Kayla Wiranata dan Fatin Azahra adalah dua orang sahabat. Mereka bersahabat sejak belia ketika orang tua mereka bertugas sebagai diplomat di Prancis. Perpisahan mereka karena mengikuti tugas orang tua sebagai diplomat tidak lantas membuat persahabatan mereka putus.
Mereka masih menjadi sahabat dekat hingga keduanya menikah dengan pasangan masing-masing. Ketika Kayla menyadari usianya tak panjang lagi, ia memohon Fatin untuk menikah dengan suaminya, Rayyan Rajendra.
Apakah Fatin bersedia menikahi suami sahabatnya sendiri?
***
Hallo! Ini novel pertamaku, Freya Alana, semoga suka yaaa….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bertahan
Fatin sedang tekun mencoretkan pensilnya ke buku sketsa. Ia harus segera mengirimkan revisi desain perhiasannya ke bagian 3D untuk dibuat dalam bentuk digital.
Setelah dua minggu bekerja keras mereka berhasil mengirimkan lima belas rancangan perhiasan ke Rumah Mode Guillian. Marc bolak balik melontarkan pujian terhadap desain yang mengedepankan etnik namun masih cocok dengan pakaian-pakaian rancangannya.
Hasi rancangan Fatin mulai menjadi buah bibir di kalangan rumah mode di Prancis. Ia sudah kebanjiran tawaran kerja sama untuk satu tahun ke depan.
Klien dalam negeri pun bertambah. Baru saja ia mendapat order untuk merancang cincin pertunangan seorang pengusaha yang akan menikahi kekasihnya seorang model.
Fatin selalu berusaha mendengarkan cerita dari para kliennya. Semuanya ia tumpahkan dalam rancangannya sehingga ia tidak sekadar memberikan rancangan yang indah melainkan juga rancangan yang bercerita.
Kepribadiannya yang terbuka, senyumnya yang ramah, membuatnya dengan mudah dekat dengan para kliennya.
Klien-klien Fatin kebanyakan dari rumah mode dalam dan luar negeri. Selain itu tidak sedikit kalangan socialite yang memesan perhiasan untuk acara-acara spesial.
Nama Fatin melejit menjadi salah satu desainer muda dari Indonesia yang berhasil merambah dunia.
Hari ini desainer muda tersebut gundah, bagai orang kurang makan obat karena belum bicara dengan sahabatnya.
Sekali lagi ia melirik hapenya yang masih sepi, lalu menuliskan pesan ke sahabatnya, “Kay, kamu masih idup kan? Masih mau idup juga kan? Call me!”
Fatin mendengus setelah sekian lama tidak ada balasan dari Kayla.
Sebuah panggilan telepon masuk. Fatin menyambar teleponnya, “Assalamualaykum, Kay, kemana aja sih? Bete aku.”
“Waalaykumsalam Fatin, ini Kak Thoriq. Masak nomor Kakak kandung kamu sendiri nggak disave?”
“Kak! Tumben nelepon. Kakak lagi dimana, sekarang udah malam banget dong di sana?”
Thoriq tersenyum, adiknya ini memang suka memberondongnya dengan pertanyaan.
“Kakak jawab satu-satu, ya. Kakak di Singapura, otw ke Jakarta. Di Singapura masih jam 12 siang satu jam lebih cepat dari Jakarta, kali-kali kamu lupa.”
“Yay, kakakku pulang. Dalam rangka apa, Kak? Mba Irene dan Dio ikut nggak?”
“Ikut nih. Dio masih bobok, bakalan jetlag kayaknya dia. Fatin jemputin Kakak dong, tapi jangan bilang umi dan abi. Mau kasih surprise. Minggu depan kan abi ultah. Tapi kalau kakak berangkat minggu depan khawatir cutinya nggak disetujui.”
“Yes, kakak lama dong di sini. Fatin kangen. Boleh nanti Fatin jemput, pas nggak ada meeting juga. Jam berapa, Kak?”
“Jam 4an aja, Kakak naik SQ. Ya udah, see you soon, sis!”
“In syaa Allah, bro. Assalamualaykum!”
“Waalaykumussalam.” Tutup Thoriq.
***
Di rumah sakit Penang, Kayla bersiap akan menjalani biopsi sumsum tulang belakang setelah sehari sebelumnya melakukan tes darah.
