IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Masa Lalu
Malam pun telah menjelang, Fatimah benar-benar berniat mengerjai Rudi. Dia duduk santai sambil memangku laptopnya di atas sofa, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Karena Ac'nya masih rusak, Fatimah memakai kemeja Rudi seperti tadi siang. Hal itu membuat Rudi panas dingin, dia ingin sekali menerkam istrinya saat itu juga.
Sayangnya Fatimah tak mau, jika Ac'nya masih rusak. Sialnya, Rudi tak juga mendapatkan tukang servis AC tersebut. Padahal dia sudah meminta pekerja yang lainnya, untuk mencari tukang servisnya. Sayangnya, semua pekerja di rumah Fatimah sudah mendapatkan peringatan dari sang Nyonya.
"Yang, kamunya jangan make baju aku kaya gitu. Akunya ngga tahan ini," keluh Rudi.
Rudi terlihat duduk di samping Fatimah, tapi dia tak berani menyentuh istrinya itu. Dia takut khilaf dan memaksakan kehendaknya pada istrinya itu.
"Rasain kamu, Mas. Gue pengen tahu elu bakal gimana, sekali-sekali ngga dosa'kan ya ngerjain laki sendiri?" Gumam Fatimah dalam hati.
"Gerah, Mas. Lagian kamu tuh aneh, AC di kamar kita mati. Masa aku pake baju tertutup, panas, Mas." Fatimah menutup laptopnya, lalu mengusap paha Rudi dengan lembut.
"Ya Tuhan... Mas bisa gila kalau kaya gini." Rudi memejamkan matanya, dia melawan hasrat yang sudah terasa sampai di ubun-ubun.
Fatimah langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, dia sungguh bersorak dalam hati. Karena sudah bisa mengerjai suaminya itu.
"Iissh, Mas ngeluh terus. Kesannya kaya aku istri durhaka gitu, aku kan jadi merasa gimana gitu." Fatimah langsung memunggungi Rudi, dia seakan merajuk karena tersinggung dengan ucapan suaminya itu.
Rudi terlihat panik, dia langsung mengusap lembut pundak Fatimah. Dia takut jika istrinya benar-benar marah padanya.
"Jangan marah, Ra. Mas akan bersabar," ucap Rudi pasrah.
Fatimah merasa senang, dia tertawa riang dalam hati. Fatimah langsung berbalik dia menatap netra Rudi dengan lekat Rudi terlihat salah tingkah.
"Mas, aku ma--"
Brak!
Pintu kamar mereka terbuka dengan dorongan yang sangat kuat, tentu saja pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Audy.
Audy juga melemparkan pas bunga yang ada di dekat pintu ke depan meja rias, sehingga menimbulkan suara gebrakan yang kencang. Bahkan kaca meja rias pun sampai pecah.
Dia merasa kesal karena lelaki yang sudah menikahinya tak mau menemaninya, dia malah asik berduaan dengan istri pertamanya.
Fatimah yang merasa kaget, langsung melompat ke atas pangkuan Rudi. Dia bahkan memeluk erat suaminya itu, tubuhnya terlihat bergetar. Rudi terlihat kaget dengan respon Fatimah, dengan cepat dia mengelus lembut punggung istrinya.
Fatimah memang mempunyai trauma dengan bunyi gebrakan yang mengagetkan dan bunyi tembakan. Hal Itu terjadi karena dia pernah diculik saat dia masih kecil bersama dengan kedua saudara perempuannya.
Melihat Rudi dan Fatimah yang terlihat begitu intim, membuat Audy langsung meradang. Dia langsung menghampiri Rudi dan Fatimah, tanpa Rudi duga, Audy langsung menjambak rambut Fatimah.
Sontak Rudi yang sangat kaget, dengan cepat Rudi menarik tangan Audy dan menghempaskannya dengan kasar. Rudi langsung berdiri dengan Fatimah yang masih memeluk erat Rudi, kakinya pun bahkan memeluk pinggang Rudi dengan erat.
Fatimah benar-benar seperti anak koala, hal itu membuat Audy makin meradang. Apa lagi saat melihat baju yang Fatimah kenalan, semakin. membuat Audy emosi.
Pikiran Audy pun jadi melayang kemana-mana, bahkan dia bertanya-tanya dalam hati. Apa saja yang sudah dilakukan oleh Rudi dan Fatimah.
"Mas, apa maksudnya ini? Kenapa kamu malah asik berduaan dengan dia? Mesra banget lagi, terus bajunya...."
Audy tak bisa melanjutkan ucapannya, dia terlihat sangat kesal. Bahkan kedua tangannya sudah mengepal dengan sempurna.
"Kamu yang apa-apaan? Kamu ngga lihat Arra sampai ketakutan karena kamu udah gebrak pintu kaya tadi!" berang Rudi.
Rudi masih bisa merasakan, ketakutan yang dirasakan istrinya. Tubuh Fatimah masih bergetar, bahkan Rudi bisa merasakan jika pundaknya kini telah basah. Sudah dapat dipastikan jika itu adalah air mata Fatimah.
"Aku mau jemput kamu, Mas. Aku ngga tahan diperlakukan seperti ini, kamu udah nyakitin aku. Kamu juga udah nyakitin Babby yang ada di dalam kandungan aku!" Audy berteriak hingga semua pelayan berdatangan.
Saat melihat Audy, mereka pun dengan cepat menghampiri Audy dan menjauhkannya dari Fatimah. Mereka terlihat sangat bingung karena Audy bisa sampai masuk ke dalam kamar majikannya.
"Lepasin, jangan berani-beraninya kalian narik gue kaya gini. Gue istri Mas Rudi juga, gue mau jemput suami gue!" teriak Audy.
Salah satu pelayan memandang Rudi, dia seolah meminta persetujuan dari tuannya. Rudi pun langsung menganggukan kepalanya.
Audy pun diseret paksa agar cepat keluar dari kamar majikannya, Rudi seolah tak perduli walaupun keadaan Audy sekarang sedang mengandung benihnya.
"Mas Rudi sialan! Anak kita gimana ini, Mas? Pulang, Mas. Awas aja kalau ngga mau pulang, jangan salahkan aku kalau aku akan bilang sama Tuan Aksa yang terhormat kelakuan menantunya yang bejat dan hina!" ancam Audy sebelum dia benar-benar pergi.
Rudi memang takut dengan ucapan Audy, tapi dia lebih takut saat melihat keadaan istrinya.
Setelah kepergian Audy, Rudi langsung merebahkan tubuh Fatimah di atas tempat tidur. Dia tarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, lalu mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Jangan takut, ada Mas. Sekarang kamu bobo, udah malem juga." Rudi mengecupi setiap inci wajah Fatimah yang terlihat memucat.
Rudi juga mengusap lembut pipi Fatimah yang terlihat basah karena air mata. Dia sangat ingin bertanya, kenapa dia sampai menangis dan ketakutan. Padahal Audy hanya menggebrak pintu dengan kasar dan... menjambak rambutnya.
Akan tetapi, Rudi masih menghargai perasaan istrinya. Dia terus mengelus lembut puncak kepala istrinya, hingga Fatimah benar-benar tertidur sampai pulas.
Setelah memastikan isttinya tidur, Rudi langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia ingin bertanya kepada kepala pelayan, apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.
"Bi," panggil Rudi saat melihat kepela pelayan yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Eh, Den Rudi. Ada apa?" tanya Bibi sopan.
"Itu, Bi. Saya mau tanya, kenapa istri saya kelihatan takut banget saat mendengar Audy menggebrak pintu kamar kami dengan keras?" tanya Rudi penasaran.
"Oh, Nyonya punya trauma, Den. Waktu dia masih kecil, dia menjadi korban penculikan bersama kedua saudara perempuannya. Membuat Nyonya Arra takut jika mendengar suara gebrakan yang keras dan suara tembakan." Jelas Bibi.
Rudi terlihat sangat kaget saat mengetahui jika istrinya pernah menjadi korban penculikan.
"Pantas saja dia sangat ketakutan, ternyata banyak hal yang belum aku ketahui tentang istriku. Maaf ya, Bi. Karena kedatangan Audy membuat seisi rumah jadi sibuk," ucap sesal Rudi.
"Tak apa, Den. Yang penting Aden temani Nyonya di kamar, takutnya dia ketakutan lagi." Jelas Bibi, "dulu bahkan dia sampai satu bulan sering berteriak saat mendengar suara yang terdengar nyaring." Timpal bibi lagi.
"Ya tuhan, kasihan sekali istriku." Rudi langsung berlari menuju kamar mereka, benar saja saat dia sampai dia melihat Fatimah sedang duduk sambil memeluk kedua lututnya. Isak tangis pun terdengar jelas dari bibir mungilnya.