"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Apa kamu mencintai ku?
Nadia menangis sendirian di kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 malam, tapi Rehan sama sekali belum pulang. Entah kemana lelaki itu pergi, Nadia tidak tahu.
Eva dan Bram sudah mencoba menelpon Putranya, tapi hasilnya nihil. Nyatanya putranya sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Kenapa aku merasa kesepian ketika tidak ada dia? Kenapa aku merindukan leluconnya?" Nadia menunduk, punggungnya bergetar.
"Tidak mungkin aku mencintainya. Tapi aku merasa ada sebagian dari diri ku yang hilang ketika dia pergi dan tidak pulang sampai sekarang." Nadia menatap album foto yang tertempel di dinding kamar Rehan. Itu adalah foto pernikahan mereka, terlihat jelas aura bahagia di wajah Rehan. Saat mereka berdua berfoto bersama, hanya Rehan yang terlihat sangat antusias. Sedangkan Nadia terlihat malas dan enggan untuk berfoto bersama.
"Aku rindu." Gumam Nadia tanpa sadar.
Di tempat yang sama, Bram sibuk marah-marah tidak jelas. Putranya sangat labil, hingga dia pergi hanya karena masalah sepele.
"Mama bagaimana dulu mendidik Rehan? Kenapa dia sama sekali tidak punya tanggung jawab? Papa tidak tahu permasalahan yang menimpa Nadia dan Rehan, tapi yang pasti, tindakan anak mama itu salah." Bram menyalahkan istrinya atas sifat putranya yang sama sekali tidak punya tanggung jawab.
Eva ternganga. Benarkah bahwa suaminya baru saja menyalahkan dirinya atas sifat tidak tanggung jawab yang dimiliki putranya?
"Bagus, kalau Rehan berprestasi di bidang bisnis baru papa bilang, Papa bangga sama kamu. Giliran dia membuat kesalahan, papa nyalahin mama karena tidak pecus mendidik dia." Eva berdecak pinggang. Dia menatap suaminya marah. Kerjaannya banyak, dia harus mengurus rumah, merawat diri, dan memenuhi kewajibannya sebagai istri dan ibu. Di rumah sebesar ini, Bram tidak mengambil pembantu. Jelas dirinya menjadi sangat sibuk. Tugasnya tidak hanya mendidik dan memperhatikan Rehan saja.
"Memang kenyataannya begitukan? Mama tidak pecus mendidik Rehan. Mama tuh bisanya ngehabisin uang aja. Mama arisan sampai tidak punya waktu buat ngurus Rehan. Jadi sekarang Rehan urak-urakan. Mau di taruh mana muka papa ini? Papa malu karena ketahuan tidak bisa mendidik anak kita dengan benar. Apa kata besan dan menantu kita ketika mereka tahu sifat manja dan tidak bertanggung jawab Rehan?" Tangan Bram meremas heandponenya sendiri.
"Terserah papa mau ngomong apa, mama capek mau tidur." Eva menarik selimutnya, dia lebih memilih tidur di banding mendengar ocehan tidak bermutu suaminya.
***
Rehan sedang tidur di apartemen Luwis. Semalam Rehan datang ke Club Malam milik Jeo. Mereka bertiga bersahabat sejak lama, namun saat Rehan menikah, Jeo dan Luwis sedang di New York. Sehingga mereka berdua tidak bisa datang ke pernikahan Rehan.
"Dasar emang tuh anak, kalau ada masalah selalu di selesain dengan meminum alkohol." Jeo menyalakan pemantiknya. Dia sedang berada di balkon kamar apartemen Luwis.
"Biasa Je, kayak gak tahu dia aja." Kekeh Luwis. Jeo memang tidak suka dengan cara Rehan menyelesaikan masalah. Walau Jeo adalah pemilik club malam terbesar di Asia, dia tidak pernah menyelesaikan masalah dengan cara instan seperti meminum alkohol.
"Mau dia meminum Alkohol sampai habis 20 botol, masalah dia tidak akan hilang." Jeo menyugar rambutnya kebelakang.
"Tapi seenggaknya Alkohol bisa menenangkan pikiran kita, walau hanya sesaat." Luwis menanggapi ucapan Jeo.
"Ciuh...." Jeo menyunggingkan senyum sinisnya.
***
"Aduh sayang, jangan pergi nak. Nanti Rehan juga pulang kok." Eva menahan Nadia yang ingin pergi dari rumahnya. Dia tahu putranya sangat mencintai Nadia, dia tidak ingin melihat putranya kehilangan perempuan yang dia cintai.
"Mas Rehan gak pulang kan, Ma? Lalu untuk apa aku ada disini?" Nadia mengusap air matanya yang mulai mengering. Dia lelah terus menangis semalaman.
