udah jdi tanah bawa tu cintamu Dafa Sampek ke liang lahat kenapa Dafa gak ikut masuk kubur aj kalo cinta mati .untung ketemu istri yg berhati emas seperti Vania bisa terima apa adanya😱
Anneke28 Annetje
ceritanya sdh tamat ya kak ke ingin vania berubah apa tdk ada ke lanjutannya ceritanya bagus lo
Rudi Yanto
bacakan
Nun Umshar
sellu is the best
Wati_esha
Terima kasih informasinya.
Omi Rohimah Omi
Luar biasa
Grace Kristianti
lanjut Kak ceritanya bagus, Maaf bintangnya baru dikasih
Rosikh Nurhayati
semangat thor,,
Rosikh Nurhayati
ngakak banget
Rosikh Nurhayati
sukaa tp gengsian
Rosikh Nurhayati
sediiiih
Rosikh Nurhayati
haduhhhh amit2
Ani
banjirrrrr air mata q
Ilham Risa: Hai kak, mampir yuk ke novel aku "Tentara Itu Ayah Dari Putraku" makasih kak🙏
total 1 replies
Tri Soen
Woalaaaah Dafa bilang nya gak cinta sama Vania tapi kok bisa2 nya cemburu gitu 😂
Tri Soen
Apa sich mau nya Daffa ...mau nya marah2 trs je Nia ...ntar darting lho 🤭
Yeti Budiawati
bagus ceritanya, di tunggu kelanjutannya 👍👍👍😘😘😘😘😘
Yati Maryati
keren banget
Yati Maryati
Daffa udah mulai bucin
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe
Poni Puspasari
Lanjutttt Thorrrrrr..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!