Rasa takut dan khawatir memenuhi hati dan pikirannya. Dokter Kim, yang merawatnya menganjurkan untuk biopsi, artinya hasil darahnya tidak bagus.
Kayla menghela napas. Rayyan mencium kepala istrinya lalu berkata, “Kamu nggak sendirian, sayang. Ada aku yang in syaa Allah selalu jagain kamu.”
Kayla mencium pipi suaminya lalu berkata lirih, “Terima kasih, sayang.”
Tak lama, perawat datang untuk menjemput Kayla. Mereka berjalan ke ruang biopsi dengan hati gundah.”
***
Rayyan menunggu sudah hampir satu jam. Ia melafadzkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Ia berharap Kayla baik-baik saja di dalam.
Beberapa pesan masuk ke hape Kayla. Banyak diantaranya dari Fatin. Kayla memang minta untuk tidak memberitahukan siapa-siapa tentang kondisinya. Hanya kepada orang tuanya dan orang tua Rayyan. Mereka semua terkejut mendengar diagnosis dari dokter.
Pintu ruangan biopsi terbuka. Kayla sudah duduk di kursi roda. Ia tersenyum pada Rayyan.
“Kay, are you okay?
“I’m fine, Mas.”
“Sir, we have made an appointment for Ms Kayla with Dr Kim on Friday. He will explain to you the test result. Thank you and take care,” ucap perawat yang mengantarkan Kayla sebelum kembali masuk ke ruangan.
Rayyan dan Kayla mengangguk.
Rayyan mendorong kursi roda ke parkiran. Kayla masih merasakan efek bius. Setelah masuk ke mobil Kayla menyandarkan kepalanya ke pundak Rayyan lalu menangis.
“Mas, gimana kalau aku beneran leukimia. Aku takut.”
“Then we deal with it together. I will be here by your side. Aku nggak akan kemana-mana. Janji, in syaa Allah.”
Rayyan menghapus air mata dari pipi istrinya. Ia mendongakkan wajah Kayla lalu mengecup lembut bibirnya.
“Kita hadepin bareng-bareng ya. In syaa Allah,” ucapnya lembut.
Kayla mengangguk pelan.
***
Rayyan dan Kayla baru menyelesaikan sholat Maghrib berjamaah. Sambil menunggu sholat Isya mereka bersama membaca ayat-ayat suci. Sebuah kebiasaan yang mereka bangun dari awal pernikahan. Kebiasaan yang sejak dini diterapkan juga untuk Nayaka, Jana, dan Kirana.
Rayyan membuka tirai ruang tidur di penthouse-nya menambah syahdu suasana dengan pemandangan Penang di malam hari.
Hape Kayla bergetar. Fatin menelepon entah untuk kesekian kali.
“Mas aku angkat ya, dari Fatin. Daripada dia ngamuk pas ketemu nanti.”
Rayyan mengangguk. Kayla tersenyum, “Assalamualaykum, bawel.”
“Waalaykumussalam. KAYLA WIRANATA! Kamu tu kemana sih? Nggak ada akhlak banget pesen nggak dibalas, telepon nggak diangkat.”
Kayla tergelak. Ia merasakan kehangatan dari persahabatannya dengan Fatin.
“Heh udah, kamu kayak nggak minum obat aja. Aku di Penang, ada urusan sama Rayyan.”
Fatin dari seberang telepon mengangkat alis, rasanya Rayyan tidak ada bisnis di Penang.
“Ngapain sih? Urusan apa?”
“Nanti kalau aku dah balik, aku ceritain. Semuanya kumplit pake telor.”
“Kapan balik?”
“Belum tahu, Jumat aku sama Rayyan ketemu orang dulu, gimana-gimananya ditentuin abis itu.”
“Why so secretive? Me no likey! Nggak ada hubungan sama si kecoak itu kan?”
“Kecoak?”
“That bimboo, yang ngejar-ngejar Rayyan. Siapa itu namanya Eva?”
“Oh yang waktu itu aku ceritain? Nggak lah. In syaa Allah nggak ada,” Kayla terkekeh.
“Syukurlah. Eh Kay, Kak Thoriq, Mba Irene, sama Dio lagi di Indo. Nanti aku set kita dinner di rumah Umi ya. Mereka nanyain kamu.”
“Oh maa syaa Allah. Umi dan Abi seneng banget dong. Dio udah kayak apa?”
“Wah seneng banget. Umi tadi sampe nangis pas liat Kak Thoriq keluar dari mobilku. Apalagi pas Dio lari ke Umi, wah udah nggak karu-karuan. Abi sih sok cool, padahal diem-diem terharu. Dio makin gembul dia, gemesin.”
Kayla tersenyum membayangkan kehangatan keluarga Fatin. Ia melirik Rayyan yang masih bertilawah.
“Kay, tadi aku dapat klien bapak-bapak mau minta dibuatin cincin buat gundiknya.”
“Gundik apaan sih, Fat?”
“Gundik apaan ya, simpenan kali ya. Sugar baby gitu. Cuman aku seneng aja nyebutnya. Gundik. Kay, aku terima nggak ya … masalahnya istrinya si Bapak itu aku kenal. Baik banget.”
“Ih nejong tu Bapak. Siapa sih, aku kenal nggak? How do you feel? Ikutin hati kamu bilang apa. You always design with your heart. Kalau ceritanya kamu nggak suka ya jangan dipaksain.”
“Iya sih. Kamu tau kok. Kalau Rayyan pasti kenal. Dia di atas kita sih umurnya agak jauh. Above 40 gitu. Yaelah makin tua bukan makin baek-baek malah main gila. Sadar, woy!”
Kayla terbahak lagi. Mengobrol dengan Fatin menghibur hatinya yang masih gundah.
“Eh gimana, Kak Ale udah telepon?”
“Udah dong, seneng deh. Melambung tinggi.”
“Gelay! Pantesan suaranya ceria.”
“Kay, udahan dulu di sini udah Maghrib. Kamu cepet pulang moga urusan rahasianya cepet selesai. Salam buat si Oom. Bye, Kay, assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam, take care Fatin. Salam buat semua ya.”
Kayla meletakkan hape di meja, Rayyan mendongak lalu tersenyum.
“Oom Rayyan dapat salam.”
Rayyan membalas salamnya. Lalu mengajak Kayla duduk di sampingnya.
Laki-laki itu merangkul istrinya yang langsung menggelendot.
“Nempel banget Kay, aku harus wudhu lagi kalo gini loh.”
“Oh, ya udah deh sekalian mandi kalau gitu.”
Dengan cepat Kayla melepaskan mukenanya kemudian memosisikan dirinya di pangkuan Rayyan.
Kayla melingkarkan tangannya di leher Rayyan. Tatapannya penuh cinta dan harapan.
“Stay with me, will you?”
“In syaa Allah, I will. I love you so much, Kay.”
Mereka pun menjalankan ibadah ternikmat bagi pasangan suami istri.
***
Rayyan dan Kayla hanya bisa diam dan beristighfar ketika Dokter Kim menyatakan bahwa Kayla mengidap leukimia.
Air mata mengalir di pipi keduanya. Tubuh mereka bergetar. Mereka saling memegang erat tangan satu sama lain untuk mencari kekuatan.
“It’s still in the early stage, thank God. Karena masih tahap awal jadi kemungkinan awak nak sembuh lebih besar,” jelas Dokter Kim dengan Bahasa Indonesia logat Melayu yang masih terbata-bata.
“Saya sudah buatkan program pengubatan. Ada tiga kemoterapi yang harus awak lakukan. I personally recommend you to do it here rather than in Jakarta. Jadi saya bisa monitor dari waktu ke waktu. Jarak antarprosedur kemoterapi ada tiga minggu. Saya harap setelah proses ini cancer bisa hilang.”
Dokter Kim melanjutkan lagi, “Kapan awak nak mulai. Makin cepat makin baik.”
Rayyan dan Kayla masih berusaha mencerna informasi dari Dokter Kim, belum sempat menjawab hape Rayyan dan Kayla bunyi bersamaan.
Hape Kayla tertulis nama Fatin.
Hape Rayyan tertulis nama Thoriq.
Mereka mengerutkan kening lalu minta ijin ke Dokter Kim untuk menerima panggilan.
Setelah mendengarkan berita dari penelepon, mereka berdua serentak mengucapkan, “Innaalillaahi wa innaailayhi rooji’un.”
***
kopi Thor 👏🏼
pantas dia punya 2 kepribadian
Emre adalah korban 🙄
si Ray buang ke laut aje😂
egois juga suami istri ini👻😅
buat Fatin☕
imbas nya udah sampai ke ortu Fatin malah
gemes gue....
udah Fatin tinggalin saja 😂
bingung yg nga tau
setelah baca tak utuh😅