NovelToon NovelToon
Tentang Bintang & Galaksi

Tentang Bintang & Galaksi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Romantis / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chika Ssi

"Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih yang tak jelas! Kurasa itu salah satu alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama

"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini, aku hanya mengikuti lomba baca puisi. Bukan lomba kecantikan. Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Kejora.

"Kamu itu unik! Nggak usah dengerin apa kata orang! Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa jadi alternatif terbaik dalam hidup! Ingat, setiap orang itu dilahirkan spesial! Dan kamu adalah salah satunya!" ~Galaksi Milkyway.

(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir 😂😂😂)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isi Otak dan Hati yang Tulus Lebih Penting Daripada Wajah yang Rupawan, Bukan?

Bu Pelangi merengkuh tubuh Bintang, dan memeluknya penuh kasih sayang. Perempuan paruh baya itu menepuk perlahan punggung Bintang. Sesekali dia mengecup puncak kepala gadis itu. Bu Pelangi dapat merasakan kepedihan yang sudah dialami Bintang. Akan tetapi, dia tidak membenarkan niat Bintang untuk membalas perbuatan Bulan.

"Bunda tahu, bagaimana perasaanmu. Sakitnya dihina, sepinya dikucilkan, tapi Bunda tidak ingin kamu menyimpan dendam yang pada akhirnya justru akan menggerogotimu di kemudian hari."

"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin balas dendam!" seru Bintang di tengah isak tangisnya.

"Balas dendam apa?"

Dua perempuan beda usia itu seketika menoleh ketika suara bariton Dokter Langit menyapa pendengaran mereka. Mata Bu Pelangi melebar, begitu juga dengan Bintang. Gadis itu langsung menghapus air matanya.

"Ah, i-itu, Yah. Bintang ...." Bu Pelangi tergagap karena bingung harus mengatakan apa kepada suaminya.

"Bintang, jawab Ayah! Balas dendam apa?" Suara Dokter Langit terdengar menusuk. Bintang menunduk jemarinya kini memilin ujung kaos yang ia pakai.

"Bulan, Yah. Bintang ingin membalas perbuatan Bulan di masa lalu."

"Apa yang akan kamu lakukan untuk membalas perbuatannya?" Dokter Langit menghampiri Bintang, dan duduk bersimpuh di depan gadis itu.

"Bintang ingin ikut Abang None, mau menyaingi Bulan lewat ajang itu." Bintang melirik sang ayah dibalik rambutnya yang terurai menutupi wajah.

Dokter Langit kembali berdiri tegak. Terdengar helaan napas panjang dari bibir lelaki itu. "Baiklah. Lakukan saja!"

"Ya?" Bintang mendongak menatap Dokter Langit yang memasang wajah datar.

"Ayah bilang lakukan! Tapi dengan catatan! Kamu harus berusaha sungguh-sungguh agar menjadi juara! Kamu tidak boleh melakukan kecurangan! Kamu harus menang karena hasil kerja kerasmu!" Dokter Langit menepuk pundak Bintang, kemudian keluar dari kamarnya.

Sebuah senyum lebar mengembang di bibir Bintang. Dia langsung berdiri dan melompat kegirangan. Bu Pelangi ikut tersenyum melihat kegembiraan putri kesayangannya itu.

"Ingat kata Ayah! Kamu harus berusaha lebih keras dan tidak melakukan kecurangan!" Bu Pelangi merangkum wajah cantik Bintang, kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

"Iya, Bunda. Bintang janji akan melakukan yang terbaik!"

***

Hari penyeleksian tahap pertama pun tiba. Jantung Bintang berdegup kencang ketika sedang bersiap untuk berangkat ke lokasi, diadakannya seleksi tahap awal. Gadis itu tampak cantik dalam balutan blazer dan rok pendek hitam. Bu Pelangi juga merias wajah Bintang, agar terlihat semakin bersinar.

"Astaga, ini pertama kalinya aku tampil di depan umum. Bagaimana ya nanti?" Bintang mondar-mandir di dalam kamar sambil berusaha menenangkan dirinya.

"Bintang!"

Langkah Bintang berhenti, kemudian menoleh ke arah pintu kamar yang setengah terbuka. Awan sedang melongok dengan alis yang saling bertautan.

"Buruan! Nanti terlambat!" seru Awan.

"Astaga! Abang kok nggak panggil Bintang dari tadi?" Bintang melirik jam dinding sekilas, meraih tas selempang, kemudian memakainya.

"Kamu tuh, dari tadi Abang panggil cuma mondar-mandir kayak setrikaan! Masih baik nih ya, aku mau nganter kamu pergi ke sana!" Awan terus menggerutu sambil menuruni anak tangga. Bintang yang mengekor di belakangnya hanya menggerakkan bibir menirukan ucapan sang kakak.

"Udahlah, Bang! Buruan! Ngomelnya nanti aja kalau udah selesai seleksi!"

***

Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah gedung serba guna di pusat kota. Ada sekitar 200 peserta yang hadir untuk mengikuti seleksi awal ajang bergengsi itu. Bintang diberi kertas berbentuk lingkaran dan bertuliskan angka 20.

Sebelum interview, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan kegiatan diskusi. Setelah kegiatan diskusi itu selesai. Bintang dan peserta lain, kembali menunggu untuk mengikuti tes interview.

"Bintang!"

Mendengar namanya dipanggil, gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Bulan terpaku dengan mata terbelalak. Bintang tersenyum tipis sambil mengangguk. Bulan melangkahkan kaki, dan menghampiri Bintang.

"Kamu ikutan juga? Kok nggak cerita apa-apa?" tanya Bulan.

"Mau kasih kejutan ke kamu, Bulan." Bintang tersenyum penuh arti.

Bintang dan Bulan mengobrol ringan sambil menunggu nomor peserta mereka dipanggil. Sepuluh menit kemudian, Bulan dipanggil.

"Peserta nomor 1 sampai 10 silahkan masuk!" panggil seorang perempuan dengan setelan blazer berwarna peach.

"Aku masuk dulu, Bintang!" Bulan beranjak dari kursi, kemudian melangkah menuju ruangan yang digunakan untuk melakukan interview.

bintang tersenyum tipis sambil mengangguk. Ketegangan gadis itu kembali datang. Perutnya terasa mulas, keringat dingin mengucur di balik pakaian. Kaki Bintang bergerak naik turun beradu dengan lantai. Perempuan yang duduk di sampingnya sampai menegur, karena terganggu dengan suara ketukan pantofel milik Bintang.

Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhirnya peserta nomor 1 sampai 10 keluar. Bulan terlihat pucat pasi. Bintang langsung menghampiri temannya itu.

"Kamu sakit?" tanya Bintang dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Sepertinya aku tidak lolos lagi." Pelupuk mata Bulan mulai memerah dan basah. Bintang mencoba menghibur Bulan dan menenangkannya. Tak lama kemudian seorang panitia meminta nomor peserta 11 sampai 20 untuk masuk.

"Giliranmu, Bintang!"

"I-iya, aku masuk dulu, ya?" ZeeBintang menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia terus mengatur napas, hingga sel-sel syarafnya terasa rileks. Setelah merasa lebih tenang, Bintang melangkah masuk ke ruang interview.

Di dalam ruangan itu sudah ada sembilan peserta lain. Mereka sama-sama memakai pakaian formal dan berdiri berdampingan. Di depan mereka sudah ada delapan orang juri yang ahli di bidangnya masing-masing.

Bintang mengangguk memberi salam kepada juri, kemudian berdiri paling kiri sesuai nomor urut. Dia mendengarkan setiap pertanyaan yang diajukan para juri kepada peserta lain. Jawaban semua peserta membuat Bintang terpukau. Setiap peserta lain selesai menjawab pertanyaan, juri bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.

"Nomor peserta 20, coba ceritakan tentang kepribadianmu!"

"Ya?" Bintang mengangkat alisnya karena mendapat pertanyaan berbeda dari peserta lain.

Jika peserta lain mendapat pertanyaan mengenai sejarah Ibu Kota dan semua yang berkaitan dengan sektor pariwisata dan kebudayaan, Bintang mendapatkan pertanyaan yang tidak ia pikirkan. Para juri menatap serius ke arah Bintang. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.

"Jika Anda meminta saya untuk menceritakan kepribadian, maka itu adalah hal yang salah."

Para juri melebarkan mata, dan saling menatap satu sama lain. Mereka sesekali berbisik, lalu menatap heran ke arah Bintang yang masih berdiri tegak. Peserta lain juga menoleh ke arah gadis itu sambil tersenyum miring.

"Bukankah ini adalah pertanyaan mudah? Kamu tinggal menjawabnya bahkan tanpa berpikir," celetuk peserta nomor 19.

"Bukankah sebuah umpatan juga keluar tanpa dipikir terlebih dahulu sebelum diucapkan?" Bintang menatap lelaki di sampingnya sambil tersenyum miring.

"Para juri yang terhormat, saya tidak akan menceritakan mengenai kepribadian yang saya miliki. Bukankah kita tidak bisa melihat diri kita sendiri tanpa bantuan sebuah cermin? Jadi, silahkan nilai saya sesuai dengan apa yang Anda lihat, karena Anda semua adalah cermin bagi saya." Bintang menunduk kemudian tersenyum kepada para juri.

"Baiklah, saya akan mengganti pertanyaannya. Apa alasanmu sehingga ingin mengikuti ajang ini?"

"Saya ingin membuktikan bahwa isi otak dan hati lebih berguna daripada wajah rupawan. Semua terbukti, peserta di sini selain memiliki wajah rupawan, otak mereka juga sangat cerdas. Kita tidak membutuhkan orang dengan wajah rupawan untuk membangun negeri ini, tetapi kita membutuhkan orang berhati tulus dan otak yang cerdas agar dapat memecahkan setiap masalah dengan baik."

Para juri langsung bangkit dari kursi mereka, kemudian bertepuk tangan ketika Bintang selesai menjawab pertanyaan dari juri. Peserta lain juga ikut bertepuk tangan, hingga ruangan itu terasa begitu ramai.

Bersambung ...

Assalamualaikum...

Terima Kasih yaa sudah mengikuti cerita Chika sejauh ini❤️❤️❤️

Sambil nunggu karya ini Up, mampir yukkk ke salah satu karya teman authorku.

Judul: Malena

Author: Khodijah Rahman

Blurb:

"Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!"

Malena, gadis yang mengalami trauma psikis akibat diperkosa saat usianya baru 10 tahun. Dia bagaikan mayat hidup selama hampir 3 tahun setelah kejadian itu. Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya jika dia melihat orang asing terutama laki-laki.

Orang tua Malena berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan putrinya, hingga memutuskan untuk pindah dari Napoli ke Firenze.

Akankah Malena sembuh dari traumanya? Akankah Male a bertemu dengan lelaki yang mampu menghilangkan traumanya?

1
🌹🪴eiv🪴🌹
aku.marah Sama author

kok bulan di matiin,bikin cacat dong,,
😭😭😭😭


terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜
Bisa Pesan Cover di Saya: ampuunnnn 😭😭😭
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
py ceritane bulan hamil bayi gala,,
gala di kasi obat tidur bukan obat perangsang
🌹🪴eiv🪴🌹
otak halu aku kenapa nggak bisa menerima ya kalo ada perundungan bersifat kriminal

ini kriminal ,,ih sebel sama otakku padahal tahu cuma cerita 🙈
Bisa Pesan Cover di Saya: Kriminal bgt sebenernya😭😭😭
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
aku disini 🤗


bulan kau itu bersinar karena cahaya matahari jadi jangan belagu,, aslinya Lo itu item butem 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹: terhura ya 🥺
total 2 replies
Bisa Pesan Cover di Saya
Haiii Semua...

Apa kabar?

Chika mau rilis novel baru awal bulan besok loh...

Judulnya TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

Jangan lupa mampir dan kasih dukungan yaa❤❤❤
Leli Darwika
semangat terus ya Thor 💪💪💪🌹🌹🌹🌹
Leli Darwika
semoga saja ada dewa penolong.
Leli Darwika
😭😭😭😭
Leli Darwika
jahatnya kamu bulan...😡😡😡😡
Leli Darwika
bagus bintang.
Leli Darwika
duh, sungguh. kembaran yang bertolak belakang. baik n buruk.
Leli Darwika
😱😱😱😱
Leli Darwika
bunda yg penyabar.
Leli Darwika
hatimu sungguh mulia bunda.
Leli Darwika
yang sabar ya bintang.....
Leli Darwika
aku padamu bintang.
Leli Darwika
bagus bintang, pertahankan sikapmu itu.
Leli Darwika
tetap semangat ya bintang....
semoga kebahagiaan yg sebenarnya cepat menghampiri mu.
Leli Darwika
bintang sudah tau kebohongan gala. tp berharap bintangnya, sabar n menunggu galanya berkata jujur ajj.
Leli Darwika
masih berbohong ajj kamu gala.
kapan kamu jd lelaki sejati. yg bisa jujur sama pasangannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!