"Papa tidak akan membiarkan anak kurang ajar itu hidup. Bikin malu aja." Wajah Bram memerah menahan amarah. Putra satu-satunya itu memang menyebalkan.
Nadia dan Eva hanya terdiam. Bram terlihat sangat murka kepada Rehan.
"Papa itu tidak membuat semuanya semakin baik, malah mau menambah masalah." kesal Eva.
"Tinggalin aja anak itu Nad. Dia pantas kamu tinggal. Dasar tidak bertanggung jawab." Bram duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Nadia pamit Pa, Ma." Nadia berjalan dengan bibir terisak. Kepalanya terus menunduk, badannya sangat lemas.
"Mau kemana?" Nadia mendongakkan kepalanya. Suara itu...
"Telinga kamu tuli? Aku tanya, mau kemana? Ketemu Danil?" Rehan bertanya dengan santai. Tapi di balik setiap kalimatnya, tersirat sebuah kekecewaan.
"Masih jam 07.00, Danil belum ada di caffe." Gak betah nahan rindu sama dia? Sampai-sampai jam 07.00 udah mau kesana aja." Tambah Rehan. Tampilnya acak-acakan, Rambut berantakan, kemeja lusuh, serta jas yang dia sampirkan ke punggung, membuat Bram menggelengkan kepalanya. Bram ingin sekali menghajar putranya yang menghilang ketika ada masalah. Namun Eva memegang lengannya.
"Jangan campuri urusan mereka. Sebaiknya kita pergi saja." Ucap Eva, lirih.
Plak...
Suara keras akibat tamparan panas yang Nadia layangkan ke pipi Rehan membentuk semua cetakan tangan di pipi Rehan.
"Aku menunggu mu sampai tidak tidur, menghawatirkan ketidak pulangan mu, berharap kamu cepat pulang. Tapi sekarang kamu malah menuduh ku." Nadia menunjuk dada Rehan. Lelaki itu hanya diam dengan rahut wajah datar.
"Laki-laki yang baik itu tidak pergi ketika rumah tangganya tertimpa masalah. Dia akan mencari jalan keluarnya bersama." Nadia kecewa dengan sikap dan sifat kekanak-kanakan Rehan. Dia ingin pergi, tapi pergelangan tangannya di tahan oleh Rehan.
"Ikut aku." Rehan menarik tangan Nadia. Mereka berdua masuk kedalam kamar.
Rehan duduk di sofa, sedangkan Nadia duduk di pinggir tempat tidur.
"Apa yang kamu katakan tadi benar? Apa kamu menghawatirkan aku ketika aku tidak pulang?" Nadia terdiam, dia sibuk mencari jawaban yang tepat.
"Aku tidak butuh diam mu, sekarang tatap mata ku." Rehan memegang dagu Nadia, dia berpindah berjongkok di depan istrinya.
Nadia meremas tangannya sendiri, dia gugup ketika matanya bertemu dengan mata Rehan.
"Apa kamu mencintai ku?" Suara berat milik Rehan membuat jantung Nadia berdetak cepat.
Tatapan Rehan seperti menyelami hatinya. Nadia tidak berkutik di depan suaminya.
"Nad, apakah kamu....."
"Aku mencintai mu. Aku tidak tahu kapan rasa ini datang, tapi yang jelas aku khawatir saat semalam kamu tidak pulang." Nadia menunduk, dia takut melihat mata elang milik Rehan.
Rehan tidak munafik, sekarang dia sedang berpesta di dalam hati. Dia memeluk tubuh Nadia dengan erat.
"Lalu Danil?" Nadia mendorong dada Rehan, pelan.
"Jangan sebut nama dia dulu." Nadia masih bingung dengan perasaannya.
"Aku akan berusaha lebih keras untuk membuat kamu mencintai ku." Nadia mengangguk, bukankah itu memang tugas Rehan? Dia harus membuat dirinya mencintai dia, karena dia yang memaksa dirinya untuk menikah dengan dia.
"Sebenarnya kamu semalam tidur dimana?" Nadia bertanya kepada Rehan yang sedang melonggarkan dasinya.
"Aku tidur di rumah teman ku. Kenapa?" Rehan berbaring di samping Nadia.
"Apa teman mu itu perempuan?" Tanya Nadia, ragu.
"Apa kamu cemburu?" Keduanya berbaring di kasur dengan badan berhadap-hadapan.
"Aku mempunyai hak untuk cemburu. Sekarang kamu jawab saja pertanyaan ku." Nadia bermain kancing kemeja Rehan.
"Dia laki-laki, aku tidak mungkin menginap di rumah perempuan. Aku masih memikirkan istri cantik ku ini yang berada di rumah." Kekeh Rehan, Nadia mencubit pelan pinggang Rehan.
"Dasar." Cibir Nadia.
Mereka berdua tertawa, saling peluk, dan melepas rindu.