Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sesuai permintaan sang mama, Denis dan Mutia pun makan siang bersama dirumahnya. Mutia yang sedari tadi tak nyaman ingin sekali pergi dari tempat itu. Sedangkan Denis malah bersikap santai. Beberapa kali Mutia memberi tatapan tajam padanya, tapi Denis justru acuh dan tak peduli.
Seperti tujuan sebelumnya, Denis mengajak Mutia ke gudang untuk mengambil baju-baju baru yang akan di bawah ke toko. Sebenarnya ini hanya alasan Denis agar Mutia mau diajak kerumah dan bertemu mamanya. Kalau diajak secara langsung jelas gadis itu tidak akan mau.
Biasanya Denis tak pernah mengambil baju-baju itu sendiri. Dia akan menyuruh sopir toko untuk mengambil. Namun dia tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Lewaf sinilah dia bisa lebih dekat dengan Mutia.
"Ambil bajunya sepuluh menit, terkurungnya setengah hari, dasar nyebelin!" geruttu Mutia sembari mengangkat sekarung baju menuju mobil.
Sebenarnya Denis mendengar itu, hanya saja ia berusaha acuh. Ia tak mau Mutia semakin kesal padanya.
Diperjalan kembali ke toko, mereka sama-sama terdiam. Denis menikmati setiap kebersamaannya dengan Mutia, sedangkan Mutia menggeretu sendiri tak jelas dari tadi.
Sesampainya di toko, Mutia disambut Rani dan Bagas. Mata mereka menatap penuh selidik. Mutia yang sedari tadi sudah kesal makin kesal saja diperlakukan seperti itu.
"Ngapain lihat-lihat? Seneng lihat orang di hukum? Dasar bos nyebelin! Semena-mena. Untung ganteng, kalau gak udah aku libas dari tadi!" Mutia mengomel-ngomel sendirian.
Bagas dan Rani saling pandang. Merasa aneh dengan kelakuan Mutia. Sebenarnya mereka tak pernah tau apa yang barusan terjadi pada Mutia. Hanya saja, karena omelannya sendiri, Mutia membuka masalahnya sendiri.
"Emang kamu diapain sama Si bos?" tanya Bagas memulai percakapan. Mutia masih bungkam.
"Kalau emang udah keterlaluan, kita demo aja. Biar dia tau rasa, ntar aku ya--." belum selesai Bagas melanjutkan ucapannya, Mutia sudah menggeleng dan melambai-lambaikan tangannya.
"Tidak ... tidak, jangan di demo. Gak ada maslaah apa-apa kok, aku aja yang berlebihan. Aku cuma kecapekan aja mangkanya ngomel sendiri," jelas Mutia lagi.
"Emang kamu habis disuruh ngapain sih?"
"Cuma ambil barang aja kerumahnya, angkat-angkat sendiri, kan berat," gerutu Mutia lagi.
"Hah? Kok tumben? Biasanya dia nyuruh Pak Salim."
"Mana aku tau, tanya sendiri noh ma orangnya, pake dikenalin ke mamanya calon mantu lagi, ooppss." Mutia seketika menutup mulut dengan tangannya. Dia keceplosan, salah persepsi bisa jadi gosip hangat di toko.
"What? Seriusan?" tanya Rani terkejut.
"Enggak, Mbak. Aku cuma bercanda. Lagian mana mau Pak Denis sama aku," ucap Mutia sembari nyengir. Ia pun menyingkir ke toilet sebelum berbagai pertanyaan ditujukan padanya.
Di toilet, Mutia merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia keceplosan seperti itu. Semua gara-gara Denis.
"Mbak Mut, bisa keruangan saya? Saya butuh catatan stok barang-barang di toko. Sepertinya sudah waktunya saya mendatangkan barang lagi." Tanpa sengaja, saat kembali ke gudang, Mutia bertemu dengan Denis di depan musholla.
"Apa gak sebaiknya saya panggilkan Mbak Rani atau Bagas saja, Pak? Mereka lebih hafal stok-stok barang di sini," jawab Mutia yang justru mendapat gelengan dari Denis.
"Saya nyuruhnya kamu, Mbak. Biar sekalian hafalan dan belajar, kalai kamu mengandalkan mereka terus, kapan majunya?"
"Bukannya gitu, Pak. Tapi saya kan baru, belum paham sepenuhnya, nanti kalau salah gimana?"
" Lima menit lagi saya tunggu di ruangan saya," ucap Denis sembari berlalu begitu saja.
Mutia mencak-mencak tak karuan. Kalau bukan lantaran butuh uang, ia tak mungkin bertahan lama di sini.
Dasar bos menyebalkan!
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa